Pak Jokowi Dan Kepemimpinan Masyarakat Desa


Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum.

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Sengkut Gumregut Ngayahi Kewajiban.

Lingkungan pedesaan mewarnai kehidupan Pak Joko Widodo atau Jokowi. Wilayah Surakarta merupakan kawasan yang indah permai. Gunung, sungai, sawah, kebun, ternak, seni tradisional merupakan ciri khas masyarakat desa.

Jago kluruk rame kapyarsi, lawa kalong luru pandhelikan. Pagi-pagi benar sebelum ayam jantan berkokok, orang desa sudah bangun tidur. Menurut keyakinan mereka rejeki seseorang akan diambil oleh ayam bila bangun tidur kesiangan. Tugas sehari-hari sudah menunggu untuk diselesaikan sesuai dengan profesinya masing -masing. Mereka sengkut gumregut.

Ujare mbok bakul sinambi woro merupakan tanda perniagaan yang tumbuh di sekitar wilayah desa. Para mbok-mbok bakul mempersiapkan dagangannya di pasar -pasar.

Hasil bumi yang berupa beras, jagung, ketela, sayuran dan buah-buahan di gelar di pasar untuk dipertemukan kepada konsumen. Mereka berjalan menuju ke pasar dengan membawa barang- barang dagangan itu dengan cara dipikul, digendong dengan diterangi obor.

Masa kecil Pak Jokowi akrab dengan lingkungan pasar tradisional. Perdagangan tradisional berlangsung pada hari pasaran, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Tawar- menawar antara pedagang dan pembeli boleh jadi sangat alot, sehingga merupakan suatu seni tersendiri dalam transaksi perdagangan.

Sistem pedagang bakulan itu merupakan soko guru perekonomian desa. Pak Jokowi yang lahir pada tanggal 21 Juni 1961 ini telah menjadi pelaku ekonomi yang mumpuni.

Jago Kluruk.

Ing wayah esuk, jagone kluruk.
Rame swarane pating kemruyuk.
Wadhuh senenge sedulur tani.
Bebarengan padha nandur pari.

Srengenge nyunar ngulon parane.
Manuke ngoceh ana wit- witan. Pating cemruwit seneng atine. Tambah asri donya saisine.

Lagu jago Kluruk itu mengandung tafsir penjelasan makna. Alam pedesaan dengan suara jago kluruk bersahut -sahutan. Para petani berangkat ke sawah dengan paculnya. Mereka menanam padi demi ketahanan pangan. Murah sandang, murah pangan. Suara burung yang menyambut membuat dunia ini semakin tampak asri.

Contohnya adalah Umbul Cakra dan Pengging. Keduanya mengairi persawahan sekitar gunung Merapi dan gunung Merbabu. Airnya mengalir sampai Selat Madura. Keindahan alam ini perlu dijaga kelestariannya.

Sementara itu kegiatan Pak Tani sudah dimulai dengan mengasah sabit dan membetulkan cangkul. Pak Tani berangkat ke sawah tanpa alas kaki dan siap mengolah lahannya. Antar pemilik sawah suka bekerja sama dengan tidak mengharapkan imbalan. Sambil macul mereka juga menyabit rumput untuk pakan ternak. Seolah- olah pakan ternak itu adalah oleh-oleh untuk raja kaya mereka yang menunggu di rumah.

Kesadaran Pak Jokowi tentang pertanian diasah oleh lingkungan agraris. Sawah, gunung, sungai, ternak dan tanaman berpengaruh atas wawasan seseorang. Sikap Pak Jokowi diperkaya dengan lingkungan yang subur, gemah ripah loh jinawi.

Pekerjaan petani yang dekat dengan tanah, air dan udara yang sangat segar membuat hidup menjadi tenang, tentram, seimbang, dan alami. Tidak jarang di antara petani itu suka rengeng-rengeng, berdendang tembang dan lagu daerah dengan santai. Orientasi mereka bukan hasil kuantitatif tetapi proses kualitatif. Sikap beringas, keras, cemburu dan iri sukar berkembang. Masing- masing pihak tahu diri dan sadar hak dan kewajibannya.

Sumbangsih

Adhuh lae kakang karepmu piye.
dak jaluk sumbangsihmu wae.
wujude apa prasajakna.
ja ketungkul rina wengi wedhak pupur.
kewajiban apa kang kudu dak sangkul.
amomong putra nata bale wisma.
e tobil kakang iku nyata kewajibanku.

Syair tembang sumbangsih itu karya Ki Nartosabdo. Cocok benar dengan keselarasan pasangan suami istri. Bu Tani yang bertugas di rumah tak kalah sibuknya. Memasak, mencuci dan membereskan pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban pokoknya. Pantangan bagi Bu Tani adalah bila genthong kosong dan kendhi tak berisi. Maka harus hati hati betul.

Genthong dan kendhi merupakan simbol wadah rejeki. Kalau genthong kendhi hampa, akan ditafsirkan keluarga petani itu akan lamban dan lambat dalam memperoleh rejeki. Selain itu wadah yang kering juga membuat suasana panas yang memudahkan hari untuk marah. Prinsip Bu Tani terhadap kedudukan suami adalah suwarga nunut neraka katut, yaitu suami yang jaya akan sekaligus meningkatkan kejayaan istri. Sebaliknya suami yang jatuh, maka istri pun pasti juga merasakan kesengsaraan. Bu Iriana sebagai istri Pak Jokowi paham benar dengan tugas kewanitaan.

Pendidikan budi pekerti luhur diwariskan oleh orang tua Pak Jokowi. Beliau bernama Bapak Widjiatno Notomihardjo dan Ibu Sudjiatni Notomihardjo. Adapun tugas anak -anak adalah mikul dhuwur mendhem jero nama baik kedua orang tuanya. Maksudnya si anak itu harus mau menjunjung tinggi harkat dan martabat ayah ibu. Orang desa mengatakan anak polah bapa kepradah. Artinya bahwa tingkah laku anak senantiasa membawa nama orang tua. Kebesaran orang tua bisa tercemar karena anaknya yang urakan dan melanggar peraturan. Kudu eling lan waspada.

Leluhur Pak Jokowi yang tinggal di Gumukrejo, Girinoto, Ngemplak, Boyolali ini memang dekat dengan nilai kearifan lokal. Mereka berpegang teguh pada konsep tuntunan tontonan tatanan. Pembagian kerja di wilayah pedesaan itu sudah berlaku turun-temurun. Konflik jarang terjadi karena masing-masing pihak sudah faham terhadap hak dan kewajibannya masing- masing. Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

B. Memahami Masyarakat Desa.

Witing klapa jawata ing ngarcapada. Salugune wong wanita. Dhasar nyata kula sampun njajah praja. Ing Ngayogya Surakarta.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Dari wilayah Surakarta Pak Jokowi meresapi lingkungan luhur pedesaan. Menghadap ke barat tampak gunung Merapi dan gunung Merbabu. Kedua gunung ini ibarat gunung kembar. Menghadap ke timur tampak gunung Lawu menjulang tinggi, dengan aura magis.

Wilayah utara dari Surakarta akan berjumpa dengan gunung Kendheng. Wilayah selatan dari Surakarta akan berjumpa dengan gunung Sewu. Kanan kiri berjajar-jajar mengikuti aliran Bengawan Solo.

Kehidupan sosio kultural pedesaan memiliki ciri-ciri yang khas. Negeri kita punya pengalaman mengelola masyarakat yang tinggal di kawasan pedesaan.

1) Jiwa Guyub Rukun.

Rasa kebersamaan masyarakat desa diwujudkan dalam bentuk kerja bakti, gotong-royong, gugur gunung, sambatan, jagongan dan rewang.

Guyub rukun sangat diutamakan. Apabila ada tetangga punya hajat, tanpa diundang pun tetangga yang lain bersedia dan siap membantu. Inilah urip bebrayan.

2). Murih Raketing Memitran.

Dalam lingkungan masa kecil Pak Jokowi dididik untuk selalu menjalin persahabatan. Rasa kemitraan orang desa terdapat pada anggapan siapa saja yang datang dianggap sebagai saudara. Ber bandha ber bandhu. Saudara itu modal kerja.

Bahkan pada umumnya tiap desa mempunyai anggaran khusus untuk menjamu tamu. Para pekerja rantau dan pengamen yang menginap mendapat jaminan hidup dari Pak Lurah secara wajar. Pepundhen kang pinundhi pindha pusaka.

3) Mengutamakan Unggah Ungguh.

Sifat kerakyatan diperoleh Pak Jokowi dari alam pedesaan. Etika kesopanan orang desa terwujud dalam istilah unggah -ungguh, tata krama, tata susila, basu krama, suba sita, etika dan sopan santun.

Tata susila harus diutamakan agar orang dapat diterima dalam pergaulan sosial secara wajar. Semakin halus budi pekerti seseorang maka akan mendapat simpati lebih tinggi. Orang desa cenderung untuk menggunakan bahasa halus bila berhadapan dengan orang yang dihormati. Samad sinamadan tumraping agesang.

4) Ahli Pranata Mangsa.

Kawasan Surakarta banyak yang ahli tentang pranata mangsa. Di balik keluguannya ternyata orang desa sangat paham terhadap pergantian musim (pranata mangsa), Mereka mengerti sekali soal pergantian musim terutama berkaitan dengan masa tanam, dan masa panen (musim hujan, kemarau, labuh, mareng). Pranata mangsa menjadi paugeran bagi para among tani. Pak Jokowi menggunakan para sesepuh untuk memahami seluk beluk alam.

5) Agama Ageming Aji.

Agama ageming aji, konsep keselarasan beragama yang kerap dihayati oleh Pak Jokowi. Sistem kepercayaan orang desa selalu berhubungan dengan agenda tindakannya. Semua hajatan penting mesti dicarikan hari pasaran yang baik. Tidak sembarang hari digunakan untuk perhelatan.

Begitu religiusnya, maka di daerah pedesaan itu banyak dijumpai upacara tradisional yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi secara turun tumurun.

6) Sikap Mulat Sarira Hangrasa Wani.

Mulat sarira hangrasa wani dihayati Pak Jokowi lewat sastra piwulang. Di pedesaan orang bertempat tinggal dengan derajat kerenggangan yang cukup jauh.

Jarak yang lebar itu dimaksudkan agar tidak terjadi persinggungan kepentingan. Dampaknya pada perilaku adalah sikap toleransi. Segala kejadian di luar dirinya dibiarkan saja berjalan secara alami. Orang mudah untuk memaafkan kesalahan pihak lain. Bahkan ada kecenderungan kuat untuk menutup-nutupi kesalahan pemimpinnya. Korupsi yang dilakukan sang pemimipin kadang-kadang dipahami sebagai uang lelah raja.

7) Sikap Ber Budi Bawa Laksana.

Ber budi bawa leksana merupakan ajaran kepemimpinan yang membentuk kepribadian Pak Jokowi. Ketika berhadapan dengan pemimpin, orang desa bertata sikap ngapurancang, yaitu tangan hikmat sebagai tanda hormat.

Penghormatan kepada pemimpin dilakukan sebagai kewajiban supaya mendapat berkah ketentraman karena keselarasan hidup dapat diperoleh hanya dengan berlaku harmonis dengan lingkungan dan pamong praja.

Tiap ada upacara desa, para pemuda tanpa diperintah akan berbondong -bondong untuk menyumbangkan tenaga. Kalau seorang pemuda desa hendak merantau terlebih dahulu dia akan sowan, minta doa kepada pemimpinnya. Mereka belum merasa lega sebelum menghadap pemimpin yang dianggap sebagai sesepuh, yang bisa memberi pituduh.

8) Sikap Andhap Asor.

Andhap asor wani ngalah luhur wekasane. Ajaran moral ini kerap diperoleh Pak Jokowi lewat berkumandangnya lagu mijil.

Sikap pasrah orang desa sangat menguntungkan. Mereka tidak pernah menuntut macam- macam kepada pemerintah. Hampir secara penuh orang desa menyerahkan kedaulatannya kepada pemimpin. Bagi mereka pemimpin adalah orang yang dapat menjamin keamanan dan ketentraman. Bila ketentraman dan keamanan sudah mereka dapatkan, maka mereka tidak akan menuntut lebih.

Sebenarnya sikap sabar nrima, pasrah sumarah, itu sudah lama berlangsungnya. Masyarakat kota yang modern mungkin heran mengapa orang desa bersikap seperti itu. Keadaan yang kurang menguntungkan secara ekonomi tidak dirasakan oleh orang yang desa sebagai malapetaka. Maka perlu wilujengan.

9) Pagelaran Seni Edi Peni.

Kehadiran seni dalam rangka memperhalus rasa. Seni edi peni budaya adi luhung menjadi penghias kehidupan rakyat desa. Salah satu penyebab orang desa mudah mengendalikan emosinya adalah karena cinta pada seni halus. Seni halus yang dimaksud adalah kethoprak dan wayang. Keduanya boleh di kata relatif halus daripada seni lainnya. yang hanya mengutamakan kesemarakan lahiriah.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *