Liputan DAERAH

Melki Laka Lena Dorong Milenial dan Perempuan Jadi Motor Ekonomi Kreatif NTT

Ditulis oleh Editor NTT pada 15 Agustus 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Liputan68.com- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong generasi milenial dan perempuan menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan ekonomi kreatif, kewirausahaan, sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

Menurut Melki, kekayaan sumber daya alam dan budaya NTT tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa sumber daya manusia yang mampu mengolahnya menjadi inovasi, produk bernilai tambah, serta peluang ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Melki dalam Pidato Pembangunan Provinsi NTT dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).

“Kemajuan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga kemampuan masyarakat mengolahnya menjadi inovasi dan nilai tambah. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT menempatkan generasi muda dan perempuan sebagai penggerak kreativitas, kewirausahaan, dan ekonomi lokal,” ujar Melki.

Pemprov NTT terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan potensi lokal dan kekayaan budaya yang tersebar di berbagai daerah.

Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, tiga sektor menjadi fokus unggulan, yakni kriya, kuliner, dan fesyen.

Hingga 2025, tercatat 10.820 pelaku ekonomi kreatif telah terdata secara resmi. Mereka terdiri dari 7.781 pelaku kriya, 2.385 pelaku kuliner, dan 305 pelaku fesyen.

Sektor tersebut memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT sebesar Rp1,181 miliar pada 2025.

Untuk memastikan karya dan identitas budaya lokal mendapat perlindungan, pemerintah juga memperkuat regulasi melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 tentang Perlindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan Ekonomi Kreatif serta Ekspresi Budaya Tradisional.

Dalam hal perlindungan kekayaan intelektual, sebanyak 263 produk telah memperoleh fasilitasi HKI hingga 2024. Kemudian pada 2025 difasilitasi 20 produk, sementara pada 2026 ditargetkan 100 produk serta layanan konsultasi HKI bagi 20 pelaku usaha.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia juga dilakukan hingga tingkat desa.

Melalui Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pelatihan telah menjangkau 1.845 peserta, melampaui target awal 1.360 orang.

Program tersebut juga melahirkan 30 pemandu wisata (local champion) di setiap kabupaten.

Sementara melalui program One Village One Product (OVOP) di desa wisata, sebanyak 270 wirausaha baru berhasil dibentuk di Kabupaten Kupang, Ende, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, Alor, dan Flores Timur.

Produk yang dikembangkan beragam, mulai dari kopi, rempah-rempah, mete hingga abon ikan.

Akses pasar juga diperluas melalui berbagai ajang kreatif, salah satunya ANTIKFest atau Anak NTT Kreatif.

ANTIKFest Kota Kupang pada Mei 2025 yang melibatkan 830 pelaku UMKM mencatat dampak ekonomi langsung sebesar Rp567 juta. Kegiatan serupa kemudian dilanjutkan di Sumba Timur dan Ngada.

Pemprov NTT juga mempersiapkan Festival NTT Bertenun 2026 sebagai ruang promosi dan penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Dukungan terhadap generasi muda juga diarahkan pada penguatan kewirausahaan dan akses permodalan.

Pada 2024, bantuan modal usaha POKIR sebesar Rp5,97 miliar disalurkan kepada 597 kelompok wirausaha muda.

Selain itu, sebanyak 656 peserta dari 12 kabupaten/kota mengikuti pelatihan di bidang kriya, desain grafis, menjahit, kuliner, hingga las. Program tersebut kemudian melahirkan 79 kelompok usaha pemuda, masing-masing memperoleh stimulus modal Rp10 juta.

Dukungan melalui program Inkubator Bisnis juga terus diperbesar.

Pada 2025, program tersebut dialokasikan sebesar Rp3,1 miliar bagi 200 penerima manfaat di Timor Tengah Selatan, Ende, Manggarai Barat, dan Sumba Barat Daya.

Pada 2026, anggarannya meningkat menjadi Rp3,8 miliar dengan sasaran 450 penerima manfaat di 11 kabupaten/kota.

Hingga Juli 2026, program inkubasi telah memasuki tahap pelatihan teknis di Kota Kupang.

Sementara itu, alokasi anggaran Youth Campaign juga meningkat dua kali lipat menjadi Rp1,6 miliar pada 2026 untuk menjangkau 240 penerima manfaat di Flores Timur, Malaka, Manggarai Barat, Nagekeo, Timor Tengah Selatan, dan Kota Kupang.

Pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan gender juga menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi dan sosial NTT.

Melalui DP3AP2KB, pemerintah memperluas inovasi GEMA KELOR (Gerakan Bersama Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan) yang diluncurkan pada 2025.

Pada 2026, program tersebut dikembangkan sebagai model kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dan media.

Perlindungan serta bantuan bagi perempuan korban kekerasan melalui UPTD PPA juga diperkuat, baik berupa pendampingan maupun bantuan logistik dan tunai.

Di sektor kelautan dan perikanan, peran perempuan dan generasi muda turut diintegrasikan melalui program OVOP dan OCOP berbasis Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).

Sebanyak 40 kelompok di 10 kabupaten/kota telah mendapatkan pelatihan pengolahan hasil perikanan.

Setiap kelompok juga didukung sarana produksi, seperti chest freezer 300 liter, mesin vakum otomatis, dan kemasan standar.

Pada 2026, intervensi diperluas ke desa-desa pesisir di Belu, Malaka, dan Flores Timur melalui bantuan alat pengolahan, bahan baku, hingga legalitas label produk.

Pemprov NTT juga mendorong hilirisasi komoditas lokal agar tidak berhenti sebagai bahan mentah.

Optimalisasi Pabrik RKN di Tablolong, Kabupaten Kupang, dan PT Astil di Sumba Timur terus dilakukan. Pemerintah juga mendorong pengoperasian kembali pabrik di Sabu Raijua dan Pulau Semau.

Di tingkat masyarakat, penguatan ekosistem kewirausahaan turut dikolaborasikan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Pada 2025, CSR diarahkan pada pelatihan olahan ikan dan banana nugget yang diintegrasikan dengan penanganan stunting.

Memasuki 2026, cakupan program diperluas ke berbagai kelompok masyarakat.

Di Gereja Sancta Familia Sikumana dilakukan pelatihan hilirisasi. Di Desa Lendola, Alor, masyarakat mendapat pemberdayaan pengolahan kenari dan kolang-kaling, disertai bantuan 44 paket kompor gas dan delapan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Sementara di Desa Molie, Sabu Raijua, pelatihan tenun dan olahan pangan disertai penerbitan 18 NIB.

Melki menegaskan seluruh program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang tidak berhenti pada pemberian bantuan atau pelatihan, tetapi menghubungkan kreativitas dengan keterampilan, usaha, kelembagaan, hingga pasar.

“Kita tidak sekadar memberikan pelatihan dan bantuan, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan kreativitas, keterampilan, usaha, kelembagaan, dan pasar, sehingga milenial dan perempuan menjadi pelaku utama dalam menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, melestarikan budaya, dan meningkatkan daya saing NTT,” pungkasnya.***

Ditulis oleh Editor NTT

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian