Liputan KOLOM

Sejarah Budi Utomo

Ditulis oleh Liputan68 pada 2 Januari 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi, SS. M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Pelopor Budi Utomo.

Pada tanggal 20 Mei 1908 Hangabehi Paku Buwono XI diundang untuk menghadiri peresmian organisasi Budi Utomo di Batavia. Beliau diundang oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan para mahasiswa kedokteran STOVIA. Hangabehi Paku Buwono XI diundang sebagai Ketua Dewan Kraton. KGPH Hangabehi atau Paku Buwono XI memberi sumbangan uang 10.000 Gulden, yang diambilkan dari gaji selama 3 bulan.

Budi Utomo menyelenggarakan kongres pertama kali pada tanggal 20 Oktober 1908. Berkat lobi dan kemurahan Paku Buwono XI atau KGPH Hangabehi, kongres berjalan lancar. Para direktur perkebunan, administratur pabrik gula, komisaris kereta api, pimpinan pelabuhan dan kepala ANIEM memberi sponsor kongres Budi Utomo. Peserta mendapat bantuan berupa biaya transportasi, akomodasi dan konsumsi.

Utusan dari Kraton Surakarta terdiri dari KGPH Hangabehi, RNg Dwijosewoyo, RNg Dr. Mangun Husodo, Dr. Radjiman, Dr. Widyodipuro, KRMAA Sosrodiningrat, KRMAA Wuryaningrat, KRT Tirtokusumo, KGPH Hadiwijoyo dan KGPH Kusumoyudo. Utusan dari Puro Pakualaman yaitu KP Notodirojo.

Utusan Kraton Yogyakarta yaitu KGPH Puger, utusan Mangkunegaran yakni RM Suryo Suparto. Utusan dari Jawa Timur diemban oleh seorang jaksa yang bernama Suryodiputro. Budi Utomo mempunyai 10.000 anggota dan 40 cabang. Pangeran Hangabehi atau Sunan Paku Buwono XI memberi sumbangan 250.000 Gulden untuk dana operasional kongres Budi Utomo.

Organisasi Budi Utomo dalam sejarahnya berlangsung antara tahun 1908 hingga 1935. Budi Utomo dipimpin oleh pengurus secara demokratis. Berturut-turut para tokoh yang pernah memimpin organisasi Budi Utomo. Pemimpin Budi Utomo perlu ditulis secara berurutan.

1. KRT Tirtokusumo (1908 – 1912)
Ketua pertama Budi Utomo ini Bupati Karanganyar dan Komisaris Utama Pabrik Gula Colomadu. Beliau merupakan tokoh yang kaya raya, dermawan, pemurah dan aktif berorganisasi.

2. Pangeran Notodirojo (1912 – 1914)
Tokoh besar dari Pura Pakualaman. Putranya bernama RM Noto Suroto belajar hukum di Universitas Leiden.

3. Dr. Radjiman (1914-1915)
Dr. Radjiman Widyodiningrat adalah dokter yang bertugas di Kraton Surakarta. Kelak beliau memimpin BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

4. KGPAA Mangkunegara VII (1915 – 1916)
Mangkunegara VII dulunya bernama RM Suryo Suparto. Pernah belajar kesusasteraan di Universitas Leiden. Produktif menulis lakon pedalangan sekitar 300 cerita.

5. R.Ng. Dwijosewoyo (1916 – 1917)
Ahli bahasa dan sastra Jawa yang aktif menulis buku. Mengembangkan jurnalisme dan pendidikan.

6. RMA Wuryaningrat (1917 – 1926)
Wuryaningrat adalah putra Patih Sosro-diningrat. Beliau pernah belajar hukum di Utrech Belanda. Aktif dalam ormas. Kelak menjadi anggota BPUPKI dan menjabat patih Kraton Surakarta.

7. RMAA Kusumo Utoyo (1926 – 1933)
Ketua Budi Utomo ketujuh bernama RMAA Kusumo Utoyo. Beliau pernah menjabat sebagai Bupati Jepara dan anggota Volksraad (parlemen).

8. Dr. Sutomo (1933 – 1935)
Saat Budi Utomo berdiri, usia Sutomo baru 17 tahun. Beliau menjadi mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Stovia. Pada tahun 1935 Budi Utomo bergabung dalam PPPKI (Permu-fakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia). Dr. Sutomo wafat tahun 1938 di Surabaya.

Semua ketua Budi Utomo selalu menjalin hubungan erat dengan KGPH Hangabehi PB XI. Dalam organisasi Budi Utomo KGPH Hangabehi senantiasa menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat sejak tahun 1908-1935. Dalam kurun 27 tahun lamanya KGPH menyumbang Budi Utomo dalam bentuk pikiran, tenaga dan dana.

B. Membangun Semangat Kebangsaan.

Tokoh utama berdirinya Budi Utomo adalah Dr Wahidin Sudirohusodo. Organisasi Budi Utomo menjadi tonggak bangkitnya kesadaran untuk menata kehidupan kolektif. Semangat untuk mengatasi problema sosial kemasyarakatan itulah yang menandai era kebangkitan nasional. Strategi untuk problem solving diubah dari cara individu tradisional menjadi organisatoris kolegial.

Organisasi Budi Utomo menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Latar belakang pendidikan Dr Wahidin Sudirohusodo berpengaruh atas problematika sosial yang sedang sedang dihadapi. Pada awal awal abad 20 terjadi pandemi malaria. Berbagai masalah muncul yang perlu penanganan khusus. Masalah yang kompleks ini tidak bisa diatasi sendirian.
Sekalian warga masyarakat harus terlibat aktif. Holobis kontul baris. Masing masing pribadi mesti bersedia mencincingkan lengan baju, cancut taliwanda.

Ajakan Dr Wahidin Sudirohusodo itu betul betul dipatuhi oleh masyarakat dari berbagai lapisan sosial beliau berhasil membangun semangat kebersamaan. Kunci utama pengaruh Dr Wahidin Sudirohusodo terletak pada faktor keteladanan. Beliau segera menghimpun dana dari para pejabat, tokoh masyarakat, pengusaha dan rakyat untuk memberantas wabah penyakit malaria. Dana yang terkumpul cukup untuk membeli obat dan merawat para penderita penyakit malaria.

Kota Surabaya, Semarang, Surakarta dan Yogyakarta dijadikan posco penanganan wabah malaria. Mereka bekerja secara sukarela. Para voluntir terdiri dari kaum priyayi yang punya sensibilitas humanisme kemanusiaan. Etos kerja mereka merupakan manifestasi dari doktrin amemangun karyenak tyasing sesama. Hidup bermakna bila bermanfaat buat orang lain.

Bupati Karanganyar bernama KRT Tirtokusumo menjadi sponsor usaha Dr Wahidin Sudirohusodo. Beliau termasuk orang yang terpandang secara ekonomi. Keberadaannya sebagai komisaris pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu memungkinkan untuk memberi bantuan finansial ekonomis. Kebetulan industri gula sedang jaya jayanya. Jaringan KRT Tirtokusumo cukup luas. Marketing pabrik gula yang tersebar di seluruh pelosok dunia dijadikan referensi untuk mendapatkan bantuan dana. Ditambah lagi hubungan Dr Wahidin Sudirohusodo dan KRT Tirtokusumo akrab sejak masa kanak kanak.

Kegiatan ahli medis dibantu oleh birokrat ekonomis. Ibarat tumbuh oleh tutup. Dr Wahidin Sudirohusodo dan KRT Tirtokusumo bekerja sama seerat eratnya dalam mengatasi pandemi malaria. Bersama dengan Tim Colomadu Mangkunegaran, KRT Tirtokusumo belanja pil kina di Negeri Tamasek Singapura.

Pil kina ini disumbangkan kepada Dr Wahidin Sudirohusodo untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tindakan Dr Wahidin Sudirohusodo sungguh tepat. Beliau dapat bekerja sama dengan segala elemen sosial. Bersama dengan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat, Dr Wahidin Sudirohusodo mendapat fasilitas untuk praktik medis di rumah sakit Kadipolo. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X memberi kepercayaan penuh kepadanya untuk melakukan pengabdian medis. Bahkan mobil sang raja kerap dipinjamkan untuk mempercepat mobilitas tenaga medis.

Sedangkan GKA Retno Puoso, Permaisuri KGPAA Paku Alam Vll diajak sebagai ketua posko penanganan pandemi malaria di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Permaisuri Sri Paduka Paku Alam Vll ini cukup simpati dan empati kepada kiprah Dr Wahidin Sudirohusodo. Kemampuan komunikasi dan interaksi sosial sangat diperlukan untuk membuat kebijakan medis. Dukungan pelaku ekonomi, pengusaha, tokoh masyarakat dan pejabat tentu memudahkan perjuangan Dr Wahidin Sudirohusodo dalam bidang kesehatan.

Usaha ini melibatkan pula generasi muda yang potensial. Mereka adalah Soetomo dan Gunawan, mahasiswa kedokteran STOVIA. semangat untuk mendidik kader bangsa juga tinggi pada diri Dr Wahidin Sudirohusodo. Sebuah keteladanan yang patut ditiru oleh pejuang medis masa kini.

Posko penanganan pandemi untuk wilayah pesisir diserahkan kepada sahabat Dr Wahidin Sudirohusodo yang bernama Utoyo Kusumo. Kelak menjadi Bupati Jepara.

Mulai daerah Rembang, Tuban, Pati, Semarang, Demak, kudus, Kendal, Pekalongan dan Tegal pandemi malaria berhasil diatasi. Utoyo Kusumo berhubungan erat dengan Dr Soetomo.
Bupati Jepara ini sempat pula memimpin organisasi Budi Utomo. Ternyata Budi Utomo juga aktif dalam bidang medis. Maklum, organisasi ini lahir dari idealisme mahasiswa kedokteran yang sadar untuk memajukan nasib bangsa.

Adapun Dr Gunawan ditugaskan untuk menjadi koordinator penanganan pandemi untuk wilayah Jawa bagian timur. Ketika bertugas di Surabaya ini, Dr Gunawan sering mendapat bantuan dari tokoh Sarikat Islam, HOS Tjokroaminoto. Tugas sosial medis ini dilakukan dengan sepenuh hati. Mereka adalah generasi humanis dan idealis yang cemerlang.

Budi Utomo yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional. Prestasi gemilang pekerja medis ini mendapat apresiasi yang tinggi dari segenap warga bangsa. Kerja nyata mereka dicatat dengan tinta emas oleh sejarah.

Mereka punya etos kerja dengan sesanti yang terkenal , budi luhur kulinakna, watak asor singkirana. Kalau sekarang mirip dengan ajaran amar makruf nahi mungkar. Sokongan pada organisasi Budi Utomo berasal dari KRT Arumbinang, Bupati Kebumen. Rumah dinas bupati Kebumen menjadi markas penanganan pandemi malaria untuk wilayah Jawa bagian selatan.

Wilayah kerjanya meliputi daerah Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Wonosobo dan Purworejo. Setelah pensiun dari jabatan bupati, KRT Arumbinang bertugas direktur Pesanggrahan Madusita di desa candi Ampel Boyolali. Pesanggrahan Madusita merupakan pusat menejemen kebun dan pabrik teh. Juga berfungsi sebagai tempat penginapan yang mahal dan mewah. Tempatnya amat indah permai, di bawah kaki gunung Merbabu.

Arah lalulintas Surakarta, Salatiga dan Semarang. Singkat kata pesanggrahan Madusita adalah mesin pencetak uang. Perusahaan ini milik Karaton Surakarta Hadiningrat.Β  Hasil usaha ini sebagian untuk membiayai organisasi Budi Utomo.

Lagi pula banyak karyawan pesanggrahan Madusita yang menjadi pengurus budi Utomo. Padha gulangen ing kalbu. Ing sasmita amrih lantip. Ajaran untuk melakukan refleksi dan kontemplasi amat dianjurkan oleh anggota dan pengurus organisasi Budi Utomo.

Etos priyayi pelajar menjadi basis keanggotaan.
Kelas menengah terpelajar amat suka dengan gerakan Budi Utomo. Segi segi edukasi amat diperhatikan. Para priyayi terpelajar percaya pada transformasi sosial lewat pendidikan.

Paham ini ditunjukkan oleh KRT Kolopaking, Bupati Banjarnegara. Beliau juga aktif dalam kancah pergerakan nasional. Ketika wabah malaria menyerang masyarakat, kaum priyayi terpelajar ini yang tampil dengan cekatan. Lila lan legawa kanggo mulyane negara. Pada dirinya terdapat jiwa satriyo pinandhito. Sebagai intelektual yang memegang tugas eksekutif, mereka juga berkewajiban untuk berdarma bakti layaknya kaum brahmana.

Maka dikenal istilah kama arta darma muksa. Tahapan ini harus dilalui oleh segenap kader Budi Utomo. Keluhuran, keutamaan, keagungan hendaknya dikedepankan dalam pengabdian kepada masyarakat.

Program Budi Utomo yang menonjol memang dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Hampir semua aktivitas medis, semua Bupati di pulau Jawa didaftar sebagai dewan penasihat. Tentu ini menunjukkan sebuah kerja sama yang harmonis. Aliansi birokrat dengan pelaku medis berjalan dengan sangat menguntungkan.

Tradisi ini perlu diperhatikan dan diteruskan pada era sekarang. Kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh organisasi Budi Utomo meliputi pengajaran, pelatihan dan sarasehan. Bidang pendidikan ditujukan untuk membentuk watak yang utama.

Tiap pengurus harus bersedia ngayahi pakaryan praja. Bentuknya gotong royong gugur gunung, dengan semangat kekeluargaan. Kitab kitab Jawa yang memuat wulangan wejangan wedharan dikaji oleh pengurus Budi Utomo. Biasanya menggunakan media macapatan. Misalnya membahas serat wulangreh, Wedhatama dan Dewaruci. Kajian ini untuk mengasah ketajaman pikir dan hati. Pendidikan Budi Utomo lebih mengarah pada edukasi tradisional.

Kehadiran Budi Utomo menjadi cikal bakal organisasi pergerakan nasional yang lebih yunior. Budi Utomo telah memberikan inspirasi bagi pejuang bangsa. Masa depan bangsa perlu ditata dengan semangat kebersamaan yang diwujudkan dalam bentuk organisasi legal rasional.

Budi Utomo adalah embrio perjuangan. Oleh karena itu, lahirnya Budi Utomo dirayakan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Para tokoh Budi Utomo telah memberikan keteladanan. Para pejuang medis masa kini sedang menghadapi pandemi corona. Sejarah Budi Utomo yang sarat dengan aktivitas medis sangat cocok untuk dijadikan rujukan. Kebangkitan Nasional yang sudah berjalan lebih dari satu abad tetap relevan dengan perjuangan masa sekarang. Semoga wabah corona segera bisa diatasi dan masyarakat kembali tenang ayem tentrem. Kita mendukung penuh pelaku medis yang sadar historis.

Budi Utomo yang didukung oleh bangsawan kelas menengah terpelajar memang mengagumkan. Perjuangan ini perlu diteruskan oleh generasi muda.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian