Rabu, 8 Juli 2020
MEWASPADAI POTENSI DARURAT KOMUNIKASI RUANG PUBLIK
Jakarta – LIPUTAN68.com – Disadari atau tidak, ruang publik sosial media masih terus diwarnai pilihan diksi dan atau kemasan pesan yang dapat menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat dan berpotensi mengancam disintegrasi sosial.
Dari pilihan diksi dan pesan komunikasi yang dilontarkan memposisikan satu dengan yang lain seolah sudah “berhadap-hadapan”, sekaligus dapat “menjelaskan” identitas dan posisi kelompok serta kepentingan politiknya.
Pola komunikasi tersebut masih terus mengemuka di ruang publik dengan melebelkan kelompok tertentu pada posisi sebagai memunculkan kembali ideologi komunis, menempatkan sosok tertentu sebagai anti suatu agama dan pro negara tertentu, kandrun, teroris, radikalis, adek-adek calon teroris dan lain sebagainya.
Semua itu tidak lain bertujuan menggiring atau membentuk opini publik tidak produktif dalam rangka kebersamaan sebagai negara kebangsaan.
Hati-hati, bisa saja terjadi dalam diskusi-diskusi kelompok kecil di teritorial privat tindakan manipulasi persepsi dengan mengemukakan antara lain, mana lebih dipercayai antara kitab suci (menyebut nama kitab) agama dengan ideologi bangsa.
Pasti jawaban mereka, kitab suci tersebut. Atau membandingkan, mana lebih baik presiden (menyebut nama presiden tertentu) dengan Nabi yang sangat mulia. Pasti jawaban mereka, Nabi. Jelas, ini upaya penggiringan peta kognisi.
