Liputan BERITA

Vaksin COVID-19, Benarkah Bisa Membangun Kekebalan? Berikut Penjelasan IDI Pacitan Terkait Disease COVID-19 dan Influenza Serta Dampak Komplikasinya

Ditulis oleh Liputan68 pada 3 Juli 2024 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Empat tahun sudah bencana non alam coronavirus disease COVID-19 berlalu dari bumi Pacitan.

Sekarang ini, interaksi sosial sudah kembali normal seperti sediakala. Namun begitu, tak sedikit masyarakat yang mengalami kegalauan beriringan dengan pelaksanaan vaksinasi COVID-19.

Benarkah vaksinasi itu bisa membangun kekebalan terhadap serangan virus asal Wuhan, China tersebut serta serangan influenza pada umumnya?

Berikut penjelasan Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pacitan, Johan Tri Putranto.

Johan mengatakan, influenza atau juga dikenal dengan flu adalah kondisi medis yang ditandai dengan batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, dan sakit kepala.

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus yang dapat menyebar melalui percikan atau cipratan air liur (droplet) dari penderita flu.

“Pengertian flue atau influenza adalah gangguan sistem pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus. Kondisi ini sering kali terjadi ketika memasuki musim pancaroba karena cenderung mudah menular ke orang lain, terutama pada 3 –4 hari pertama saat penderitanya terinfeksi oleh virus flue,” ujar dokter umum yang saat ini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha RSUD dr Darsono Pacitan, dalam siaran persnya, Rabu (3/7).

Menurut Johan, flue adalah kondisi yang kerap disamakan dengan common cold atau selesma. Walaupun memiliki gejala yang serupa, dua kondisi tersebut disebabkan oleh virus yang berbeda.

Selain itu, gejala influenza juga cenderung lebih parah hingga sering kali mengganggu aktivitas pengidapnya dan dapat terjadi secara mendadak.

Sementara itu, gejala selesma biasanya cenderung ringan dan terjadi secara bertahap.

Lantas apa penyebab utama dari flue? Johan menegaskan, penyebab utama flue adalah infeksi virus influenza.

Virus tersebut dapat menyebar dengan mudah ketika menghirup percikan air liur di udara (droplet) dari penderita flu saat bersin atau batuk. “Penularan juga bisa terjadi saat tangan yang terkena percikan air liur penderita flue tersebut menyentuh mulut, hidung, atau mata,” jelas dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala UPT Puskesmas Gondosari, Kecamatan Punung, Dinas Kesehatan Pacitan ini pada wartawan.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami flu, diantaranya adalah:

1. Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya karena mengidap penyakit HIV/AIDS.

2.Tubuh dalam kondisi yang tidak prima karena kurang istirahat.

3. Sedang hamil atau baru melahirkan.

4. Balita dan lansia.

5. Menderita kondisi medis tertentu, seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau obesitas.

6.Tinggal atau bekerja di fasilitas umum, seperti panti jompo, asrama, dan lain -lain.

7. Sering kontak langsung atau menggunakan peralatan pribadi bersama dengan penderita flu.

Gejala flue pada umumnya, hampir serupa dengan common cold. Namun, berbeda dengan common cold, gejala flu biasanya akan menyerang secara tiba -tiba, cenderung lebih parah, mengganggu aktivitas penderitanya, dan dapat berlangsung lebih lama.

Adapun sejumlah gejala umum flue adalah sebagai berikut:

1. Pilek.

2. Hidung tersumbat.

3. Demam.

4. Menggigil.

5. Batuk.

6. Bersin-bersin.

7. Nyeri tenggorokan.

8. Nyeri kepala.

9. Lemas.

10. Mual dan/atau muntah.

11. Nyeri otot.

12. Tidak nafsu makan.

“Gejala-gejala tersebut biasanya akan muncul dan memberat pada 2 –3 hari setelah terinfeksi oleh virus influenza.

Umumnya, gejala flu akan mereda dalam waktu kurang dari 1 minggu. Namun, gejala berupa batuk dan lemas kemungkinan dapat berlangsung lebih lama sampai beberapa minggu,” jlentrehnya.

Komplikasi flue aabila tidak ditangani dengan tepat atau jika terjadi kekambuhan atau perburukan dari influenza, maka influenza juga berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi

Seperti misalnya:

1. Infeksi telinga.

2. Serangan asma.

3. Pneumonia.

4. Gangguan jantung.

5. Bronkitis.

6. Meningitis.

7. Ensefalitis (radang otak).

8. Sepsis.

Masih dikesempatan yang sama, Johan juga menyampaikan bahwa diagnosis flue dapat dilakukan melalui anamnesis atau wawancara medis untuk mengetahui keluhan dan riwayat penyakit yang dialami oleh pasien.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi tanda -tanda flu serta yang muncul secara fisik.

“Jika diperlukan, pemeriksaan penunjang berupa tes laboratorium juga dapat dilakukan, terutama jika gejala flu telah berlang sung selama lebih dari 10 hari,” tegasnya.

Flu itu sendiri, adalah kondisi yang normalnya dapat mereda dengan sendirinya (self-limiting disease).

Namun, untuk mempercepat proses pemulihan dari flu, terdapat sejumlah perawatan mandiri yang bisa dilakukan di rumah, di antaranya adalah, perbanyak istirahat, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, mencuci tangan secara rutin untuk menghindari penyebaran virus flu dari dan ke orang lain, menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin menggunakan tisu, lalu buang tisu tersebut ke tempat sampah, mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih kurang lebih 2 liter/hari serta mengonsumsi jus buah atau sup hangat untuk mencegah dehidrasi, dan mengonsumsi obat dekongestan sesuai anjuran dokter untuk membantu meredakan gejala hidung tersumbat.

Termasuk juga mengonsumsi obat penurun demam dan pereda nyeri, seperti misalnya parasetamol sesuai anjuran dokter untuk meredakan gejala demam dan nyeri otot.

Namun, ada beberapa jenis flu, seperti misalnya flu burung, yang dapat menimbulkan gejala yang tergolong berat sehingga tidak dapat ditangani secara mandiri.

Karena itu, segera kunjungi dokter apabila mengalami gejala flu yang tergolong berat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

Sebagai informasi lebih lanjut, apabila seseorang terkonfirmasi menderita flu burung, maka orang tersebut akan dirawat di ruang isolasi untuk meminimalkan risiko penyebaran virus.

Lalu, dokter akan menangani pasien flu burung dengan meresepkan obat antivirus, seperti zanamivir atau oseltamivir untuk mempercepat penyembuhan serta mencegah risiko komplikasi.

Gejala influenza juga memiliki kemiripan dengan COVID -19. Namun, perlu diketahui bahwa influenza biasanya tidak menimbulkan sesak napas seperti gejala COVID -19.

Terakhir, bagaimana cara mencegah flue? Johan mengatakan, sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan meminimalkan risiko terjadinya flu adalah sebagai berikut:

1. Menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan di sekitar.

2. Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer saat sebelum dan sesudah makan, setelah memegang fasilitas umum, dan setelah menggunakan toilet.

3. Tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan.

4. Tidak menggunakan barang pribadi dan alat makan bersama -sama.

5. Melakukan vaksinasi influenza secara rutin.

6. Menggunakan cairan disinfektan untuk membersihkan permukaan benda yang sering disentuh.Namun, jika sudah terserang flu, terdapat sejumlah hal yang perlu dilakukan untuk meminimalkan penularan virus ke orang lain, di antaranya:

A. Menggunakan masker saat ke luar rumah.

B. Menghindari kontak langsung dengan orang lain, paling tidak hingga 24 jam setelah demam turun.

C. Menutup hidung dan mulut menggunakan tisu bersih saat sedang batuk dan bersin. Lalu, buanglah tisu tersebut dan cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer.(Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian