Liputan BERITA

Belati Gawai di Masa Pandemi

Ditulis oleh Liputan68 pada 29 Juli 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Arfanda Siregar
Mudir Islamic Center Ali Bin Abi Tholib

Pemerintah tak boleh menutup mata atas dampak negatif pembelajaran daring menggunakan gawai di tengah wabah pandemi virus corona. Sepintas gawai memang menjadi media termudah dan termurah pembelajaran daring dibandingkan penggunaan laptop dan komputer. Namun dampak buruk gawai harus diantisipasi sebelum menjadi benalu bagi generasi masa depan bangsa.

Kekhawatiran tersebut bisa jadi mewakili perasaan orang tua yang resah melihat anak berusia belia teramat akrab dengan benda mungil tersebut. Bukan saja pengeluarannya bertambah besar karena membelikan gawai maupun menyediakan paket data sebagai sarana belajar anak. Terlebih lagi, kecemasan membuncah melihat sang buah hati kian akrab dengan benda mungil tersebut.

Harus diakui sisi positif gawai banyak, namun sisi negatifnya juga besar, khususnya bagi perkembangan anak. Gawai mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi. Portal-portal pendidikan yang berkualitas berserakan di dunia maya. Bahkan, rekaman pelajaran dan persentasi para pakar yang berasal dari universitas ternama di dunia mudah diperoleh di internet. Berbagai pelatihan keterampilan daring ditawarkan. Peminat cukup mengetikkan kata kunci di mesin pencari.

Namun, sisi negatifnya pun tak kalah mengerikan. Dia ibarat belati tajam bagi anak-anak, yang hanya menggunakan gadget sebagai alat permainan dan hiburan semata. Fasilitas gawai, seperti game, tontonan, judi, dan jejaring sosial bila dikonsumsi berlebihan berefek buruk pada fisik, otak, mental, dan sosial.

Anak-anak belum mempunyai kontrol diri. Kalau sudah asyik bermain game dan aplikasi mengasikkan sulit dihentikan. Anak yang kecanduan gawai sulit sembuh seperti manusia normal. Kecanduan gawai ibarat ketergantunga narkoba. Sudah banyak contoh anak-anak yang harus direhabilitasi mentalnya oleh rumah sakit gara-gara kecanduan gawai.

Di dunia medis muncul istilah nomofobia yang berasal dari istilah “no-mobile-phone-phobia” atau sindrom kecanduan gawai. Sebenarnya sindrom ini menyerang banyak orang dari berbagai kalangan dan usia. Namun, yang paling banyak terkena sindrom nomofobia ini adalah anak-anak milenial yang sangat suka dan selalu ingin update dengan hal-hal terbaru.

Pandemi Coved-19 telah mempercepat integrasi gawai dengan kehidupan anak. Orang tua tidak siap karena tak mampu mengendalikan anak menggunakan dawai. Anak juga tidak siap karena belum memiliki nalar yang baik atas berbagai konten yang ditawarkan berbagai situs internet.

Anak berusia belia, yang masih berusia di bawah 14 tahun belum pantas dibelikan gawai tanpa pengawasan ketat dari orang tua. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), usia ideal anak dapat mengakses gadget saat menginjak usia 14 tahun. Bill Gates, orang terkaya dunia, ketika diwawancarai majalah Tenplay mengatakan bahwa ketiga anaknya tidak diberi gawai hingga berusia 14 tahun. Pemilik perusahaan Microsoft tersebut dengan tegas mengatakan anak tidak boleh diberi gawai sebelum menginjak 14 tahun. Dan seluruh ahli parenting mengamini perkatanya tersebut.

Pembelajaran jarak jauh menggunakan gawai selama pandemi Coved-19 membuat banyak orangtua stres. Bukan saja pengeluaran lebih besar karena harus membeli gawai baru dan paket data. Terlebih lagi anak-anak mereka yang masih di bawah umur rentan terpapar pengaruh buruk internet dan gawai.

Sampai sekarang belum ada laporan pemerintah atas tingkat efektifitas belajar daring menggunakan gawai selama pandemi. Malah Studi ESPAT (End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purpose, 2020) berkata sebaliknya. Bahwa mengakses internet saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diberlakukan Mendikbud Nadiem membuka ruang bagi kejahatan seksual yang mengancam anak-anak.

Studi tersebut mewawancarai secara daring 1.203 anak dari 13 provinsi di Indonesia pada masa pandemi Covid-19, menemukan ada 287 anak yang mendapatkan pengalaman buruk ketika berselancar di dunia maya. Anak-anak yang diharapkan mengakses dunia maya sebagai bagian dari proses pembelajaran daring, ternyata sering menerima pesan tak senonoh, gambar atau video pornografi, dan ajakan membicarakan hal yang membuat anak tidak nyaman. Sejumlah anak menjadi korban pornografi karena penggunaan medsos yang lebih tersembunyi, seperti whisper dan secret yang bisa berbentuk aplikasi.
Pembelajaran daring, khususnya menggunakan gawai di era pandemi memang keniscayaan.

Namun, membiarkan seluruh sekolah melakukan pembelajaran daring tanpa aturan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi anak-anak berusia belia. Jika berlangsung lama, pendidikan terancam krisis, sebagaimana dialami bidang lainnya. Pembelajaran daring merupakan solusi darurat dan tetap harus dicari solusi alternatif, khususnya bagi siswa yang berusia di bawah 14 tahun.

Sampai saat ini, pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak memiliki platform pembelajaran masa pandemi. Pemerintah hanya menyuruh seluruh sekolah di daerah yang terjangkit Coved-19 melakukan daring. Bagaimana caranya? Semuanya diserahkan ke sekolah. Ini sungguh aneh, sebab tidak semua sekolah di Indonesia siap dengan pembelajaran daring yang sehat bagi perkembangan jiwa dan intelektual anak.
Seharusnya di masa pandemi yang belum pasti kapan berakhir, pemerintah membuat platform pembelajaran di era pandemi. Pembelajaran tidak selalu mengunakan gawai. Banyak alternatif lain, seperti pembelajaran berbasis komunitas, yaitu guru melakukan kegiatan kunjungan dan sekaligus mengajar ke tempat tertentu yang dekat dengan tempat tinggal siswa. Tentu kegiatan itu harus dibarengi dengan penerapan protokol penanganan Covid-19.

Kalaupun akhirnya harus menggunakan daring, pemerintah wajib menyediakan atau mensubsidi laptop dan paket data kepada siswa. Laptop lebih aman daripada gawai. Pemerintah tak perlu bingung mencari dana. Tokh, dana pendidikan di negeri ini mencapi 450 triliun dimana 567 miliar akan diberikan kepada 156 ormas membuat program pelatihan guru .

Alangkah bijaknya dana tersebut dialihkan mendukung pembelajaran daring siswa. Daripada dana tersebut diberikan kepada organisasi besar, seperti Yayasan Sampoerna dan Tonoto Faundation untuk membuat program pendidikan yang belum tentu bermanfaat bagi siswa, mengapa tak diberikan saja kepada siswa agar belati gawai tak “melukai” siswa. Semoga.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian