Harga Pangan Pacitan Kembali Naik, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar
Pacitan,Liputan68.com-Perkembangan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Pacitan kembali mengalami kenaikan pada pekan ketiga September 2026. Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang diolah dari BPS, inflasi Pacitan pada minggu ketiga September tercatat sebesar 1,86 persen.
Kenaikan harga tersebut terutama dipicu oleh komoditas pangan strategis. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil perubahan harga mencapai 1,8637 persen, disusul daging ayam ras sebesar 0,1701 persen dan telur ayam ras sebesar 0,1588 persen.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyo Budi, mengatakan perkembangan harga pangan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama komoditas yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap pergerakan inflasi.
“Perkembangan harga komoditas pangan terus kami pantau. Pada minggu ketiga September ini, kenaikan paling besar berasal dari cabai rawit, kemudian daging ayam ras dan telur ayam ras,” ujarnya, Senin (21/9).
Jika dibandingkan dengan capaian pada Agustus 2026, pergerakan harga pada September menunjukkan tekanan yang masih perlu dicermati. IPH bulanan atau month to month pada Agustus tercatat 2,13 persen, sementara hingga minggu ketiga September berada di angka 1,86 persen.
Secara tahunan (year on year/yoy), IPH Pacitan pada Agustus 2026 tercatat 3,13 persen. Sedangkan secara tahun kalender (year to date/ytd), angkanya mencapai minus 3,71 persen.
Cabai Rawit Jadi Pemicu Utama
Data perkembangan harga mingguan menunjukkan cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan memengaruhi kenaikan harga di Pacitan pada September.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas juga tercatat mengalami kenaikan pada minggu ketiga September. Komoditas tersebut meliputi beras medium, minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, bawang putih, dan gula pasir.
Sementara itu, beberapa komoditas relatif stabil, yakni Minyak Kita, daging sapi, pisang, dan jeruk. Adapun bawang merah menjadi komoditas yang mengalami penurunan harga apabila dibandingkan dengan rata-rata harga pada Agustus 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga pangan di tingkat konsumen masih cukup dinamis. Fluktuasi terutama terjadi pada komoditas hortikultura seperti cabai yang sensitif terhadap perubahan pasokan dan harga di pasar.
Pacitan di Urutan ke-14 Jawa Timur
Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Timur, posisi Pacitan pada minggu ketiga September berada di urutan ke-14 dengan IPH sebesar 1,86 persen.
Posisi tersebut berada di bawah Kabupaten Trenggalek yang mencatat 1,87 persen, namun masih di atas Kabupaten Ngawi sebesar 1,75 persen. Di tingkat Jawa Timur, Kabupaten Tuban mencatat IPH tertinggi sebesar 3,73 persen, disusul Kabupaten Pamekasan 3,25 persen dan Kota Batu 2,77 persen.
Sementara itu, Kota Pasuruan menjadi satu-satunya daerah dalam daftar tersebut yang mencatat perkembangan harga negatif, yakni minus 0,34 persen.
Di Pulau Jawa, Pacitan menempati urutan ke-30. Sedangkan secara nasional berada di urutan ke-161.
“Posisi Pacitan secara regional masih perlu menjadi perhatian, terutama karena komoditas yang memberikan andil terbesar merupakan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari,” kata Ayub.
Tekanan Harga Terlihat di Sejumlah Daerah
Kenaikan harga pangan pada minggu ketiga September tidak hanya terjadi di Pacitan. Sejumlah daerah di Jawa Timur juga mencatat kenaikan IPH cukup tinggi.
Kabupaten Tuban mencatat IPH 3,73 persen dengan penyumbang utama cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi. Kabupaten Pamekasan berada di angka 3,25 persen, sedangkan Kota Batu mencapai 2,77 persen.
Di tingkat nasional, kenaikan tertinggi tercatat di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dengan IPH mencapai 15,71 persen. Kenaikan terutama dipengaruhi cabai rawit dan cabai merah.
Sebaliknya, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mencatat IPH terendah sebesar minus 3,14 persen, dengan penurunan terutama berasal dari daging ayam ras, minyak goreng, dan bawang merah.
Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa dinamika harga pangan berlangsung tidak seragam antardaerah, tergantung kondisi pasokan dan perubahan harga masing-masing komoditas.
Pemerintah Pantau Komoditas Strategis
Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Bagian Perekonomian terus mencermati perkembangan harga pangan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Menurut Ayub, pemantauan harga menjadi penting karena perubahan pada sejumlah komoditas strategis dapat dengan cepat memengaruhi daya beli masyarakat sekaligus indikator perkembangan harga daerah.
“Yang terpenting adalah memastikan perkembangan harga tetap terkendali dan ketersediaan komoditas di masyarakat terjaga. Komoditas yang mengalami kenaikan signifikan akan terus menjadi perhatian dalam pemantauan,” katanya.
Dengan masih berlangsungnya dinamika harga pada September, perkembangan harga komoditas pangan dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi perhatian pemerintah daerah. Terutama cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras yang pada minggu ketiga September tercatat menjadi penyumbang utama kenaikan IPH Pacitan.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan