Liputan KOLOM

Sedah Mirah Bobby Nasution Dalam Kosmologi Sejarah Peradaban

Ditulis oleh Liputan68 pada 12 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Keutamaan Adipati Sedah Mirah Sebagai Pejabat Kartipraja.

Cahaya menerangi jagat raya. Martabak bang sumirat, keneng sorote mega lan gunung gunung. Tanda bumi pertiwi bahagia sejahtera.

Dunia berseri seri. Telah lahir seorang wanita ayu hayu rahayu pada tanggal 1 Agustus 2018. Dia bernama Sedah Mirah Nasution. Kehadiran putri pasangan mas Bobby Nasution dan mbak Kahiyang Ayu amat dinanti. Sanak kadang pawong mitra mangayu bagya, memberi ucapan selamat.

Kelahiran Sedah Mirah jumbuh dengan asal usul leluhur Pak Joko Widodo. Orang tua Pak Jokowi berasal dari Gumukrejo Giriroto Ngemplak Boyolali. Secara historis daerah ini dulu dalam pembinaan Kraton Pengging. Orang tua Pak Jokowi, yaitu pasangan Widjiatno Notomihardjo dan Soedjiatni terlalu akrab dengan heroisme kawasan Pengging.

Cerita Pengging mewariskan nilai keluhuran. Ada Kanjeng Adipati Handayaningrat, Ratu Pembayun yang dikenal Sakti mandraguna.

Tokoh Pengging lain yaitu Joko Tingkir yang menjadi raja Pajang tahun 1646. Beliau bergelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Beliau berjasa atas pembangunan dasar dasar tata praja.

Perkembangan Sastra piwulang terjadi di kawasan Pengging. Juga tokoh kesesusteraan Jawa, yaitu Kyai Yasadipura yang lahir tahun 1729. Beliau menciptakan serat Dewaruci, serat Rama, serat Sasana Sunu, serat, Baratayuda. Sastra piwulang ini lestari sepanjang jaman, sebagai pegangan hidup.

Sumber kearifan lokal berlimpah ruah. Dari kawasan Pengging ini lahir cucu Yasadipura yang bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita tahun 1801. Kyai Yasadipura dan Ranggawarsita keturunan langsung KRT Padmanagara, bupati Pekalongan.

Kawruh kasampurnan dibabar oleh para dwija mulya. Jauh sebelumnya Pengging menjadi sentral peradaban. Leluhur Pengging terbiasa mersudi unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.

Kautaman tumraping pangreh praja memang penting srkali. Misalnya keteladanan pejabat negara yang amat hebat. Yakni Raden Ayu Adipati Sedah Mirah. Para abdi negara bisa meniru lekas luhur masa lalu.

Kerajaan Pengging memberi kedudukan terhormat pada wanita. Ada tokoh Sedah Mirah yang tampil amat mengagumkan. Tokoh wanita sangat cemerlang dan pantas dikenang.

Nama Sedah Mirah amat terkenal dalam lintasan sejarah Jawa. Kerajaan Pengging, Pajang, Mataram menjadikan gelar Sedah Mirah untuk mengurusi kementrian sosial. Jabatan di departemen sosial kerajaan Jawa selalu diisi oleh seorang wanita yang mumpuni.

Pada tahun 423 Saka Kraton Pengging diperintah oleh Sinuwun Prabu Kusuma Wicitra. Permaisurinya bernama Dewi Daruni, putri Adipati Ajar Kapyara Bupati Banyuwangi. Putranya berjumlah lima orang, yaitu Raden Citrasoma, Raden Citrasena, Raden Upacitra, Dewi Citrawati dan Raden Wilakusuma.

Negeri Pengging diperintah dengan suasana bijak bestari. Rakyat hidup bahagia, murah sandang pangan papan. Sinuwun Prabu Kusuma Wicitra membentuk lembaga Kartipraja. Departemen sosial ini bertugas untuk mengurus kesejahteraan umum. Kanjeng Adipati Sedah Mirah menjabat sebagai pimpinan lembaga Kartipraja.

Adipati Sedah Mirah populer di mata masyarakat. Sebagai departemen yang mengurus kegiatan sosial, lembaga kartipraja selalu sibuk. Siang malam banyak pekerjaan. Tugas dikerjakan dengan gumreget gumregut gumregah.

Demi menjaga keutuhan wilayah, Sinuwun Prabu Kusuma Wicitra melakukan diplomatik kekerabatan. Dewi Citrawati menikah dengan Raden Panji Jaya Lengkara dari Mamenang. Raden Citrasena menikah dengan Ratu Welas, putri raja Banten. Raden Welakusuma berjodoh dengan Mayang Sumilir, putri Bupati Blambangan.

Pernikahan lintas daerah ini menguntungkan usaha integrasi bangsa. Hal ini sebagaimana perjodohan Mas Bobby Nasution dengan Mbak Kahiyang Ayu yang melahirkan Sedah Mirah Nasution.

Semangat sosial yang diwariskan oleh Raden Ayu Sedah Mirah yang menjadi pejabat kartipraja Kerajaan Pengging bisa ditiru oleh cucu Pak Jokowi. Yakni jiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Raden Upacitra diambil menantu Raja Malawapati, berjodoh dengan Rukmi Suminar.
Pemerintahan negeri Pengging diteruskan oleh Raden Citrasoma pada tahun 435. Bergelar Prabu Citrasoma, memimpin dengan prinsip ber budi bawa leksana. Pemimpin ber budi berarti bersikap murah hati kepada segala lapisan masyarakat. Bawa laksana berarti konsekwen dan konsisten, satunya kata dan perbuatan. Pimpinan negara benar-benar menjadi suri teladan.

Dalam wayang madya kerap dipentaskan cerita dengan latar Pengging dan Mamenang. Keluarga Pak Jokowi mendapat nilai kearifan lokal dari cerita kuna. Mbak Kahiyang Ayu sebagai ibunda Sedah Mirah menghayati Sastra piwulang.

Bekal untuk mengabdi pada rakyat hendaknya bersandar pada fakta historis yang meninggalkan nilai kebajikan. Kearifan lokal yang bersumber dari nilai tradisi dapat memperkokoh jati diri bangsa. Generasi muda tak boleh tercerabut dari akar budaya bangsa. Begitu juga anak cucu Pak Jokowi sangat menghargai tradisi nenek moyang.

B. Adipati Sedah Mirah Selalu Mengutamakan Keselamatan dan Kesejahteraan

Keselamatan dan ketentraman rakyat sangat diutamakan. Ketika negeri Pengging terjadi pageblug mayangkara, Prabu Citrasoma cepat bertindak. Beliau memberi perintah kepada Raden Ayu Sedah Mirah untuk menyelenggarakan tata cara sesaji Giri Pawaka. Tujuannya untuk menghindari bahaya lahar erupsi Gunung Merapi. Tempat upacara sesaji Giri Pawaka berada di Drajidan Musuk, kaki Gunung Bibi. Bagi warga lereng Merapi Merbabu, gunung Bibi menjadi beteng penolak balak.

Pangkur

Singgah singgah kala singgah. pan suminggah durga kala sumingkir.
sing asirah sing asuku. sing datan kasat mripat. sing atenggak sing awulu sing abahu. kabeh padha sumingkira.
ing telenging jalanidhi.

Aja anggodha lan ngrencana. apan ingsun ya jatining urip. dumadiku saka henu. haneng henenge cipta.
singgasana ing tawang tuwang prajamu. sinebut pura kencana.
bebetenging rajeg wesi.

Ana kanung saka wetan. nunggang gajah telale elar singgih. kullahu barang balikul
jim setan brekasakan.
amuliha mring tawang tuwang prajamu. eblise ywa keri karang. Rahman kulhu bolak balik

Mantra keluar dari juru nujum. Pageblug dari segala penjuru berbalik arah. Rakyat negeri Pengging ayem tentrem. Upacara dipimpin oleh Nyai Adipati Sedah Mirah. Warga Merapi Merbabu membantu abdi dalem Mandra Budaya.

Kepemimpinan negeri Pengging benar -benar bikin ayom dan ayem. Prabu Citrasoma menikah dengan Dewi Sriyati, putri Resi Sidik Wacana dari Pertapan Wukir Merbabu. Punya empat orang anak, yaitu Raden Pancadnyana, Raden Pancadriya, Dewi Pancawati, Raden Selandana.

Lengser keprabon madeg pandhita. Tahun 459 negeri Pengging diserahkan kepada Prabu Pancadriya. Lembaga Kartipraja yang diurus oleh Nyi Adipati Sedah Mirah diberi kewenangan yang lebih luas. Pertanian diberi fasilitas pengairan yang memadai. Umbul Pengging mengalir deras. Air untuk pengairan di sawah pedesaan diurus oleh Jagatirta.

Prabu Pancadriya menikah dengan Dewi Gandawati, putri Prabu Jaya Amisena di negeri Mamenang. Lahirlah Raden Sucitra dan Raden Suwarna. Raden Prawa menjadi brahmana di pertapaan Madya Panjang dengan nama Resi Dewabrata.

Raden Sucitra menjadi raja di Salembi dengan nama Arya Darmandriya, Prabu Darmakusuma, Prabu Dipanata. Sedangkan Raden Suwarna menjadi raja di Sudimara dengan gelar Prabu Mandrakusuma atau Arya Sumandriya. Mereka selalu guyub rukun.

Adapun Raden Saputra menggantikan raja di Pengging tahun 459 – 482. Bergelar Prabu Anglingdriya, Prabu Dewa Kusuma atau Prabu Dewanata. Beliau menikah dengan Dewi Somani putri Begawan Pancadnyana. Lahir Dewi Rarasati, istri Raden Damarmaya raja Salembi. Lantas Prabu Suwelacala raja di Medang Kamulan.

Tahta kraton Pengging dipegang oleh Raden Pandayanata sejak tahun 482 – 514. Bergelar Prabu Pandaya Kusuma atau Prabu Citra Pandaya. Lalu kerajaan Pengging diteruskan oleh Prabu Citra Kalingga. Negeri Pengging selalu gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Kedudukan lembaga Kartipraja selalu mendapat wewenang utama. Raden Ayu Adipati Sedah Mirah mendapat kepercayaan untuk mengabdi dalam bidang sosial. Kesejahteraan rakyat menjadi prioritas dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Sedah berarti sajian, persembahan, suguhan, layanan, pengabdian. Mirah berarti rasa belas kasih, murah hati, kasih sayang, perhatian, perasaan dekat, kelembutan, keramahan. Sedah Mirah nama yang benar-benar agung dan anggun, karena keramahan, ketulusan dan kesahajaan.

Putri Mas Bobby Nasution – Mbak Kahiyang Ayu selalu menghibur Pakdhe Gibran Rakabuming Raka, Budhe Selvi Ananda, Paklik Kaesang Pengarep. Sedah Mirah melengkapi anugerah besar keluarga Pak Jokowi Bu Iriana. Kanthi pangajab dadi mustikaning putri, tetunggule widodari.

Murih supeketing kekadangan, raketing memitran. Alangkah menyenangkan bila bertemu dengan empat generasi baru. Jan Ethes Srinarendra, La Lembah Manah, Sedah Mirah Nasution dan Panembahan Al Nahyan Nasution. Mereka ber bandha, ber bandhu.

Trah Pak Jokowi menjalin kerukunan. Persaudaraan menjadi modal utama dalam kehidupan, ngudi sejatining becik.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian