PULANG KE HULU karya ZULKARNAIN SIREGAR
Oleh: Jon Azmi
Mengawali apresiasi saya tentang antologi puisi karangan Zulkarnain Siregar ini, saya ingin mengutip salah satu bait puisinya puisi/milik waktu/dan semesta nyata /akan bernyawa/ketika berjejak di buana, yang menjadi sorotan menarik bagi saya. Hal ini menunjukkan bahwa puisi akan lebih bermanfaat ketika dibaca oleh masyarakat luas, dan antologi inilah yang menjadi pembuktiannya.
Antologi puisi ini memiliki judul Pulang ke Hulu, yang mana memiliki makna sirat yang mendalam yang tertuang dalam bait per bait, dan dijembatani oleh 6 subjudul, Sang Pengail, Balonku Ada Lima, Sajak Alif, Pesan Ateh, Inang, dan Selamat Pagi Puisi. Sebagai bahan apresiasi ini, saya ingin menelaahnya melalui pendekatan hermeneutika, yang menggelitik puisi dari segi stilistika (gaya bahasa) dan semiotika (lambang).
Sang Pengail, yang merupakan subjudul yang pertama ini bertemakan harapan. Dari segi semiotik, puisi-puisi di dalamnya didominasi oleh kata-kata yang mencerminkan tema diatas, seperti:
Ada tekun yang ditabur//Sepotong asa nantikan//Mengintip petang dan menebar sabar//Kau ajari aku hidup dari semesta yang sabar//Lalu aku menyurut dalam seluruh saku kailmu// (Sang Pengail)
Esok pagi segala harapan kan terulang// (Ketika Pintu Terbuka) Mungkin setiap hari aku ingin/Menunggu janji/Mungkin aku menanti embun// (Penantian).
Dari segi stilistika (gaya bahasa), si penulis banyak menggunakan Repetisi (perulangan). Hal ini dapat terlihat dalam beberapa puisinya yang berjudul Kemana Anak Laut? , Musim Layang Datang, Sepatu Zaman, dan Nyawa. Pada Kemana Anak Laut? Terdapat pengulangan kalimat Kemana Anak Laut pada tiap baitnya, ingin menyatakan bahwa pencarian anak bangsa yang masih berbudaya, Anak Laut bahkan lebih menekankan pada anak pesisir yang tetap memegang teguh budayanya. Musim Layang Datang menekankan pada kata Sayang, yang merepresentasikan seorang anak yang sedang merantau jauh dari orangtuanya. Sepatu Zaman banyak mengulang kata Jalan, yang mana Jalan disini bisa juga ingin menekankan pada arah yang membawa kepada harapan. Nyawa, banyak terjadi pengulangan kata Puisi juga pada tiap baitnya, seakan ingin mengungkapkan bahwa puisi itulah yang menjadi nyawa bagi penyair itu sendiri.
Dilihat dari unsur Perasaan, penulis ingin mengungkapkan sisi kepekaan terhadap realita sosial kehidupan anak bangsa yang diulas dalam bentuk harapan-harapan. Dapat pula dikatakan bahwa pandangannya mengerucut pada kebudayaan Melayu, bagaimanapun juga bisa kita lihat pada puisi pertama dalam Sang Pengail ini , yang berjudul Rindu Melayu Awal Merayu. Penulis mengawali antologinya dengan puisi ini, yang didukung oleh puisi puisi selanjutnya yang menyentuh kekhasan Melayu, seperti kutipan bait puisi berikut: helaian pasal gurindam raja ali haji / akar melayu beribu pantun ini negeri//tanjung pinang 30 hari bulan sepuluh// kapal merapat dari hulu Riau yang dulu/ mencari pangkal teraju melayu/ tahan tiada lapuk ditelan waktu berlalu//. Jadi bila dikaitkan, pesan yang terkandung di dalam subjudul ini adalah mengingatkan masyarakat pada budaya leluhur (dalam hal ini Melayu), dan sekaligus pencarian jati diri.
Subjudul kedua adalah Balonku Ada Lima, yang bertemakan ironi terhadap realita sosial dan bangsa. Berbicara tentang sosial, tentu berkaitan pada manusia, dan tema ini tampak dalam bait-bait puisi di dalamnya, seperti:
Perlakukanlah aku pada kasih kepedulian/Walau kulihat/Kesenjangan adalah bencana/Dari kemanusiaan kita/Yang semakin hari/Makin mengubah wajah menjadi buas// (Dari Pojok Sebuah Catatan Harian) Kadang cerita tinggal di pustaka-pustaka/Jarang dicerna jadi kelakuan yang nyata// (Bukan Cermin Hendak Retak)
Siapa bilang tuan-tuan feodal/tak ingin tetap kaya/walau jadi pecundang/dalam istana kencana?/Cuma pembagian tak merata/seolah demokrasi datang menyapa/lagi-lagi fatamorgana// (Fatamorgana)
Kemana merah putih? Telah pergi tinggalkan ini hati// (Kemana Merah Putih?).
Menangislah bumi Papua/sebab terasa sekian lama/tanah entah jadi milik siapa?// (Apa Ini Puisi?)
Kalau mei bukan jalan cinta/mengapa Ki Hajar Dewantara sudah terlupa?// (Kalau Mei Bukan Waktu)
Muka-muka jadi dasamuka/bak musang berbulu domba// (Topeng). Warna hitam punya panitia/selebihnya pilih mana suka/warna putih milik siapa?/boleh dipakai dirumah saja/..sstt..kalau keluar, nanti bahaya// (Balonku Ada Lima).
Beri aku jalan/menghijauhijaukan tanah harapan/dari kemalasan dan angan-angan/jadi “bangsawan” dengan berpangku tangan// (Nyanyian Pengangguran). Semua kata jadi berbisa/ketika ia berbicara/untuk atas nama budi bahasa// (Benarkah ia Penghulu Kata). Bocah kecil pengamen perempatan/kau cermin kemunafikan pembangunan//bocah kecil pengamen perempatan/kaulah saksi keadilan yang lenyap di jalanjalan// (Bocah Pengamen di Perempatan)
Dengan korupsi wuiihh../katakatapun jadi puisi//untung ada korupsi/hargaharga tinggi diamdiam diamini// (Korupsi Buat Rezeki).
Dari penggalan-penggalan bait puisi diatas, juga bisa dilihat penulis menggunakan gaya bahasa metafora, yakni kata fatamorgana diibaratkan sebagai harapan semu, yang hanya tampak indah dari kejauhan, padahal tak bisa tergenggam. Ada juga Frasa merah putih yang berarti nasionalisme. Adapun warna hitam pada puisi Balonku Ada Lima, menjurus kepada panitia, yang berarti hitam itu adalah gelap, negatif, dan berbahaya, secara tersirat, seperti itulah bentuk topeng panitia, dan banyak lagi yang tidak cukup disebutkan satu per satu dalam hal ini.
Dapat pula disimpulkan dalam subjudul ini ada tergambar sebuah pesan tersirat mengenai bahwa saat ini kemanusiaan dalam bangsa kita telah terkikis, yang juga seiring dengan lenyapnya perlahan budaya bangsa, karakter manusia yang begitu beragam dan lebih banyak mementingkan individu daripada sosial ini adalah situasi yang mengkhawatirkan bagi bangsa. Hal ini tercermin pada puisi-puisi dalam subjudul Balonku Ada Lima ini, yang mana juga lebih banyak menggunakan tanda tanya daripada subjudul Sang Pengail diatas, yang berarti adanya rasa keingintahuan kita terhadap apa yang terjadi pada bangsa ini.
Sajak Alif, merupakan subjudul ketiga yang bertemakan tentang keberserahan diri terhaadap Tuhan. Adapun bait-bait yang merepresentasikan tema ini adalah. Selamat datang para halimun malam/menanti ilham dalam peraduan/yang kesekian// (Di Balik Malam)
Maukah kemari menegur hati yang dulu sempat membatu lalu pergi menjauh dari-Mu?// (Berharap Cermin Tak Retak). Aku tertegun dalam diam/pun langit jadi malam/malam yang menyimpan/lelaki itu pada keilahian// (Inferno).
Alif..ada dalam setiap suara/ada dalam setiap nada/ada dalam setiap irama/jadi kuasa makna kata/tapi bukan tanda baca// (Sajak Alif). Hening malam/lalu yang membuat aku/ingin bangkit, hanya karena-Mu// (Izinkan Aku Menyapa). Hening malam kurentang dalam pangkuan/menenun jalan ke rumah-Mu// (Malam Seribu Impian). Niscaya para pencari makna meranggas/hati daun-daun yang tumbuh di lereng/malam tempat para sesepuh menguji diri/tersungging kulum ditemani rembulan// (Sajak Pencari Malam). Sementara memujilah seisi alam larut tulus dan kudus/hati pun memilih thaharah lalu bertasbih// (Mencari Tepi). Mereka semua jalan yang semu/dalam binar mata mencari caya/malam-malam keagungan dari-Mu// (Dalam Urat Nadi kuasa-Mu). Aku rindu suluk-suluk dalam rangkai/yasin yang menderu-deru malam ini/lalu membawa kita memuji asma-Nya// (Kau Petik Kuntum Yasin Malam Ini). Lalu malam menjadi saksi/perjalanan menjemput waktu/dan tanda-tanda kebesaran-Nya// (raut kilas waktu). Sedikit ayat banyak berbuat/agama jadi kuat/negara bermartabat/bangsa pun berdaulat/ibadah pilihan selamat// (Makrifat).
Puisi-puisi dalam subjudul Sajak Alif ini terkesan lebih lembut daripada 2 subjudul yg sebelumnya, lebih teduh dikarenakan merefleksikan keberserahan diri pada Tuhan. Hal ini juga terkait dengan setting puisi yang berada pada bulan Ramadhan, jadi penulis menggambarkan situasi dan perasaannya ketika menjalani bulan Ramadhan. Adapun pesan yang terkandung dalam subjudul ini adalah seakan ingin mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika seluruh masalah ada, tetap yang menjadi pangkal dan ujung adalah Tuhan, kembali berserah diri pada-Nya. Seperti pada kata Alif, pada puisi tersebut, dikatakan bahwa alif berada pada tiap nada, irama, suara, dan kata, dalam arti Alif mengarah kepada agama (kepercayaan pada Tuhan), yang merupakan pangkal sekaligus ujung segala persoalan. Tertulis jelas pada puisi Kasih, Kasih-Nya 2 – Kasih-Nya 6, mengenai kepercayaan pada Tuhan. Pada untaian ini pula digambarkan bahwa selalu ada puji syukur pada Tuhan atas apa yang telah diberikan-Nya, dalam kondisi dan situasi apapun, kita harus tetap berbesar hati, dan berserah diri pada-Nya. Uraian diatas sekaligus menjadi pesan tersurat dalam rangkaian puisi dalam Sajak Alif.
Selanjutnya adalah subjudul Pesan Ateh. Dalam puisi-puisi yang termasuk dalam subjudul ini memiliki ciri khas tersendiri karena bercerita tentang alam, budaya, dengan manusianya, dan bisa dikatakan sebagai tema. Larik-larik puisinya banyak menggunakan kata-kata yang mencirikan tema tersebut, seperti tarianmu Sinabung, gunung, telaga, langit, burung, sawah, jalan, hujan, kampung, bukit, musim, perakit, hulu, ombak, lentera, cemara, kabut, melati, bumi, danau, Toba, kata-kata dalam bahasa Batak (Toba, Karo), tanah Melayu pusaka lama, adat pantun, dll. Nada cerah tergambar dalam bait demi bait tiap puisinya dalam Pesan Ateh ini karena bercerita tentang alam dan budaya, termasuk Pulang ke Hulu, Pulang ke Hulu 2, dan Pulang ke Hulu 3, yang merepresentasikan gambaran tentang keinginan untuk kembali kepada Ibu yang Melayu dan Bapak yang Batak (Kembali ke Rumah). Ada pula puisi Sepedaku: Puisi yang cukup menarik, dimana pengungkapan penulis ketika bersepeda dan melahirkan puisi-puisi pada setiap perjalanannya. Diibaratkan bahwa puisi-puisi banyak tercipta seiring banyaknya pula kayuhan sepedanya. Pesan Ateh ini memberikan pesan bahwa kita memiliki kekayaan alam dan budaya. Seolah juga ingin mengungkapkan sejauh apapun melangkah ke berbagai jenis alam, kita harus membawa budaya yang telah kita pegang, dan tentunya kita tetap ingin kembali pada alam kita sendiri.
Inang, subjudul ini terdiri dari bait-bait puisi yang lebih didominasi oleh kata perempuan atau kata-kata yang berkiaskan perempuan, walaupun termasuk didalamnya pula bercerita tentang laki-laki. Bisa kita simpulkan bahwa Inang lebih banyak bercerita tentang manusia, tercermin dalam larik-larik puisi di bawah ini:
Lalu ragukan aku bukan darahmu/agar lidahku tak kelu panggilmu/amang….!// (Amang)
Din…bulan atas itu/selalu ingin menunggu/bibir merahmu yang bergincu/kerap tersenyum kala kalbu merayu tabu// (Din…Ini Malammu)
Anak laut tunggu kecup bau bukit yang muntahkan debu/duduk/di selatan utara dalam segenggam waktu// (Anak Laut).
Buat Inang, istri pejuang di medan perang// (Inang)
Yang terlunta di balik tembok dengan/pakaian dekil dan raut kusam/itulah sadrah// (Sadrah Hilang di Gurun). Boleh aku tersanjung dengan bahasamu, Abang?// (Telah Pergi) si Oto na Bisuk)
Anakku../masih saja terngiang/di telinga ini ketika ayahmu/hendak pergi meninggalkanku/pergi dengan seragam serdadu/memanggul senjata/di medan laga/menjaga negara/ia menitipkan kau padaku// (Surat dari Ibu). Kulihat melati itu/ mengelopak/menebar wangi semerbak//pagi tadi/ia mekar tanpa matahari/mengembagn tanpa halimun// (Melati di Hati). Rindu pada gadis seberang/telah berulang// (Bunga Mayang). Kau lelaki gagah suarakan lapar/pada langit-langit yang mendung// (Martir)
Kini lelaki itu telah pergi/dari tanah leluhur marga-marga,sebab setiap pagi tak lagi pagi// (Lelaki Pangguris Hapea). Bocah di tiang-tiang pancang/hidup tak berkesempatan// (Anak Jermal)
Jadi hidup lebih berarti/walau waktu pasti berganti/engkau lelaki pejalan kaki/hidup sekali, teguh beraani hati berjanji// (Episode Lelaki Pejalan Kaki)
Lelaki di seberang sana/lalu menanti jiwa-jiwa yang merdeka// (Edisi Medan).
Mungking tustel itu akan bercerita/pada siapa-siapa tentang riwayat/para pembual kota/walau perjalanan masih tertunda// (Sekilas Petik S)
Biar…biarlah perempuan adalah waktu yang/menunggu sejak setia menyulam selendang rindu/tentang kasih yang membentang dalam rajutan kalbu// (Umbu Sang Empu). Aku hujan/kau melati/yang ditemani nyanyi angin// (Hujan yang Kamis Malam). Mak../pulang aku padamu/ketika elang-elang laut itu/mulai hinggap di dahan bakau// (Emak). Pergi..pergilah nanda,anakku/tegakkan kaki dunia di luar sana/sebab ia laluan masa/adalah bukan duniaku lagi// (nanda…(Si Anak Panah))
Hm../kini kau telah puisi/yang terus mengilhami/lariklarik hari setiap hari aku berangkat pagi// (Akila)
Padahal, kau adalah ardi, si penulis pesan itu/aku mengulangnya dengan bahasamu// (Ardi 2).
Kita bisa melihat kata melati, bunga mayang, Inang, Emak, banyak digunakan, memusatkan pada satu titik fokus, yaitu perempuan, lebih tepatnya seorang ibu. Selain ibu, kita juga bisa melihat bahwa penulis juga mengekspresikan perasaannya tentang Bapaknya. Lebih tepatnya, penulis banyak bercerita tentang diri ibu dan bapaknya dan kehidupannya ketika ia berada di dekat orangtuanya. Selamat Pagi Puisi adalah subjudul terakhir yang terdiri dari cukup banyak puisi yang lebih menitikberatkan pada perantauan—sebagai temanya.

Tinggalkan Balasan