Sabtu, 1 Agustus 2020
PENANGKAPAN DT SANGAT PREMATUR DIKAITKAN DENGAN SOSOK KAPOLRI KE DEPAN
Jakarta – LIPUTAN68.com – Saya termasuk yang memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kinerja Mabes Polri menangkap DT yang dipimpin langsung oleh Kabareskirim.
Namun terlalu prematur bila hanya berlandaskan prestasi yang satu ini, ada aktor tertentu mengaitkan dengan pantas tidaknya sosok individu menjadi Kapolri menggantikan Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun tahun depan.
Di media massa memuat pandangan BS dan FZ, yang seolah berada pada posisi yang berbeda terkait dengan sosok Kapolri ke depan dengan keberhasilan menangkap DT.
Aktivis Anti korupsi, BS menyebutkan seseorang layak menjadi Kapolri. Jadi, BS seolah “tim sukses” dari sosok tertentu. Ini sangat tidak produktif di tengah Polri kita terus berkomitmen bertugas atas dasar Promoter.
Sementara salah seorang politisi dari partai yang ketumnya menjadi menteri saat ini, FZ seolah menyindir dengan menyebut, oh ingin jadi kapolri? Sindiran FZ ini tidak bedanya memposisikan dirinya sebagai oposisi dalam politik praktis yang trasaksional.
Sementara karir polisi, hingga menjadi nomor satu di kepolisian, atas dasar profesional, integritas dan kapabilitas yang diukur dengan prestasi, Jadi sangat Promoter.
Namun saya harus memberi ruang alternatif, boleh jadi BS dan FZ mempunyai data, pengamatan dan dasar pemikiran yang berbeda dengan saya sehingga mereka berdua melontarkan pandangan seperti tersebut di atas.
Meskipun demikian, di satu sisi, wacana yang dilontarkan BS dan FZ tersebut, menurut hemat saya, terlalu dini dan tidak kontekstual dengan prestasi Bareskrim Polri menangkap DT.
Sebab, keberhasilan itu, bagian dari tupoksi (kewajiban tugas) Bareskrim Polri sendiri. Di sisi lain, pandangan BS dan FZ sangat tidak menguntungkan bagi seseorang tertentu yang boleh jadi pantas tidaknya menjadi Kapolri.
karena menurut saya, sosok tersebut bekerja atas dasar tugas, tanggung jawab dan panggilan sebagai penegak hukum, bukan karena ingin posisi yang lebih tinggi.
