Oleh: Dr. Purwadi M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, Hp 087864404347)
A. Latar Sang Pemimpin
Berbahagia sekali rakyat Sumatera Utara (Sumut) memiliki pemimpin berhati mulia. Pemimpin itu bernama Tengku Rizal Nurdin.
Nama lengkapnya yaitu Mayor Jenderal TNI Haji Tengku Rizal Nurdin. Beliau lahir di Bukittinggi pada tanggal 21 Februari 1948.
Tengku Rizal Nurdin adalah Gubernur Sumatra Utara ke-14 dan 15. Beliau menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara dari tahun 1998 hingga 5 September 2005.
Sebelum menjadi Gubernur Sumut, Tengku Rizal Nurdin adalah Pangdam I Bukit Barisan tahun 1997, dengan Pangkat Mayor Jenderal. Walau lahir di Sumatera Barat, namun beliau adalah keturunan bangsawan Melayu Serdang.
Tengku Rizal Nurdin terpilih menjadi Gubernur Sumut pada 15 Juni 1998. Jabatan Gubernur Sumut untuk periode kedua disandangnya pada 24 Maret 2003.
Berumah tangga dengan selamat sentosa. Dari pernikahannya dengan Hj. NR Siti Maryam yang lahir tahun 1948. Tengku Rizal Nurdin memperoleh dua orang putri yaitu T. Armilla Madiana dan T. Arisma Mellina.
Aktif dalam kegiatan sosial budaya pendidikan keagamaan. Dalam bidang olahraga Tengku Rizal Nurdin juga adalah Ketua KONI Sumut.
Tengku Rizal Nurdin meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada 5 September 2005 di Medan. Saat itu beliau sedang berada dalam perjalanan untuk menghadiri rapat mendadak dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta pada malam harinya.
Jasa Tengku Rizal Nurdin sungguh besar. Maka layak untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 November 2005 dalam kaitannya dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.
Pendidikan merupakan bagian penting bagi keluarga Tengku Rizal Nurdin. Dalam budaya Jawa dikenal ajaran ilmu iku kelakone kanthi laku. Pengetahuan membentuk kepribadian.
1. SD – tamat tahun 1961 di Medan.
2. SMP – tamat tahun 1964 di Medan.
3. SMA – tamat tahun 1967 di Medan.
4. FISIP – tamat tahun 1996 di Jakarta.
Pendidikan militer yang ditempuh Tengku Rizal Nurdin begitu lengkap. Wajar sekali lantas menjadi bahan pengabdian pada nusa bangsa.
1. Sussarpara – 1969 di Batujajar.
2. Akabri Darat – 1971 di Magelang.
3. Sussarcabif – 1971 di Bandung.
4. Ranger/Airbone Course – 1974 di Amerika Serikat.
5. Kursus Instruktur – 1980 di Amerika Serikat.
6. Inf Mortar Training – 1980 di Amerika Serikat.
7. Inf Off Advance Course – 1980 di Amerika Serikat.
8. Sus Dan Yonif – 1985 di Bandung.
9. Seskoad – 1988 di Bandung.
Riwayat pangkat militer Tengku Rizal Nurdin diperoleh dengan sikap disiplin yang disertai kepribadian paripurna. Berurutan titian kariernya.
1. Letnan Dua – 1 Desember 1971.
2. Letnan Satu – 1 April 1974.
3. Kapten – 1 April 1977.
4. Mayor – 1 Oktober 1981.
5. Letnan Kolonel – 1 Oktober 1986.
6. Kolonel – 1 Oktober 1992.
7. Brigadir Jenderal TNI – 1 Februari 1995.
8. Mayor Jenderal TNI – 1 Agustus 1997.
Karir Tengku Rizal Nurdin berjalan lancar gancar. Nilai kemanusiaan, kebangsaan dan kebudayaan telah terpatri dalam lubuk sanubari.
Tugas dinas yang dilakukan oleh Tengku Rizal Nurdin selalu berhasil dengan gemilang yaitu :
1. Danton Brigif Linud 18 Kostrad – 1972.
2. Danton 3/A Yon 501 Kostrad – 1973.
3. Danki A Yonif 501 Kostrad – 1976.
4. Danyonif 321 Brigif 13 – 1985.
5. Dandim 0403 Rem 044 Gapo – 1988.
6. Kepala Perwakilan UN-Untac di Laos – 1993.
7. Dan Secapa TNI Angkatan Darat – 1995.
8. Kepala Staf Kodam I Bukit Barisan – 1996.
9. Panglima Kodam I Bukit Barisan – 1997.
10. Gubernur Sumatra Utara – 1998–2003.
11. Gubernur Sumatra Utara – 2003-2005.
Untuk membahas latar belakang kehidupan leluhur Tengku Rizal Nurdin, perlu dikemukakan sisi kultural historis kerajaan Deli, Serdang dan Langkat. Istana Maimun dibangun pada tanggal 26 Agustus 1887. Kasultanan Deli saat itu diperintah oleh Sultan Makmoen Al Rasyid. Seorang raja yang terkenal pandai bijak bestari. Termasyur karena wibawa pribadi nan mempesona.
Lantai istana Maimun yang dibuat oleh Sultan Makmoen Al Rasyid terdiri dari dua tingkat. Terbagi menjadi tiga bagian. Yakni bagian induk, balai samping kiri dan balai samping kanan. Berdiri kokoh indah megah mewah meriah. Berwibawa sepanjang sejarah yang terarah.
Resmi sudah proses pembangunan istana Kasultanan Deli. Bentuk bangunan memadukan unsur Melayu, Mughal India dan Romawi Eropa. Benar benar bikin bangga. Mulai dari rakyat pedesaan perkotaan dan pegunungan.
Tanggal 18 Mei 1891 Istana Maimun resmi digunakan untuk melakukan pelayanan publik. Tata kelola pemerintahan dilaksanakan dengan rapi tertib. Rakyat Kasultanan Deli mengalami masa jaya makmur.
Undangan peresmian disebarkan ke seluruh kerabat kerajaan Nusantara. Antar Kraton terjalin persahabatan yang akrab. Keraton Surakarta Hadiningrat mengutus putra mahkota. Beliau adalah Gusti Raden Mas Malikul Khusna.
Kedatangan beliau di Istana Maimun pada tanggal 15 Mei 1891. Selama jadi tamu kerajaan, sempat pula berkunjung ke Kasultanan Langkat dan Kasultanan Serdang. Pisowanan sesama raja untuk menjaga kharisma utama.
Kunjungan ini diulangi lagi tahun 1915. Beliau sudah jadi raja Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwana X. Tradisi ini merupakan kelanjutan yang telah dirintis oleh para leluhur. Misalnya sejarah pertemuan Tamasek tahun 1819. Orang Jawa merantau ke pulau Sumatera atas undangan Kasultanan Deli. Warga transmigrasi diberi tugas yang terhormat dan bermartabat.
Termasuk pembangunan istana Maimun tahun 1887. Asal usul hubungan ini terjadi saat Raffles mendirikan kota Tamasek Singapura yang terkenal.
Pada tanggal 6 Pebruari 1819 diselenggarakan pertemuan Kraton Nusantara. Bertempat di kota Tamasek Singapura. Hari tanda ulang tahun negeri Singapura sampai kini. Hadir perwakilan kerajaan dari Ternate, Tidore, Goa, Tallo, Buton, Banjar, Cirebon, Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Paku Alaman, Langkat, Deli, Serdang, Mangkunegaran. Mereka diundang dalam rangka peresmian Singapura sebagai sentral bisnis.
Wakil dari Keraton Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh GKR Kencono Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV yang memerintah tahun 1788-1820. Delegasi Surakarta berjumlah 67 orang.
Utusan ini terdiri dari unsur kepatihan, mandra budaya, purwa kinanthi, pengrawit dan penari. Rombongan berangkat dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang menuju Tamasek Singapura.
Diskusi antar raja menghasilkan beberapa informasi penting. Kasultanan Serdang, Deli dan Langkat membuka perkebunan kelapa sawit, karet, coklat, tembakau. Dibutuhkan tenaga dari Pulau Jawa, setelah diadakan pelatihan. Tenaga dari Jawa meliputi administrasi, transportasi, koki, tukang kayu, seniman. Sebagian tenaga manual yang bisa bekerja di sawah dan kebun. Malah sebagian mendapat kehormatan untuk bekerja di istana Kasultanan Deli.
Ahli yang datang berasal dari Blitar, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Wonogiri, Boyolali, Blora, Pati, Banyumas, Purworejo. Program transmigrasi berjalan lancar gancar. Tempat yang dituju yaitu Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Galang yang menjadi wilayah kekuasaan Sultan Deli. Lantas daerah Tebing Tinggi, Perbaungan dan Sei Rampah. Daerah ini dalam ranah kekuasaan Sultan Serdang. Kordinasi dilakukan dengan teliti cermat tepat.
Sultan Langkat juga menyediakan tempat serta fasilitas yang sangat layak. Pendatang dari Jawa bisa bekerja dengan aman nyaman. Transmigrasi pada awalnya memang jasa diplomasi GKR Kencono Wungu atau Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau bisa meyakinkan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat. Bahkan tenaga pikiran dan keahlian kerap dipakai Sultan Makmoen Al Rasyid. Warga transmigrasi betah tinggal di tanah Sumatera. Mereka hidup makmur sejahtera bahagia lahir batin. Kehormatan dan keberuntungan diwariskan secara turun tumurun.
Cemerlang sekali prestasi warga transmigrasi. Pada tahun 1870 tenaga ahli dari Salatiga datang. Atas bantuan Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah tahun 1861-1893. Beliau berhubungan baik dengan istana Maimun. Pendatang dari Jawa terjadi lagi pada tahun 1915 atas bantuan Sinuwun Paku Buwana X. Beliau malah mengantar sampai tanah Sumatera.
Raja Deli, Serdang dan Langkat menyambut dengan penuh rasa hormat. Tahun 1958 transmigrasi dilakukan dengan beda tempat. Umumnya tertuju daerah Metro Lampung. Daerah Jambi dijadikan tujuan transmigrasi tahun 1974. Mereka berasal dari Boyolali, Purwodadi dan Sragen. Bengkulu jadi tujuan transmigrasi tahun 1981. Mereka datang di daerah Muko Muko. Untuk kawasan Sumatera Utara terjadi kemajuan pola pikir. Transmigrasi dilakukan dengan swakarsa. Datang transmigrasi dengan kemampuan ketrampilan dan jaringan yang luas.
Umumnya warga transmigrasi berhasil membangun hubungan baik dengan penguasa kerajaan. Terjadilah hubungan kerja yang saling menguntungkan.
Dalam hubungan kerja ini warga transmigrasi mengedepankan prinsip kayungyun dening pepoyaning kautaman. Tenaga warga transmigrasi digunakan terus. Ini bentuk kehormatan dari istana.
Perlu kiranya membahas latar belakang historis Tengku Rizal Nurdin yang terang cemerlang. Buat referensi bagi segala lapisan generasi.
B. Darah Kepemimpinan Tengku Rizal Nurdin.
Darah kepemimpinan mengalir deras pada diri Tengku Rizal Nurdin. Keluarga agung ini mendapat amanah sebagai payung agung yang memberi suasana ayom ayem.
Bentuk kekerabatan Istana Maimun telah mewarnai pola pengabdian anak cucu. Istana Maimun dibangun dengan pola kerja sama. Warga transmigrasi dengan sukarela membantu tenaga sukarela. Mereka punya sikap rumangsa melu handarbeni.
Transmigrasi didukung oleh Sulltan Deli, Serdang dan Langkat. Inilah yang membuat warga transmigrasi tersanjung. Mereka ingin berbalas budi.
Kemurahan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat bagi warga transmigrasi dicatat dengan tinta emas. Hutang budi ini dikenang sepanjang masa.
Kerajaan Serdang Darul Arif membangun peradaban berdasarkan keutamaan. Bagi warga transmigrasi, Sultan Serdang berbudi luhur yang mengagumkan.
Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Warga transmigrasi mengenang prestasi gemilang yang diukir dengan penuh pesona. Transmigrasi berhasil dengan gemilang.
Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.
2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.
3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.
4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.
5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.
6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.
7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.
8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.
9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.
10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.
11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.
12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.
13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.
14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.
Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Warga transmigrasi peduli istana. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.
2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.
3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.
4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.
5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.
6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.
7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893.
8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.
