Liputan DAERAH

Obor Damai dari Timur: Festival Paskah 2026 GMIT Siap Satukan Ribuan Umat di NTT

Ditulis oleh Editor NTT pada 6 Maret 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

NTT, Liputan68.com – Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang kerap diwarnai berbagai tantangan, semangat persaudaraan dan perdamaian kembali digaungkan dari tanah Nusa Tenggara Timur. Tahun ini, pesan itu akan dibingkai dalam sebuah perayaan iman yang melibatkan ribuan orang dari berbagai penjuru daerah.

Festival Paskah 2026 yang digagas oleh pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) tidak hanya dimaknai sebagai agenda keagamaan semata, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan yang menyatukan masyarakat lintas wilayah dan latar belakang.

Melalui rangkaian prosesi yang sarat makna, kegiatan ini diharapkan menjadi simbol kuat bahwa NTT tetap berdiri sebagai tanah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, persatuan, dan harapan bagi masa depan yang damai.

Semangat Paskah tahun 2026 di Nusa Tenggara Timur akan terasa berbeda. Dari ujung timur Pulau Timor hingga ke beranda selatan Indonesia, ribuan umat bersiap berjalan bersama membawa pesan damai.

Festival Paskah yang diprakarsai pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) diproyeksikan menjadi salah satu perayaan iman terbesar di wilayah ini, dengan partisipasi sekitar 20 ribu orang dari berbagai daerah di NTT.

Di balik persiapan yang terus dimatangkan, panitia menyiapkan tiga rangkaian prosesi besar yang bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan dan persaudaraan.

Ketua Panitia Festival Paskah 2026, Simson Polin, menjelaskan bahwa tiga prosesi utama tersebut adalah Prosesi Damai, Prosesi Galilea, dan Prosesi Puncak Paskah.

Menurutnya, perayaan ini ingin menghadirkan pesan yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan.

“Paskah diharapkan menjadi momentum untuk meneguhkan nilai persatuan dan menyuarakan pesan damai dari tanah NTT bagi Indonesia,” ujar Simson yang juga anggota DPRD Provinsi NTT.

Prosesi pertama, yakni Prosesi Damai, akan dimulai dari Atambua, Kabupaten Belu. Dari wilayah perbatasan itu, sebuah obor perdamaian akan dibawa melintasi sejumlah daerah di Pulau Timor, termasuk Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang, sebelum akhirnya tiba di Kota Kupang.

Obor tersebut nantinya akan diarak dalam pawai malam Paskah yang melintasi sejumlah ruas jalan utama kota. Rute yang dirancang dimulai dari Bundaran PU, menyusuri Jalan El Tari, hingga berakhir di kawasan Gereja Kota Kupang. Momentum ini juga direncanakan dihadiri sejumlah pejabat daerah, termasuk Gubernur NTT dan Wali Kota Kupang.

Namun perjalanan obor tidak berhenti di sana.

Setelah rangkaian kegiatan di Kota Kupang, obor perdamaian itu akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Rote menggunakan kapal feri.

Di pulau yang dikenal sebagai titik paling selatan Indonesia tersebut, obor akan ditempatkan di titik nol sebagai simbol pesan damai dari beranda selatan Nusantara.

Menariknya, pesan damai yang menyertai obor tersebut tidak hanya berasal dari satu kelompok. Dokumen pesan damai itu telah ditandatangani oleh tiga perwakilan agama sebagai tanda komitmen bersama menjaga toleransi dan kerukunan di NTT.

Selain Prosesi Damai, panitia juga menyiapkan Prosesi Galilea yang akan dipusatkan di kawasan Pantai Tedys, Kota Kupang. Di lokasi ini, umat dari berbagai wilayah pesisir seperti Sulamu, Semau, Rote, dan daerah lain akan datang menggunakan perahu dan berkumpul di tepi pantai.

Kedatangan mereka akan disambut oleh Gubernur NTT bersama unsur Forkopimda, Wali Kota Kupang, Ketua Sinode GMIT, serta sejumlah tokoh agama. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai acara yang telah disiapkan panitia.

Salah satu simbol yang dihadirkan dalam prosesi ini adalah kebersamaan melalui makan roti dan ikan bersama, yang merefleksikan kisah iman sekaligus pesan tentang solidaritas dan berbagi.

Berbagai lomba dan kegiatan pendukung juga disiapkan untuk menyemarakkan festival.

Perayaan ini tidak hanya memberi ruang bagi kegiatan rohani, tetapi juga mendorong pergerakan ekonomi masyarakat. Sekitar 200 pelaku UMKM dilibatkan dalam festival tersebut.

Sebanyak 30 UMKM akan mengisi area Prosesi Galilea di Pantai Tedys, sementara sekitar 170 lainnya tersebar di sepanjang rute pawai di Kota Kupang.

Sementara itu, puncak Festival Paskah akan ditandai dengan pawai akbar yang diperkirakan melibatkan sekitar 20 ribu peserta. Dari internal GMIT, sekitar 30 klasis dari total 57 klasis dipastikan akan ambil bagian. Panitia juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat lintas agama sebagai bentuk nyata toleransi yang selama ini hidup di NTT.***

Ditulis oleh Editor NTT

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian