BeritaHUKUMNasional

Menolak Lupa, Jejak Kasus Korupsi “Ketok Palu” APBD Sumut yang Mulai Pudar

MEDAN – LIPUTAN68.COM – Tiga tahun sudah, sejak Pengadilan Negeri (PN) Medan memutus perkara Nomor: 104/PID.SUS-TPK/2016/PN Medan, atas terdakwa mantan Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Gatot Pudjo Nugroho, bersalah dalam kasus korupsi suap pengesahan APBD Sumut TA 2013 senilai Rp 8,7 Triliun. Kini, rangkaian jejak kasus itu mulai pudar.

Seperti diketahui, dalam kasus ini mantan Gubernur Sumut Gatot Pudjo Nugroho dijerat dengan pasal 5 (1), Undang-Undang (UU) Nomor 31, tahun 1999 Jo Pasal 64 KUHP dan Pasal 13 UU No 31 tahun 1999 pasal 64 (1) KUHP.

Sebagaimana dilansir dari keadilan.id, dalam putusan itu juga disebutkan adanya pengembangan dalam jual beli jabatan SKPD di jajaran Provinsi Sumut. Namun, kini kasus itu mulai redup. Pasalnya, sejumlah nama yang disebut dalam persidangan itu masih bebas.

Pengamat dari Pusat Studi Hukum dan Pembaruan (Pushpa), Muslim Muis (16/6/2020) mengatakan bahwa para terdakwa atau yang sudah narapidana (Napi) dalam kasus itu semestinya meminta kepada penegak hukum untuk segera menyeret nama-nama yang disebutkan dalam persidangan.

“Kita bicara azas keadilan dan kepatutan hukum. Jangan hanya segelintir orang saja yang diadili, tetapi sejumlah nama lain yang turut serta dalam kasus itu juga harus diadili. Jika tidak, berarti equality before the law itu tidak ada,” kata Muslim.

Menurut Muslim, hal ini seperti mengingatkan kita pada sejarah kelam masa lalu. Dimana uang rakyat pada saat itu habis dibagi-bagi oleh mereka (para pelaku). Dan ironisnya, selain habis dibagi-bagi, rakyat juga dipaksa harus membayar hutang kepada pihak ke tiga.

“Ini ironis, sudah uang kas dikuras habis, rakyat juga dipaksa berhutang pada pihak ketiga. Karena itu, semua orang yang disebut dalam persidangan itu harus diseret ke meja hijau, tanpa kecuali. Rakyat tidak lupa itu,” pungkasnya.

(M-03)

Comments

0 comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close