Heri Setijono Sekda Pacitan, Hindari Konflik dan Kecemburuan Sosial Di Kalangan ASN?
Pacitan,Liputan68.com-Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Pacitan, Heri Setijono, semakin santer dikabarkan sebagai calon Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan masa depan.
Kualifikasi yang memadai membuatnya memiliki chance besar untuk menempati posisi tersebut.
Utamanya daftar urutan kepangkatan (DUK) yang menempatkan mantan camat di beberapa wilayah itu, berada di level yang patut dipertimbangkan.
Sumber di lingkungan Pemkab Pacitan mengatakan, Heri dianggap pas sebagai penerus Sekda Heru Wiwoho Supadi Putro. Selain memiliki latar belakang pendidikan tinggi kepamongprajaan (alumni IPDN, Red), juga gelar pascasarjana yang telah disandangnya.
Pejabat kelahiran Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku itu, juga telah menyelesaikan syarat pendidikan dan pelatihan kepemimpinan (Diklatpim) tingkat IV, III, dan II.
“Hal ini menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan mengelola tugas pokok dan fungsinya pada organisasi atau perangkat daerah,”ujar sumber yang meminta tidak di petikan jati dirinya dalam pemberitaan media, Ahad (17/8/2025).
Lebih lanjut sumber yang juga dari kalangan pejabat ini mengungkapkan, sebagai Kepala Dinas PMD, Heri telah menunjukkan kemampuan manajerial yang tidak diragukan lagi.
Salah satunya memimpin proses pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), ia mampu berkomunikasi dengan aparat maupun stakeholder desa/kelurahan untuk mencapai tujuan tersebut.
“Heri memiliki karakter kepemimpinan yang handal, seperti terlihat dalam menangani tugas-tugas sebagai camat maupun saat mendapatkan amanah sebagai Kepala Dinas PMD,”jelas sumber tersebut.
Sumber yang lama kenal dengan wartawan ini berpendapat, mengangkat seorang top manager birokrasi bukanlah hal yang mudah.
Kepala daerah perlu mempertimbangkan banyak hal, termasuk asas “the right man on the right place” dan karakter kepemimpinan yang dimiliki.
Perlu diingat, bahwa sebagian ruh Sekda adalah politis, sehingga penting untuk memilih calon yang tepat guna menghindari konflik ataupun kecemburuan sosial di kalangan ASN.
Ibarat menjadi seorang “jenderal” memang tidak harus yang tua. Namun naluri tua juga harus dimiliki.
“Usia tidak selalu menjadi faktor penentu dalam kesuksesan seseorang di posisi kepemimpinan. Yang lebih penting adalah kemampuan, pengalaman, dan naluri yang matang dalam mengambil keputusan,” bebernya. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan