Liputan BERITA

Singapura Termakan Narasi Buzzer Dalam Profiling UAS

Ditulis oleh Liputan68 pada 18 Mei 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

Jakarta — Liputan68.com | Front Persaudaraan Islam (FPI) menganggap Singapura termakan narasi islamofobia yang gencar disampaikan buzzer pro pemerintah Indonesia dalam mengidentifikasi profil Ustaz Abdul Somad.

Sebelumnya, Singapura menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad yang dianggap telah menyebarkan paham ekstremisme dan merendahkan penganut agama lain.

“Kami meyakini kekeliruan dalam profiling oleh otoritas Imigrasi Singapura terhadap UAS adalah akibat dari Narasi Islamofobia yang dibangun oleh Buzzer pro rezim kekuasaan,” demikian pernyataan sikap FPI.

“Yang selama ini tidak berhenti memberikan citra negatif palsu terhadap ulama istiqamah dan intelektual yang kritis terhadap kebijakan penguasa.”

FPI lalu meminta rezim yang saat ini berkuasa untuk berhenti menggunakan buzzer untuk menyebar narasi islamofobia di media sosial.

FPI juga meminta kepada Majelis Ulama Indonesia untuk tidak tinggal diam dalam menanggapi apa yang dialami Ustaz Abdul Somad di Singapura.

FPI pun menuntut Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk memberikan advokasi kepada Abdul Somad.

“FPI menyesalkan terjadinya perlakuan kurang pantas yang diterima UAS dan meminta otoritas Singapura untuk memberikan penjelasan secara terang benderang kepada publik Indonesia,” mengutip pernyataan FPI.

Seperti diketahui, Abdul Somad ditolak kedatangannya di Singapura pada Senin kemarin (16/05/2022). Dia dideportasi bersama enam orang rombongan.

Singapura menganggap sosok penyiar agama itu pro ekstremisme dan bom bunuh diri.

Mengutip situs resmi Kemendagri Singapura, Somad dianggap tidak bisa diterima oleh masyarakat Singapura yang cenderung multi-ras dan multi-agama.

“Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura,” demikian dikutip dari situs resmi Kemendagri Singapura.

Selain itu, Somad juga pernah menyatakan di hadapan publik bahwa penganut agama selain Islam adalah kafir. Pernyataan itu sangat serius bagi Pemerintah Singapura yang penduduknya terdiri dari beragam penganut agama.

“Pemerintah Singapura memandang serius siapa pun yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi. Somad dan teman perjalanannya ditolak masuk ke Singapura,” mengutip situs resmi Kemendagri Singapura.(SS)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian