Pesanggrahan Milik Keraton Surakarta
Oleh: Dr Purwadi M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)
A. Pesanggrahan Langenharjo.
Pada tahun 1870 sedang ada pembangunan Terusan Suez di Laut Tengah. Dengan adanya Terusan Suez jarak Eropa dan Jawa menjadi semakin dekat. Terusan Suez berasal dari bahasa Arab Qana al-Suways, berada di sebelah barat Semenanjung Sinai yang berjarak 163 km.
Bangunan megah di Mesir ini atas jasa Insinyur Perancis yang bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps. Peluang gemilang ini menguntungkan bisnis Kraton Surakarta (Krisnina Maharani, 2015 : 73). Susuhunan Paku Buwana IX sering pergi berpesiar, kemudian ia ingin mendirikan pesanggrahan untuk beristirahat. Selain itu ia selalu teringat suara gaib yang ia dengar ketika duduk di tepi danau tepat di atas Kedhung Nglawu. Oleh karena itu sinuwun memerintahkan untuk membuka dusun Klareyan kemudian akan dijadikan pasanggrahan yang bagus. Awal mula pembangunannya pada tahun Be 1800, dengan sengkalan Kembul Kaluhuraning Sarira Nata. Pasanggrahan tersebut menghadap ke timur menghadap sungai, di depannya ada pohon beringin kembar yang dipagari. Di belakang dan kanan kirinya berupa persawahan yang luas dan asri. Meskipun pembangunannya belum selesai, sinuwun sudah sering datang bersama permaisuri dan para pengikutnya.
Setelah pasanggrahan tersebut sudah terlihat indah pemandangannya, sinuwun kemudian memberinya nama Langenharjo.
Pada masa Paku Buwana IX dibuatlah pusaka Kyai Jaka Muncar, Dhuwung Leres, Dhapur Pasopati, Pamor Ron Ndulu, Toya Surakarta dengan Empu Singawijaya. Selain itu beliau membuat Kyai Jaka Mulya, Dhuwung Luk Sanga, Dhapur Panimbal, Pamor Ron Ndulu, Toya Surakarta dengan Empu Singawijaya (Soewito Santoso, 1990 : 61). Setelah pasanggrahan tersebut selesai, sinuwun ingin mengadakan pentas tari sebagai peringatan tingalan-dalem. Malam hari Rabu Kliwon dan Rabu siangnya memanggil KGPA Haryo Mangkunagoro IV sekalian anak dan istri dan para Pangeran. Ketika KGPAH Mangkunagoro akan menghadap di pesanggrahan Langenharjo, seharusnya ia mengenakan busana sikepan seperti jika masuk ke istana.
Karena saat itu bukan masuk istana, ia ingin memakai busana beskap tapi takut, sedangkan kalau memakai busana sikepan terlalu tinggi. Jadi KGPAH Mangkunagoro kemudian memakai busana ‘rokkie’ dengan cara Jawa.
Pada malam Selasa Wage, Kanjeng Susuhunan dan permaisuri sudah datang ke pasanggrahan Langenharjo disambut para putra sentana, abdi dalem, para pengikut semuanya sudah melaksanakan tugasnya masing-masing, seperti: minuman, cerutu, ruang makan, perawat lampu, gamelan dan para niyaga tidak ada yang kurang. Pada malam Rabu jam 8 sore, sampeyan-dalem duduk di pendapa. Para pembesar, pangeran, putra sentana turut menghadap.
Tidak lama KGPAH Mangkunagoro datang bersama istri dan putranya, para lelaki langsung menghadap sinuwun, sedangkan yang wanita masuk ke dalam bertemu dengan permaisuri. Setelah gending penghormatan, KGPAH Mangkunagoro bersama rombongannya disambut dengan baik. Sinuwun merasa senang melihat pakaian yang dikenakan, lalu bertanya: “Pakaian ini namanya apa?”
Kanjeng Gusti menjawab bahwa busananya disebut rokkie Belanda, dipakai cara Jawa.
“Bagus sekali, akan saya namai pakaian Langenharjan, sekalian sebagai peringatan Maspati. Juga saat menghadap ke kraton kuperbolehkan memakai pakaian tersebut.”
Kanjeng Gusti menjawab, “Baik.”
Setelah berbincang-bincang, sekitar jam 1 lalu makan, pesta di paringgitan. Para putri makan di dalam. Selesai makan sinuwun lalu pergi.
Kanjeng Gusti Mangkunagoro diberikan penginapan di dalam pasanggrahan. Begitu pula dengan para putri. Para putra Mangkunagaran yang laki-laki tinggal di rumah para kawula-dalem alit, dekat pasanggrahan, sebagian bermalam di perahu sinuwun yang disediakan di danau. Pada masa itu sedang ramai gamelan baru bernama angklung. BPH Gondowisworo, pembesar langenprojo, membawa angklung dan wayang kemudian memainkannya bersama para abdi yang ada di perahu.
Kemudian menjadi tontonan orang banyak. Hal itu didengar oleh sinuwun, kemudian memerintahkan untuk memberi minuman keras, jadi semakin ramai.
Paginya sinuwun ingin jalan-jalan ke sungai Banjarmalati di dekat Parangjoro, bersama dengan permaisuri dan putra-putri juga diminta ikut. Ketika sinuwun naik perahu, ia mendengar suara angklung milik BPH Gondoatmojo, membuat hatinya merasa senang. Ia kemudian memerintahkan untuk memainkannya bergantian dengan musik sinuwun.
Sinuwun kembali ke pesanggrahan jam 1 siang lalu makan. Setelah sinuwun pergi, tinggal gusti bersama istri dan para pengikutnya sudah diperbolehkan mundur, sedangkan ikan oleh-oleh dari jalan-jalan tadi diberikan pada Mangkunagaran secara merata. Malam harinya, Kamis Legi, sinuwun dan permaisuri kembali ke istana. Selanjutnya setiap hari Jum’at atau kadang-kadang beberapa minggu sekali, sinuwun pasti datang ke pesanggrahan Langenharjo. Datang pagi, pulang sore, kadang-kadang juga menginap.
Bersamaan dengan hari Sabtu Legi, tanggal 12 bulan Rabingulakir tahun Be 1800, dengan sengkalan Kumbul Luhuring Murti Nata, sinuwun bersama permaisuri pergi ke Klaten naik kereta api diikuti beberapa putra sentana dan beberapa abdi-dalem. Keperluannya untuk membuka karetek tosan di Gondang yang baru saja selesai pembangunannya dengan biaya Rp 29.950. Sinuwun kembali ke istana pada sore hari. Pada tanggal 21 Mei 1873 seluruh jalur kereta api sepanjang 203 km antara Semarang-Vorstenlanden dibuka bagi lalu lintas umum.
Ini merupakan awal jalur kereta api ke Vorstenlanden di Jawa Tengah dengan persinggahan di Kota Solo dan Yogyakarta (Krisnina Maharani, 2015 : 74).
Kembali ke pasanggrahan Langenharjo, semakin lama semakin banyak bangunan yang didirikan, kamar dan gedung-gedung, begitu pula tamannya. Karena itu semakin indah dipandang.
Di luar pasanggrahan, para kawula yang membangun rumah di sana semakin banyak dan semakin makmur. Setiap kali sinuwun datang ke pasanggrahan, banyak orang berjualan di sana, kemudian jadi pasar dadakan.
B. Pesanggrahan Parangjoro.
Sinuwun kemudian membangun pesanggrahan lagi di sebelah barat pasanggrahan Langenharjo, jaraknya kurang lebih 1 ½ pal ke atas, diberi nama Parangjoro.
Bangunan ini juga menghadap ke timur ke arah sungai. Setiap sinuwun datang ke Parangjoro naik kereta, menginap atau pulang sore hari naik perahu mengikuti aliran singai, kemudian mampir ke Langenharjo. Dari Langenharjo naik perahu lagi sambil bermin kembang api yang membuat anak-anak desa di sepanjang sungai yang dilewati sinuwun merasa senang. Sesampainya di daerah Juruk lalu turun dari perahu berganti naik kereta yang sudah disiapkan, lalu kembali ke kraton.
Kraton Surakarta memiliki 81 perkebunan.
Hasil dari perkebunan tersebut banyak sekali. Keuntungannya berlipat ganda. Sehingga bisa dikatakan kaya raya (Darsiti, 2001 : 62). Bumi narawita adalah tanah yang berfungsi penghasilan, pemasukan serta meningkatkan kas Kraton Surakarta. Sebetulnya Kraton Surakarta mempunyai beberapa tanah yang dijadikan sebagai lahan bisnis.
Misalnya: tanah untuk pendirian pabrik gula Manisharjo, kebun tembakau di Tegal Gondo Klaten, kebun teh di Ngampel Boyolali dan kebun kopi di Kembang Semarang (Wiranegara, 2005: 7). Tentu saja tanah-tanah tersebut telah memberi kontribusi besar terhadap eksistensi Kraton Surakarta. Biaya dari hasil tanah ini digunakan untuk pemeliharaan dan pelestarian kebudayaan.
Pada hari Senin Paing tanggal 10 bulan Rejeb tahun Be 1808, dengan sengkalan Kaesti Kombul Murti ing Bumi atau 30 Juni 1879, dengan sengkalan Trus Kaswareng Murtining Rat, di dalam istana ada pertemuan. Sinuwun menerima kedatangan komandan Bintanging Orde Vranes Josep dari negara Oostenrijk dari raja di Oostenrijk, diterima oleh tuan residen diiringi tuan asisten residen serta sekretaris tuan Juru Bahasa, tuan Militer Komandan serta para opsir, serta KGPAH Mangkunagoro sekeluarga yang menjadi tuan rumah pada pertemuan tersebut. setelah komander memakai soho, surat dari Oostenrijk lalu dibaca. Lalu memberi penghormatan dengan membunyikan meriam, setelah itu pertemuan selesai. Sinuwun dan permaisuri sering keluar untuk jalan-jalan ke pelosok negeri naik kereta diikuti oleh para putra dan petinggi, diikuti para abdi dalem yang naik kuda. Jika musim sedang terang, sinuwum jalan-jalan pada sore hari sekitar jam 5, kalau musim hujan, pagi hari sekitar jam 8-9. Hal tersebut membuat senang para kawula yang daerahnya dilewati.
Sinuwun beserta permaisuri serta para selir pernah datang ke pesanggrahan Langenharjo naik kuda, para putri juga naik kuda. Sudah termasuk babad Notocangkromo, pernah datang ke Ngrodon, juga naik kuda setiap datang ke Langenharjo. Memberikan perintah pada para pengikut dengan dilagukan, lalu perintah tersebut ditulis dalam Sabak yang diberi tanda: Adisoro (abdi-dalem kesayangan kliwon wanita) lalu diberikan kepada abdi-dalem juru tulis yang terpilih (dulu dinamakan punakawan sekretaris) lalu diberikan pada abdi-dalem wedana yang ada di Srimanganti. Purbanagaran kusir Belanda Drahguender Hoerdenas serta lain-lainnya yang punya kewajiban mengikuti dan siap sedia di pasanggrahan.
C. Pesanggrahan Tegalgondo.
Kadang kala sinuwun bersama permaisuri datang ke pesanggrahan Tegalgondo bersama para putra dan para petinggi serta bermacam-macam abdi-dalem. Kadang kedatangan sinuwun tadi bersama dengan abdi dalem pambendhe, setiap pagi jam 8 bendhe dipukul 3 kali supaya para abdi dalem yang ada di pesanggrahan bersiap. Bunyi bendhe yang bertama kali pertanda untuk berdandan/bersiap-siap, yang kedua berangkat untuk menghadap, yang ketiga sudah lengkap.
Pesanggrahan Tegalgondo dibangun oleh Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB VII, yang diperintahkan untuk mengerjakan adalah abdi-dalem onder-mayor R Panji Jayaningrat, di kemudian hari menjadi patih bergelar Kanjeng Raden Adipati Sosronagoro.
Dari semua pesanggrahan yang dibangun tersebut, yang paling sering dikunjungi adalah Langenharjo, sampai-sampai ada warga bangsa Cina sinse yang membuka toko, lama-kelamaan sinse tersebut dijadikan abdi dalem yang berkewajiban untuk membuatkan teh bagi sinuwun.
Atas kehendak sinuwun, sinse tersebut diberi nama ganjaran Amirdjes. Juga atas kehendak sinuwun, disebutkan dalam Serat Menak Wong Agung Jayeng Rono memiliki pengikut bernama Amirdjes, setiap ada pertemuan agung ia bersama-sama abdi dalem Belanda, hanya saja pakaiannya cara Cina. Kadang-kadang juga diperintahkan untuk menghadap sinuwun, pernah juga ke Pengging ketika belum jadi pesanggrahan.
Sinuwun suka naik kuda, seringkali ia naik kuda di halaman dengan diiringi musik tropongan atau tropongbang, tingkah laku kuda bisa mengikuti lagu irama gending.
Kadang kala ia pergi ke pesanggrahan di Langenharjo bersama permaisuri, diiringi oleh selir sinuwun bernama Raden Ayu Wirasmoro dan Raden Rarasati, mereka semua naik kuda diiringi para putra sinuwun yang juga naik kuda. Jadi perhatian masyarakat di sepanjang jalan, sampai dijadikan babad bernama Babad Notocangkromo. Sesampainya di pesanggrahan Langenharjo biasanya lalu berlatih senjata dan memanah, permaisuri juga melatih para pengikut yang memang suka, sehingga kelihatan trampil bermain pedang. Pesanggrahan Langenharjo dibangun sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul (Bram Setiadi, 2011 : 176).
Keadaan demikian itu menjadi pertanda bahwa kerajaan dalam keadaan tentram, keluhuran sinuwun menjadi pertanda tidak adanya halangan, juga menandakan bahwa kehidupan rumah tangganya yang damai.
Sinuwun juga menyukai bepergian naik perahu. Setiap kali sungai sedang tinggi airnya, bisa dipastikan ia akan pergi keluar bersama permaisuri dan para pengikut untuk naik perahu. Pada waktu itu, di dalam kota belum dibuat tanggul, karena itu setiap musim hujan di kota selalu kebanjiran, kadang sampai di alun-alun, malah pernah sampai di pelataran kraton.
Sinuwun kemudian pergi naik perahu sekalian memberikan makanan para penduduk yang rumahnya kebanjiran, serta uang satu teng (4 1/5 sen), kadang sinuwun juga memberi semangat, ‘Selamat semua, tidak apa-apa, jangan dibuat susah.’ Kata-kata sinuwun tersebut membuat para pengikutnya merasa senang tak terkira. Karena sinuwun senang naik perahu, maka perahu yang dimiliki cukup banyak dan bagus. Perahu yang paling bagus dan besar dinamai Kyai Rojomolo.
Dinamai Kyai Rojomolo karena sangat besar, kalau sungai tidak sedang banjir tidak bisa dijalankan karena kandas. Perahu tersebut buatan Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB V ketika masih menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Ada lagi yang bernama Kyai Rojoputri, bentuk perahunya cukup besar, hadiah dari Kanjeng Tuan Jendral pada masa pemerintahan Susuhunan PB VI.
Selain senang naik perahu, sinuwun sering berjalan-jalan di dekat pesanggrahan Langenharjo dan Parangjoro untuk menyenangkan para istri dan para putra, kadang juga mengundang rekan-rekan sinuwun sekeluarga sehingga menjadi suatu pertemuan. Di sana lalu dibangun tarub yang dihiasi dengan janur kuning dan bermacam-macam dedaunan untuk tempat duduk sinuwun dan para tamu, aa juga tarub untuk tempat gamelan, musik serta tempat untuk para abdi dalem yang ikut. Ada juga tempat untuk mempersiapkan bermacam-macam suguhan. Juga disediakan perahu tembo utntuk para lurah juru selam dan lurah pambelah.
Kalau juru selam terlihat muncul di permukaan dan mendapatkan ikan besar, lalu disoraki dan diriingi musik coro balen. Anak-anak dan orang dewasa di sekitarnya, bahkan ada yang datang dari jauh, berdatangan ingin melihat. Jadilah pasar dadakan, banyak orang berjualan.
D. Kyai Rojomolo.
Kesenangan sinuwun untuk jalan-jalan menyenangkan istri dan anak menjadi pertanda luhurnya kewibawaan sinuwun karena semua bisa dilakukan, menjadi tanda bahwa masa tersebut merupakan masa kebahagiaan. Ketika masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun PB VIII, di seluruh negeri Surakarta ada banjir besar sampai masuk ke dalam kraton. Banjir tersebut terjadi sampai hari Sabtu Legi tanggal 12 ruwah tahun Jimawal 1821.
Menurut perhitungan para ahli, setiap 32 tahun akan ada banjir besar lagi. Karena itu sebelum tahun 1921 tersebut, dua tahun sebelumnya, sinuwun memerintahkan untuk memperbaiki perahu Kyai Rojomolo. Perahu tersebut diperbaiki di tepi sungai Langenharjo sebelah barat.
Setiap kali sinuwun datang ke Langenharjo, beliau mampir untuk melihat pengerjaannya.
Sebelum memasuki bulan Ruwah tahun Jimawal 1821, perbaikan perahu Kyai Rojomolo sudah selesai. Meskipun air sungai kadang sudah tinggi, namun belum bisa membuat Kyai Rojomolo mengambang, jadi perahu tersebut masih ada di tepi sungai. Pada suatu hari banjir cukup besar.
Sinuwun dan permaisuri pergi ke Langenharjo diantar para putra dan abdidalem naik Kyai Rojomolo namun jalannya tidak bisa kencang. Setelah beberapa lama naik perahu mereka kembali ke pesanggrahan.
Pada hari Jumat Kliwon tanggal 11 bulan Ruwah tahun Jimawal 1821, sungai Langenharjo banjir sampai hampir meluap, padahal hujan masih turun dengan deras. Kemungkinan air masih naik lagi, karena itu keadaan tersebut dilaporkan.
Pada sore harinya sinuwun dan permaisuri datang ke Langenharjo. Malam harinya hujan masih deras, paginya air sungai semakin besar sampai masuk pelataran pesanggrahan. Sinuwun dan permaisuri serta para putra lalu naik perahu Kyai Rojomolo, diikuti perahu-perahu kecil yang dinaiki para abdi dalem membawa gamelan beserta niyaganya. Perginya sinuwun tidak boleh terlalu jauh, hanya sampai Bacem lalu kembali ke pesanggrahan. Pada hari itu hanya sebagai pengingat bahwa Perahu Kyai Rojomolo dinaiki oleh sinuwun.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan