Mas Kaesang Pengarep Bercita Sejauh Aliran Bengawan Solo


Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara — LOKANTARA)

A. Kemandirian Seorang Anak Bangsa

Mas Kaesang Pengarep lahir di kota Solo pada tanggal 25 Desember 1994. Sehari-hari kehadirannya ibarat satriya piningit yang siap mengabdi kepada nusa bangsa. saiyek saeka kapti, mrantasi karyane negari. Siyang ratri tansah nggegulang dhiri, dengan konsep gemi nastiti ngati-ati.

Kota Solo atau Surakarta Hadiningrat merupakan punjering kabudayan Jawi. Karya cipta wong Solo umumnya mengandung unsur budaya adi luhung, seni edi peni. Budaya adi luhung berhubungan dengan nilai etis filosofis. Seni edi peni berhubungan dengan keindahan estetis. Cocok dengan pandangan Mas Kaesang Pengarep yang mengutamakan tontonan, tuntunan, tatanan.

Cita-cita Mas Kaesang ditempuh dengan mersudi kawruh, ngudi pangawikan. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Dengan segenap tekad, Mas Kaesang bersekolah di SD Negeri 16 Mangkubumen Kidul Laweyan Solo. Dari kecil sudah terbentuk lingkungan kerja mandiri. Laweyan dalam sejarah peradaban merupakan sentra industri batik.

Putra pasangan Ir H Joko Widodo dan Hj Iriana ini menghayati nilai kearifan lokal. Taman Sri Wedari, Taman Jurug, Taman Balekambang menawarkan estetika historis. Musium Radya Pustaka memberi pencerahan. Kitab-kitab klasik tersimpan dengan rapi, ilmu pengetahuan digali tiap hari tiada henti. Peneliti, pengajar sibuk belajar. Renungan filosofis pujangga Ranggawarsita bersinar terang.

Wawasan lokal berselaras dengan wawasan global. Untuk itu Mas Kaesang Pengarep melakukan perjalanan intelektual. Midering rat angelangut, lelana njajah negari, mubeng tepining samudra, sumengka angganing wukir, anelasak wana wasa, tumuruning jurang terbis. Mas Kaesang Pengarep belajar di Anglo Chinese School International.

Ibarat kawah candradimuka masa muda digunakan sebagai sarana penggemblengan pribadi. Njembarake kawruh, ngungkal ketrampilan, ngandelake pengalaman. Mas Kaesang Pengarep lantas melanjutkan pendidikan di Singapore University of Social Sciences. Mumpung pandhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Pendidikan sangat diutamakan oleh keluarga Pak Jokowi. Beliau sendiri kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Sampai mendapat gelar Ir Joko Widodo. Bu Iriana juga belajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Basa ngelmu mupakate lan panemu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginelung tri prakara. Bekal pendidikan inilah yang digunakan sebagai piranti untuk membina bahtera rumah tangga sejak 24 Desember 1986.

Kacang mangsa ninggala lanjaran. Tabiat Mas Kaesang sudah barang tentu meniru senior. Keteladanan kedua kakaknya cukup memberi makna. Mas Gibran Rakabuming Raka yang lahir tanggal 1 Oktober 1987 memang gemar belajar. Mas Gibran kuliah di negeri seberang, yaitu Management Development Institut of Singapore. Lalu meneruskan di University of Technology Insearch Sydney Australia.

Sang kakak putri, yaitu Mbak Kahiyang Ayu yang lahir di Solo pada tanggal 20 April 1991. Dia selalu tekun belajar. Menempuh kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret UNS, kemudian mengikuti sekolah bisnis di IPB lulus pada tanggal 25 September 2019. Gelar Master pun disandangnya. Tentu saja kedua kakaknya memberi suri tauladan buat mas Kaesang Pengarep.

Nama Kaesang Pengarep berarti kemuliaan seorang pemimpin. Kaesang bermakna seorang yang mulia. Pengarep bermakna pemuka, pemimpin atau tokoh. Asma kinarya japa, bahwa Kaesang Pengarep diharapkan akan menjadi pemimpin yang selalu mulia dan bahagia.

Pemuda pemudi di kota Solo mendapat pesan lewat lelagon. Mereka hendaknya berhati-hati saat berkendaraan. Lalu lintas kota Solo pada malam minggu selalu ramai. Mas Kaesang Pengarep terbiasa mendengarkan lelagon yang disiarkan oleh RRI Surakarta.

Waspada ing Marga

Malem Minggu kutha Sala pancen rame
Abang biru mobil montor sawernane
Pating sliwer kaya padha rebut banter
Ora bener tanpa tandha waton minger

Dha elinga bebaya ing tengah marga
Yen nemahi banjur lara lan sungkawa
Tumrap para pengemudi apa wae
Dha nindakna lalulintas aturane

Gambar gambar rambu rambu wigatekna
Mlebu kutha prayogane den alona
Peraturan lalu lintas saktemene
Mamrihake keslametan sapa wae

Bersama dengan kawan-kawannya yang sebaya, mas Kaesang Pengarep saling mengingatkan agar selalu mematuhi tata tertib di jalan raya. Peraturan lalulintas wajib dipatuhi. Gambar dan rambu di jalan raya hendaknya diperhatikan oleh setiap pengemudi.

Tujuannya semua pengendara mendapatkan keselamatan. Kecelakaan di jalan raya banyak disebabkan oleh sikap ceroboh dan sembrono. Padahal itu akan membahayakan orang lain. Perlu hati-hati. Kita perlu memberi contoh tertib lalu lintas. Keselamatan menjadi tanggung jawab kita semua. Caranya dengan lalu lintas yang tertib.

B. Kejernihan Mata Air Umbul Cokro Pengging

Leluhur mas Kaesang Pengarep berasal dari Gumuk Rejo Giriroto Ngemplak Boyolali. Di kawasan ini terdapat mata air jernih yang disebut Umbul Pengging. Airnya mengalir teratur untuk pengairan pertanian. Aliran ke arah timur sebagai salah satu mata air bengawan Solo. Gumrojog banyu bening. Tuking gunung Umbul Cokro Pengging. Mili ngetan tumuju Kali Larangan. Kartasura Surakarta. Sakbanjure mili neng Bengawan Gedhe.

Mas Kaesang Pengarep akrab dengan kehidupan leluhurnya. Pak Jokowi mendapat cerita dari orangtuanya tentang kehebatan Umbul Cokro Pengging yang mengalir ke bengawan Solo.

Kalangan orang tua Mas Kaesang Pengarep gemar bercerita tentang sejarah kerajaan Pengging. Wilayah ini dipercaya sebagai asal usul Joko Tingkir yang kelak menjadi raja Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar. Pada tahun 1547 Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang membangun Umbul Cokro dan Umbul Pengging. Kawasan ini merupakan mata air yang sangat baik. Airnya jernih mengalir sepanjang masa. Berguna untuk pengairan sawah yang subur. Daerah Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo ini mendapat limpahan air dari Cokro Pengging. Maka sejak dulu daerah ini menjadi lumbung padi.

Air umbul Cokro Pengging mengalir ke arah timur. Bertemu di Kartasura. Aliran disambung di Kali Larangan menuju kota Solo. Dulu aliran sepanjang 20 KM ini dijaga ketat oleh petugas. Kordinatornya KRT Tirtonagoro, pejabat Karaton Surakarta Hadiningrat yang mengurus irigasi.
Kebersihan kali Larangan terjaga betul. Orang bisa langsung minum di kali. Malah minum di kali larangan dipercaya sebagai obat. Mencari jodoh dan ingin punya anak pun, orang mau minum langsung di Kali Larangan.

Kali Larangan yang legendaris ini airnya bertumpah di bengawan Solo. Dikatakan kali Larangan berarti kemewahan. Larang dalam bahasa Jawa berarti mahal, mewah, elit, lux, bagus, hebat, istimewa. Betapa tidak. Mewahnya kali larangan, terbukti dipelihara, dirawat, dan digunakan untuk keperluan Karaton Surakarta Hadiningrat dan pura Mangkunegaran. Maka tiap 500 M dijaga dan diawasi. Mirip dengan merawat tirta perwita sari dalam lakon Dewaruci.

Penghayat Kejawen suka cerita sejarah. Ayah Pak Jokowi bernama Widjiatno Notomiharjo. Beliau memberi wejangan tentang lingkungan di sekitar Solo raya. Beliau mendengarkan kisah kerajaan Mataram sebagai sumber teladan yang utama. Panembahan Senapati raja Mataram tapa kungkum di Umbul Pasiraman Pengging tahun 1586. Hulu bengawan Solo sungguh mengagumkan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *