Sejarah Kabupaten Kebumen

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Ratu Retno Dumilah Mengutus Pangeran Bumidirdjo Membuka Tanah Brang Kulon.

Pada tahun 1594 Kanjeng Ratu Retno Dumilah mengadakan konsolidasi kewilayahan. Kali ini topik pembahasan mengenai pembinaan teritorial Brang Kulon. Hadir dalam forum rapat kerja Mataram itu Raden Mas Sumekar, Bupati Madiun. Tampak pula Bupati Glagahwangi Arya Pangiri dan Arya Sukodono dari Jepara. Kanjeng Ratu Retno Dumilah adalah garwa prameswari Panembahan Senapati.

Raja Mataram ini memerintah tahun 1584 sampai 1601. Dari asal usulnya Kanjeng Ratu Retno Dumilah sangat kuat. Beliau putra Bupati Madiun, Pangeran Timur atau Rangga Jumena. Putra bungsu Sultan Trenggana, raja Demak Bintara ini sejak kecil diasuh Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadirin. Hidupnya di Jepara. Pernah berguru di Pajang dan Pengging.

Pengalaman kerja Kanjeng Retno Dumilah cukup bera-gam. Beliau berpengalaman sebagai direktur eksekutif perusahaan mebel. Juga komisaris pengeboran minyak mentah di Cepu. Konsultan administrasi impor ekspor di pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Maklum beliau cucu raja Demak Bintara. Pengetahuan tentang sistem pemerintahan diperoleh dari raja Pajang, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Kawruh Jaya kawijayan guna kasantikan diperoleh dari Ki Ageng Butuh.

Pangeran Timur memberi warisan tombak Kyai Tundung Madiun. Pusaka ini selalu membuat musuh menjadi silau dan energinya habis. Juga diberi keris Kyai Kembang Wijojondanu. Ampuhnya mirip Kyai Wijayandanu milik Adipati Karna. Begitu hebatnya Srikandi Trah Demak ini dipercaya untuk memimpin Madiun. Beliau pernah menjabat sebagai Bupati Madiun tahun 1586 sampai 1590. Ketika menjadi permaisuri Panembahan Se-napati, jabatan bupati diserahkan kepada Raden Mas Rangsang.

Hasil rapat pimpinan memutuskan agar dilakukan pembangunan wilayah Mataram bagian barat. Wilayah Brang Kulon perlu perhatian, agar pembangunan Mataram bisa adil dan merata. Pangeran Bumidirdjo ditunjuk sebagai koordinator. Beliau dipilih karena dianggap orang kepercayaan Kanjeng Ratu Retno Dumilah. Lama sekali menjadi sekretaris pribadi, juru tulis perusahaan dan asisten dalam pemerintahan. Lagi pula masih adik kandung. Sama sama putra Bupati Madiun keturunan kerajaan Demak Bintara.

Kerja keras dan budi pekerti luhur Pangeran Bumidirdjo teruji di lapangan. Kecerdasan, ketrampilan, kemahiran dan kejujuran dapat diandalkan. Pangeran Bumidirdjo terbiasa belajar kitab Jawa klasik. Pengetahuan tata negara dibaca lewat Kitab Negara kertagama karangan Empu Prapanca Pujangga kraton Majapahit. Ajaran kepahlawanan dari Kakawin Arjuna Wiwaha Karya Empu Kanwa Pujangga kraton Kahuripan. Sedangkan soal estetika dibaca dari Kitab Smara Dahana karya Empu Darmaja Pujangga Kraton Kediri. Pangeran Bumidirdjo memang cerminan trahing Kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.

Selama menjalankan tugas di kawasan sepanjang pegu-nungan Serayu, Pangeran Bumidirdjo dibantu oleh Ki Ageng Karanglo. Beliau adalah murid kesayangan Pangeran Karanggayam Pujangga kraton Pajang. Karyanya kitab Nitisruti yang berisi nilai etis filosofis tingkat tinggi. Bebayane macan manggon ing siyunge. Bebayane ula mapan aneng upase. Bebayane kala jengking dumunung neng entupe. Nanging Bebayane manungsa duratmaka mapan ing sakojur awake. Begitulah ajaran serat Nitisruti yang dijadikan bahan refleksi.

Sikap eling lan waspada dipegang terus. Wejangan wulangan wedharan Pangeran Karanggayam merasuk dalam hati sanubari. Guru, ya digugu ya ditiru. Pangeran Bumidirdjo dan Ki Ageng Karanglo sungguh siswa berbakti kepada Pangeran Karanggayam. Ajaran Sang Guru yang diterapkan itu membuahkan sukses gemilang. Oleh karena tempat yang dibangun itu lantas diberi sebutan daerah Karanggayam. Rakyat bersatu padu membuka daerah baru. Ada pepatah bijak mengatakan bapa truka, anak penak, putu nemu. Pembukaan wilayah Brang Kulon berjalan lancar. Pekerjaan besar dimulai tanggal 30 Juni 1594. Tanah yang dijadikan pemukiman itu diberi nama Panjer. Dalam bahasa Jawa Panjer bermakna lampu penerang yang menyala terus menerus. Terus terang dan terang terus.

Kediaman Pangeran Bumidirdjo merupakan tanah Trukah. Panjangnya sekitar 3 pal. Kini daerah tersebut menjadi desa Trukahan. Untuk menata kawasan yang ideal, Pangeran Bumidirdjo membangun pasar sebagai pusat transaksi barang dan jasa. Pasar Tumenggungan, pasar Pari dan pasar Rabuk adalah warisan historis yang penting. Produk pertanian, perkebunan, peternakan bisa dipasarkan dengan baik. Petani untung, pedagang mujur. Demi kemakmuran rakyat, dibangun pula pabrik minyak sari nabati. Daerah Panjer semakin tata tentrem karta raharja.

Kesadaran Pangeran Bumidirdjo patut dipuji. Status be-liau di daerah Panjer cuma mengemban amanat. Beliau tak lebih hanya sebagai petugas utusan Kanjeng Ratu Retno Dumilah. Segala pekerjaan dilaporkan kepada prameswari Mataram. Daerah Panjer statusnya sebatas kademangan. Lantas naik menjadi kawedanan. Pada tahun 1642 daerah Panjer diresmikan sebagai kabupaten otonom. Sebagai pejabat bupati pertama di Kabupaten Panjer adalah Raden Tumenggung Bodronolo tahun 1642 sampai 1657.

Untuk menghormati jasa Pangeran Bumidirdjo Kabupaten Panjer diubah menjadi kabupaten Kebumen. Asal kata dari Bumi yang merujuk pada nama Bumidirdjo. Kebumen, berasal dari kata ke bumi an. Secara morfologis menjadi Kebumen. Dalam konteks semantis Kebumen adalah tempat tinggal tinggal yang dihuni Pangeran Bumidirdjo.

Perubahan nama Kabupaten Panjer menjadi kabupaten Kebumen terjadi pada tahun 1861. Bupati Kebumen dijabat oleh KRT Arungbinang ll yang dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono IX di istana Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Nama Kebumen semakin harum wangi semerbak di kawasan Brang Kulon.

B. Dari Kabupaten Panjer Menjadi Kabupaten Kebumen.

Kegiatan pusat kerajaan Mataram harus berjalan aman damai. Sebagai pendamping raja Mataram, Kanjeng Ratu Retno Dumilah bertindak amat bijaksana. Beliau menghormati kebera-daan Kanjeng Ratu Waskitha Jawi, permaisuri Panembahan Senapati. Posisi beliau lebih senior. Dua garwa padmi ini samad sinamadan.

Putri sulung Panembahan Senapati bernama Ratu Pembayun. Menikah dengan Ki Ageng Mangir. Lahirlah Pangeran Ma-duseno. Beliau dinikahkan dengan Dewi Majati, putri Pangeran Bumidirdjo. Dari pernikahan Agung dihadiri segenap kerabat Madiun, Pati, Jepara, Pengging, Pajang, Demak Bintara, glagah wangi dan Mataram. Mereka menganggap kumpule balung pisah. Pernikahan ini terjadi pada tahun 1612. Berkenan hadir Kanjeng Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati.

Pahargyan manten Pangeran Maduseno dan Dewi Majati diharapkan membawa kawibawan kawidadan kabagyan kamulyan lan karaharjan di bumi Panjer. Segera pangeran Maduseno ditetapkan sebagai kepala wilayah Panjer dengan status wedana sepuh. Kawedanan Panjer masih diampu langsung oleh pemerin-tahan pusat kerajaan Mataram. Rajanya Sultan Agung Hanyakro Kusumo tahun 1613 sampai 1645. Pernikahan Pangeran Maduseno dan Dewi Majati melahirkan Raden Mas Bodronolo. Kelahiran dua bangsawan agung disambut suka gembira oleh segenap rakyat Panjer. Terlebih pemerintah kerajaan Mataram. Wiji sejati telah lahir. Pemimpin baru sudah dinanti nanti. Bang bang sumirat, kadi surya arsa madhangi jagad raya.

Prestasi wilayah Panjer meyakinkan pemerintahan pusat. Untuk dinaikkan statusnya dinilai lebih dari cukup. Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram menetapkan Panjer sebagai kabupaten otonom pada tahun 1642. Kehormatan dan anugerah buat warga Brang Kulon. Pejabat bupati Panjer yang pertama diserahkan kepada Raden Mas Bodronolo. Kabupaten Panjer mendapat pemimpin yang bener, kober, seger, pinter, bleger.

Wilayah Panjer juga berkembang kehidupan keagamaan. Sunan Geseng adalah murid Kanjeng Sunan Kalijaga, guru suci ing tanah Jawi. Sunan Geseng menyebarkan agama Islam di Pertapan Gunung Geyong Sadang. Muridnya melanjutkan risalah Sang guru. Namanya Ki Ageng Singopotro. Beliau sakti mandraguna, waskitha ngerti sakdurunge winarah. Kerap menjalankan tapa ngrame, tapa ngidang, tapa kungkum dan tapa ngeli.

Putri Ki Ageng Singopotro amat cantik jelita, bernama Endang Potrosari. Menikah dengan Raden Mas Bodronolo. Pernikahan ini melahirkan putra yang cakap cukup, yaitu Raden Mas Kertosuto dan Raden Mas Hastrosuto. Raden Mas Kertosuto bertugas di wilayah Panjer Rama Lembah.

Raden Mas Hastrosuto bertugas di wilayah Panjer gunung. Kabupaten Panjer semakin arum kuncara. Kedudukan Kabupaten Panjer amat kuat pada waktu pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum. Beliau menjadi raja Mataram tahun 1645 sampai 1677. Permaisuri raja bernama Kanjeng Ratu Wiratsari. Garwa Prameswari Mataram kerap berkunjung di Kabupaten Panjer. Mereka membina ibu ibu dengan memberi ketrampilan membatik dan menyulam. Seba-gian diajari kursus di Sembarang untuk membuat lumpia. Ada yang dikirim ke Kediri untuk belajar membuat tahu takwa.

Bupati Hastrosuto amat hormat kepada Kanjeng Ratu Wiratsari yang memperhatikan Kabupaten Panjer. Pada tahun 1659 diadakan pemutaran pabrik minyak sari nabati. Peralatan diperbarui. Modal ditingkatkan, menejemen makin rapi. Pemasaran digarap dengan tertib.

Sementara itu dirintis pula pabrik semen di daerah Gombong. Usaha ini berhasil membawa kemakmuran. Keberadaan Kabupaten Panjer cukup diperhitungkan dalam kancah diplomasi Mataram. Joko Sangrib adalah putra Tumenggung Sosrowijoyo, bupati Madiun. Beliau menikah dengan Rara Mangunsari, putri Demang Honggoyudo di Kutho Winangun. Mertuanya memberi nama kebesaran kepada Joko Sangrib, dengan gelar Tumenggung Honggowongso.

Bersama dengan Kyai Yasadipra dan Pangeran Wijil, Tumenggung Honggowongso mendapat tugas memindahkan ibukota dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745. Tugas besar ini berhasil dengan memuaskan. Ini terjadi pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono ll. Perpindahan ibukota berlangsung secara megah meriah. Sigra jengkar saking Kartawani.

Jasa besar Tumenggung Honggowongso mendapat penghargaan yang memadai. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono lll yang memerintah tahun 1749 sampai 1788 amat berkenan. Beliau mengangkat Tumenggung Honggowongso sebagai menteri luar negeri untuk kawasan Brang Kulon.

Anak keturunan Tumenggung Honggowongso meneruskan nilai perjuangan para leluhur. Mereka selalu berusaha untuk mendapatkan wirya arta winasis.

C Pengabdian Para Bupati Panjer Kebumen.

1. Raden Mas Bodronolo, tahun 1642 sampai 1657. Dilantik jaman kerajaan Mataram kerta. Rajanya Sultan Agung.

2. Raden Tumenggung Hastrosuto, tahun 1657 sampai 1677. Dilantik jaman kerajaan Mataram Plered. Rajanya Sinuwun Amangkurat Tegal Arum.

3. KRT Kolopaking l, tahun 1677 sampai 1710. Dilantik jaman kerajaan Mataram Kartasura. Rajanya Sinuwun Amangkurat Amral.

4. KRT Kolopaking ll, tahun 1710 sampai 1751. Dilantik jaman kerajaan Mataram Kartasura. Rajanya Sinuwun Paku Buwono l.

5. KRT Kolopaking lll, tahun 1751 sampai 1790. Dilantik jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwono IV.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *