Liputan KOLOM

Putri Champa dan Runtuhnya Majapahit

Ditulis oleh Liputan68 pada 20 Agustus 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oeh: Agus Marwan

(Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia)

 

Dalam sejarah perjalanan peradaban Nusantara, Champa tidak saja mewarnai jejak peradaban, juga mewarnai berakhirnya Majapahit dan hadirnya Kerajaan Islam Demak di Nusantara. Jauh sebelum Putri Champa hadir di Nusantara dan menjadi permaisuri Bhre Kertabumi Raja Brawijaya V, hubungan antara Kerajaan Champa sdh sangat terjalin erat dengan Kertanegara raja terakhir Singosari (1268-1292). Kertanegara merangkul Champa melalui pernikahan antara adiknya yg bernama Putri Tapi dan Raja Jaya Simhawaman III.

 

Sekalipun Singosari runtuh, dan Majapahit menguasai Nusantara, hubungan antara Majapahit dan Champa tetap terjalin erat. Itu ditandai dengan Ratu Dwarawati putri Raja Champa yg menjadi permaisuri Raja Brawijaya V. Kemudian Ratu Dwarawati ini dikenal dengan Putri Champa. Pernikahan keduanya menghasilkan seorang putra yg diberi nama Raden Ario Damar, yg nantinya akan menjadi Bupati di Palembang. Selain memiliki Putri Champa, Brawijaya V juga memiliki selir keturunan China bernama Siu Ban Ci. Dari pernikahan ini lahirlah Jin Bun yg kemudian dikenal dgn nama Raden Patah.

 

Situasi Majapahit kala itu mengalami kemunduran moral, yg berakibat semakin lemahnya kekuasaan Majapahit. Melihat situasi ini, Putri Champa mengusulkan ke Brawijaya V utk menghadirkan Ali Rahmatullah pendakwah Islam dari Champa. Ali Rahmatullah tak lain adalah ponakan dari Putri Champa sendiri, anak dari pernikahan kakak Putri Champa yg bernama Dewi Candrawulan dengan seorang ulama dari Samarkand bernama Maulana Ibrahim AlGhazi atau Ibrahim Asmarakandi. Usul Putri Champa ini disetujui oleh Brawijaya V.

 

Sifat santun Ali Rahmatullah ini menarik hati sang Raja. Sehingga baru saja tinggal di Majapahit, dia sdh dinikahkan dengan Putri Raja yaitu Dewi Candra Wati. Sejak itu, Ali Rahmatullah mendapat gelar Raden Rahmat, dan diberi sebidang tanah beserta bangunan di kawasan Ampeldelta (Surabaya). Disinilah Raden Rahmat mulai mendirikan Mesjid dan Pesantren. Selain keluarga Raja, pesantren ini juga terbuka utk umum bagi masyarakat yang mau belajar budi pekerti. Raja Brawijaya V sangat bahagia melihat keberhasilan Raden Rahmat dalam memperbaiki moral dan budi pekerti rakyat Majapahit, sehingga kerajaan itu kembali aman dan tentram. Karena Raden Rahmat menguasai kawasan Ampeldelta, kemudian mendapat gelar sebagai Sunan Ampel.

 

Sunan Ampel sendiri secara terbuka mengatakan kpd Raja bahwa yg disampaikannya adalah ajaran2 Islam. Dan Raja sebenarnya mnyukai, tapi tatkala Sunan Ampel mengajak Raja masuk Islam, sang Prabu tidak bersedia. Alasannya sangat berat meninggalkan agama Hindu yg sdh mendarah daging atas dirinya. Tapi sang Raja memberi kebebasan kepada Sunan utk menyiarkan agama Islam.

 

Salah satu keturunan Raja Brawijaya V yg kemudian menjadi murid Sunan Ampel adalah Raden Patah. Raden Patah menolak menjadi Bupati Palembang oleh ayahnya, dia memilih berlayar ke pulau Jawa, dan berlabuh di Ampel Delta, dan bertemu dengan Sunan Ampel. Raden Patah kemudian berguru pada Sunan Ampel.

 

Tak lama kemudian Raden Patah menghadap sang Raja yg tak lain adalah ayahnya sendiri utk mengabdi di Kerajaan Majapahit. Dan oleh sang Ayah, Raden Patah diangkat menjadi Bupati di daerah Glagah wangi yg skg disebut Demak. Sekalipun sdh menjadi Bupati Raden Patah pun masih tetap belajar Islam kpd Sunan Ampel. Hingga kemudian sang guru menikahkan putrinya kepada sang muridnya. Hingga kemudian Raden Patah dan Sunan Ampel merintis pembangunan Mesjid Agung Demak di desa Kauman pd thn 1447. Kemudian mesjid ini terus disempurnakan hingga menjadi markasnya Wali Songo.

 

Pada tahun 1478, Giridrawardhana putra dari Raja Suprabhawa yg digulingkan oleh Raja Brawijaya V ini menuntut balas atas kematian Ayahnya. Majapahit pun diserbu oleh pasukan yg bermarkas di Dhaha ini. Raja Brawijaya V pun berhasil digulingkan. Ada beberapa versi akhir nasib dari Brawijaya V ini. Ada versi lari ke Demak ke tempat anaknya, ada versi lari ke Gunung Lawu utk melakukan Moksa. Dan ada versi sang raja gugur saat penyerbuan itu.

 

Naiknya Girindrawardhana membuka kesempatan bagi Raden Patah utk meluaskan kekuasaannya. Sebenarnya Raden Patah sdh lama berambisi hendak menaklukkan Majapahit, namun Sunan Ampel selalu melarangnya. Sekalipun Majapahit berbeda agama, tetapi Brawijaya V tetaplah ayah Raden Patah.

 

Seiring dengan Majapahit dikuasai oleh Girindrawardhana, dan Sunan Ampel pun wafat, barulah Raden Patah menyusun rencana utk merebut Majapahit. Utk itu dia mengumpulkan dari para pendukungnya dari daerah2 Islam spt Gresik, Tuban, dan Jepara. Raden Patah jg meminta nasehat dan bantuan dari anggota Wali Songo.

 

Dan penyerangan pun berhasil. Girindrawardhana pun ditangkap dan diadili. Setelah Majapahit takluk, Raden Patah kemudian mendirikan Kerajaan Islam Demak. Masa kejayaan Majapahit pun berakhir di Nusantara, dan muncullah Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian