Lingkungan Sosial Budaya RSUD Kertosono Nganjuk
Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. hp 087864404347)
A. Kesadaran Lingkungan yang Sehat.
Pada tanggal 22 Mei 2021 Dr Tien Farida Yani melakukan dialog informal. Dengan topik Nganjuk dalam perspektif sosio medis. Pertemuan ini bertempat di pendopo Donoroso Mojorembun.
Kegiatan kultural Idul Fitri ini membahas tentang kondisi Nganjuk dari aspek historis dan sosiologis. Hadir saat itu Drs KRT Sukoco Madunagoro M.Pd selaku ketua Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat cabang Nganjuk. Turut pula KMT Ida Madusari MM yang menjadi ketua LOKANTARA cabang Nganjuk. Peserta diskusi diikuti pula praktisi agrobis dari Nganginan Wilangan Nganjuk.
Non scholae, sad vitae discimus. Sekolah yang sesungguhnya berada dalam kancah kehidupan bebrayan. Dengan suguhan pisang goreng dialog multi tema ini berlangsung nggayeng regeng seneng.
Dr Tien Farida Yani sungguh micara miraga dan mirasa. Tokoh Srikandhi dari selatan Dam Jembel ini memang pintar momong momor momot masyarakat. Jajanan lebaran membuat pertemuan informal ini berlangsung lama. Tema diskusi melebar ke mana mana. Gelak tawa menambah segarnya ajang diskusi. Terutama faktor sejarah Kabupaten Nganjuk yang berjalan dari waktu ke waktu.
Putra Dr Tien Farida Yani tampak memperhatikan lalulintas pembicaraan. Nikmat benar sarasehan yang dilakukan dengan beragam peserta ini sempat pula membahas perkembangan RSUD Kertosono. Dengan diselingi cerita nostalgia jaman lampau.
Pertumbuhan kota kota administratif memang merupakan akibat utama dari pemerintah di Jawa.
Sebelumnya kota kota adalah pusat kerajaan, pusat kegiatan agama, atau pelabuhan.
Pusat kerajaan dahulu hanya merupakan tempat tinggal raja dan orang orang yang dekat dengannya. Bentuk kota seperti itu, terdiri dari sekelompok tempat tinggal yang dibangun menurut suatu kota-kota tertentu yang melambangkan alam semesta seperti yang dibayangkan oleh sistem keyakinan orang Jawa.
Ekologi adalah interaksi antara manusia dan alam sekitar-nya, dan perubahan ekologi terjadi bila salah satu dari komponen itu mengalami perubahan.
Demi menata lingkungana yang sehat, RSUD Kertosono melibatkan para PKL dan tukang becak. Pembicaraan dari hati ke hati ternyata menghasilkan sikap saling menghormati dan saling mengerti. Niat baik ini didukung oleh lingkungan alam Kertosono yang sungguh indah nan permai. Dari tanggul sungai Brantas mata memandang kearah selatan tampak Gunung Wilis. Gunung ini berpostur gendut seperti Kyai Semar. Menengok ke timur tampak jajaran Gunung Welirang nun jauh di daerah Malang.
Melihat ke arah barat tampak Gunung Pandan. Sedangkan tanah tempat berpijak ini adalah tanggul sungai Brantas.Dahulu menjadi lalu lintas perahu perahu dari pelabuhan Canggu di daerah Gresik sampai di Kediri.
Di jaman kerajaan Kediri hingga Majapahit Brantas menjadi urat nadi perhubungan yang vital. Di seberang kota Kertosono ada desa bernama Bandar, terletak di tepi sungai. Begitu pula di kota Kediri ada juga desa Bandar di tepi sungai Brantas. Bandar berarti pelabuhan. Barangkali desa Bandar di Kertosono itu dahulu adalah pelabuhan.
Ketika tahun 1948 pihak keamanan memperkuat pertahanan di kota Kertosono agar dua jembatan itu dikuasai untuk menyerang Indonesia di daerah Kediri dan Madiun.
Pada mulanya Kertosono memperoleh penduduk, terutama sekali, dari empat daerah di Jawa yang disebut wilayah Mataram di Jawa Tengah, termasuk di dalamnya keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dari daerah lembah Kali Brantas yang mengalir ke utara dari Kertosono ke Surabaya. Kertosono memang bukan tanah pegunungan tetapi tanah datar dengan ketinggian 34 meter di atas permukaan laut seperti tertera di dinding stasiun kereta api. Tanah persawahan yang subur.
Deskripsi tentang kota Kertosono pernah ditulis oleh So-llichin dalam buku yang berjudul ‘Kopema Rumah Kita’ (2012). Pusat kota Kertosono berada di desa Banaran. Jalan utama kota melintas di desa itu. Berjajar toko toko besar milik orang Tiong-hoa antara lain Toko Tjoeng Bo, Toko Lie, Toko Djie Kie Ti, pompa bensin milik H. Mashadi.
Toko pribumi milik Choiri, dan diujung jalan Toko Kairo milik Qoyum orang keturunan Pakistan. Di seberang jalan ada deretan toko toko antara lain, Loo Shien Ho tukang bikin gigi, toko sepatu milik Richwan, pengusaha asli Kertosono, tukang cukur dari Madura, disusul toko emas dan kantor pegadaian. Dari gambaran sekilas bisa dikatakan masyarakat Kertosono adalah masyarakat plural.
Pada pertengahan abad XIX jalan kereta api dirasakan sebagai kebutuhan mendesak oleh karena kebutuhan pengangkutan hasil perkebunan sudah tidak dapat dipenuhi lagi oleh transportasi lewat jalan jalan pos.
Lagi pula pada waktu itu jenis transportasi itu sangat lambat.
Akibatnya gudang gudang penuh sesak hingga tidak dapat menampung lagi, sedang kapal-kapal di pelabuhan terpaksa menunggu lama, sering kali berbulan bulan. Lagi pula hasil perkebunan dapat mengalami kerusakan.
Kota Kertosono memiliki stasiun kereta api yang besar, juga Pasar Besar yang di sebelahnya terdapat pasar hewan ternak, Kantor Pos, Tempat Pelelangan Kayu (TPK) milik Perhutani serta stasiun untuk pengangkutan tebu. Truk truk besar mengangkut tebu tanaman petani sekitar Kertosono berdatangan silih berganti membongkar muatan tebu untuk dialihkan ke lori lori yang ditarik lokomatif kecil yang disebut montik.
Lantas menuju pabrik gula “Lestari” yang terletak beberapa kilometer di sebelah utara Kertosono. Pasar besar Kertosono terletak di tengah kota. Mbok Pono yang menggelar sego pecelnya di halaman stasiun kereta api Kertosono, Bu Darmo yang memajang nasi pecel disertai dawet dan kolak di desa Kudu dekat Rumah Sakit Kertosono merupakan nama nama yang ikut mengangkat keharuman wisata kuliner.
Kertosono bersebelahan dengan Jombang, dibatasi oleh sungai Brantas. Budaya Jombang, Jawa Timuran sedangkan Kertosono budayanya berorientasi ke Surakarta. Lingkungan yang masih alami tersebut berpengaruh pada keselarasan lahir batin. Oleh karena itu kesehatan lahir batin diusahakan betul, agar RSUD Kertosono menjadi BERMARTABAT: Bersih, Manusiawi, Ramah, Tanggap dan Bersahabat. Sebuah semboyan yang kini populer di lingkungan RSUD Kertosono sebagai panduan hidup kolektif.
B. Kegiatan Sosial RSUD Kertosono
Perlu ditinjau sekilas latar pendidikan Dr Tien Farida Yani. Sebagai alumni SMP Negeri 1 Rejoso Nganjuk tahun 1988, Dr Tien Farida Yani pernah mendapat pelajaran UKS dan kesehatan.
Pelajaran ini berguna untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. SMAN 2 Nganjuk pun memberi pengantar tentang seluk beluk ilmu biologi. Bekal untuk menempuh pendidikan kedokteran. Betul juga profesi kedokteran ditekuni dengan sepenuh hati.
Pengetahuan yang luas pada diri Dr Tien Farida Yani menjadi modal pengabdian. Terutama dalam bidang medis. Saiyek saeka praya, murih raharjaning praja.
Lingkungan sosial yaitu kondisi dan budaya, termasuk nilai nilai yang berlaku di masyarakat, norma norma, tradisi dan sikap sikap. Dalam persepktif sosiologis, daerah Kertosono terletak di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Kota Kertosono berada di tepi sungai Brantas tepat di pertigaan jalan raya dan rel kereta api Surabaya Madiun dan Kertosono Kediri. Pada tahun 1960 an Kertosono masih berstatus kawedanan.
Sebagai kawedanan, Kertosono membawahi empat kecamatan yaitu Kecamatan Kertosono, Kecamatan Patianrawa, Kecamatan Baron, Kecamatan Ngronggot. Kertosono itu selain kawedanan juga kecamatan. Kecamatan Kertosono membawahi desa desa Banaran, Kudu, Kutorejo, Pelem, Bangsri, Drenges, Juwono, Kalianyar, Kepuh, Lambang Kuning, Nglawak, Pandantoyo, Tanjung dan Tembarak.
Untuk meningkatkan pembangunan nasional diperlukan sistem pemerintahan yang demokratis dan efektif. Ada baiknya belajar dari pengalaman sejarah, bagaimana menata birokrasi pemerintahan yang efektif.
Pengalaman menarik adalah dari pemerintah masa silam mengatur birokrasinya. Bertumpu pada sistem politik yang sentralistik. Untuk birokrasi pemerintahannya diatur dengan jenjang kekuasaan dan rentang kendali yang ketat. Pimpinan tertinggi pemerintahan, membawahi gubernur pada tiap propinsi.
Gubernur membawahi residen pada tiap karesidenan. Residen membawahi bupati/ walikota di setiap kabupaten/kota. Khusus di kabupaten, selain ada bupati, diangkat pula asisten residen. Bupati membawahi wedana untuk kawedanan atau distrik.
Wedana membawahi asisten wedana atau camat, akhirnya camat membawahi kepala desa/lurah. Jajaran birokrasi pangreh praja seperti itu sangat efektif mengendalikan pemerintahan di seluruh wilayah yang luas. Kaum priyayi umumnya selalu berada di kota kota, bahkan salah satu ciri Jawa modern yang secara sosiologis paling menarik adalah besarnya jumlah priyayi di kota kota.
Kehidupan sosial budaya berkembang. Masyarakat rukun hampir tidak ada konflik sosial. Seni budaya berkembang utamanya seni tradisional seperti wayang, karawitan, ludruk dan sebagainya. Kegiatan olahraga juga berkembang. Kertosono pernah memiliki perkumpulan sepak bola yang kuat. Juga pemain bulu tangkis tingkat nasional.
Penduduk Kertosono orang Jawa dengan sedikit China, Arab dan pendatang dari daerah lain seperti orang Banjar, Sunda dan Madura. Mereka menganut budaya Jawa dengan gaya mataraman yang halus dan santun. Kehidupan agama beragam, dengan mayoritas memeluk agama Islam.
Pada tahun 1970 wilayah kertosono telah terjadi banjir yang mengakibatkan banyak masyarakat harus mengungsi di daerah yang lebih tinggi. Banjir hampir 2 minggu menggenangi pemukiman dan area persawahan masyarakat dan jalur lalu lintas Lengkong Kertosono. Banjir bermula dari jebolnya tanggul sungai Brantas dan anak sungai Brantas yang berada di sebelah barat Kertosono.
Dari pihak pemerintah kabupaten Nganjuk sendiri survey ke lokasi banjir, sekaligus bupati maupun wakil bupati ikut turun ke lapangan. Rombongan bupati menaiki perahu sampan melihat banjir lebih dekat. Selain itu rombongan dan bupati Nganjuk memberi pengarahan kepada petugas lapangan agar secepatnya ditangani, salah satunya tentang bantuan bahan makanan dan kesehatan.
Tiap kegiatan sosial sebaiknya menyertakan tenaga medis. Demi keamanan dan kenyamanan. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.
C. Kegiatan Seni Budaya RSUD Kertosono.
Dr Tien Farida Yani selaku pimpinan RSUD Kertosono pernah nanggap wayang semalam suntuk. Dengan dalang kondang dari Solo. Yakni Ki Muhammad Bayu Pamungkas. Putra Dalam terkenal Ki H Anom Suroto. Sambutan masyarakat sangat hangat dan bersemangat.
Pentas kali ini mengambil lakon Sekar Wijaya Kusuma. Aji milik Prabu Kresna yang bisa memberi daya penyembuhan. Pentas kali ini menjadi sarana bersatunya rakyat dengan aparat, manunggaling kawula gusti.
Lebih jauh perlu ditulis aktivitas budaya masa silam. Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Sistem simbol dan epistemologis juga tidak terpisahkan dari sistem sosial yang berupa stratifikasi, gaya hidup, sosialisasi, agama, mobilitas sosial, organisasi kenegaraan, dan seluruh perilaku sosial.
Dalam masyarakat Jawa khususnya warga Kertosono, semacam pendidikan humaniora yang mengajarkan nilai nilai kemanusiaan dan pernyataan pernyataan simbolisnya merupakan bagian integral dari sistem budaya. Kandungan pendidikan humaniora ditentukan oleh sistem pengetahuan yang dimiliki masing-masing subkultur, sehingga dapat ditemukan varian varian pendidikan humaniora sesuai dengan pengelompokan masyarakat.
Demi keselarasan lingkungan budaya ini, RSUD Kertosono sejak tahun 1973 dilakukan renovasi. Tahun 1920 rumah sakit ini didirikan. Setelah proklamasi kemerdekaan, RSUD Kertosono dimiliki oleh pemerintah RI. Tahun 1997 atas prestasi dan kerja kerasnya mendapat peningkatan status dari pemerintah pusat. Tahun 2012 RSUD Kertosono terakreditasi 5 pelayanan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit). Waktu mendatang RSUD hendak menjadi pelopor peradaban yang anggun dan agung.
Sebagai salah satu kegiatan budaya, tiap bulan Agustus seluruh rakyat Indonesia memperingati kemerdekaan Negara Indonesia.
Begitu juga karyawan karyawati rumah sakit Kertosono tidak tinggal diam untuk mengisi kemerdekaan Bagsa Indonesia.
Di wilayah kecamatan Kertosono tiap 17 Agustus memperingati kemerdekaan dengan mengadakan upacara bendera yang diikuti semua jajaran pemerintahan, pelajar dan masyarakat umum. Selain itu juga untuk memeriahkannya, di kecamatan Kertosono diadakan perlombaan untuk masyarakat umum. Juga diadakan kegiatan karnaval mengelilingi kota Kertosono yang diikuti seluruh jajaran pemerintahan, pelajar dan masyarakat umum.
Rumah sakit Kertosono juga tidak mau kalah untuk meme-riahkan hari kemerdekaan Indonesia, dengan mengadakan acara pertunjukan kesenian rakyat. Dengan pimpinan rumah sakit, pada waktu itu dijabat dokter Koeswanto.
Beliau senang dengan seni budaya Jawa. Maka dari itu beliau mendatangkan pelatih kesenian wayang orang untuk melatih seluruh karyawan-karyawati rumah sakit Kertosono, untuk tampil pada saat 17 Agustusan. Sedangkan peralatan musik sampai perlengkapan make up maupun kostum semua dibelanjakan oleh Dokter Koeswanto.
Pada tanggal 18 Agustus 1976, rumah sakit Kertosono memperingati hari kemerdekaan dengan cara mengadakan kegiatan pementasan wayang orang di depan gedung rumah sakit.
Hampir semua karyawan rumah sakit ikut dalam kegiatan tersebut. Selain pementasan kesenian wayang orang, pihak rumah sakit juga mengadakan perlombaan catur di gedung rumah sakit Kertosono. Selain catur juga perlombaan kartu birlt, semua perlombaan diikuti masyarakat umum.
Ibu ibu darma wanita turut serta dalam menunjang aktivitas budaya RSUD Kertosono. Selain kegiatan pelayanan kesehatan, hampir semua karyawati rumah sakit Kertosono mengikuti kegiatan darma wanita di kecamatan Kertosono, tepatnya di gedung kawedanan Kertosono.
Kegiatan darmawanita tesebut diperkirakan kurang lebih pada tahun 1976 an. Darmawanita melakukan kegiatan dala mengisi acara hari besar nasional maupun hari rutinan kumpul karyawan maupun istri dari karyawan pegawai negeri pemerintahan di sekitar kecamatan Kertosono. Darma wanita dilakukan di kawedanan Kertosono dilakukan rutinan setiap satu bulan sekali dan ketika kegiatan hari besar tertentu.
Dalam suasana gembira ria itu, Dr Tien Farida Yani pernah mendapat tugas untuk memimpin RSUD Kertosono Nganjuk. Dengan selamat sentosa amanah kepemimpinan itu dilaksanakan dengan maksimal dan profesional. Bersama dengan rekan kerja, RSUD Kertosono Nganjuk mewujudkan keadaan yang ayu hayu rahayu.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan