Sejarah Laku Meditasi di Cungkup Parangkusumo Samudera Selatan

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)

A. Lelaku di Tepi Samudra Selatan.

Pertemuan Kanjeng Ratu Kencono Sari dengan Panembahan Senapati terjadi pada tahun 1582. Seminggu setelah dinobatkan menjadi raja Mataram. Harinya tepat pada malem Selasa Kliwon.

Kanjeng Ratu Kencono Sari atau Kanjeng Ratu Kidul tinggal di istana Soko Domas Bale Kencono. Kraton ini berada di dasar samudra. Peralatan Kraton Soko Domas Bale Kencono terbuat dari emas intan berlian yang serba berkilauan. Istana sangat asri rupawan.

Perdana Menteri kerajaan Soko Domas Bale Kencono bernama Kanjeng Roro Kidul. Bala tentara penjaga istana disebut Nyi Roro Kidul. Mereka mengadakan tuguran di Pantai Parangkusumo tiap malem Selasa Kliwon. Tugas rutin ini dilakukan secara bergiliran.

Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati memerintah tahun 1601-1613, meneruskan Pemerintahan Panembahan Senapati. Kanjeng Ratu Banuwati adalah garwa prameswari, putri Pangeran Benawa, yang masih cucu Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Pasangan suami istri ini merupakan trahing Kusuma rembesing madu.

Pernikahan Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati dengan Kanjeng Ratu Banuwati melahirkan Sultan Agung Prabu Hanyakra Kusuma. Beliau bertahta di Karaton Mataram tahun 1613-1645.

Atas saran Kanjeng Ratu Banuwati, tiap malem Selasa Kliwon diadakan lek lekan di cungkup Parangkusumo. Juru nujum dan abdi dalem ulama berdoa dengan ngobong dupa. Kukusing dupa kumelun sumundhul ing ngawiyat. Pertanda permohonan doa mengarah ke atas.

Lisah wida jebat kasturi, percikan minyak srimpi berbau wangi. Kembang kenanga, mawar, melati ditata rapi. Sekar rinonce aganda arum pisungsung buat Kanjeng Ratu Kidul dan prajurit Soko Domas Bale Kencono.

Tradisi mesu budi nut satataning panembah dihayati benar oleh Kanjeng Ratu Banuwati. Kang Eyang putri bernama Kanjeng Ratu Mas Cepaka. Beliau garwa prameswari Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar. Putri Sultan Trenggana raja Demak ini ahli lelaku. Anak cucunya diajari cara semedi, agar tetap berkuasa dan berwibawa. Nak tumanak run tumurun mukti angawibawa dadi pakuningrat ing nuswantara.

Sri Susuhunan Amangkurat Agung berkuasa di Kraton Plered tahun 1645 – 1677. Beliau mengusahakan tirakatan di Parangkusumo. Waktunya selalu malem selasa Kliwon, setelah jam 21. Atas nasihat Kanjeng Ratu Batang, garwa Permaisuri Sultan Agung, Sinuwun Amangkurat memberi caos dhahar ketan biru. Sesuai wangsit bahwa para petugas tuguran diharap berbusana Kejawen jangkep. Tidak boleh mengenakan kain warna ijo lembayung.

Barisan prajurit Roro Kidul berpakaian hijau. Jika seseorang sama berpakaian warna ijo lembayung, berarti siap siap untuk dijadikan bregada bala tentara Roro Kidul. Orang itu akan diajak masuk ke dasar samudera.

Garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Agung ada dua. Kanjeng Ratu Kulon dan Kanjeng Ratu Wetan. Berkat kedisiplinan caos sesaji di pantai selatan tiap malem Selasa Kliwon, anak yang dilahirkan lantas menjadi raja besar.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *