Pak Jokowi Dan Sumpah Pemuda Demi Bersatunya Nusantara

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Semangat Sumpah Palapa Gajah Mada.

Kepentingan umum diutamakan di atas kepentingan pribadi atau golongan. Holobis kontul baris. Berjuang demi kemakmuran bersama. Leluhur Pak Jokowi mengajarkan sikap rame ing gawe, sepi ing pamrih.

Untuk itu Pak Jokowi selalu mengingatkan prestasi gemilang masa lampau. Sumpah Palapa telah menyatukan bumi nusantara. Sama halnya dengan Sumpah Pemuda yang memperkokoh persatuan dan kesatuan wilayah Indonesia. Semangat sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda adalah tekat kuat untuk memperkokoh harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Kerajaan Majapahit telah mewariskan nilai keteladanan, keutamaan, kebangsaan. Nusantara bersatu rakyatnya makmur maju. Murah sandang pangan papan, tata tentrem karta raharja.

Perjuangan memang tak kenal lelah.
Seorang pemimpin harus memahami semboyan sedumuk bathuk. Sedumuk bathuk artinya selebar dahi. Konsep sedumuk bathuk mempunyai makna yang sangat dalam. Meskipun hanya selebar dahi, tetapi di dahi itu terdapat otak di mana kreasi, inovasi, dan produksi seorang manusia dikembangkan.

Mersudi kawruh kasampurnan dilakukan oleh Bapak Widjiatno Naotomihadjo, ayahanda Pak Jokowi. Otak harus diisi dengan bermacam- macam ilmu pengetahuan agar mudah digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Tidak hanya persoalan diri sendiri tetapi juga permasalahan kemasyarakatan.

Ilmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, Setya budya pangekese dur angkara. Bahwa orang yang mempunyai otak yang encer atau brilian akan mampu meneyelesaikan banyak persoalan yang rumit sehingga sangat bermanfaat bagi orang lain.

Para pemuda harus belajar sejarah. Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Homo socius, manusia itu makhluk yang bermasyarakat. Dibanding dengan makluk lain, manusia memiliki kelebihan akal atau otak. Di sini pula yang membuat manusia terhormat. Kalau otaknya tidak jalan, maka pasti masa depan seseorang akan suram. Hidup mendatang sebaiknya semakin terang benderang.

Begitulah Pak Jokowi dan Bu Iriana memberi wejangan, agar putra putrinya menjadi orang utama mulia. Mas Gibran Rakabuming Raka, Mbak Kahiyang Ayu, Mas Kaesang Pengarep mengindahkan nasihat orang tua. Biar tampul sebagai putra putri yang berdarma bakti bagi ibu pertiwi.

Teladan pemimpin yang berdarma bakti bagi ibu pertiwi ditunjukkan Sri Baginda Ratu Tri Buwana Tunggadewi Jayawisnumurti. Memerintah Kerajaan Majapahit tahun 1328 – 1350. Lantas pada masa pemerintahan Prabu Hayamwuruk, Majapahit makin moncer. Perdana Menteri dijabat oleh Mahapatih Gajah Mada. Dengan sumpah palapa, Majapahit mempersatukan kepulauan nusantara. Sedumuk bathuk sanyari bumi.

Tekat waja bela negara. Seorang pemimpin harus memahami semboyan sanyari bumi. Sanyari bumi bisa diterjemahkan dengan sejengkal tanah. Tanah harus dikelola sebaik -baiknya agar bisa bermanfaat. Di atas tanah yang dimilikinya kedaulatan seseorang atau suatu bangsa bersandar.

Siti isine bulu bekti. Tanah merupakan modal utama dan sangat berharga bukan saja bagi para petani namun juga semua orang. Sistem tumpang sari bagi petani adalah contoh pemanfaat tanah secara optimal. Adanya pola warung hidup , yaitu sekitar rumah ditanami sayur-mayur dan tanaman obat- obatan juga merupakan contoh pemanfaatan tanah yang efektif. Pekarangan sebagai pengembangan warung hidup dan apotik hidup.

Paniti kisma adalah lembaga adat yang mengurus tanah. Dengan demikian pengelolaan tanah sangat penting, harus dihindari konflik atas pemilikan dan pengusahaan tanah. Jika tanah hak milik diganggu sebagaimana dalam masa kolonial, maka harus dibela dan direbut kembali dengan darah juang dan seluruh kekuatan.

Prabu Hayamwuruk memimpin Kerajaan Majapahit tahun 1350 – 1386. Dengan didamingi Empu Tantular dan Empu Prapanca, beliau menerapkan prinsip kenegaraan. Memang seorang pemimpin harus memahami konsep sepi ing pamrih. Sepi ing pamrih artinya mengosongkan ambisi pribadi yang dapat merugikan orang lain. Orang yang terlalu banyak ambisi biasanya akan melakukan tindakan yang tega mengorbankan orang lain. Menjegal dan menyepak pada kawan seiring dan menjilat pada atasan adalah contoh buruk orang yang berambisi tinggi dengan memakai jalan ilegal. Inilah gunanya ajaran kebaikan.

Empu Tantular menyempurnakan kitab sutasoma pada tahun 1351. Pujangga Majapahit memberi wejangan tentang konsep tata praja. Karir yang diperoleh dengan mamakai orang lain sebagai tumbal tentu akan mendapat reaksi perlawanan. Rongrongan demi rongrongan akan menggerogoti legitimasinya. Maka perlu tata susila.

Bidang ideologi negara disusun oleh Empu Prapanca, yang menyusun kitab Negara Kertagama. Kitab ini pernah ditulis di Lumajang, bawah kaki gunung Bromo. Isinya tentang kewarganegaraan.

Aparat, pajabat, rakyat wajar bergandengan dekat erat. Seseorang yang secara ikhlas menjalankan tugas, beban hidupnya sangat ringan. Jika sukses ia akan bersikap wajar dan bila gagal dia tak patah arang. Pujian dan caci maki dianggab bukan faktor penentu oleh karena itu disikapi biasa- biasa saja. Jawa iku prasaja lan walaka.

Sumpah Palapa memberi teladan nyata. Dalam berbagai kesempatan Pak Jokowi menganjurkan pada anak anaknya, agar mau bersikap rame Ing Gawe. Seorang pemimpin harus memahami konsep rame ing gawe. Ungkapan rame ing gawe mengandung maksud suka bekerja atau cepat kaki ringan tanga.

Orang yang berjiwa rame ing gawe selalu menggunakan maksudnya untuk bekerja dan malas serta pantang menganggur. Ora butuh kae kae, butuhe mung nyambut gawe.

Ora butuh apa apa, butuhe sabar narima. Negara akan maju dan berkembang dengan keringat orang yang suka bekerja. Produktivitas kerja akan menolong orang lain untuk sama-sama merasakan rembesan keringat hasil kerjanya. Di mana -mana saja orang dapat memberi kalau dia mempunyai. Kalau tidak punya maka apa yang lantas akan diberikan, selain kerja yang tekun? Sing tekun bakal tekan, sing tlaten bakal panen.

Mahapatih Gajah Mada berkarya nyata. Gumreget gumregut gemregah adalah wujud nyata etos kerja tekun. Kerja keras juga merupakan sarana untuk berbuat baik dan berguna bagi masyarakat dan merupakan perilaku yang teramat mulia.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *