Liputan BERITA

Real Crazy Rich Asal Medan, Yang Merupakan Raja Sawit Indonesia

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 Maret 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

Liputan68.com, Medan | Komoditas yang berkontribusi besar pada cadangan devisa Negara adalah industri kelapa sawit.

Kelapa sawit menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat seperti minyak goreng yang akhir-akhir ini menjadi langka dan naik daun.

Dari perkebunan sawit inilah, lahir menjadi orang-orang terkaya di Indonesia, ternyata ada beberapa orang yang berasal dari Medan dan berdarah Batak

Perusahaan kelapa sawit asing yang ingin tetap beroperasi di kawasan industri khusus sawit nantinya diharuskan melakukan divestasi. (Dok. Eagle High Plantations)

Inilah deretan konglomerat yang menguasai ratusan ribu hektare perkebunan kelapa sawit lengkap beserta pabrik pengolahan CPO.

Berikut adalah sosok Raja Minyak Sawit Asal Medan yang tajir melintir :

  1. Sukanto Tanoto
Sukanto Ttanoto. (Foto: Aprilasia)

Sukanto Tanoto atau Tan Kang Ho lahir Belawan yang lahir di Medan (25 Desember 1949). Sukanto adalah seorang pengusaha asal Medan yang dikenal dengan julukan “Raja Garuda Mas”.

Sukanto Tanoto alumni dari SD Tionghoa di daerah Belawan, dan melanjutkan sekolahnya di Sekolah Tionghoa di Medan.

Sukanto adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang semuanya laki-laki, ayahnya seorang imigran dari kota Putian, Tiongkok.

Sukanto Tanoto termasuk deretan orang terkaya di Indonesia, dia diberi julukan Raja Garuda Mas karena memiliki grup usaha Royal Garden Eagle International (RGEI) yang berbasis di Singapura.

Permulaan terjun ke dalam dunia bisnis di tahun 1966 keluarganya memiliki toko mobil, ketika ayahnya sakit sehingga dia yang mengambil alih tugas ayahnya.

Selanjutnya di tahun 1967, dia merintis bisnisnya sebagai pemasok suku cadang dan di bidang jasa konstruksi untuk industri minyak, lalu dia membudidayakan kelapa sawit melalui perusahaannya Inti Indo Sawit Sejati tahun 1970.

Berjalan enam tahun kemudian, Sukanto membentuk perusuhaan CV Karya Pelita  yang sekarang lebih dikenal dengan Royal Golden Eagle International (REGI) yang bergerak dalam bisnis kayu lapis.

Bisnisnya pun meluas sampai ke Malaysia, pada tahun 1976 dia mendirikan PT. Bina Sarana Papan dengan menjalankan bisnis kelapa sawit dan minyak goreng merek Camar adalah satu diantaranya yang dia produksi.

Tak hanya samapi disitu Sukanto Tanoto mendirikan perusahaan lain yang masih dalam bidang sumber daya alam seperti kelapa sawit, kehutanan, pulp, kertas, dan pembangkit tenaga listrik.

Samapi kelompok Royal Garden Eagle International (RGEI), bergerak dalam berbagai bidang industri seperti Industri Kertas dan Pulp oleh (Asia Pacific Resources International Holding Ltd atau APRIL), dan Industri Perkebunan Kelapa Sawit (Asian Agri dan Apical), Rayon dan Pulp Khusus (Sateri International), serta energi (Pacific Oil & Gas).

Asian Agri dan Apical dalam laman web resminya menyampaikan bahwa perusahaan telah memiliki 30 perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di ulau Sumatera Provinsi yaitu Riau, Jambi, dan Sumatera Utara seluas 100.000 hektar.

Sedangkan di situs resmi Apical perusahaan memiliki 6 kilang pemurnian, 3 pabrik biodiesel, satu pabrik pengolahan inti sawit dan satu pabrik oleokimia.

Sukses dalam hal bisnis, crazy rich ini terinspirasi untuk memberikan bantuan Pendidikan kepada masyarakat Indonesia yang di khususkan untuk masyarakat kurang mampu untuk meneruskan pendidikan yang bernama Tanoto Foundation tahun 1981.

Dilansir melalui laporan Majalah Forbes, nama Sukanto Tanoto berada di rangking ke-21 orang terkaya di Indonesia dan tercatat memiliki kekayaannya mencapai 2 miliar dollar AS dengan urutan 1.561 dalam orang paling tajir sedunia di 2021.

  1. Martua Sitorus
Martua Sitorus. (Foto: CNC Indonesia)

Pria yang lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara (6 Februari 1960) dengan nama Martua Sitorus atau dikenal dengan Thio Seeng Haap merupakan sosok dibalik gurita bisnis Wilmar.

Martua Sitorus merupakan alumni dari SMA Budi Mulia Pematangsiantar, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas HKBP Nommensen Medan dengan gelar ekonomi.

Martua Sitorus termasuk dalam jajaran orang yang terkaya versi Forbes pada tahun 2020 lalu yang dijuluki sebagai “raja minyak sawit Indonesia”, Ia adalah pendiri perusahaan sawit terbesar di Indonesia, seperti Wilmar Internasional.

Perjalanan dalam bisnisnya sebelum ia menjadi “Raja Minyak”, crazy rich ini pernah berjualan udang dan ikan serta loper koran.

Martua merupakan alumni dari Universitas HKBP Nomensen di Kota Medan, setelah lulus dia memulai bisnis minyak sawit di Indonesia dan Singapura.

Martua Sitorus  pertama kali mendirikan perusahaan Wilmar bersama dengan Kuok Khoon Hong pada tahun 1991, awal merintis perusahaan ini memiliki kurang dari 10 ribu hektar kebun sawit di Sumatera Utara yang lebih dikenal dengan minyak goreng fortune dan sania.

Wilmar merupakan singkatan dari nama keduanya, yaitu panggilan Kuok Khoon Hong dengan Martua Sitorus dengan berbagi tugas sehingga tercapailah perusahaan berkembang.

Sedangkan Kuok K Khoon Hong menjabat sebagai CEO, sedangkan Martua didapuk sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd.

Perusahaan ini telah banyak memproduksi minyak goreng kemasan dengan merek Fortune dan Sania, dengan nilai penjualannya pada kuartal 1 tahun 2021 sekitar Rp. 49,06 miliar dengan total kekayaannya mencapai Rp. 40,75 triliun.

Perusahaan ini berbasis di Singapura dan menyumbang DMO minyak sawit sebesar 99226 juta liter.

Dari halaman resmi perusahaan mengatakan Wilmar merupakan salah satu diantara memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan total luas tanam 232.053 hektar (ha) per Desember 2020, yang tersebar diseluruh Indonesia seperti pulau Sumatera dan Kalimantan.

Seperti yang dilansir melalui laporan Majalah Forbes, Martua Sitorus memiliki kekayaan bersih sebesar 2,9 miliar dollar AS dan menempatkannya menjadi urutan 1.150 orang yang terkaya di dunia.

  1. D.L Sitorus
D.L Sitorus. (Foto: Kompas)

Darianus Lungguk Sitorus yang lahir di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa pada tanggal 12 Maret 1938, adalah seorang pengusaha asal Medan yang dikenal dengan julukan “Raja Sawit” dan “Tuan Takur”.

D.L Sitorus pindah dan besar di Siantar, lalu menikah dengan Boru Siagian dan dikaruniai dua putri dan tiga putra.

Dia dikenal sebagai pengusaha sukses yang  berasal dari Toba, Sumatera Utara dan memiliki perkebunan sawit yang sangat luas dan juga memiliki Yayasan Pendidikan.

Perusahaannya adalah PT. Torganda yang punya konsesi lahan mencapai puluhan ribu hektare, tersebar di daratan Sumatera bagian Timur hingga ke Sumatera bagian Utara.

Sebagai CEO perusahaan kelapa sawit PT. Torganda dengan memiliki perkebunan sawit yang luasnya 47.000 hektar dan setiap tahunnya mendapatkan penghasilan sedikitnya Rp 600 milyar.

Berkat hasil kerja kerasnya dia memiliki rumah sakit dan klinik pelayanan Kesehatan seperti Klinik Pengobatan 24 Jam yang tersebar di daerah Jabotabek, dan memiliki Yayasan Pendidikan sebagai Ketua Yayasan Abdi Karya (YADIKA) yang berdiri sejak 1976.

Dia juga mendirikan Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) di Jakarta, memiliki gedung-gedung besar yang diberi nama “Rumah Gorga” untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan Suku Batak yang tersebar di Jakarta dan Bekasi.

Sebagai putra daerah yang disebut paling sukses di perantauan dan selalu memberikan perhatian dalam membantu membangun kampung halaman (Bona Pasogit).

Sehingga namanya diabadikan menjadi nama jalan dengan panjang jalan 12 kilometer di Kabupaten Toba yang diresmikan dengan diberi nama Jalan DR Sutan Raja DL Sitorus, mulai dari simpang Sibisa di Aek Natolu Kecamatan Lumban Julu sampai simpang Kantor Kelurahan Parsaoran Ajibata melintasi Sibisa, Bandara Sibisa, Simarata dan Motung Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, Sumut.

Seperti yang dikutip melalui laporan Majalah Forbes, Darianus Lungguk Sitorus adalah orang yang termasuk 1.426 dalam deretan orang terkaya di dunia tahun 2013.

Karena DL Sitorus telah berpulang, perusahaannya sawitnya diteruskan oleh anak-anaknya dan juga istrinya.

  1. Bachtiar Karim
Bachtiar Karim (Foto: Forbes)

Bachtiar Karim yang lahir pada tanggal 5 November 1957, dia adalah seorang pengusaha asal Medan yang miliki peringkat kedua produsen minyak goreng terbesar di Indoensia.

Bachtiar merupakan anak sulung dari empat bersaudara, ayahnya menjadi penerus kedua dari perusahaan Musim Mas.

Bachtiar alumni dari Hwa Chong Junior Collage dan melanjutkan pendidikan di Universitas Nasional Singapura jurusan teknik mesin.

Pada tahun 1972, Anwar Karim memulai mengikuti jejak sang ayah menjadi penerus ketiga dari Musim Mas, lalu ia mengembangkan usahanya ke perkebunan pada tahun 1988.

Wilmar selain memiliki perkebunan kelapa sawit juga memiliki Hotel Mikie Holiday di Brastagi, Sumatera Utara di tahun 2000 yang juga memiliki PT. Megasurya Mas yang memproduksi berbagai macam produk sabun seperti Harmony, Medicare, Lervia, Lark dan Champion.

Bachtiar Karim Bersama saudaranya, Burhan dan Bahari yang merupakan pemilik Grup Musim Mas yang menyumbang DMO sebesar 65,32 juta liter dengan penjualan mencapai 6,6 miliar dollar AS.

Produk minyak goreng  yang terkenal dari Musim Mas adalah Sanco, Amago, dan Voila.

Selain itu, dia melebarkan sayapnya dengan berbisnis bidang properti seperti kepemilikan Darby Park Executive Suites yang ada di Singapore, yang menyediakan apartemen eksklusif yang menyediakan berbagai fasilitas berlokasi di 12 Orange Grove Road, Singapura.

Yang dikutip dari laporan Majalah Forbes, Bactiar Karim termasuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia dengan urutan 10 dengan memiliki total kekayaan sebesar 3,1miliar dollar AS. (Red)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian