Buka Kegiatan Festival Air Pacitan 2025, Berikut Penuturan Bupati Aji Tentang Gambaran Masyarakat Sukoharjo Yang Meniti Harmoni Antara Manusia, Alam, dan Dimensi Spiritual
Pacitan,Liputan 68.com- Festival Air Pacitan 2025 tentang ritual resik Kali merupakan helatan yang ketiga di selenggarakan di Kali Bendung Sidoluhur Desa Sukoharjo, Pacitan.
Sungai, dalam denyut kehidupan pedesaan, bukan sekadar aliran air yang memberi kesuburan tanah dan menghidupi pertanian, bukan pula hanya penyedia kebutuhan rumah tangga atau jalur ekologi yang menghubungkan ragam makhluk.
Ia adalah nadi alam, cermin kebudayaan, sekaligus simbol keberlangsungan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada dirinya, terpantul keterikatan manusia dengan alam. Sungai dipahami bukan semata-mata lanskap geografis, melainkan ruang hidup yang harus dijaga, dimaknai, dan dirawat dengan penuh kesadaran.
Di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, sungai hadir sebagai pusat kehidupan sekaligus ruang sakral.
Penitia penyelenggara Festival Air Pacitan 2025, Aminnudin mengatakan, melalui ritual resik kali, masyarakat meneguhkan ikatan.
“Apa yang tampak sebagai kerja bakti membersihkan sungai sejatinya adalah pernyataan ekologiโsebuah praktik kolektif yang mengingatkan bahwa sungai adalah sumber kehidupan, sekaligus ekosistem yang mesti dirawat demi keberlanjutan anak cucu,” katanya dalam rilis pers, Rabu (24/9/2025).
Ritual resik kali, sambung dia, menjadi satu rangkaian kehidupan kultural masyarakat Sukoharjo yaitu ritual tetek melek, suwukan pari, dan entas-entas.
“Kesemuanya lahir dari tradisi agraris yang sarat simbol dan makna, mengikat siklus pertanian dengan doa kesejahteraan, serta menghubungkan manusia dengan leluhur dalam jalinan penghormatan yang lestari,” tuturnya.
Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro mengatakan, rangkaian ritual tersebut menghadirkan gambaran tentang masyarakat Sukoharjo yang meniti harmoni antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.
“Kegiatan yang diinisiasi bersama
komunitas Song Meri ini bukan sekadar jejak budaya, tetapi juga strategi ekologis, yang di dalamnya, terbuka ruang refleksi
bahwa nilai-nilai kearifan lokal, menjaga lingkungan, merawat kehidupan sosial, sekaligus meneguhkan keberlanjutan peradaban desa,”tutur Bupati Indrata.
Tahun ini, festival ini memiliki tiga bentuk kegiatan, yaitu:
1. Kirab gethek.
Merujuk pada kegiatan arak-arak gethek dari Balai Desa Sukoharjo menuju pinggiran sungai. Peserta dari kegiatan ini terdiri empat dusun (Ngrejoso, Jarum, Prambon, dan Nitikan) yang masing-masing membawa gethek.
Arak-arakan didahului dengan atraksi drumband anak-anak desa dan hadrah dari kelompok pelajar.
2. Pertunjukan di darat (tepi sungai).
Pertunjukan ini ditempatkan di pinggir-pinggir sungai yang terdiri dari area pentas pada sisi kiri dan kanan sungai. Peserta penampil pada kegiatan pertunjukan di darat adalah ibu-ibu gamelan kaca, siswa PAUD, pelajar Sekolah Alam Pacitan, guru-guru komunitas HIMPAUDI (bunda PAUD Kecamatan Kebonagung, Gejog Lesung Kriyan Pacitan, Gipya n Friendโs, Hadrah Senandung Kolbu.
Sebelum acara pementasan diawali ritual memetri doa bersama, tumpengan, dan pelepasan gethek ke sungai untuk memulai aktivitas resik kali.
3. Pertunjukan di sungai.
Pertunjukan sungai menampilkan tiga penari Ayu Kusuma Wardhani (Solo), Rani Iswinedar (Pacitan), Yuliana Mar (Mexico). Didukung composer Joko Porong (Surabaya), Komunitas Mantra Gula Klapa (Hanom Satrio-Solo), Johan Adiyatma (Pacitan), Indrata Nur Bayuaji (Pacitan), Andi Alfian Mallarangeng (Jakarta), Pranoto Ahmad Raji, Kus Hervica, Misbahuddin, Song Meri (Pacitan), Jarot BD (Sutradara-Solo).
Ritual resik kali di Desa Sukoharjo merupakan titik temu antara praktik ekologis, simbolisme budaya, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Indrata Nur Bayuaji, mengemukakan, gagasan dalam event ini membalik peran penonton. Dalam event terdahulu, festival resik kali, penonton berada di darat (pinggir sungai) atau jembatan sementara pertunjukan arak-arakan gethek berada di sungai.
Artinya, penonton menempati posisi yang aman dan stabil. Pada festival kali ini, posisi penonton dibalik, ia berada di atas gethek dan melihat pertunjukan di sekelilig sungai. Dalam posisi ini, penonton ditempatkan di atas media yang bergerak, cair, dan tidak stabil.
Menurut Bupati Indrata, gagasan ini menciptakan pengalaman tubuh yang berbeda. Penonton merasakan langsung dinamika air, arus, bahkan sedikit rasa cemas atau kegembiraan. Sehingga menghadirkan keterlibatan rasa secara fisik maupun psikologis.
Juga, dalam kondisi ini penonton yang ada di atas gethek menjadi subyek yang ditonton oleh penonton lain di daratan.
Penonton tidak lagi menjadi pasif, melainkan merasakan keterlibatan secara langsung atau ikut larut dalam peristiwa pertunjukan.
Bupati Indrata Nur Bayuaji bersama mantan Menpora, Andi Alfian Mallarangeng dalam event ini berkesempatan membacakan puisi secara bergantian karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) berjudul “Hari Lalu Anak Pacitan”.
Puisi ini menyiratkan metafora tentang anak sebagai idiom tradisi, masa lalu, dan generasi penerus masa datang.(*****).

Tinggalkan Balasan