Legenda Eluh Berru Tinambunen: Memahami Duka Hati Seorang Wanita
Oleh: Prof Dr Sriminda Murni, MS
(Wakil Ketua TP PKK Pakpak Bharat & Guru Besar UNIMED)
Di dalam masyarakat Pakpak, wanita adalah makhluk yang sangat dihormati. Sistim pengawalan terhadapnya merupakan kolaborasi kultural sistematis yang apik dari garis keluarga Ayah maupun Ibunya.
Ketika lapis penjagaan itu lepas dan tersingkap, seorang perempuan dapat mengalami bencana. Hal itu dikarenakan si wanita potensial harus berhadapan langsung dengan kekuasaan lain yang tidak mampu dicegah oleh seorang Ayah saja.
Begitulah kira-kira cerita alam yang mampu saya ‘dengarkan’ dari bisikan pepohonan yang sebenarnya cenderung lebih banyak diam selama kami berada di lokasi Eluh Berru Tinambunen di daerah Delleng Simpon Kecamatan Sutellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat ini.
Dalam legenda itu diceritakan bahwa gadis dari Pakpak Kelasen ini (daerah Humbang Hasundutan) dibawa diam-diam dalam tidurnya ke Pakpak Sim-sim (kawasan Pakpak Bharat) atas suruhan seorang lelaki kaya bermarga Berutu.
Sang lelaki memaksa ingin menikahinya walau si gadis tidak menginginkannya. Sang Ayah pun tidak mampu mengalahkan tekanan kekuasaan atas diri dan putrinya.
Saat berada di perbatasan Pakpak Kelasen dan Pakpak Simsin, yakni di daerah Delleng Simpon, sang gadis terbangun dan terus menerus menangis.
Para pengawal yang sedang tertidur pulas tidak menyadari hal ini. Di saat terbangun mereka hanya menemukan sebuah ceruk berisi air yang mereka yakini adalah air matanya dan si gadis telah menghilang tidak tahu rimbanya. Ceruk berisi air itulah yang menjadi penanda bagi duka hati wanita ini.
Interpretasi ulang maupun revitalisasi makna kultural terhadap Eluh Berru Tinambunen tetap dan seharusnya terus kita lakukan sepanjang zaman.
Saat ini pilihannya adalah memastikan jaringan kolaborasi kultural sistematis yang apik antara garis ayah dan ibu itu kembali dibentuk sesuai zaman dengan wawasan yang lebih agamis sehingga dipastikan akan lebih humanis.
Burung saja menyediakan sarang yang empuk bagi anak-anaknya. Agama apalagi mengatur tanggungjawab internal rumah tangga terhadap putri-putri mereka agar sebagai insan mereka dapat berkembang maksimal, bahagia, dan kelak mampu berkontribusi besar bagi masyarakatnya serupa Siti Khadijah maupun Aisyah.
Kembali ke cerita semula, Eluh Berru Tinambunen nama lokasi wisata ini dalam Bahasa Indonesia bermakna Air Mata Wanita dari keluarga Marga Tinambunan.
Sambil memahami bahasa alam sekeliling, saya mengamati kawasan hutan lindung yang luar biasa kaya milik kabupaten kita tercinta ini. Pepohonan terasa diam, awan dan angin pun seolah juga turut diam.
Di kejauhan kami dapat melihat gunung seperti lupis yang disusun berlapis-lapis di atas talam super lebar hamparan alam ciptaan Ilahi Robbi.
Kami duduk di satu-satunya warung di lokasi ini. Sentabi pertua nami pemilik warung, kami duduk di dalam tanpa izin.
Bila mungkin dibangun vila-vila atau cafe-cafe di lokasi ini tentu akan semakin nyaman bagi wisatawan untuk datang.
Apalagi jalan mulus di kawasan Pakpak Bharat ini juga dilanjutkan dengan pembangunan jalan yang sama mulusnya dari arah Humbang Hasundutan.
Air yang berada di ceruk mungkin juga dapat dipastikan higienis agar wisatawan tidak ragu menggunakannya sekedar membasuh muka.
Dengan tambahan revitalisasi bangunan situs, dipastikan akan lebih banyak wisatawan yang datang dari 2 kabupaten bertetangga ini maupun dari luar provinsi dan manca negara.
Pemandangan dari warung tempat kami menikmati alam ini sungguh sangat mempesona.
Susunan pepohonan dari jarak terdekat sampai terjauh terlihat seperti isi akuarium besar di rumah alam beratus kilometer kali beratus kilometer, tersusun rapi dalam gradasi warna dan keragaman tinggi rendah, memenuhi lembah sampai nun jauh disana.
Sepanjang kami bernyanyi-nyanyi kecil seolah ingin menyumbang sedikit keceriaan pada alam yang termangu diam, saya menatap awan yang tadi putih bersih di langit biru dalam kehangatan sinar mentari tiba-tiba membentuk parade baru serupa selendang memanjang membentuk barisan.
Saya tertegun menyaksikan fenomena alam ini. Nun di balik awan serupa selendang gunung paling belakang terlihat sedang tertawa riang menikmati kehangatan mata hari.
Di depannya, jelas terlihat bahwa pegunungan sedang menundukkan kepala menikmati hujan yang tengah menyiraminya.
Sebentar lagi lapis pegunungan yg paling depan dan paling dekat jarak pandang dengan mata kami akan mendapatkan air mandinya pula.
Dapat dipastikan sang awan serupa selendang hitam itu akan terus bergerak menuju kami.
Usai makan siang sederhana kami memutuskan pulang agar tidak kalah cepat dengan hujan yang bergerak pelan tapi pasti mendekati lokasi Delleng Simpon.
Benar saja baru saja usai melaksanakan sholat dzuhur di Sindeka, selendang awan sudah tiba di atas kami dan mengguyur pendopo kita yang bersahaja sekaligus berwibawa.
Dari balik jendela saya melihat bunga-bunga dan pepohonan di Sindeka seolah tertawa riang.
Kalau saja pepohonan dan bunga-bunga itu mampu meninggalkan tempatnya sebentar saja tentu mereka akan berjingkrak-jingkrak kesenangan bermain di bawah guyuran hujan yang sejuk dan menyejukkan serupa gadis-gadis kecil yang bahagia.
Kebahagiaan ini lah yang patut kita pertahankan bagi wanita-wanita di Pakpak Bharat.
Wanita adalah tiang negara apabila baik wanitanya maka baiklah negara, begitu ajaran agama. Wanita adalah tiang bahagia apabila bahagia wanitanya, bahagia lah keluarganya.
Janganlah wanita Pakpak bernasib seperti Berru Tinambunen atau sebagaimana syair lagu yang kami nyanyikan sepanjang perjalanan pulang sbb:
Mella mangan i naing ma merkuah santan,
Sigaret i pe naing ma katemu surya,
Minak rambut i pe naing ma nimmu lavender,
Sekali seminggu naing ma mi onan i
Kusuruh mi juma, cio ma nimmu dagingmu,
Kusuruh mendedah malas mo dirimu,
Ba mu ngo mahangke murah ma melagai,
Ba mu ngo perngutngut murah ma tembohon i
Tahsor diri sekali mendokken rana ba mu,
Menter ngoko mengadu mendahi namberru i,
Tahsor pas oda lot ipido ko kepengku,
Merengut ngo abemu bage rimo mungkur i.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan