Oleh: Iswan Kaputra & Ilham Maulana
(Keduanya adalah Aktivis Sosial Asal Labuhanbatu)
Bahan Baku, Teknologi & Kelayakan Usaha
Dari jumlah 17 PKS, 26 hamparan luas perkebunan sawit besar dan 118.988,45 ha luas perkebunan kelapa sawit rakyat yang ada di Labuhanbatu, tentunya tidak perlu meragukan lagi bahan baku untuk produksi briket ini. Kami coba simulasikan ketersediaan bahan baku ini dengan mengambil sampel 3 PKS yang berdekatan jaraknya, di sekitar daerah Sigambal dan Aek Nabara, PT Lingga Tiga Sawit, PT Supra Matra Abadi dan PT Indo Sepadan Jaya, masing-masing pabrik ini memiliki kapasitas olahan untuk 50.000 ton kg tandan buah segar (TBS) per jam. Jika dihitung pabrik menggiling selama 23 jam perhari, dengan estimasi istirahat mesin 1 jam perhari, maka akan didapatkan angka 3.450.000 ton TBS yang diolah.
Mengikuti logika perhitungan dari riset yang dilakukan di Kuantan Sengingi, Riau yang telah di bahas di atas, maka akan dihasilkan tidak kurang dari 690.000 ton tankos dari 3 PKS tersebut. Dan, potensi emas ini belum dikelola dan dimanfaat-gunakan dengan baik!
Meskipun teknologi yang digunakan dalam pembuatan briket tankos sawit tergolong baru dan merupakan inovasi atau terobosan pengolahan limbah, namun secara teknis teknologinya tidak terlalu rumit, alat-alat modern yang digunakan tidak perlu didatangkan jauh dari luar negeri, cukup dengan memesannya dari dalam negeri, tepatnya peralatan permesinan tersebut telah tersedia di kota Semarang, Jawa Tengah. Pemesanan juga dapat disesuaikan dengan tonase atau kapasitas produksi yang diinginkan.
Untuk menghemat biaya perjalanan dari proses pemesanan dan transaksi, dapat dilakukan secara online dengan pengiriman melalui jasa cargo/expedisi. Karena relatif dapat dikatakan gagasan baru, pesaing bisnis briket berasal dari tankos untuk wilayah provinsi Sumatera Utara masih tergolong minim. Hanya baru ada sejenis industri mini di kota Medan dan kabupaten Asahan.
Begitupun untuk menjadi besar dan berkembang, mereka sangat memerlukan industri briket baru sebagai mitra dalam memenuhi kuota ekspor atau permintaan luar negeri dan untuk menjadi besar, jejaring industri kecil rakyat ini perlu membentuk semacam ekosistem industri briket berasal dari limbah sebagai terobosan.
Sedangkan industri besar dan badan usaha milik negara (BUMN) yang telah lama mengolah briket bukanlah merupakan saingan langsung dari induistri kecil rakyat tersebut, industri besar memproduksi bahan bakar padat berasal dari kayu –kini menghadapi kesulitan bahan baku– dengan mesin super industri dan mengonversi bentuk menjadi produksi wood pellet sebagai bahan bakar padat biomassa untuk menyuplai pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) . Persaingan bisnis briket masih minim dan memiliki ketergantungan tertentu dalam memenuhi pasar.
Briket berbahan baku limbah sawit tankos layak untuk diproduksi, karena memiliki return on investment (ROI) atau tingkat pengembalian investasi secara keseluruhan 13,03% dan pay back periode (PBP) 0,64 tahun dalam penjualan sebanyak 40.000 kg briket per bulan. Sebagai perhitungan kasar, kami membuat simulasi, biaya tetap Rp 41.250.000,- biaya produksi Rp 43.000.000,- briket dijual dengan harga Rp 4.000,- per kilogram, maka akan didapatkan keuntungan Rp 156.000.000,- per bulan, untuk produksi awal, pada bulan pertama.
Potensi Pasar
Potensi pasar briket dapat dilihat dari permintaan briket yang terus meningkat setiap tahun, data sejak tahun 2015 hingga tahun 2019, seperti digambarkan dalam tabel dan peta nilai impor briket dan permintaan pasar yang kami sajikan di bawah, terus menunjukkan peningkatan. Dengan nilai yang terus meningkat, dianggap cukup menjelaskan bahwa permintaan akan briket sangat tinggi dan mengalami pertumbuhan cukup pesat.
ITC, UN COMTRADE sepertinya sengaja tidak menghitung atau menampilkan data trader tahun 2020, karena pandemic covid19 yang melanda dunia. Sepertinya penghitungan akan tidak fair jika kondisi khusus pada tahun 2020 ini juga dihitung dan dibandingkan dengan kondisi normal tahun-tahun sebelumnya. Namun data penghitungan kurun waktu 5 tahun sebelumnya saja sudah cukup menjadikan gambaran pertumbuhan pasar briket dunia.
Tahun 2015 hingga 2019, dalam kurun waktu 5 tahun, pertumbuhan kebutuhan negara-negara pengimpor arang dunia, dihitung dari nilai Dollar yang dibelanjakan mencapai angka US$ 6.814.708.000 atau setara dengan Rp 102.220.620.000.000,- (102,2 triliun rupiah) jika dikalikan dengan nilai Rp 15.000,- persatu dollar. Angka rata-rata pertahunnya US$ 1.362.941.600, setara dengan Rp 20.444.124.000.000 (20,5 triliun rupiah). Jika dihitung dengan besaran tonase import negara-negara pengimpor maka akan muncul angka 298 juta ton dengan persentase total pertumbuhan 5 tahun 24,5%. Jika dirata-ratakan pertahun maka angka pertumbuhannya mencapai 60 juta ton atau setara dengan tumbuh 5% setiap tahunnya.
