Puisi “Hari Lalu Anak Pacitan” Karya SBY dan PP 48/2005, Menjadi Inspirasi Bagi ASN Pacitan dan Masyarakat. “Terimakasih Tak Terhingga Bapak Presiden SBY”
Pacitan,Liputan 68.com- Puisi bertajuk “Hari Lalu Anak Pacitan” karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang sangat inspiratif bagi kalangan aparatur sipil negara (ASN) di Pacitan, dan juga masyarakat pada umumnya.
Salah satunya seperti yang disampaikan Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Bakesbangpol Pacitan, Herman Ramahi.
Ia mengatakan, sangat terkesan dengan puisi tersebut dan menjadikannya inspirasi dalam bekerja sebagai pelayan masyarakat.
Menurut Herman, dalam puisi karya SBY tersebut, banyak menyiratkan kesan mendalam tentang anak dari sebuah daerah terpencil yang berhasil menjadi pemimpin di negara ini selama satu dekade.
“Saya sangat terharu dengan puisi Bapak SBY yang menggambarkan perjalanan anak Pacitan hingga berhasil menjadi pemimpin nasional. Itulah yang menjadikan motivasi kuat bagi saya dan juga ASN lainnya untuk terus berkontribusi untuk bangsa dan negara ini,” kata Herman, saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Senin (1/12/2025).
Sehingga tak heran, kemanapun Herman bertugas, puisi indah tersebut selalu menghiasi ruang kerjanya.
Dari sudut ruang kerjanya, nampak terpampang sebuah pigura kecil yang didalamnya tergambar Presiden SBY dengan panorama alam Pacitan dan untaian syair puisi yang begitu mengesankan.
Selain puisi indah, Herman pun sangat berterimakasih karena di era pemerintahan Presiden SBY, sempat membesut PP 48/2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Dari lahirnya regulasi yang menjadi domain pemerintah saat itu, ia dan jutaan tenaga honorer daerah di penjuru nusantara, akhirnya bisa diangkat sebagai CPNS hingga membuka jalan dan kesempatan baginya untuk menduduki jabatan strategis, sebagai Kepala Bidang sampai detik ini.
“Terima kasih tak terhingga Bapak Presiden SBY atas lahirnya PP 48/2005 yang mengubah nasib saya dan banyak tenaga honorer lainnya menjadi CPNS, hingga mencapai posisi penting seperti sekarang,” tutur Herman.
Sementara itu berikut untaian syair dalam Puisi Hari Lalu Anak Pacitan:
Hari Lalu Anak Pacitan
Oleh : Susilo Bambang Yudhoyono
Ombak-ombak tinggi itu masih menderu
seperti dulu,menghempas karang, lepas berkejar-kejaran menggulung pasir-pasir putih lembutdi batas laut.
Burung-burung camar pun masih terbang
mengepak, melayang berarak di atas pepohonan pinus tak ringkih meski kurus
menutupi tanah tua berbatu tandus.
Dulu,
bersama teman-teman, aku datang berlarian
mengejar ombak di sela-sela batu karang
riang,berdendang,bercanda dengan buih
dan ikan-ikan kecil kuning pipih,
yang berkata tidak pada letih.
Dulu,
aku juga mendaki bukit
duduk di batu-batu di atas ngarai sempit
melukis alam ciptaan Tuhan
yang tak lapuk oleh putaran zaman
Dulu,
dalam belaian angin laut yang tak pernah mati bertiup,dan bayang-bayang bintang yang tak pernah redup,kutulis dan kurajut puisiku,getaran dan ekspresi jiwaku
satu-satu,lalu kubiarkan puisi itu terbang ke laut lepas menembus cakrawala tanpa batas hidup di taman keabadian, apa adanya,
selamanya.
Dalam syukur kepada Sang Pencipta
kupandang, kusapa laut lepas yang membiru
di keindahan teluk itu, yang setia memantulkan sinar mentari pagi, mengabarkan rindu hati dalam harmoni, dan nyanyi ombak dan burung kenari.
Di ufuk timur,
dalam pejam kulihat perahu-perahu penangkap ikan berlayar, sunyi di kejauhan,
bagai bertutur kepada zaman dihadapan
tentang kisah dan legenda panjang kakek nelayan yang berabad bersahabat dengan alam
meski hidup tak mudah terlunta, tertatih dan hampir pasrah dan dengan tangan bergetar lalu ia menengadah lirih bertanya, adakah alam ini menjanjikan berkah?
Kawan, dengan takjub mesti kuabadikan
semuanya,dalam jiwa-jiwa yang merdeka
karang, pendar buih dan ombak-ombak yang tak henti berkejaran pinus, bunga selasih dan cemara tua yang menari-nari tak berkesudahan semuanya,dalam kidung,lukisan dan syair-syair merdu di melodi kehidupanku,buat kado hari laluku,
hari lalu Anak Pacitan
Jakarta, 1 Januari 2013.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan