Menengok Pengobatan Alternatif Sangkal Putung Ala Mbah Jan Dari Desa Candi, Pacitan. Sejak 1975 Beroperasi Tak Pernah Patok Tarif
Pacitan,Liputan 68.com- Pengobatan tradisional, masih menjadi salah satu tren alternatif sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pacitan.
Bukan karena persoalan ongkos yang terbilang sangat terjangkau, namun banyak orang meyakini, pengobatan alternatif tradisional tersebut, sangat mujarab.
Lantaran, selain skill atau keahlian yang dipunya, juga dipadu dengan suwuk-sembur atau klenik sakti yang bisa membantu proses penyembuhan.
Maka tak heran, jika masih banyak sejumlah masyarakat di kota kelahiran Presiden ke-enam RI, SBY ini yang memilih untuk pengobatan alternatif, utamanya mereka yang mengalami cidera tulang atau gangguan pada urat.
Seperti yang ditekuni oleh Karijan, atau lebih akrab disapa Mbah Jan, salah seorang tabib sepuh yang sampai saat ini masih menekuni kegiatan pengobatan alternatif sangkal putung.
Saat di temui di kediamannya di Dusun Ngebrak, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, pria sepuh kelahiran 30 Juni 1949 silam ini mengatakan, sudah sejak Tahun 1975 ia membuka praktik pengobatan alternatif sangkal putung.
Berkat keahliannya, membantu pengobatan alternatif, Dinas Kesehatan setempat memberikannya selembar Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) bernomor: 445/24/STPT/408.36/2022.
“Kawit Tahun 1975 Mas (wartawan) kulo buka pengobatan sangkal putung (sejak Tahun 1975, saya membuka pengobatan alternatif sangkal putung),” ujarnya, Sabtu (28/6/2025).
Dulu ketika usia masih muda, Mbah Jan mengaku jarang ada di rumah. Ia berkelana dari satu kota ke kota lain untuk menolong sesama yang mengalami cidera tulang atau keluhan pada urat.
Bahkan sampai ke luar pulau, ia jalani untuk sekedar misi kemanusiaan memberi pertolongan bagi masyarakat yang membutuhkan keahliannya dalam menyembuhkan cidera tulang atau salah urat.
Banyak suka-duka ia alami. Utamanya pasien yang menderita keluhan pada urat. Menurut Mbah Jan, khususnya keluhan urat, diakuinya memang cukup sulit untuk menemukan titik pengobatan.
Hal tersebut berbeda dengan penderita cidera tulang, yang kata Mbah Jan, sangat mudah menentukan titik pengobatan.
“Kalau dipegang saja sakit, ya itu titik yang akan diobati. Tapi kalau urat, butuh waktu lumayan lama untuk menentukan titik pengobatannya.
“Dulu saya sering dipanggil dari rumah sakit ke rumah sakit lain, yang ada di luar kota. Pernah juga ke luar pulau. Pokoknya ketika ada yang minta bantuan, pasti saya datangi untuk saya pijat dan terapi, Mas,” tuturnya.
Menurut Mbah Jan, menolong sesama, itu sebagai motivasi utama dalam menyalurkan keahliannya dibidang pengobatan alternatif sangkal putung.
Mbah Jan juga menyatakan, tidak pernah mematok tarif sekalipun terhadap pasien yang mengalami cidera parah.
Yang terpenting, sambung dia, pasien bisa sembuh dari cidera yang dialami dan bisa menjalankan aktivitasnya kembali. Itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mbah Jan.
“Saya tidak pernah mematok tarif. Monggo keikhlasan dari pasien. Yang terpenting mereka bisa sembuh, itu menjadi kebanggaan tersendiri Mas dalam menolong sesama,” ujarnya pada wartawan.
Sekarang, seiring usia yang sudah beranjak senja, Mbah Jan tak kenal surut untuk berbagi dengan sesama. Upayanya dalam menjalankan pengobatan alternatif sangkal putung masih terus berlanjut.
Sekalipun, karena pertimbangan usia, mengharuskan dirinya membuka praktik di kediamannya.
Mbah Jan mengaku sudah tak lagi bisa berkelana. Siapapun yang butuh bantuan dan pertolongan bisa datang ke kediamannya di Dusun Ngebrak, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku.
Demikian pula soal jam praktik, yang juga ia batasi. Dulu kala Mbah Jan bertutur, seakan sudah menjadi kebiasaan jika harus menolong pasien sampai larut malam.
Biasanya mereka yang datang dari luar kota. Namun sekarang, jam praktik harus dibatasi sampai pukul 21.00 WIB. “Dulu sudah biasa Mas ketika ada pasien yang datang pukul 2 pagi. Ya tetap dilayani.
Tapi sekarang sudah tua, jadi jam praktik saya batasi. Paling malam ya jam 21.00 WIB,” tukasnya. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan