Babad Panembahan Senopati Raja Mataram I

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. hp. 087864404347)

A. Pembukaan Alas Mentaok.

Pada tanggal 24 Juli 1546 Jaka Tingkir naik tahta di Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukannya direstui oleh Sunan Giri, seorang wali sekaligus penasehat politik Jawa yang tinggal di Kewalian Giri Gresik. Sultan Hadiwijaya yang arif bijaksana itu segera mendapat pengakuan dari adipati adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan salah seorang anak Sultan Prawoto yaitu Arya Pangiri diangkat menjadi Adipati Demak.

Dalam usahanya untuk menegakkan kekuasaan Pajang, Sultan Hadiwijaya harus berhadapan dengan Adipati Jipang, Arya Penangsang, putra Sekar Seda Lepen yang tidak rela tahta Demak diambil oleh Sultan Hadiwijaya, karena ia hanya menantu Sultan Trenggana. Sultan Hadiwijaya membuat strategi yang jitu untuk menghadapinya. Ia percaya bahwa dirinya akan mampu mengalahkan.

Arya Penangsang, terkenal memiliki senjata amuh, yakni Keris Kyai Setan Kober, yang selalu menggetarkan dan mempecundangi musuh. Kemudian atas nasihat dari para pinisepuh, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat mengalahkan Penangsang akan mendapatkan hadiah, tanah Pati dan Mataram. Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya memiliki pusaka Keris Kyai Crubuk.

Akhirnya Penangsang dapat dikalahkan oleh Danang Sutawijaya, putra Pemanahan.
Karena kesuksesan ini merupakan strategi Pemanahan dan Penjawi, maka Sultan Hadiwijaya menganggap kemenangan Danang Sutawijaya tersebut adalah juga kemenangan Pemanahan dan Penjawi.

Kelak anak Ki Ageng Penjawi yang bernama Ratu Waskitha Jawi menikah dengan Panembahan Senapati. Lahir Raden Mas Jolang atau Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati.

Lantas Sultan Hadiwijaya memberikan tanah tersebut kepada mereka berdua. Penjawi mendapatkan tanah Pati, sebuah kadipaten di pesisir utara yang telah maju. Sedangkan Pemanahan mendapatkan tanah Mataram yang masih berupa hutan Mentaok. Menurut silsilah, Pemanahan adalah putra dari Ki Ageng Enis, cucu Ki Ageng Sela. Alas Mentaok tersebut berada saat ini tepatnya di sekitar Kota Gede, Yogyakarta. Pemanahan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Ki Gede Mataram.

Namun awalnya Sultan Hadiwijaya nampak ragu untuk menyerahkan tanah Mentaok atau Mataram kepada Pemanahan. Berdasarkan ramalan Sunan Giri, diprediksikan Mataram kelak akan menjadi sebuah kekuatan yang besar yang menjadi pusat politik di tanah Jawa.

Hal ini jika terjadi kelak akan mengancam keutuhan eksistensi Pajang. Karena itu, Sultan Pajang mengulur ulur waktu untuk menyerahkan tanah Mataram. Atas nasihat Jurumartani, kemudian Pemanahan menghadap Sunan Kalijaga meminta bantuan.

Sunan Kalijaga kemudian memberikan fatwa tuntutan Pemanahan tidak salah, sebab menurutnya seorang raja harus konsisten dengan ucapannya sabda pandita ratu tan kena wola wali. Atas jasa dari Sunan Kalijaga itu maka tanah Mataram diserahkan Sultan Hadiwijaya kepada Pemanahan. Sebenarnya Sultan Pajang memberikan alternatif tanah lain selain Mataram. Namun karena raja telah bersabda demikian, maka implikasinya ia tidak bisa menarik kembali ucapannya.

Ki Ageng Pemanahan dalam waktu singkat mampu membuat Mataram beserta rakyatnya maju. Namun sebelum dapat ikut menikmati hasil, tahun 1575 ia menderita sakit dan meninggal dunia. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh sang anak yaitu Danang Sutawijaya. Ia terkenal sebagai seorang ahli strategi perang dan dikenal dengan nama Senopati ing Alaga.

Setelah Pajang surut dari gelanggang kekuasaan, maka Mataram menjadi penggantinya. Tujuh tahun setelah meninggalnya Ki Ageng Pemanahan tahun 1575. Tahun 1582 Sultan Hadiwijaya juga meninggal. Sutawijaya kemudian memindahkan menyelamatkan tahta Pajang ke Mataram dan ia menjadi raja bergelar Panembahan Senopati tahun 1575-1601.

Dengan demikian Mataram yang semula merupakan kadipaten yang tunduk kepada Pajang, kemudian naik status menjadi sebuah kerajaan. Tapi pengangkatan dirinya sendiri menjadi raja Mataram memperoleh banyak tantangan, karena politik ekspansinya. Hampir semua tanah Jawa bagian tengah dan timur tunduk di bawah Mataram, kecuali Blambangan yang tetap bertahan dan belum memeluk agama Islam sesuai cita cita Sutawijaya.

Panembahan Senopati yang meninggal di tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede, berhasil meletakkan dasar dasar kerajaan Mataram. Berlainan dengan raja raja lainya di kemudian hari, yang dikenal dengan gelar Susuhunan atau Sultan, Senopati dikenal dengan gelarnya Panembahan.

Para raja yang pernah memerintah di kerajaan Mataram yaitu:
1. Panembahan Senopati (1582-1601)
2. Panembahan Hanyakrawati (1601-1613)
3. Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646)
4. Sunan Amangkurat I (1647-1677)

Dalam rangka menambah kewibawaan dan legitimasi, raja-raja Mataram yang berasal dari orang biasa, keturunan Ki Ageng Pemanahan kemudian membuat suatu silsilah untuk menunjukkan bahwa garis keturunan ibu mereka adalah keturunan para wali yang berujung kepada nabi Muhammad, silsilah penengen. Dari garis keturunan bapak mereka berasal dari keturunan para dewa dan sekaligus Nabi Adam.

Dari garis keturunan ibu dapat disebutkan bahwa mereka berasal dari Syeh Wali Lanang yang merupakan putra dari Syeh Maulana Ishak bin Syeh Jungeb. Untuk lebih jelasnya, berikut ini kutipan silsilah penengen silsilah dari garis ibu.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *