Liputan BERITA

H. Lancur Susanto Habiburokhman: Malam 1 Suro dan 1 Muharam 1448 H: Momentum Spiritual Menyucikan Hati dan Menata Langkah Kehidupan

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 13 Juni 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan68.com-Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Malam 1 Suro dalam tradisi Jawa menjadi momentum spiritual yang sarat makna. Peristiwa ini tidak hanya menandai pergantian kalender, tetapi juga menghadirkan ruang perenungan mendalam bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi diri, menyucikan hati dan pikiran, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bulan ini menjadi pengingat atas peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah tersebut menjadi tonggak penting lahirnya peradaban Islam yang membawa perubahan, kemajuan, dan semangat pembaruan bagi umat manusia.

Sementara dalam tradisi budaya Jawa, Bulan Suro dikenal sebagai bulan yang sakral dan penuh nilai spiritual. Malam 1 Suro dimaknai sebagai waktu terbaik untuk bermuhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup, membersihkan diri dari berbagai sifat buruk, serta memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan kepada Allah SWT.

Salah seorang tokoh masyarakat di Pacitan, H. Lancur Susanto Habiburokhman, mengatakan bahwa Malam 1 Suro dan 1 Muharam sejatinya memiliki pesan yang sama, yakni mengajak manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

“Pergantian Tahun Baru Islam dan Malam 1 Suro bukan sekadar tradisi atau seremoni tahunan. Ini adalah momentum spiritual yang mendalam untuk bermuhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki diri, serta menata langkah menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, nilai-nilai keislaman dan kearifan budaya Jawa dapat berjalan selaras dalam membangun karakter masyarakat yang religius, berakhlak, dan tetap menghargai warisan budaya leluhur.

“Muharam mengajarkan semangat hijrah, yaitu berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Sedangkan Suro mengajarkan pentingnya perenungan, ketenangan batin, dan pengendalian diri. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekatkan manusia kepada Allah SWT,” tambahnya.

Ia juga mengajak masyarakat Pacitan untuk menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1448 H sebagai sarana memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta menjaga harmoni kehidupan sosial dan budaya.

“Mari kita sambut tahun baru ini dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keselamatan, keberkahan, dan kemudahan dalam setiap langkah kehidupan kita,” pungkasnya.

Malam 1 Suro dan 1 Muharam 1448 H pada akhirnya menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup bukan sekadar tentang pergantian waktu, melainkan tentang bagaimana manusia terus memperbaiki diri. Dalam keheningan malam yang penuh makna, masyarakat diajak merenungkan perjalanan yang telah dilalui, mensyukuri nikmat yang diberikan, serta menata harapan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dengan penuh keimanan dan kebijaksanaan.(Red/yun).

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian