oleh

Sejarah Pembangunan Kota Surabaya

Oleh: Dr Purwadi SS M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp. 087864404347)

A. Tokoh Utama Surabaya.

Kota Surabaya punya kedudukan penting dalam sejarah peradaban Nusantara. Amangkurat Surabaya merupakan keturunan langsung Sunan Ampel.

Dalam sejarahnya Kanjeng Ratu Mas Panggung adalah putri Sunan Ampel yang menjadi garwa permaisuri Raden Patah Syah Alam Akbar, raja Demak Bintara. Dari Ratu Mas Panggung ini menurunkan raja Pajang, Mataram dan Bupati Bang Wetan Surabaya.

Dengan demikian Pangeran Pekik memang trahing kusuma rembesing madu. Untuk memperkokoh kekerabatan, Pangeran Pekik menikah dengan Ratu Pandansari. Putri linuwih ini adik Sultan Agung Hanyakra Kusuma, raja Mataram tahun 1613 – 1645.

Pernikahan ini atas kesepakatan para sesepuh kerajaan Mataram dan kadipaten Surabaya. Bertujuan demi ngumpulke balung pisah. Pernikahan Pangeran Pekik dengan Ratu Pandansari melahirkan Kanjeng Ratu Hemas Wetan.

Putri Pangeran Pakik ini menikah dengan Sinuwun Amangkurat Agung raja Mataram tahun 1645 – 1677. Lahir Raden Mas Rahmat Kuning. Kelak menjadi raja Mataram tahun 1677-1703. Beliau bergelar Sinuwun Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya.

Terlebih dulu Pangeran Pekik mengajari Raden Rahmat Kuning tentang makhluk halus di sekitar wilayah bang wetan. Semua Danyang membantu Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari sebagai pemimpin Surabaya.

Bagian hulu Kali Jagir dijaga oleh Danyang Prangmuko. Mahluk halus ini diutus oleh Prabu Airlangga raja Kahuripan. Tiap bulan Suro diadakan upacara sesaji wilujengan. Dipersembahkan untuk Danyang Prangmuko. Upacara adat ini dipimpin oleh Empu Kanwa.

Upacara wilujengan dengan membaca kidung mantra sakti yang berasal dari Kakawin Arjuna Wiwaha. Pembacaan kidung mirip dengan Begawan Ciptowening di Pertapan Gunung Indrakila. Treteg Ijo dibangun oleh Prabu Inu Kertopati saat Surabaya dipimpin Kraton Jenggala. Sinuwun Prabu Inu Kertopati mengutus Danyang Tunjungputih untuk menjaga lingkungan kretek Ijo.

Empu Panuluh melakukan upacara larungan. Utusan kerajaan Jenggala membaca kidung mantra sakti yang dipetik dari kitab adiparwa. Sastra piwulang ini berisi tentang kepribadian luhur.

Hilir kali Jagir dijaga oleh danyang Abur Abur. Mahluk halus ini utusan Prabu Brawijaya. Danyang Abur Abur menguasai jenis iber iberan. Seperti burung, kupu dan kinjeng. Upacara pandongo wilujengan dipimpin oleh Empu Tantular. Utusan Majapahit ini membaca kidung mantra sakti dari kitab Sutasoma.

Tata cara adat berlangsung terus. Pemimpin Surabaya menghormati adat warisan nenek moyang. Pada jaman Bupati Pangeran Pekik, upacara adat makin tertib.

Wajar jika cucunya menjadi raja Mataram. Yakni Cak Ning atau Cak Rahmat Kuning. Nanti bergelar Sinuwun Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya. Semanggi Surabaya, Lontong balap Wonokromo.

Lagu ini amat terkenal. Lontong balap menu favorit warga Jawa Timur. Asal usul lontong balap dipelopori oleh Cak Rahmat Ning atau Cak Aning. Pada tahun 1669 Cak Ning datang di rumah Nyi Sakirah.

Dulu Nyi Sakirah menjadi Pegawai dapur kadipaten Surabaya. Nyi Sakirah ahli masak lontong yang bikin semangat untuk maju. Cak Ning menamakan lontong balap. Supaya penggemar punya semangat balap. Yakni balapan untuk kerja.

Cak Ning adalah sebutan untuk Gusti Raden Mas Rahmat Kuning. Arek Surabaya ini cucu Bupati Surabaya, Pangeran Pekik.

Raden Rahmat Ning Sebagai Arek Surabaya memang terkenal pintar, trampil, ramah, tamah, berbudi luhur, berjiwa besar. Tiap hari memberi dana jasa pada sesama.

Kelak Rahmat Kuning atau Cak Ning jadi Raja Mataram. Bergelar Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya. Beliau memindahkan Ibukota dari Plered ke Kartasura.

Siapakah Sunan Amangkurat Surabaya itu?

Amangkurat II disebut juga Sunan Amangkurat Surabaya atau Amangkurat Amral. Beliau menjadi raja Mataram yang beribukota di Kartasura tahun 1677 – 1703. Beliau lahir di kota Surabaya. Ibunya bernama Kanjeng Ratu Wetan atau Kanjeng Ratu Mas, putri Pangeran Pekik Bupati Surabaya.

Nama asli Amangkurat II yaitu Raden Rahmad Kuning. Orang umum juga menyebut dengan julukan Rahmat Ning. Lebih populer disebut Cak Ning. Ayah Raden Rahmat Ning bernama Sri Susuhunan Amangkurat Agung raja Mataram yang beribukota di Pleret tahun 1645 – 1677. Ibu Rahmat Kuning bernama Kanjeng Ratu Wetan. Garwa prameswari raja Mataram ini pintar dan kawentar.

Sejak kecil Raden Rahmad Kuning atau Rahmat Ning diasuh oleh kakeknya yang bernama Pangeran Pekik bupati Surabaya. Bersama dengan neneknya yang bernama Ratu Pandansari Raden Rahmad Kuning dididik dan dibesarkan sebagaimana arek Surabaya. Maka disebut Sunan Amangkurat Surabaya.

Secara historis biografi Raden Rahmad Kuning atau Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya tertulis dalam Kitab Babad Tanah Jawi. Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram oleh Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya tahun 1677. Letak Kartasura amat strategis. Terhubung langsung dengan jalur penting kota di pesisir dan pedalaman. Umbul Cakra dan Pengging mengalir ke Kartasura dan bertemu di Kali Larangan. Tanah subur di bawah kaki Gunung Merapi Merbabu. Mata air dari Gunung Sewu mengalir sampai selat Madura.

Pada masa kejayaan Kraton Mataram Kartasura, berkembang pesat kesusasteraan, kesenian dan kerajinan. Kitab kitab Jawa klasik diolah menjadi sastra dengan metrum macapat. Babad Tanah Jawi, Serat Menak, Serat Kandha dan Serat Panji diproduksi besar besaran. Kurun waktu antara tahun 1677-1745 Kartasura menjadi pusat pembelajaran seni kerawitan, tari dan pedalangan. Kerajinan gamelan dan wayang diekspor sampai ke Asia Timur, Selatan, Barat, dan Tengah. Sebagian dipasarkan di negeri Eropa.

Puncak puncak kebudayaan gagrag Kartasura berkontribusi besar terhadap peradaban global. Dunia berhutang budi pada produktivitas, kreativitas dan aktivitas kebudayaan Kartasura. Warisan luhur yang mendapat apresiasi. Ibukota Mataram Kartasura dibangun oleh Sri Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya pada tahun 1677. Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram karena letaknya sangat strategis. Jalur utama yang menghubungkan kawasan penting di Pulau Jawa. Arah utara menuju kota Semarang. Arah barat menuju ke daerah Yogyakarta. Arah timur menuju kota Surabaya. Sejak dulu kala Kartasura menjadi pusat bisnis terbesar di Jawa bagian Selatan.

Itulah alasan Sinuwun Amangkurat II atau Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya menjadikan Kartasura sebagai pusat pemerintahan Mataram. Bila mata memandang ke arah barat, tampak megah gunung Merapi dan gunung Merbabu. Dua gunung kembar ini berdiri kokoh seolah olah gapura jagad. Waktu orang bangun tidur pada pagi hari gunung Merapi dan gunung Merbabu begitu indahnya. Ganjaran Tuhan yang besar dan mengagumkan.

Tatapan mata ke arah timur kelihatan begitu agung anggunnya gunung Lawu. Berbeda dengan gunung Merapi dan gunung Merbabu, suasana gunung Lawu tampak lebih angker, magis, mistis. Di sinilah Raden Gugur putra Prabu Brawijaya bertapa dan muksa. Maka orang banyak menjalankan tapa brata, semedi dan meditasi di Gunung Lawu. Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya tiap bulan Sura memimpin upacara ritual di Gunung Lawu. Beliau bermeditasi beserta para pengawal kerajaan.

Gunung Sewu sebagai mata air Bengawan Solo tampak dari arah selatan. Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya berkunjung ke Kahyangan Dlepih Tirtomoyo Wonogiri. Beliau lelaku tapa brata untuk meneruskan tradisi yang dijalankan Panembahan Senopati.

Liputan JUGA  Sejarah Pesanggrahan Pracimoharjo di Lereng Gunung Merapi

Semua makhluk halus yang ada di sepanjang gunung Sewu tunduk para raja Mataram. Bahkan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa pantai selatan pun dan bala tentaranya berserah diri pada raja Mataram beserta keturunannya.

Saat menghadap ke utara terlihat pegunungan Kendheng. Di sini tokoh Mataram banyak dijumpai. Misalnya Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Penjawi. Makam tokoh mulia ini sangat dihormati oleh keluarga Mataram. Betapa kayanya gunung Kendheng. Ada kayu jati, batu kapur, minyak tanah, gas bumi, pari gaga dan burung perkutut. Semua berkualitas ekspor. Dunia berebut untuk menguasai gunung Kendheng. Kekayaan dunia yang berlimpah ruah. Kerajaan Kartasura turut membangun Gunung Kendheng.

Raden Rahmat Kuning atau Raden Rahmat Ning bergelar Sinuwun Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya. Segera melakukan pembangunan di segala bidang.

Dhandhanggula

Kang cinatur sejarah Matawis.
Wusnya Nata Agung Hamangkurat.
Surut haneng Galwangine.
Kuthagara Kedhatun.
Pleret dinulu wus lawas sami.
Marma tan pantes dadya.
Pusering praja gung.
Sigra Sang Baginda arsa.
Ngalih amrih lumastariya kang negri.
Rinembak lan pra Patya.

Tan tinulis panitiking siti.
Kang pinangka hangalih nagara.
Padene dhatulayane.
Pindahnya wus tinamtu.
Hawit dene hanguciwani.
Titi sajumenengnya
Amral kang Sinuhun.
Mapan wus wineceng jangka.

Tamat babad Pleret bawa boyong wukir.
Tilar tilas tan kocap.
Yen sinungging pra bebedra sami.
Sengkut bikut genya nambut karya
Datan ngungak reriwene
Hamangkurat jejuluk
Ping dwi wus purna hangyasani
Kadhaton wanakarta
Tuhu sinengkuyung
Sing pra hangadhep Jeng Sunan
Kukuh bakuh tanggap cobaning. Hyang Agung
Hagal halus kang dhumawah.

Begitulah usaha arek Surabaya membangun ibukota Kraton Mataram Kartasura. Raden Rahmat Kuning atau Raden Rahmat Ning telah dinobatkan sebagai raja Mataram sejak tahun 1677. Daratan yang menjadi sumber air abadi.

Cakra Pengging

Gumrojog banyu bening
tuking gunung umbul Cakra Pengging
mili ngetan tumuju Kali Larangan
Kartasura Surakarta sakbanjure
mili neng bengawan gedhe.

Lagu ini cukup jelas menggambarkan lingkungan Kartasura. Daratan luas yang subur terbentang dari wilayah Prambanan, tepat sebelah timur Kali Opak. Dari hulu Gunung Merapi mengalir Kali Dengkeng yang bergabung dengan Bengawan Solo. Sawah dengan kualitas terbaik menjadikan kanan kiri Kartasura sebagai lumbung beras. Sepanjang sejarah padi terus menerus berbuah. Kebun tembakau, teh, duren, palawija beraneka rupa.

Ciri khas orang Kartasura adalah pandai masak. Kuliner dari yang murah sampai paling mahal jelas tersedia. Jajanan memanjakan lidah. Lauk pauk berjenis-jenis. Ragam minuman berkelas pasti ada. Dalam hal makanan orang Kartasura terlalu sensitif. Harus enak, gurih dan nyamleng. Dari dulu sampai sekarang prinsip itu dipegang teguh. Biar orang mlarat sekalipun, soal makan tetap harus enak. Justru karena miskin, maka harus pintar bikin bumbu. Supaya bahan sederhana pun tetap enak gurih.

Sepanjang jalan Kartasura ramai jualan makanan. Nasi liwet, timlo, bebek goreng, jenang, jadah, wajik, wedang, cemoe, rondhe siap untuk dihidangkan. Raja Amangkurat Amral mengundang koki dari seluruh pelosok dunia. Juru masak istana dilatih untuk meningkatkan mutu bumbu. Jangan sampai ketinggalan jaman. Hidangan gaya Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur dipelajari. Tak ketinggalan ragam masakan Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis dan Portugis juga diajarkan pada koki istana.

Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya terkenal sebagai juru masak handal. Kerap beliau terjun langsung di Sasana Gandarasan yang menjadi pusat dapur istana Kartasura. Terlebih lebih eyang kakungnya yaitu Pangeran Pekik adalah Adipati Surabaya yang menguasai Tanjung Perak.

Pelabuhan ini berkembang pesat. Pusat bisnis terbesar di Nusantara bagian timur dan tengah. Pangeran Pekik membantu cucunya untuk membangun istana Kartasura. Sebagai pelaku bisnis yang kaya raya, mudah baginya untuk memajukan kerajaan Mataram Kartasura.

Ratu Adipati Surabaya misuwur. Istri Pangeran Pekik bernama Ratu Pandhansari. Eyang putri Amangkurat II ini terkenal sebagai saudagar perhiasan. Emas, perak, intan, permata sering dikirim ke mancanegara. Bahkan ratu Pandhansari memiliki usaha perak di Kota Gedhe, industri alat rumah tangga di Sidoarjo dan ukir ukiran di Jepara. Boleh dikata Ratu Pandhansari yang juga adik Sultan Agung ini adalah pengusaha kaya raya. Bahkan beliau punya usaha budidaya mutiara di kawasan Nusa Tenggara.

Dari usaha eyang kakung dan eyang putri ini, Sri Susuhunan Amangkurat Amral menjalin bisnis dengan kontraktor, korporasi dunia, bisnisman internasional. Kraton Mataram Kartasura berdiri megah, mewah dan indah. Rakyat bahagia sejahtera lahir batin. Kraton dibangun dengan swadaya. Kraton tidak punya hutang. Semua tercukupi sendiri.

Silsilah Sunan Amangkurat II. Kutipan dalam bahasa Jawa secara lengkap jangkep genep genah.

Putra Dalem Ingkang Sinuwun Prabu Hamengkurat Agung, ingkang nomer 1, miyos saking garwa G.K.R. Putrinipun Pangeran Pekik Surabaia patutanipun kaliyan. G.K.R. Wandhansari. Rayi Dalem Ingkang Sinuwun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat Amral asma Raden Mas Rahmat Kuning utawi Raden Rahmat Ning.

Asalsilahipun Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat II Amral Saking Ibu dalem G.K.R Pambayun.

Sunan Ampel Denta, peputra: Pangeran. Surabaiat peputra: Pengeran Pekik Surabaik, peputra: G.K.R.Pambayun G.K.R. Kulon, Prameswari dalem Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat Agung, peputra: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat II Amral atau Raden Mas Kuning atau Raden Rahmat Ning.

Ingkang Sinuwun mindhahaken Kraton Pleret dhumateng Wonokerto, awit sampun risak. Wonokerto kanamekaken Kartasura Hadiningrat. Punika Ingkang Sinuwun Prabu Amangkurat Surabaya.

Untuk mendukung keterangan di atas dapat dikemukakan juga komunikasi antara panembahan Adilangu. Dalam peristiwa diketemukan percakapan langsung antara Adilangu dengan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya cukup memperlihatkan unggah ungguhing basa.

Kadhaton enggal kanamekaken Kraton Kartasura. Pindhahipun nyarengi dinten Rebo Pon 27 Ruwah Alip 1603. Negari dalem kaparingan nama Kartosura Hadiningrat, ingkang wonten gandhengipun kalian Surabaya.

Dhandhanggula

Sang aprabu prapteng Wanakarti.
Gumarudug sawadya bala.
Kawula lan sentanane.
Kadya sinebut sebut.
Katon sunya hangrasa wani.
Ya sinangkalaning candra.
Ri Buda Pon nuju.
Kaping pitulikur Ruwah.
Alip sewu nenemhatus telu dadi.
Kartasura Diningrat.

Perpindahan ibukota Mataram dari Pleret ke Kartasura banyak didatangkan tenaga dari kota Surabaya. Tenaga ahli dari Surabaya sudah terbiasa membangun dan merencanakan kemegahan kota.

Trah Pangeran Pekik penuh dengan keteladanan. Raden Rahmat Kuning adalah cucu Pangeran Pekik yang membanggakan arek Surabaya.

Cocok benar dengan Sejarah rujak cingur dan lontong balap. Kedua makanan tradisional Surabaya tampil sebagai menu kebanggaan.

Pujangga Kraton yang pernah memimpin upacara wilujengan karena diutus raja. Misalnya Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Tantular dan Empu Prapanca. Pangeran Pekik meneruskan tradisi leluhur yang pernah memimpin Surabaya.

B. Amangkurat Surabaya.

Liputan JUGA  Ir H Soekirman Mewujudkan Ketahanan Pangan

Perlu ditelusuri riwayat hidup Amangkurat Surabaya yang lahir dari Ratu Mas. Beliau Permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung 1645 – 1677. Lahir Raden Mas Rahmat Kuning atau Cak Ning. Kelak bergelar Sinuwun Amangkurat Amral.

Istri Pangeran Pekik bernama Ratu Pandansari. Adik Sultan Agung raja Mataram ini terkenal sebagai wanita pengusaha yang tangguh.

Kinanthi.

Kukusing dupa kumelun. Ngeningken tyas sang apekik. Kawengku sagung jajahan. Nanging sanget angikibi. Sang Resi kaneka putra. Kang anjog saking wiyati.

Ratu Pandansari belajar sejarah Surabaya masa silam. Empu Kanwa memimpin upacara wilujengan di Hulu kali Jagir. Pujangga istana Kahuripan ini diutus Prabu Airlangga.

Kidungan mantra sakti dibaca dari kitab Arjuna Wiwaha. Diikuti oleh abdi dalem pamethakan. Upacara berjalan magis wingit.

Tiap kali ada upacara kerajaan Kahuripan, raja Airlangga memesan makanan tradisional. Koki kerajaan dilatih sebagai juru masak istana.

Lontong Balap dan Rujak cingur menu favorit bangsawan kerajaan Kahuripan. Juru masak berasal dari Bungurasih dan tanggulangin.

Kejayaan bangsa perlu diperjuangkan. Arek Surabaya berusaha untuk mewujudkan kemakmuran. Raden Rahmat Kuning atau Amangkurat Surabaya telah berjuang dengan segenap tenaga dan pikiran.

Amangkurat Surabaya belajar pembangunan fasilitas kota. Pembangunan jalan raya dan pelabuhan dipelajari dengan cermat.

Terkenalnya pelabuhan Tanjung Perak Surabaya didukung oleh lagu yang atraktif dan kreatif. Lagu ini berjudul Tanjung Perak. Kerap dikumandangkan lewat siaran radio. Juga dalam pementasan wayang kulit dan ludruk suka melantunkan lelagon Tanjung Perak. Terlebih lebih lagu Tanjung Perak ini mengandung unsur informatif dan suasana rekreatif.

Lagu Tanjung Perak

Thit thit thuwit dhar
Damar mati muliha
Siti lenga pasar sapi mati semar mendem
Dho remi mi fa sol jenang dodol geyal geyol

Mi re mire tahu tempe enak rasane
Waktu terang bulan, udara bersinar terang
Teranglah sekali di kotalah Surabaya
Belum brapa lama saya duduk dengan bimbang
Datang kawan saya, Mas Bambang itu namanya
Ayo rame rame dayang kota Tanjung Perak

Panggil satu taksi kita soraklah bersorak, taksi
Tanjung Perak tepi lau
Siapa suka boleh ikut
Sama bapak, ibu, sing kuru, sing lemu
Minang kacung babu koki
Tanjung Perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Bawa gitar kranjang piul
Jangan lupa bawa anggur
Tanjung Perak tepi laut
Tanjung Perak tepi laut

Dengan demikian adanya lagu Tanjung Perak itu menjadi promosi bagi aktivitas kerja pelabuhan yang terletak di kota Surabaya. Lagu Tanjung Perak ini banyak lucunya. Tanda hubungan sosial yang dekat dan akrab. Berlatar kota Surabaya dan menu Jawa Timuran. Menggunakan idiom plesetan yang bikin ketawa.

Dalam sejarahnya pelabuhan Tanjung Perak telah dikenal sejak jaman kerajaan Medang Kamulan, Kahuripan, Daha, Jenggala, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Mataram, dan Surakarta Hadiningrat. Pelabuhan Tanjung Perak digunakan sebagai sarana lalu lintas barang dan jasa. Barang ekspor impor melalui pelabuhan Tanjung Perak sebagai pendukung perputaran roda ekonomi.

Jaman kerajaan Medang Wetan dipimpin oleh Prabu Darmawangsa Teguh, pelabuhan Tanjung Perak dibangun di daerah Perak Pabean Cantihan Surabaya. Pelabuhan Tanjung Perak saat itu sudah dilengkapi dengan terminal peti kemas. Dari pelabuhan Tanjung Perak ini berhubungan pula dengan Pelabuhan Ujung yang menuju pelabuhan Kamal Bangkalan.

Pada jaman kerajaan Kahuripan dipimpin oleh Raja Airlangga, pelabuhan Tanjung Perak semakin maju dan berkembang. Banyak pegawai dan administratur pelabuhan Tanjung Perak yang diambil dari warga Bali. Prabu Udayana sebagai ayah Airlangga turut pula membantu kelancaran Tanjung Perak dengan mengirim tenaga ahli dan trampil.

Begitulah suasana pelabuhan Tanjung Perak pada masa kerajaan Medang Wetan dan kerajaan Kahuripan. Kerajaan Kahuripan beribukota di Surabaya. Sebelumnya kerajaan Kahuripan bernama Medan Wetan yang beribukota di Mojokerto. Dulu rajanya Prabu Darmawangsa Teguh dan Empu Sindok.

Kota Surabaya dibangun oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Airlangga. Kepemimpinan Airlangga merupakan perpaduan antara budaya Bali, Jawa dan Kalimantan Timur. Asal usulnya dari beragam etnis, membuat dirinya toleran atas keberagaman.

Ayahnya adalah Prabu Udayana, maharaja bijaksana dari Bali. Ibunya dari Kutai, keturunan raja Mulawarman. Namanya Ratnawarman. Dia putri bangsawan yang trampil berbisnis. Usahanya meliputi kayu besi, kain tenun songket, perhiasan emas, pelayaran dan perkapalan. Ketika menjadi the first Lady di Istana Bali, tentu masyarakat bertambah makmur. Pemuda dilatih, dididik dan bekerja sesuai dengan ketrampilan.

Dalam suasana kejayaan itulah Airlangga mengalami pendidikan kebangsawanan. Prabu Udayana besanan dengan Prabu Darmawangsa Teguh. Raja Medang Martabumi ini punya gadis jelita. Bernama Prabasasi. Pernikahan Airlangga dengan Prabasasi berlangsung pada tanggal 21 April 1006.

Pesta pernikahan agung dilaksanakan besar besaran. Tiap hari berkumandang gendhing mat-matan. Para penyanyi diundang bergiliran. Malam harinya dipentaskan wayang kulit semalam suntuk. Lakon diambil dari cerita adiparwa. Dipilih cerita yang mengandung nilai filosofis tinggi. Terutama yang berkaitan dengan teladan membangun rumah tangga.

Upacara pernikahan di Kraton Medang Martabumi dilanjutkan dengan tradisi sepasaran. Sebulan kemudian Prabu Udayana merayakan ngundhuh mantu. Hadir dalam pesta selapanan ini raja Samudra Pasai, Raja Baru, raja Bugis, Raja Banjar, raja Melayu, raja Maluku, raja Makassar, raja Nusa Tenggara. Duduk pada deretan tamu kehormatan yaitu Fatimah Binti Maimun dan Maulana Malik Ibrahim tokoh muslim dari kewalian Gresik.

Turut mengundang keluarga besar kerajaan Kutai. Permaisuri Ratu Ratnawarman mengumumkan tidak menerima sumbangan dari mana pun. Maklum Ratu Ratnawarman seorang pengusaha kaya raya. Soal pesta pasti sudah tersedia yang berlimpah ruah. Acara ngundhuh mantu baginya menjadi kesempatan untuk menjamu warga Bali. Sang permaisuri raja Udayana terkenal pemurah dan ramah tamah.

Roda perekonomian semakin lancar dengan dibangunnya pelabuhan Tanjung Perak. Hasil perkebunan dari Kediri, peternakan Mojokerto, sayur-mayur Ngawi, dan bumbu pecel Madiun dikirim ke luar pulau lewat pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Demikian pula buah apel Malang dipasarkan pula oleh keluarga kerajaan Kahuripan. Rakyat pun bertambah makmur.

Barang dan jasa dari mancanegara diimpor kerajaan Kahuripan lewat pelabuhan Tanjung Perak. Tenaga profesional dan disiplin membuat jalannya ekonomi menjadi lancar, gancar. Keuntungan usaha pelabuhan ini digunakan untuk pembangunan di segala bidang.

Perlu diketahui sejarah perjuangan para pendidikan pelabuhan Tanjung Perak yang menjunjung nilai heroisme. Prabu Darmawangsa Teguh beserta Ratu Sudisna sungguh sangat berbahagia. Putri satu satunya telah berumah tangga. Berarti telah mentas. Sebagai orang tua hidupnya sudah merasa tutug.

Masa depan kerajaan Medang Martabumi dibicarakan bersama nayaka dan sentana. Sidang penting ini dipimpin oleh perdana Menteri Narotama. Hasilnya musyawarah ini cukup mengejutkan. Pada tahun 1110 Prabu Darmawangsa Teguh memutuskan untuk lengser keprabon madeg pendeta.

Pembicaraan suksesi kerajaan Medang pada Martabumi cukup alot, panas, melelahkan. Fraksi fraksi kerajaan mengalami polarisasi. Ada dua kubu yang sangat dominan. Kubu Ginantar bersaing dengan kubu prameswari Sudisna. Dalam voting permusyawaratan, kubu prameswari Sudisna unggul.

Kubu Ginantar tersingkir dan tidak puas. Sedangkan Prabu Darmawangsa Teguh sendiri tak mau bicara politik. Sang Prabu menjadi pertapa di Ngetos lereng gunung Wilis. Di Pertapan Ngetos ini Begawan Darmawangsa Teguh mengajarkan kama arta darma muksa.

Liputan JUGA  Sejarah Pulau Samosir

Kekuasaan Kerajaan Medang Martabumi untuk sementara dipegang Patih Narotama. Akan tetapi, Rakyan Ginantar merasa berhak atas tahta. Sebetulnya Rakyan Ginantar adalah adik tiri Prabu Darmawangsa Teguh lain ibu. Lahir dari garwa selir. Pelan pelan dia menyusun kekuatan.

Konsolidasi politik berpusat di Kadipaten Wora Wari. Ketika para pembesar Kerajaan berkunjung ke daerah Blambangan, tiba tiba ada insiden yang mengejutkan. Rakyan Ginantar berusaha merebut kekuasaan. Modusnya dengan nabok nyilih tangan. Preman bayaran disuap untuk membuat kerusuhan.

Pembesar Kerajaan Medang Martabumi segera bertindak cepat. Patih Narotama menunjuk Airlangga sebagai panglima keamanan. Markasnya di Sumoroto Ponorogo. Pendidikan militer sewaktu hidup di Bali kali ini diuji di lapangan.

Segera Airlangga kontak dengan para bupati pesisir dan Bang Wetan. Dalam tempo sepasar keamanan pulih kembali. Jasa besar Airlangga ini menjadi inspirasi warga kerajaan Medang Martabumi untuk mendaulat Airlangga sebagai raja. Mbata rubuh surake wadya gumuruh. Semua sepakat.

Punggawa dan rakyat bertekad bulat. Airlangga harus menjadi pemimpin kerajaan. Atas restu dan saran Ibu Ageng prameswari Ratu Sudisna nama Medang Martabumi diganti menjadi kerajaan Kahuripan. Penobatan Prabu Airlangga dihadiri oleh Paguyuban raja nusantara.

Tamu undangan dari Tiongkok, Hindustan, Srilanka pun datang. Bahkan utusan Kasultanan Mamluk dari Kairo Mesir mendapat kursi kehormatan. Namanya Syekh Magribi Jumadil Kubro. Beliau akhirnya menikah, Dewi Patmirah putri Adipati gegelang. Hubungan kerajaan Kahuripan dengan Kasultanan Mamluk Mesir semakin akrab.

Atas restu dan saran Ibu Ageng prameswari Ratu Sudisna nama Medang Martabumi diganti menjadi kerajaan Kahuripan. Penobatan Prabu Airlangga pada tanggal 31 Mei 1110 dihadiri oleh Paguyuban raja nusantara. Tamu undangan dari Tiongkok, Hindustan, Srilanka pun datang.

Bahkan utusan Kasultanan Mamluk dari Kairo Mesir mendapat kursi kehormatan. Namanya Syekh Magribi Jumadil Kubro. Beliau akhirnya menikah, Dewi Patmirah putri Adipati gegelang. Hubungan kerajaan Kahuripan dengan Kasultanan Mamluk Mesir semakin akrab.

Hubungan dagang antara negara melalui pelabuhan Tanjung Perak. Berkaitan dengan itu pengelola pelabuhan pun dituntut untuk menguasai seluk beluk ekonomi kenegaraan.

Arek Surabaya yang diwakili Raden Rahmat Kuning cukup meyakinkan. Dari Surabaya arek Surabaya punya kesempatan membangun kerajaan Mataram.

Ulasan tentang lontong balap selalu menyertai perjalanan sejarah Kahuripan, daha, Jenggala, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram.

Kraton Jawa melalui Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari ini selalu menyelenggarakan tata cara adat. Sesaji di Kali Jagir untuk keselamatan bersama.

C. Ratu Mas Surabaya.

Putri Pangeran Pekik bernama Kanjeng Ratu Mas Surabaya. Beliau garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Agung. Kerap melakukan meditasi.

Kali Jagir dijaga oleh seger makhluk halus. Tiap tahun diberi sesaji tirtabaya oleh abdi dalem Purwo Kinanthi. Mereka adalah petugas kerajaan Mataram yang melakukan upacara ritual.

Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari memimpin upacara sesaji. Dibantu oleh juru kunci dari daerah Tambaksari, Wonokromo dan Genjeran.

Makhluk halus itu suka olahan tradisional. Wisata kuliner sudah berlangsung sejak jaman Kerajaan Kahuripan. Lontong balap digunakan untuk menjamu tamu negara.

Dalam perjalanan sejarah selalu ada pelajaran. Kebijaksanaan hidup berasal dari keteladan leluhur. Termasuk wisata kuliner rujak cingur dan lontong balap.

Arek Surabaya berhasil menjadi raja Mataram. Raden Rahmat Kuning kebanggaan warga Jawa Timur. Dengan gelar Amangkurat Surabaya. Pelopor pengembangan kota bisnis ini kerap belajar sejarah masa silam. Misalnya pembangunan pelabuhan.

Penggunaan pelabuhan Tanjung Perak ditujukan untuk memperlancar jalannya lalu lintas barang dan jasa. Faktor keamanan, kedisiplinan dan keteraturan yang menjadi hal pokok yang diutamakan. Pengelola pelabuhan pun dibekali dengan ilmu manajemen yang berwawasan bisnis global.

Surabaya benar-benar dirancang sebagai kota metropolitan sejak jaman Prabu Airlangga berkuasa. Kerajaan Kahuripan menempatkan Surabaya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Airlangga boleh dikata orang sangat beruntung. Dia mendapatkan warisan dua tahta. Dari kerajaan Bali dan Kahuripan.

Faktor geneologi memang sah adanya. Aspek kecakapan, kemampuan, kejujuran, ketampanan, kepribadian lebih dari cukup. Didukung pula harta benda dari ibunya. Kelayakan untuk menjadi raja ditunjukkan dengan prestasi gemilang. Bidang pertanian mendapat perhatian prima dari raja Airlangga. Daerah selatan gunung Renteng sangat subur.

Logistik pangan harus tersedia sewaktu waktu. Pertanian jadi fokus perhatian. Sawah membentang dari gunung Lawu ke timur.

Utara gunung Wilis dan Kelud cocok untuk lumbung padi. Wilayah sekitar gunung Arjuno, Semeru dan Bromo baik sekali untuk budidaya peternakan dan perkebunan. Kopi, teh, ceh tumbuh bagus. Buah pisang, pepaya, mangga, apel, surikaya, jambu, manggis, salak mendatangkan kemakmuran. Raja Airlangga bekerja keras. Negerinya tak boleh impor beras.Kerajaan Kahuripan dengan pusat menejemen di Surabaya berhasil swasembada pangan. Pada tanggal 17 Januari 1112 Prabu Airlangga membangun lumbung desa di daerah Wonokromo.

Kawasan sekitar gunung kendheng diolah sebagai sumber komoditas. Hutan jati, semen, minyak diusahakan dengan teliti. Tidak boleh usaha yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang kehutanan dan pertambangan dibina.

Keuntungan harus bisa nikmati oleh sekalian warga negara. Menejemen perekonomian ini berkat didikan ibunda Ratu Ratnawarman. Kelestarian lingkungan gunung kendheng pun terjaga dengan baik. Kaum terpelajar juga dilibatkan dalam pengelolaan alam.

Pantai utara pulau Jawa dikelola raja Airlangga dengan prinsip menejemen maritim. Pesisir utara yang meliputi daerah Gresik, Lamongan, Tuban, dan Semarang jelas cocok untuk kehidupan nelayan. Oleh karena itu kerajaan Kahuripan membangun pelabuhan.

Pelayaran pun jadi lancar. Perahu perahu mengangkut kerajinan ukir ukiran Jepara. Pabrik trasi dibangun di Lasem Rembang. Hasil nelayan meningkat. Perdagangan mendatangkan keuntungan. Devisa negara pun surplus. Kehidupan rakyat Kahuripan jelas subur makmur.

Pusat pemerintahan berada di kota Surabaya. Kerajaan Kahuripan menata birokrasi yang efektif efisien. Sistem pemerintahan diisi oleh orang yang punya kapabilitas dan integritas. Pelayaran umum berjalan lancar rakyat puas. Mereka bekerja tenang.

Pemimpin Surabaya punya gawe besar tiap bulan Mei. Semua warga kerajaan aktif, kreatif dan inovatif. Produksi barang dan jasa maju sekali. Pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Emas ramai sekali. Lalulintas tak ada hambatan. Birokrasi kerajaan Kahuripan yang berlokasi di Surabaya tampil bersih dan berwibawa.

Sekses gemilang raja Airlangga dalam pembangunan Surabaya juga berdampak pada kreasi kebudayaan. Empu Kanwa diberi tugas untuk menyusun kitab Kakawin Arjuna Wiwaha.

Kisah Kakawin ini legendaris. Tahun 1760 kitab ini direka ulang Sinuwun Paku Buwono lll, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Pada tahun 1966 diteliti oleh Subalinata dalam bentuk skripsi. Dr Kunthara Wiryamatana, dosen fakultas Sastra UGM membahas karya jaman Airlangga. Disertasi ini menunjukkan kerajaan Kahuripan sebagai contoh pengembang kebudayaan yang agung dan anggun. Surabaya mewarisi peradaban yang utuh, sepuh dan tangguh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.