Oleh: Dr Purwadi M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara -LOKANTARA, Hp 087864404347)
A. Wangsa Sanjaya Pelopor Tata Praja.
Parakan Temangung menjadi Ibukota Mataram Kedu Darma. Parakan Temanggung pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram Kedu Darma.
Raja pertama yaitu Prabu Sanjaya Kedu Darma. Transformasi kebudayaan orang Temanggung telah berlangsung secara mendasar setelah mengalami kontak dengan budaya luar. Sejak terjalin komunikasi dengan India, maka unsur Hindu turut mewarnai citra budaya Jawa. Kemudian disusul pula dengan hadirnya pengaruh Buda. Mereka sudah terbiasa hidup dengan ragam budaya.
Kanjeng Sinuwun Ratu Sanjaya merupakan Proklamator dan Bapak Kraton Mataram Kuno yang legendaris dan terhormat.
Kesadaran literasi sudah menjadi tradisi di kalangan pengembating praja. Raja Mataram parakan kerap melakukan refleksi sipirituan di Gunung Sumbing.
Para raja Mataram Kuno yaitu: Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya (732 –760), Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760 – 780), Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780 – 800), Sri Maharaja Rakai Warak (800 – 820), Sri Maharaja Rakai Garung (820 – 840), Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856), Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882), Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899), Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung (898 – 915), Sri Maharaja Rakai Daksa (915 – 919), Sri Maharaja Rakai Tulodhong (919 – 921), Sri Maharaja Rakai Wawa (921 – 928), Sri Maharaja Rakai Empu Sindok (929 – 930). Beliau adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati.
Pada tahun 732 M wangsa Sanjaya merubah nama Kalingga dengan Mataram. Ia menjadi raja pertama Mataram Hindu.
Masa ini juga merupakan masa pendirian candi Siwa di Gunung Dieng. Arti Dieng, Hadi Hyang artinya tempat tinggi untuk membuat jagad raya lebih mempesona. Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi.
Jaman Mataram Parakan dahulu pendidikan humaniora mendapat tempat utama. Soal-soal kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional terbatas saja. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang harus diikuti oleh umum, lebih-lebih kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat.
Kesadaran mengenai makna penting kedudukan ilmu bahasa, sastra, sejarah, antropologi, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan, dan tata negara telah memberi inspirasi para pejabat kerajaan untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pendidikan yang berwujud padepokan Ngadiharja. Ilmu iku kelakone kanthi laku.
Pertumbuhan kesusasteraan Jawa sudah dikenal secara luas dan selang waktu yang cukup lama.
Kitab Candhakarana menjadi sumber etika masyarakat Temanggung. Karya sastra yang mengandung nilai filosofis tinggi ini dikaji oleh pembesar istana di Sanggar Kledhung.
Kanjeng Sinuwun Sanjaya senantiasa memberikan warisan yang berupa wejangan luhur yang diperuntukkan bagi anak cucunya. Sang raja itu yang berkuasa memberikan perintah. Maka dirimu harus waspada berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat untuk mengabdi sang raja. Ngawula marang ratu.
Agar mendapat sayang, cinta dari raja yang berbelas kasih. Kepada abdi yang memperhatikan maka dari itu bila ada dapat melegakan hati raja. Ada ungkapan pejah gesang ndherek sang narpati.
Kerajaan Mataram Parakan mengutamakan konsep mitra dalam sambang sambung srawung. Mitra artinya kawan, sahabat, saudara, atau teman. Jadi mitra berarti sifat-sifat yang menghendaki persahabatan terhadap semua makhluk.
Mitra mengajarkan agar manusia memandang semua manusia seperti keluarga besar. Manusia wajib saling mengasihi, tolong-menolong, dan saling menghormati. Doktrin kerukunan ini diajarkan di lereng Gunung Sumbing. Murih supeketing memitran, raketing kekadangan.
Kadang kadang segenap pegawai istana Mataram Parakan diajak diskusi di Pesanggrahan Gunung Ungaran. Visi misi yang telah diwariskan oleh Ratu Sanjaya itu menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Tak mengherankan apabila keturunan Ratu Sanjaya mampu menjadi trahing kusuma rembesing madu yang unggul dan mumpuni. Dari hasil musyawarah kerja itu lantas muncul gagasan membangun petilasan monumental. Yakni Candi Prambanan, Candi Sewu dan Candi Rara Jonggrang.
Pemerintahan Rakai Panangkaran meneruskan perjuangan leluhur Mataram Parakan. Beliau kerap bertapa di Alas Roban. Meditasi spiritual guna mendapat pencerahan batin. Rakai Panangkaran berarti raja mulia yang selalu berhasil dalam mengembangkan potensi wilayah kerajaan. Panangkaran berasal dari kata Tangkar, yang berarti berkembang.
Dia memang berhasil mewujudkan cita-cita Ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Mataram, mata yang rampung, artinya merampungkan segala bentuk pakaryan.
Sebagai kepala pemerintahan kerajaan Mataram Parakan, Rakai Panangkaran cukup berhasil meningkatkan harkat martabat negeri. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhure budaya. Tentang rahasia ajaran jaman dahulu hanya mengambil ajaran yang terlupakan.
Lalu diolah sekedarnya yang diajarkan oleh para ahli, beserta para sarjana winasis terdahulu yang sudah termashur. Mahir dalam ilmu pengetahuan, pandai dalam mempelajari segala keilmuannya, dan siap memberikan ajaran sebagai perwujudan pengabdiannya. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.
Ajaran raja Rakai Pananggalan, isinya juga mengenai hidup. Pemerintahan Rakai Pananggalan tercermin dari sikapnya yang selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudannya dengan menghormati guru. Catur Guru terdiri dari kata Catur yang berarti empat, dan Guru berarti berat. Jadi Catur Guru berarti empat guru yang mempunyai tugas yang cukup berat. Dikatakan berat karena guru dalam membimbing dan mengajar menghadapi berbagai masalah.
Tugas guru adalah mengubah yang tidak tahu menjadi tahu, mengubah yang tidak bisa menjadi bisa, membimbing yang tidak baik menjadi baik. Lamun sira anggeguru kaki, amiliha manungsa kang nyata. Ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing hukum.
Pemerintahan kerajaan Mataram Parakan masa Rakai Warak meneruskan perjuangan pendahulu. Pemerintahan Rakai garing juga maju. Segala sesuatu yang diceritakan, semua berguna sebagai pengabdiannya bagi kesejahteraan negara, karena selalu mendapat lindungan Tuhan. Selamat segala yang dilakukannya, segala tindakan yang tidak baik dijauhkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, ibarat orang yang sudah tahu bahaya dijauhkan dari tindakan jahat.
Dan hatinya sudah sungguh suci, kedudukannya sudah lebih kuat. Sudah menjadi perabotnya, mengetahui satu kebenaran. Itulah teologi Manunggaling Kawula Gusti.
B. Dinasti Sanjaya Membangun Masyarakat Plural.
Toleransi dan akulturasi kebudayaan bersemi di kerajaan Mataram Parakan. Contoh hidup bernegara yang mengagumkan.
Pemerintahan Rakai Pikatan pada tahun 850. Dalam prasasti Tulang Air di Candi Perut menyebutkan bahwa Rakai Pikatan bergelar Ratu.
Pada masa pemerin-tahan Rakai Pikatan ini kerajaan Mataram Hindu mencapai masa kemakmuran dan kemajuan. Dinasti Sanjaya menjadi gemilang dan harum namanya.
Ingkang Sinuwun Rakai Pikatan sangat memperhatikan keamanan dan ketertiban negara.
Tatkala pasukan dari dinasti Balaputra Dewa menyerang wilayahnya, Rakai Pikatan tetap dapat mempertahankan kedaulatannya. Bahkan bala tentara penyerang dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang Sumatera Selatan. Rakai Pikatan bisa melakukan suksesi secara damai. Dia lengser keprabon madeg pandhita.
Kekuasaannya diserahkan secara konstitusional kepada Rakai Kayuwangi tahun 856.
Rakai Pikatan atau Prabu Jatiningrat benar-benar ahli dalam kenegaraan dan pemerintahan. Bersama permaisurinya, Pramodha Wardhani, putra raja Samaratungga, Rakai Pikatan mencapai masa kecemasan.
Kanjeng Sinuwun Rakai Pikatan memerintah Kerajaan Mataram Hindu se-kitar tahun 998 Çaka atau 856 Masehi. Istrinya adalah putri Raja Samaratungga yang bernama Pramodha Wardhani.
Pada zaman pemerintahan Rakai Pikatan itu dibangun Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang. Prasasti yang mengungkapkan tentang Candi Prambanan yaitu Prasasti Siwagraha yang berangka tahun 778 Çaka atau 856 Masehi.
Rakai Pikatan meninggal pada tanggal 27 Mei 855. Gajah mati meninggalkan Gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama harum. Untuk menghormati jasa beliau yang besar, sekarang masyarakat Temanggung membangun kompleks mata air Pikatan.
Kanjeng Sinuwun Rakai Kayuwangi pada tahun 856 mendapat gelar Sang Prabu Dyah Lokapala. Loka berarti tempat, pala berarti buah. Apa saja akan berbuah kebaikan di tempat sang Prabu Dyah Lokapala. Rakai Kayuwangi ibarat pohon kayu cendana yang harum, semerbak mewangi ke kanan dan ke kiri.
Perjuangan Rakai Kayuwangi pada negaranya memang telah dicatat dalam prasasti Wuatan Tija pada tahun 880. Tugas utama seorang raja menurut Rakai Kayuwangi adalah memakmurkan, mencerdaskan, dan melindungi keselamatan warga negara Temanggung. Itulah hambeg adil paramarta.
Raja harus mau berkorban demi rakyatnya. Merasakan kenikmatan setelah rakyatnya berbahagia. Ulat patrap lan pangucap untuk ibu pertiwi.
Hal demikian diucapkan Kanjeng Sinuwun Rakai Kayuwangi saat memberi pengarahan di Pesanggrahan Gunung Telamaya pada tahun 857. Beliau raja yang menjunjung tinggi etika ber budi bawa laksana.
Kepemimpinan Mataram keparakan lalu dipimpin Rakai Watu Humalang. Belum punya keluhuran budi.
Hidup menjadi mantap oleh karena bila membicarakan ilmu. Pandai pandailah menyampaikannya, agar jadi lebih baik dengan pertimbangan dalam perbuatan segala yang dilakukan hendaklah berdasar perasaan. Dalam berkata-kata, umpama nyala lampu, ke sana kemari tetap berguna dalam hati tetap akan menari.
Sebab orang pandai yang unggul telah memiliki kemampuan melihat kemahiran orang. Tak terlihat pada raut mukanya tampak sepi tapi menghimpun, menguasai segala kepandaian.
Maka dari itu jangan ketahuan dalam penglihatan orang lain. Ditutupi dengan perpaduan rahasia keselarasan tindakan baik dan tenang bila ketahuan orang lain.
Rakai Watuhumalang dalam melaksanakan jalannya pemerintahan selalu berprinsip pada tri parama arta.
Artinya tiga macam perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tri Parama Arta. Begitu sang raja memberi wulangan wejangan wedharan.
