oleh

Etika Politik dan Penerapan Falsafah Kekuasaan Jawa

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA Hp 087864404347)

A. Dasar Dasar Etika Politik Jawa.

Etika kekuasaan Jawa berpangkal tolak dari pengalaman historis. Peradaban Jawa menawarkan nilai politik yang bertujuan untuk mencapai cita cita kolektif secara harmonis. Misalnya pada tahun 1352 Empu Tantular menyusun etika kenegaraan Majapahit, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap satu jua.

Kasultanan Demak Bintara berdiri tahun 1478. Rajanya yakni Raden Patah atau Sultan Fatah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar I. Dengan dukungan Wali Sanga kekuasaan Demak menerapkan strategi kebudayaan. Jawa digawa Arab digarap. Muncullah tembang Ilir Ilir yang merupakan sinopsis kearifan lokal.

Ilir Ilir tandure wis sumilir, tak ijo royo royo, tak sengguh temanten anyar. Begitulah akulturasi budaya Kerajaan Demak Bintara yang mengutamakan keselarasan sosial. Penyebaran Agama Islam tetap menghormati adat istiadat yang sudah berkembang. Kanjeng Sunan Kalijaga memberi keteladanan pada sekalian warga.

Liputan JUGA  Ratu Kalinyamat Berguru Pada Syeikh Siti Jenar

Dengan bersandar pada ajaran leluhur, maka hajad hidup orang banyak diselenggarakan secara bijaksana. Politik kenegaraan berisi ajaran yang telah mrngakar di lingkungan masyarakat Jawa. Politik hanya menjadi sarana untuk menjalankan kebajikan. Pengabdian dipersembahkan demi keagungan peradaban, sepi ing pamrih. Narapraja selalu menjunjung tinggi prinsip rame ing gawe. Rela berkorban demi nusa bsngsa.

Kesadaran politik kerakyatan Jawa diwariskan oleh Joko Tingkir. Pada tahun 1546 Joko Tingkir atau Mas Karebet dinobatkan sebagai raja Pajang. Bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Ki Ageng Banyubiru menganjurkan agar Joko Tingkir selalu lara lapa tapa brata. Refleksi spiritual dijalankan untuk memperoleh ketajaman batin.

Liputan JUGA  Sejarah Amangkurat Banyumas Membangun Purwokerto

Politik Kasultanan Pajang memadukan nilai keagamaan, kebangsaan, kebudayaan. Lahirlah tokoh Jawa kenamaan yang memiliki visi misi kenegaraan. Konsep keagamaan diajarkan sesuai dengan garis doktrin Wali Sanga.

Nilai Kebangsaan Kerajaan Pajang mendapat inspirasi dari Adipati Sri Makurung Handayaningrat. Bupati Pengging ini menikah dengan Kanjeng Ratu Pembayun, putri Sinuwun Prabu Brawijaya V. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

Penasihat Kraton Pajang memang mumpuni. Ki Ageng Butuh mengajarkan tata cara olah tetanen. Sawah, kebun, ternak dikembangkan. Pajang menjadi negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Kraton Mataram menyempurnakan Falsafah dan nilai politik Jawa. Ada istilah memayu hayuning bawana. Pemikiran kekuasaan Jawa dibuat untuk kesejahteraan umat manusia. Nilai politik Jawa dibikin untuk mencapai kehidupan dunia yang aman damai.

Liputan JUGA  TAKUTLAH KEPADA ALLAH DENGAN MENGHINDARI WABAH VIRUS CORONA

Falsafah kenegaraan itu berlanjut sampai sekarang. Orang Jawa menghayati dalam kehidupan sehari hari. Nilai politik Jawa mengutamakan harmoni. Perwujudan sikap guyub rukun, gotong royong nyambut gawe.

Panembahan Senapati memerintah Kerajaan Mataram tahun 1582-1601. Kekuasaan dikelola dengan etika keutaman. Nulada laku utama, tumraping neng tanah Jawi, wong agung ing Ngeksiganda. Hawa nafsu yang tidak baik dicegah, dengan melakukan tapa brata. Kebijakan politik ditujukan untuk membuat kebahagiaan sesama.

B. Penerapan Konsep Kekuasaan Jawa.

Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati memerintah Mataram tahun 1601-1613. Konsep kekuasaan Jawa meliputi narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Adanya keselarasan antara hak dan kewajiban.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.