Pak Jokowi Dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)
A. Kemajuan dengan Ilmu Pengetahuan.
Sumber daya manusia menjadi faktor utama kemajuan sebuah bangsa. Pak Jokowi memberi saran buat anak- anaknya, agar giat menempuh sekolah guna mencari ilmu pengetahuan. Ilmu iku kelakone kanthi laku.
Sekolah menjadi kegiatan belajar mengajar yang efektif. Seorang pemimpin harus memiliki pekerti yang baik. Pekerti bersinonim dengan sopan santun, unggah- ungguh, tata krama, etika dan moral. Ialah aturan seseorang dalam menentukan tingkah lakunya secara pribadi. Baik buruk tingkah aku seseorang inilah yang dinamakan pekerti.
Putra putri Pak Jokowi didorong untuk terus menerus belajar. Istilah pekerti ingkang becik berarti tabiat yang baik. Ukurannya yaitu sejauh mana tindakan yang diputuskan itu bermanfaat bagi orang lain. Dalam hal ini termasuk juga apakah akibat dari tindakannya itu akan merugikan pihak lain. Biasakan simbiosis mutualisme, yang saling menguntungkan.
Pekerti yang baik, dan luhur senantiasa berguna dan menyejukkan semua pihak. Sejak di usia anak- anak, hendaknya ditanamkan soal keutamaan budi pekerti luhur sehingga setelah dewasa sudah terbiasa dengan tindakan yang dilandasi pertimbangan baik dan buruk. Kelakuan buruk orang dewasa biasanya akibat masa muda yang kurang terdidik. Pendidikan karakter banyak dijumpai lewat kearifan lokal.
Dhandhanggula.
Panggaotan gelaring pambudi,
warna-warna sakaconggahira,
nut ing jaman kalakone,
rigen ping kalihipun,
dadi pamrih marang pakolih,
ping tri gemi garapnya,
margane mrih cukup,
ping pat nastiti pamriksa,
iku dadi margane weruh ing pasti,
lima wruh ing petungan.
Watek adoh ing butuh sahari,
kaping nenem taberi tatanya,
ngundakken marang kawruhe,
ping pitu nyegah kayun,
pepenginan kang tanpa kardi,
tan boros marang arta,
sugih watekipun,
ping wolu nemeni sedya,
watekira sarwa glis ingkang kinapti,
yen bisa kang mangkana.
Hendaknya dipahami tafsir dan makna ajarannya. Tembang ini mengandung tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang harus mau hemat, cermat dan bersahaja. Hati-hati dalam menggunakan harta dan belanja. Pak Jokowi berkali kali mengingatkan arti penting tradisi di era global.
Basa ngelmu mupakate lan panemu, pasahe lan tapa. Seorang pemimpin harus memiliki pakerti yang baik Kata pakerti berkaitan dengan orang yang tekun bekerja. Orang yang tekun dengan pekerjaannya akan memiliki harga diri dan kepuasan batin yang tinggi. Pekerjaan yang dilakukan dengan istiqamah dan profesional akan mendapat pengakuan dari masyarakat.
Lila lamun kelangan ora gegetun, trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, tri legawa nalangsa srah ring bathara. Pengakuan masyarakat terhadap pekerja, karyawan, buruh, kuli, dan pegawai harus ditindaklanjuti dengan kebijakan membuka kesempatan kerja dan lapangan usaha. Apabila seseorang diakui keberadaannya karena di luar prestasi kerja, di situ akan terjadi pelanggaran.
Alon alin waton jelakon. Tindakan kebut-kebutan, ugal- ugalan, mabuk, pornografi adalah salah satu perilaku seseorang yang menghendaki pengakuan di luar prestasi kerja. Hanya saja mereka salah jalur, keliru dan menyesatkan diri dan lingkungannya.
Pak Jokowi dan Bu Iriana berusaha mendidik Mas Gibran Rakabuming Raka, Mbak Kahiyang Ayu, Mas Kaesang Pengarep, agar memiliki budi pekerti luhur. Jalannya dengan ngangsu kawruh. Putra putri perlu merenungkan ajaran warisan leluhur.
Mijil
Hambedhol kayon mijil nglambangi,
Nandhang urip gumathok,
Caking kayon ing adegan kabeh,
Rad kahyangan kedhatonan ugi,
Kang seban ing jawi,
njur katekan pamuk.
Dha prang gagal tan na lalis anyir,
Tandya adeg kayon,
Sang pandhita prang kembang myang seje, Walik adegan kahyangan nodhi,
Lah iku pajar lir,
Ulihan kang ampuh.
Pan dadi werdi wayang sawengi lir,
Dhamang hakikat wos, Janji urip janma saluwase,
Ya purwa-madya wusana mati,
Nyawa- jati urip,
Babar bubar kasdu.
Mangsa pathet nem jalwestri kingkin,
Gadhuh bayi mlorok,
Bablas pengin tuwuh brahi ngancek,
Thak- thik sakeh murka den taleni,
Nganti mangsa lalis,
Mrih wos gusti nyahur.
Perlu pemahaman saksama atas tafsir dan makna ajaran.
Tembang mijil ini berkaitan dengan asal usul sejarah Tanah Jawa. Dulu orang Jawa membaca dan menulis dengan aksara Jawa. Ilmu pengetahuan berkembang dengan aksara Jawa.
Kemajuan jaman beserta dengan peningkatan budi pekerti. Seorang pemimpin harus memiliki pakarti. Pakarti adalah berhubungan dengan hasil kerja. Karya diperoleh melalui kerja dan perjuangan yang gigih, tak kenal menyerah dan prosesnya memerlukan waktu yang panjang. Kemajuan suatu bangsa salah satu tolok ukurnya adalah mutu karya yang dihasilkan. Bahkan karya itu merupakan merk yang mahal harganya. Orang luar mudah memberikan pengakuan dan penghormatan. Dalam diplomasi dan percaturan dunia dengan hadirnya karya unggulan akan diperhitungkan dan disegani. Bangsa yang banyak karyanya akan banyak devisanya pula sehingga otomatis sejahtera penduduknya.
Sumber daya manusia merupakan aset bangsa yang harus dikelola sebaik- baiknya. Pendidikan yang mengarah pada kualitas dan kuantitas karya perlu diberikan pada anak- anak. Setiap insan didik hendaknya diarahkan kepada hasil karya, agar mereka mempunyai rencana yang rapi menyongsong masa depan.
B. Hemat Cermat Bersahaja.
Para leluhur memberi pitutur. Sapa sing tlaten panen, sing titen mesti titi titis tatag tutug. Seorang pemimpin harus memiliki pekerti yang baik titen. Kata titen berarti selalu ingat, tidak mudah melupakan sesuatu, jeli dan teliti. Sikap titen diperoleh dengan cara menganggab setiap hal walaupun sangat kecil menjadi sesuatu yang penting.
Seseorang yang suka meremehkan kejadian- kejadian yang umum dia akan kehilangan pengetahuan yang bersifat alamiah. Dia akan mengamati semata, hanya berdasarkan untung rugi, suka benci dan kepentingan pribadi belaka. Kebodohan seseorang kemungkinan besar berpangkal dari sikap tidak mau titen.
Tinenana wong cidra mangsa langgenga adalah pepatah yang berarti ingatlah bahwa orang yang suka kianat tak akan selamat. Ungkapan itu berdasarkan kejadian- kejadian buruk yang dilakukan seseorang yang akan berakibat penderitaan, kesengsaraan, dan kerugian terhadap banyak orang.
Kepercayaan Pak Jokowi terhadap ajaran luhur sangat tinggi. Seorang pemimpin harus bersifat telaten. Kata telaten mengandung makna sikap rajin, tekun, kontinyu dan ajeg. Orang yang telaten tidak mudah putus asa, patah arang, nglokro, mutung, bosan atau jenuh.
Usaha apa saja butuh ketelitian. Ungkapan sing telaten bakal panen artinya siapa yang rajin bakal memetik buahnya. Kecerdasan yang didukung oleh sikap telaten akan memperoleh kesuksesan yang gemilang.
Orang yang cerdas tetapi malas, maka suksesnya akan selalu tertunda. Sebaliknya orang yang pas-pasan, namun gigih, tekun dan telaten lama- kelamaan hasilnya akan nampak. Oleh karena itu sebaiknya orang tidak usah minder, kecil hati, rendah diri dan malu terhadap tingkat kecerdasannya yang penting rajin, ulet, telaten dan tertib.
Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Seorang pemimpin harus bersifat gemi. Gemi mengandung makna hemat, cermat dan bersahaja. Oreng yang yang selalu gemi selalu menghitung -hitung segala pengeluaran agar dapat efektif dan efisien. Sikap gemi sama sekali berbeda dengan gaya hidup yang tamak dan pelit.
Hemat hendaknya menjadi sikap tiap warga. Tindakan gemi dilandasi oleh perhitungan bahwa mengumpulkan harta itu tidak gampang. Peras keringat banting tulang pun kadang -kadang masih gagal juga. Oleh karena itu gaya hidup kemewah- mewahan, boros dan menghambur -hamburkan uang sangat bertentangan dengan sikap hidup gemi. Harus dihindari anggapan hidup boros akan mengundang rasa hormat dari orang lain. Tindakan mesti cepat tepat bener pener.
Sikap hemat membuat sebuah keluarga akan sejahtera. Sebenarnya sikap gemi merupakan tindakan yang berprinsip ekonomi berdasarkan pemikiran yang rasional, tepat sasaran dan tak mengundang kecemburuan. Jangan sampai dahwen open panasten.
Tepa palupi duga prayogi. Dalam berbagai kesempatan Pak Jokowi memberi wejangan buat putra wayah. Sebaiknya mau berbuat gemi nastiti ngati-ati. Seorang pemimpin harus bersifat nastiti.
Nastiti berkaitan dengan tindakan seseorang dalam mempergunakan harta bendanya. Orang Jawa sangat perhitungan dalam mempergunakan hartanya. Harta benda yang dikumpulkan dengan peras keringat itu dikelola agar pengeluaran tidak melampaui pemasukan sehingga menimbulkan banyak utang. Ada ungkapan bahwa utang itu ringan di depan, amat berat di belakang.
Kehidupan masih panjang untuk diperjuangkan. Berbeda dengan gemi yang lebih condong kepada asal-usul harta, maka nastiti cenderung kepada bagaimana pemakaiannya. Sama-sama keluar uang akan lebih puas kalau mendapat untung yang lebih banyak. Sekali lagi gemi nastiti tidak mengandung unsur pelit, bakhil dan tamak. Keduanya tetap menggunakan pertimbangan rasional.
Sukses gemilang diperoleh dengan kerja keras. Harta benda yang dikeluarkan dengan sia- sia dan tidak jelas arahnya akan mengundang kesengsaraan secara material. Apalagi penggunaan harta benda orang banyak dengan ceroboh, tentu akan membuat susah dan kesulitan. Sumber daya manusia perlu ditingkatkan. Dimulai dari keluarga, Pak Jokowi memberi saran pada putra putri. Agar siap sedia ngangsu kawruh, sepanjang hayat dikandung badan.
Bangsa Indonesia mengalami masa jaya, dengan syarat pendidikan jadi prioritas utama. Esuk esuk srengengene uwis metu, Ibu nyuwun pangestu kang putra badhe sinau.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan