Bali Interfood 2026 Digelar di Nusa Dua, Dorong UMKM Bali Perluas Jaringan Bisnis
DENPASAR, Liputan68.com– Pameran industri makanan dan minuman, Bali Interfood 2026, kembali digelar untuk mempertemukan pelaku usaha makanan dan minuman, hotel, restoran, UMKM, distributor, hingga penyedia teknologi.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers Bali Interfood 2026 yang berlangsung di NEXX Cafe, Jalan Diponegoro Nomor 146, Dauh Puri Kelod, Denpasar, Senin (31/8/2026).
Bali Interfood 2026 merupakan penyelenggaraan ke-7 dan akan berlangsung pada 2–4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Badung.
CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, mengatakan Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan industri makanan dan minuman karena sektor pariwisata, perhotelan, restoran, dan usaha F&B tumbuh secara beriringan.
Menurut Daud, Bali Interfood tidak sekadar menjadi ajang untuk memamerkan produk.
Pameran tersebut juga diharapkan menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan, bertemu calon mitra bisnis, serta memperoleh informasi mengenai perkembangan terbaru industri makanan dan minuman.
“Bali memiliki potensi yang besar karena pariwisata, hotel, restoran, dan usaha makanan dan minuman berkembang secara bersamaan,” kata Daud dalam konferensi pers.
Bali Interfood 2026 diikuti sekitar 110 peserta, termasuk 35 UMKM, dengan target mencapai 15.000 pengunjung. Peserta pameran berasal dari sejumlah negara, di antaranya China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace, menilai penyelenggaraan Bali Interfood dapat dimanfaatkan pelaku UMKM Bali untuk meningkatkan kualitas produk.
Cok Ace mendorong pelaku UMKM tidak hanya fokus pada pasar lokal, tetapi juga mempelajari perkembangan usaha dari daerah maupun negara lain.
Menurut dia, kehadiran pelaku usaha dari luar Bali dapat menjadi kesempatan untuk melakukan perbandingan, mulai dari kualitas produk, bahan yang digunakan, kemasan, hingga cara penyajian.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong UMKM Bali untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing.
“Jangan sampai kita hanya melihat perkembangan yang ada di Bali. Kita perlu melihat perkembangan di luar agar kualitas produk kita juga meningkat,” demikian inti pesan Cok Ace dalam konferensi tersebut.
Selain pameran produk, Bali Interfood 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda pendukung yang berkaitan dengan industri makanan dan minuman, bakery, kopi, wine dan spirit, hotel, restoran, jasa boga, hingga teknologi pengolahan dan pengemasan.
Penyelenggaraan tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai salah satu pusat aktivitas industri makanan dan minuman yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata.(eko)

Tinggalkan Balasan