Liputan KOLOM

Babad Panembahan Senopati Raja Mataram I

Ditulis oleh Liputan68 pada 2 April 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. hp. 087864404347)

BACA JUGABahasa Lisan

A. Pembukaan Alas Mentaok.

Pada tanggal 24 Juli 1546 Jaka Tingkir naik tahta di Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukannya direstui oleh Sunan Giri, seorang wali sekaligus penasehat politik Jawa yang tinggal di Kewalian Giri Gresik. Sultan Hadiwijaya yang arif bijaksana itu segera mendapat pengakuan dari adipati adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan salah seorang anak Sultan Prawoto yaitu Arya Pangiri diangkat menjadi Adipati Demak.

Dalam usahanya untuk menegakkan kekuasaan Pajang, Sultan Hadiwijaya harus berhadapan dengan Adipati Jipang, Arya Penangsang, putra Sekar Seda Lepen yang tidak rela tahta Demak diambil oleh Sultan Hadiwijaya, karena ia hanya menantu Sultan Trenggana. Sultan Hadiwijaya membuat strategi yang jitu untuk menghadapinya. Ia percaya bahwa dirinya akan mampu mengalahkan.

Arya Penangsang, terkenal memiliki senjata amuh, yakni Keris Kyai Setan Kober, yang selalu menggetarkan dan mempecundangi musuh. Kemudian atas nasihat dari para pinisepuh, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat mengalahkan Penangsang akan mendapatkan hadiah, tanah Pati dan Mataram. Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya memiliki pusaka Keris Kyai Crubuk.

Akhirnya Penangsang dapat dikalahkan oleh Danang Sutawijaya, putra Pemanahan.
Karena kesuksesan ini merupakan strategi Pemanahan dan Penjawi, maka Sultan Hadiwijaya menganggap kemenangan Danang Sutawijaya tersebut adalah juga kemenangan Pemanahan dan Penjawi.

Kelak anak Ki Ageng Penjawi yang bernama Ratu Waskitha Jawi menikah dengan Panembahan Senapati. Lahir Raden Mas Jolang atau Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati.

Lantas Sultan Hadiwijaya memberikan tanah tersebut kepada mereka berdua. Penjawi mendapatkan tanah Pati, sebuah kadipaten di pesisir utara yang telah maju. Sedangkan Pemanahan mendapatkan tanah Mataram yang masih berupa hutan Mentaok. Menurut silsilah, Pemanahan adalah putra dari Ki Ageng Enis, cucu Ki Ageng Sela. Alas Mentaok tersebut berada saat ini tepatnya di sekitar Kota Gede, Yogyakarta. Pemanahan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Ki Gede Mataram.

Namun awalnya Sultan Hadiwijaya nampak ragu untuk menyerahkan tanah Mentaok atau Mataram kepada Pemanahan. Berdasarkan ramalan Sunan Giri, diprediksikan Mataram kelak akan menjadi sebuah kekuatan yang besar yang menjadi pusat politik di tanah Jawa.

Hal ini jika terjadi kelak akan mengancam keutuhan eksistensi Pajang. Karena itu, Sultan Pajang mengulur ulur waktu untuk menyerahkan tanah Mataram. Atas nasihat Jurumartani, kemudian Pemanahan menghadap Sunan Kalijaga meminta bantuan.

Sunan Kalijaga kemudian memberikan fatwa tuntutan Pemanahan tidak salah, sebab menurutnya seorang raja harus konsisten dengan ucapannya sabda pandita ratu tan kena wola wali. Atas jasa dari Sunan Kalijaga itu maka tanah Mataram diserahkan Sultan Hadiwijaya kepada Pemanahan. Sebenarnya Sultan Pajang memberikan alternatif tanah lain selain Mataram. Namun karena raja telah bersabda demikian, maka implikasinya ia tidak bisa menarik kembali ucapannya.

Ki Ageng Pemanahan dalam waktu singkat mampu membuat Mataram beserta rakyatnya maju. Namun sebelum dapat ikut menikmati hasil, tahun 1575 ia menderita sakit dan meninggal dunia. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh sang anak yaitu Danang Sutawijaya. Ia terkenal sebagai seorang ahli strategi perang dan dikenal dengan nama Senopati ing Alaga.

Setelah Pajang surut dari gelanggang kekuasaan, maka Mataram menjadi penggantinya. Tujuh tahun setelah meninggalnya Ki Ageng Pemanahan tahun 1575. Tahun 1582 Sultan Hadiwijaya juga meninggal. Sutawijaya kemudian memindahkan menyelamatkan tahta Pajang ke Mataram dan ia menjadi raja bergelar Panembahan Senopati tahun 1575-1601.

Dengan demikian Mataram yang semula merupakan kadipaten yang tunduk kepada Pajang, kemudian naik status menjadi sebuah kerajaan. Tapi pengangkatan dirinya sendiri menjadi raja Mataram memperoleh banyak tantangan, karena politik ekspansinya. Hampir semua tanah Jawa bagian tengah dan timur tunduk di bawah Mataram, kecuali Blambangan yang tetap bertahan dan belum memeluk agama Islam sesuai cita cita Sutawijaya.

Panembahan Senopati yang meninggal di tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede, berhasil meletakkan dasar dasar kerajaan Mataram. Berlainan dengan raja raja lainya di kemudian hari, yang dikenal dengan gelar Susuhunan atau Sultan, Senopati dikenal dengan gelarnya Panembahan.

Para raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram yaitu:
1. Panembahan Senopati (1582-1601)
2. Panembahan Hanyakrawati (1601-1613)
3. Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646)
4. Sunan Amangkurat I (1647-1677)

Dalam rangka menambah kewibawaan dan legitimasi, raja-raja Mataram yang berasal dari orang biasa, keturunan Ki Ageng Pemanahan kemudian membuat suatu silsilah untuk menunjukkan bahwa garis keturunan ibu mereka adalah keturunan para wali yang berujung kepada nabi Muhammad, silsilah penengen. Dari garis keturunan bapak mereka berasal dari keturunan para dewa dan sekaligus Nabi Adam.

Dari garis keturunan ibu dapat disebutkan bahwa mereka berasal dari Syeh Wali Lanang yang merupakan putra dari Syeh Maulana Ishak bin Syeh Jungeb. Untuk lebih jelasnya, berikut ini kutipan silsilah penengen silsilah dari garis ibu.

1. Syeh Jungeb berasal dari Arab Saudi dan keturunan Nabi Muhammad
2. Syeh Maulana Ishak
3. Syeh Wali Lanang
4. Sunan Giri I
5. Sunan Giri II
6. Ki Ageng Saba
7. Nyi Ageng Pemanahan, ibu Panembahan Senopati

Dengan adanya silsilah pangiwa dan penengen ini diharapkan masyarakat akan mengetahui bahwa raja raja mereka adalah keturunan dari tokoh tokoh yang kuat dan terkenal. Dengan demikian pengungkapan hal tersebut akan menambah legitimasi dan wibawa kepada mereka. Babad Tanah Jawi meriwayatkan asalsilah Panembahan Senopati.

Jumeneng Dalem Nata ing tahun 1586. Surud Dalem ing tahun 1601. Prameswari Dalem nomer 1 Putrinipun Ki Ageng Penjawi Pathi. Prameswari Dalem nomer 2 Putrinipun Panembahan Mas ing Madiun, Putra Dalem Kanjeng Sultan Bintara III ing Demak.

3. Keturunan Panembahan Senopati.

1. G.K.R. Pambayun garwanipun Ki Ageng Mangir. Sareng randha dipun pikramakake angsal Ki Ageng Karanglo, mboten peputra.
2. Pangeran Ronggo ingkang gelut kaliyan ula seganten Kidul. Ibu saking Kalinyamat.
3. K.P. Adipati Puger ing Demak, asma R.M. Kenthol kajuron miyos saking Nyai Adisoro.
4. Gusti seda timur.
5. G.R.Ay. Adip. Teposono asma G.R.Aj. Dhenok miyos saking Nyai Adisoro.

6. Gusti seda timur.
7. K.P. Panembahan Puruboyo, kang ibu saking Giring (Jaka Umbaran)
8. K.P. Adipati Wiromanggolo, kang Ibu saking Kajoran.
9. Gusti seda timur.
10. K.P. Adipati Joyorogo ing Ponorogo, kang Ibu saking Kajoran. R.M. Bathothot.

11. Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu Adi Hanyakrawati. Asma G.R.M. Jolang. miyos saking Prameswari nomer 1 saking Pathi.
12. G.R.Ay. Demang Tanpa Ngakil asma G.R.M. Jali miyos saking Prameswari nomer 1.
13. Gusti seda timur saking Prameswari nomer 1.
14. G.R.Ay. Wiromantri ing Ponorogo, asma G.R.AJ. Juwok, miyos saking Prameswari no 1.
15. G.R.Ay. Pangeran Radin ing Kajoran.

16. G.R.Aj. Laweh, miyos saking Prameswari no 1.
17. Gusti seda timur saking Prameswari nomer 1.
18. G.P. Adipati Pringgoloyo asma G.R.M. Julik miyos saking Prameswari nomer 2 Retno Dumilah.
19. K.P. Panembahan Juminah, asma G.R.M. Bagus. miyos saking Prameswari nomer 2 Retno Dumilah.

20. G.R.Ay. Demang Tanpa Nangkil, ngarang ngulu asma G.R.AJ. Sedep, miyos saking Nyai Breminto.
21. K.G. Adipati Martoloyo ing Madiun, asma G.R.M. Kanitren, miyos saking Prameswari Retno Dumilah.
22. G.P. Adipati Puger, miyos saking Nyai Breminto, asma G.R.M. Tembaga.
23. K.P.H. Tanpa Nangkil, asma G.R.M. Kadhawung, miyos saking Nyai Suwanda.

Putra Putri Dalem, sadaya wonten 23, ingkang sugeng namung 18. Putra Kakung wonten 11, Putra Putri wonten 7. Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Panembahan Senopati ing Ngalaga sumare ndherek Rama Dalem Ki Ageng Pemanahan wonten ngandhapipun, jejer Rayi Dalem Adipati Gagak Baning ing Pajang sedherek tunggil ibu. Dados sumare wonten Astana Luhur Kota Gedhe.

Nagari Pajang lajeng pindhah dateng Mataram. Ingkang jumeneng narpati, Risang Sutawijaya ajejuluk Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Panembahan Senopati Ngalaga ing Nagari Mataram. Prameswari dalem angka setunggal Kanjeng Ratu Mas, putrinipun Ki Ageng Penjawi ing Pathi. Peputra: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati ing Mataram. Putra Dalem nomer 3 Adipati Puger ing Demak.

Ingkang nurunaken nata, putra nomer 12. Panembahan Juminah, putra K.R. Retno Dumilah peputra Pangeran Hario Balitar, peputra Tumenggung Balitar, peputra Kanjeng Ratu Paku Buwana I, Prameswari Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Paku Buwana I peputra Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat Jawa ing Kartasura.

Setelah berhasil melanjutkan kekuasaan Pajang, Sutawijaya tahun 1582 memindah pusat kerajaan menuju Mataram. Dalam bidang budaya Panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatahan gempuran.

Panembahan Senopati merupakan tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik yang keteladanannya memandu alam pikiran Jawa. Pribadinya sebagai personifikasi tahapan pemahaman tertinggi, yaitu manggalih artinya mengenai soal soal esensial, pasca manah, artinya membidikkan anak panah, mengenai soal soal problematis di jantung kehidupan, pusat lingkaran, yang dikenal sebagai jangka. Itulah makna jangka jangkah jangkaning jaman.

Babad Mataram mewariskan keteladan. Generasi muda mendapat pelajaran yang keluhuran. Nulada laku utama.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian