oleh

Sejarah Bangunan Keraton Surakarta

Oleh Dr. Purwadi, M.Hum, 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Berdirinya Bangunan Karaton.

Penggunaan bangunan Kraton Surakarta secara resmi pada hari Rabo Pahing tanggal 14 Sura 1670. Bertepatan dengan tanggal 17 Pebruari 1745 Masehi.

Kraton Surakarta tersebut dibangun oleh Ingkang Sinuhun Paku Buwana II. Beliau mendapat julukan Sinuwun Kombul. Lahir pada hari Selasa Pahing 23 Syawal 1634 atau 8 Desember 1711. Ayahnya bernama Sinuwun Amangkurat Jawi raja Mataram 1719-1726.

Masa kecil Sinuwun Paku Buwana II atau Gusti Raden Mas Praba Suyasa diasuh oleh Kanjeng Ratu Mas Balitar, Permaisuri Sinuwun Paku Buwana I raja Mataram tahun 1708 – 1719.

Menurut para sesepuh, bentuk bangunannya diumpamakan sebagai kraton Batara Hendra di Jonggring Salaka atau Kahyangan Kahendran.

Gladhag

Untuk masuk ke dalam kraton Surakarta dimulai dari utara ke selatan. Dengan melewati gapura I yang disebut Galadhag.
Dahulu gapura tersebut berupa pintu dari kayu yang di bawahnya diberi roda.

Sekeliling pintu tersebut masih berupa tanah luas yang digunakan sebagai kandang hewan. Menurut dongeng, para ratu pada jaman kuno masih suka berburu. Bila mendapat hewan buruan yang masih hidup misalnya kijang, menjangan dan sebagainya, kemudian dimasukkan ke kandang tersebut.

Bila salah satu hewan tersebut akan disembelih, maka ditangkap dengan cara digladhag atau digiring. Orang yang menjalankan pekerjaan tersebut dinamakan abdi dalem gladhag. Tempat tersebut kemudian dinamai Gladhag.

Pamurakan

Rampung melewati gapura I kemudian melewati gapura II yang disebut Pamurakan. Pada jaman dahulu berupa pintu beroda sebagai tempat untuk membagi bagikan daging hewan yang disembelih kepada para abdi dalem atau rakyat yang berhak mendapatkan.

Watu ketheng

Kiri kanannya, yaitu di sebelah selatan gapura II terdapat batu kentheng, yang dahulu digunakan sebagai alas menyembelih hewan. Dari batu kentheng ke selatan, di bagian timur ditanam pohon beringin yang dinamakan Ringin Wok (putri). Di sebelah barat jalan, sebagai pasangannya dinamai Ringin Jenggot (putra).

Alun Alun

Dari tempat kedua pohon beringin tersebut terdapat tempat yang sangat luas yang dinamakan Alun-alun. Tempat tersebut dulu digunakan sebagai tempat berlatih perang setiap hari sabtu dengan diiringi gendhing Kodhok Ngorek.

Di sekeliling Alun-alun, yaitu di sebelah utara, barat dan timur ada rumah yang berjajar-jajar yang dinamai Kapalan, yaitu tempat untuk istirahat para abdi dalem dan kuda kudanya ketika selesai berlatih perang. Setelah tidak ada lagi latihan perang, rumah-rumah tersebut digunakan untuk tempat beristirahat para abdi dalem bupati yang menghadap ke Kraton.

Liputan JUGA  Sejarah Kepatihan Surakarta

Rumah tersebut kemudian dinamai Paseban. Di tengah alun-alun ditanami pohon beringin kembar yang dikelilingi dengan pagar besi.

Waringin kurung.

Orang orang kemudian menyebutnya Waringin kurung.
Pohon beringin yang berada di sebelah timur dinamai Jayadaru yang artinya kemenangan, yang di sebelah barat dinamai Dewandaru yang bermakna keluhuran.

Tepat di sebelah selatan pohon beringin kembar terdapat rumah besar yang beratap gedheg (anyaman bambu) tiangnya dari bambu dan lantainya pasir. Rumah tersebut dinamakan Tatag Rambat.

Tatag Rambat

Setelah Sinuhun Paku Buwana X bertahta selama 6 windu (48 tahun), yaitu pada tahun Jawa 1843 atau tahun masehi 1913, Tatag Rambat kemudian dibangun menjadi beratap seng, tiangnya berupa pilar dan lantainya diplester.

Adapun tiangnya berjumlah 48 sebagai peringatan masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwana X yang tepat 48 tahun. Namanya kemudian diganti bukan lagi Tatag Rambat, tetapi dinamai Pagelaran atau Sasana sumewa.

Tempat tersebut bila tiba hari besar dianggap tempat menghadapnya para patih dalem, para panewu, mantri bupati. Di depan Pagelaran ada tiga buah meriam.

Kyai Pancawara

Paling timur bernama Kyai Pancawara, nama yang diambil dari sengkalan tahun Jawa yaitu Pandhita carem wuruking ratu (1567), sebagai pengingat tahun pembuatannya. Kyai Pancawara dibuat oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Hanyakra kusuma.

Kyai Sapu jagad.

Karena bentuknya yang lebih besar dari yang lainnya, maka orang orang menyebutnya Kyai Sapu Jagad.
Dua buah meriam yang berada di depan Pagelaran yang bentuk dan besarnya sama adalah hadiah dari priyayi manca.

Kyai Swuh Brastha.

Ada yang berada di sebelah timur bernama Kyai Swuh Brastha artinya hilang atau lebur.

Kyai Segara Wana.

Sebelah barat bernama Kyai Segara Wana artinya laut dan hutan. Nama kedua meriam tersebut sebagai peringatan hilangnya kekuasaan Ingkang Sinuhun atas hasil hutan. Hasil hasil dari hutan tahun 1964, atas persetujuan para ahli, ketiga buah meriam tersebut dipindah.

Kyai Pancawara.

Kyai Pancawara di sebelah timur menghadap ke timur, Kyai Swuh Brastha dan Kyai Segara Wana diletakkan di kanan dan kiri tangga yang menuju Sitihingggil menghadap ke utara.

Kyai Santri.

Bagian barat Pagelaran ada meriam kecil mengghadap ke barat bernama Kyai Santri buatan jaman dulu oleh Abdi Dalem Keparak. Di depan Pagelaran sebelah barat ada tugu sebagai tanda peringatan genap 200 tahun pindahnya kraton dari Kartasura ke Surakarta. Tugu tersebut dibuat pada tahun Jawa 1869 atau tahun masehi 1938.

Liputan JUGA  Sejarah Wangsa Sanjaya Pendiri Mataram Kuno

Bangsal Pandengan

Depan Pagelaran pojok timur dan barat ada rumah beratap seng yang dinamakan Bangsal Pandengan. Bangsal tersebut digunakan sebagai tempat kuda tunggangan Ingkang Sinuhun yang berpakaian lengkap ketika sedang hari besar.

Bangsal Paretan.

Tempat timur dan barat bangsal Pemandengan ada bangsal bertiang pilar yang dinamakan Bangsal Paretan. Bangsal tersebut pada hari besar digunakan sebagai tempat kereta yang dihias lengkap tunggangan Ingkang Sinuhun.

Pada jaman dahulu, bila Ingkang Sinuhun akan bepergian, kereta sudah disiapkan di bangsal tersebut. Bangsal tersebut akhirnya dibongkar karena digunakan untuk jalan. Di sebelah timur bangsal Paretan sebelah timur, dulu ada kandang harimau.

Bangsal Patalon

Untuk sebelah utara kandang harimau ada bangsal bernama Bangsal Patalon yaitu tempat memainkan gamelan pada hari Sabtu saat ada latihan perang dengan menaiki kuda.

Bangsal Pacekotan.

Bagian sebelah timur Pagelaran ada bangsal bernama bangsal Pacekotan yaitu tempat berkumpulnya orang orang yang akan menerima ganjaran dari Sinuhun.

Bangsal Pacikeran.

Adapun sebelah barat Pagelaran ada bangsal yang digunakan sebagai tempat istirahat bagi orang orang yang akan menerima hukuman, disebut bangsal Pacikeran.

Bangsal Martalulut

Untuk sebelah selatan Pagelaran bagian timur ada bangsal kecil bernama bangsal Martalulut. Tempat para abdi dalem yang mendapat tugas untuk memeriksa suatu perkara.

Bangsal Singanagara.

Sedangkan di sebelah barat sebagai pasangannya ada bangsal Singanagara. Yakni tempat untuk abdi dalem yang bertugas memutuskan suatu perkara.

Sela Pamecat.

Bagian tengah tangga naik ke Sitinggil ada batu bernama Sela Pamecat. Pada jaman dahulu batu tersebut digunakan sebagai alas untuk menghukum masalah berat.

Bangsal Pengrawit.

Untuk tengah Pagelaran ada bangsal bernama Bangsal Pangrawit. Menurut cerita, bangsal tersebut berasal dari rumah di perahu yang digunakan Sang Prabu di Jenggala. Di tengah bangsal ada batu persegi. Menurut cerita, batu tersebut adalah tempat duduk Sang Prabu Hayam Wuruk di Majapahit.

Bangsal Pengrawit digunakan sebagai tempat duduk Sinuhun ketika sedang memberi perintah mengenai hal hal yang berkaitan dengan masalah pemberian ganjaran/hadiah atau mengadili perkara terhadap orang-orang yang bersalah.

Sitihinggil

Sitinggil atau Sitibentar dibangun oleh Ingkang Sinuhun Paku Buwana III. Beliau memerintah tahun 1749 – 1788. Menulis kitab Wiwaha Jarwa.

Nama lengkapnya Sitinggil Binata Warata, tahun pembuatannya ditandai dengan memberi sengkalan Siti Inggil Palenggahaning Ratu, Tahun Jawa 1701 atau tahun Masehi 1774.

Konten Wijil

Untuk naik ke Sitinggil harus melewati sebuah pintu yang disebut Konten Wijil, artinya keluarnya gagasan atau ucapan. Meriam yang dijajarkan seperti pagar besi menelung Sitinggil, dari barat ke timur namanya masing maisng adalah:

Liputan JUGA  Sejarah Paku Buwono XII Raja Kraton Surakarta

1. Kyai Bringsing, pemberian dari negeri Siam.

2. Kyai Bagus, hadiah eksekutif perusahaan.

3. Kyai Nangkula, pemberian pengusaha internasional.

4. Kyai Kumbarawa, buatan Mataram tahun jawa 1545.

5. Kyai Kumbarawi, buatan Mataram tahun jawa 1545

6. Kyai Sadewa, pemberian investor Timur Tengah.

7. Kyai Alus, pemberian sahabat Asia Tengah.

8. Kyai Kadhal Buntung atau Kyai Pamecut atau Kyai Maesa kumali, buatan Mataram.

Meriam-meriam tersebut yang berpasangan ada 3 pasang (6 buah). Hal tersebut sebagai wujud simbol panca indra (lubang telinga: 2, mata: 2, lubang hidung: 2).

Bangsal-bangsal yang ada di Sitinggil:

1. Bangsal Sewayana, dibangun oleh Ingkang Sinuhun Ingkang Minulya saha Wicaksana Paku Buwana X pada tahun 1843 Jawa atau 1913 Masehi.

2. Bangsal Manguntur tangkil, singgasana Ingkang Sinuhun pada hari raya, misalnya:

a. Grebeg Mulud pada tanggal 12 Rabingulawal
b. Grebeg Idul Fitri
c. Grebeg Idul Adha tanggal 10 Besar.

3. Bangsal Witana, tempat untuk para abdi dalem yang membawa ampilan upacara kraton pada hari raya.

4. Bale Manguneng, tempat untuk meletakkan meriam Nyai Setomi.

5. Bangsal Ngalun alun, tempat untuk memainkan gamelan pada hari besar atau hari raya.

6. Bangsal Gandhek Tengen, tempat untuk menabuh gamelan Kodhok Ngorek pada hari besar atau hari raya.

7. Bangsal Balebang, tempat untuk menyimpan gamelan. Gamelan gamelan yang disimpan di sana yaitu:

a. Kyai Singakrura, gamelan untuk mengiringi latihan perang.
b. Kyai Rendeng, gamelan untuk mengiringi latihan olahraga.
c. Gamelan Senggani raras atau Gentana, bisa digunakan untuk mengiringi gendhing kilenan atau wetanan. Ini buatan R. Lurah Sastrawidata Gurawan.
d. Kyai Sukasih.
e. Kyai Pamedharsih.
f. Kyai Banjit, dimainkan sebagai tanda datangnya hari besar.

Adapun yang disimpan di dalam kamar.

a. Bendhe Kyai Samparan.
b. Bendhe Kyai Dewadenta.
c. Gong Kyai Surak.
d. Gong Kyai Kanigara.
e. Gong Kyai Kumitir.
f. Gong Kyai Bajraherawana.
g. Bangsal Gandhek Kiwa, tempat menyediakan makanan pada hari raya.

Keluar dari sitinggil melewati pintu bernama Pintu Renteng. Artinya ragu ragu, juga berarti perang batin, juga bisa diartikan samar samar.

B. Perawatan Bangunan Karaton.

Lawang Renteng.

Dari pintu Renteng ke selatan masuk ke pintu gapit yang bernama pintu Brajanala. Braja artinya tajam, nala artinya hati. Makna hati yang tajam.

Brajanala

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.