Liputan KOLOM

Pak Jokowi Dan Sikap Toleransi Beragama

Ditulis oleh Liputan68 pada 27 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)

A. Penerapan Konsep Agama Ageming Aji.

Dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah. Dengan seni hidup menjadi lebih indah. Dengan agama hidup menjadi lebih terarah. Pada tahun 2003 Pak Jokowi dan Bu Iriana melaksanakan ibadah Haji. Agama ageming aji, bermakna bahwa dengan memeluk agama, maka derajat seseorang akan bertambah mulia. A berarti tidak, gama berarti rusak. Dengan beragama budi pekerti manusia menjadi luhur.

Kondisi sosial politik saat ini mengharuskan seorang negarawan atau pemimpin untuk menyusun strategi gerak yang relevan agar siap menghadapi masa depan bangsa. Konsep kepemimpinan yang dibuat haruslah kukuh dan kokoh sehingga keberadaan seorang pemimpin tidak asing di tengah rakyat yang dipimpinnya. Sangat penting seorang pemimpin memiliki grassroot masa bawah yang kuat.

Masa bawah dalam masyarakat bermacam-macam jenis dan bentuknya. Grassroot mempunyai basis kultural yang kuat dan harus diperhatikan dengan perhatian yang tertentu. Ambil contoh komunitas pedesan memiliki keunikan khusus seperti kesederhanaan, ikatan emosional tinggi, kesenian rakyat dan loyalitas pada pemimpin kultural. Untuk lebih dalam tentang seluk- beluk masyarakat desa perlu dipahami konsep-konsep yang berkembang di pedesaan. Tembang pangkur mengandung kearifan lokal terkait dengan praktek keagamaan.

Pangkur

Mingkar mingkuring angkara, Akarana karenan Mardi siwi,
Sinawung resmining kidung. Sinuba sinukarta, Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung.
Kang tumrap ing tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Jinejer neng Wedhatama. Mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa pikun.
Yen tan mikani rasa,
Yekti sepi asepa lir sepah samun,
Samangsane pasamuan, gonyak ganyuk nglilingsemi.

Nggugu karsane priyangga, Nora ngganggo peparah lamun angling, Lumuh ingaran balilu, Uger guru aleman, Nanging janma ingkang wus
Waspadeng semu.
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis.

Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda denira cacariwis, Ngandhar- andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah, Saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah, Ngalingi marang si pingging.

Tembang pangkur di atas punya tafsir dan makna ajarannya. Anak sekolah di Surakarta mengenal lelagon ini. Untaian ajaran luhur buat putra -putri telah disusun oleh Mangkunegara IV dalam kitab Wedhatama. Bahasanya indah, isinya mentes. Makna filosofis yang tinggi cocok buat kajian rohani. Mangkunegara IV menghargai kualitas intelektual, material dan spiritual. Ajaran budi pekerti luhur disampaikan lewat syair yang penuh dengan nilai keindahan. Lagu ini dihayati benar oleh orang Jawa sebagai bahan tuntunan. Penghayatan Pak Jokowi dan bu Iriana atas praktek keagamaan selalu berdasarkan keselarasan sosial.

Keluarga Pak Jokowi selalu menerapkan ajaran agama dengan sikap toleransi. Setiap pemimpin harus memahami konsep Gusti Allah. Orang Jawa (baca = desa) menyebut Tuhan dengan istilah Gusti Allah. Dua istilah ini merupakan gabungan dari kata bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kata Gusti dalam bahasa Jawa berarti pihak yang dihormati, dijunjung, dipundi-pundi dan diharapkan dapat pemberikan pengayoman dan perlindungan. Kata Gusti bersifat teologis. Dengan demikian harus dibedakan dengan kata Gusti yang bersifat sosiologis seperti Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Pangeran yang merupakan gelar kebangsawanan.

Sedangkan kata Allah adalah adopsi dari kata Arab yang berarti nama diri Tuhan dalam agama Islam, karena orang Jawa mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Bahan kalau dihitung secara kuantitatif Suku Jawa termasuk etnis terbesar di dunia yang beragama Islam.

Oleh karena seseorang yang memahami seluk beluk kehidupan orang Jawa tidak pernah akan berhasil tanpa menyertakan analisis yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Antara paham Hindu Buda dengan tasawuf Islam dengan mistik kebatinan Jawa banyak unsur persamaaannya.

Bagi kalangan orang desa yang menganut agama Kristen, menyebut kata Gusti Allah juga bukan sesuatu yang asing. Apalagi antara Islam dan Kristen masih satu rumpun. Maka ketika keduanya berkembang di tanah Jawa mudah sekali beradaptasi. Lebih dari itu keterbukaan dan toleransi antar umat beragama yang berbeda-beda tidak sulit dilakukan.

Dalam sejarah terdapat lembaga pendidikan agama yang berdiri di Surakarta pada tahun 1905. Seorang pemimpin harus memahami konsep tentang Ingkang Akarya Jagat. Secara keseluruhan makna Ingkang Akarya Jagat adalah yang membuat dunia.

Alam raya seluruhnya ini diyakini oleh orang desa bahwa ada yang menciptakan. Ilmu sangkan paraning dumadi menunjukkan asal -usul kehidupan dan tujuannya. Dunia pasti ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Sang Pencipta tanpa awal akhir, karena awal akhir hanya menguasai makhluk. Tembang dhandhanggula reriptan Ki Ageng Sela mengandung pepali yang pantas dijadikan bahan refleksi atau kaca benggala.

Dhandhanggula

Pepaliku ajinen mbrekati, tur Selamet sarta kuwarasan,
pepali iku mangkene:
aja agawe angkuh,
aja ladak lan aja jail,
aja ati serakah,
lan aja celimut,
lan aja mburu aleman, aja lada wong ladak pan gelis mati, lan aja ati ngiwa.

Padha sira titirua kaki, jalma patrap iku kasihana, iku arahen sawabe, ambrekati wong iku, nora kena sira wadani, tiniru iku kena, pambegane alus, yen angucap ngarah- arah, yen alungguh nora pegat ngati-ati, ora gelem gumampang.

Sapa sapa wong kang gawe becik,
nora wurung mbenjang manggih arja, tekeng saturun -turune, yen sira dadi agung, amarintah marang wong cilik,
aja sedaya-daya,
mundhak ora tulus,
nggonmu dadi pangauban, aja nacah, marentaha kang patitis, nganggoa tepa-tepa.

Padha sira ngestokena kaki,
tutur ingsun kang nedya utama,
angarjani sarirane,
way nganti seling surup yen tumpang suh iku niwasi, hanggung atelanjukan,
temah sasar susur,
tengraning jalma utama, bisa nimbang kang ala lawan kang becik, rasa rasaning kembang.

Kawruhana pambengkasing kardi, pakuning rat lelananging jagad,
pambengkasing jagad kabeh,
amung budi rahayu,
setya tuhu marang Hyang Widi,
warastra pira pira,
kang hanggung ginunggung
kasor dening tyas raharja, harjaning rat punika pakuning bumi, kabeh kapiyarsakna.

Tafsir dan makna tembang dhandhanggula ini berhubungan dengan kisah Ki Ageng Sela yang menjadi pengayom segenap para petani. Cerita ini sangat dikenal oleh orangtua pak Jokowi.

Ki Ageng Selo menganjurkan seseorang untuk menjunjung tinggi tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun. Sejarah harus berjalan. Jangan sampai masa silam dilupakan. Nama Ki Ageng Selo sangat populer di kalanan petani Jawa. Ki Ageng Selo dikenal sakti mandraguna. Ki Ageng Selo dapat menangkap petir.

B. Teladan Keberagaman Nusantara Jaman Majapahit.

Empu Tantular pujangga kerajaan Majapahit menyusun Kitab Sutasoma pada tahun 1352. Isinya tentang toleransi atas keberagaman. Arti Ingkang Murbeng Gesang adalah yang menguasai kehidupan. Setiap pemimpin harus memahami konsep ini.

Kepasrahan kepada yang menguasai hidup ini membuat orang desa tidak risau terhadap segala jenis perubahan sosial yang sedang terjadi. Dalam logika sederhana, penguasa pesti memiliki kasih sayang terhadap yang dikuasai atau makhluknya. Duka nestapa selalu dipahami sebagai ganjaran dari Ingkang Murbeng Gesang.

Keberagaman adat istiadat dan keyakinan dihormati oleh para penguasa Majapahit. Seorang pemimpin harus memahami konsep Hyang Suksma Adi Luwih yang artinya adalah Tuhan Yang Maha Lebih. Segala yang ada di dunia ini selalu di bawah keberadaan Tuhan. Dengan mengakui Yang Maha Lebih ini, orang desa menghindari sikap sombong. Sebaik- baik makhluk dan sehebat- hebat ciptaan masih amat jauh dibanding dengan kekuatan yang menciptakan. Singkat kata antara makhluk dengan yang menciptakan memang tidak bisa dibandingkan.

Persatuan dan kesatuan dijunjung tinggi oleh kerajaan Majapahit. warisan bijaksana ini dipahami benar oleh Pak Jokowi. Seorang pemimpin harus memahami konsep Hyang Maha Widi. Kata Widi berasal dari bahasa Sansekerta wed = tahu, weda = petunjuk, widya = pengetahuan, Widi= Yang Mengetahui. Hyang Mahawidi bisa diberi makna Yang Maha Mengetahui.

Gusti Allah ora sare, pirsa satindak tanduk titahe bermakna bahwa Tuhan tidak tidur, mengetahui segala perilaku hamba-Nya. Oleh karena orang desa mudah pasrah sumarah, sabar narima pada takdir Tuhan. Namun demikian sikap penerimaannya ini juga positif. Bagi orang yang sejak lahir sudah miskin, mereka tidak mudah cemburu dengan si kaya. Semua kehidupan mung saderma ngampahi.

BACA JUGABabad Laweyan

Bhinneka Tunggal Ika, bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu. Ungkapan jaman Majapahit ini tetap relevan sepanjang masa. Seorang pemimpin harus memahami konsep Sang Hyang Manon. Arti Sang Hayang Manon adalah Yang Maha Melihat. Segala tingkah laku manusia dilihat dan terlihat oleh Tuhan. Baik buruk kelakuannya nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan dan dibalas dengan balasan yang setimpal.

Kesadaran orang desa bahwa Tuhan Maha Melihat akan mencegah dari perbuatan buruk meskipun orang lain tidak ada yang menyaksikan, dia akan merasa diawasi oleh Tuhan di mana dan kapan pun. Orang akan malu berbuat jahat biar pun tidak ada yang mengawasi.

Keragaman budaya nusantara adalah kekayaan. Kesadaran Pak Jokowi tentang keberagaman ini diperoleh ketika menuntut ilmu di SD Negeri Tirtoyoso, SMPN I dan SMAN 6 Surakarta. Semangat keberagaman lebih terarah ketika Pak Jokowi kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Seorang pemimpin harus memahami konsep agama ageman aji. Agama berasal dari kata a yang artinya tidak, dan gama yang artinya rusak. Suatu keyakinan bila dipatuhi ajarannya tidak akan membuat pribadi dan masyarakat rusak. Agama dalam pandangan orang Jawa sama dengan busana, atau ageman yang berarti pakaian. Aji artinya raja atau mulia.

Praktek beragama keluarga Pak Jokowi menerapkan keselarasan agama dan budaya. Seorang pemimpin yang mulia tentu akan memperhatikan ajaran agama, ajaran leluhur sebagai yang tertera dalam Kitab Suci. Kewibawaan seorang pemimpin yang dituntun oleh ajaran agama akan terbebas dari perbuatan aniaya, nista dan hina yang dapat meruntuhkan derajat dan martabatnya. Prinsip kepemimpinan terhadap orang desa menuntut agar pemimpin selain memimpin secara formal juga pemimpin agama agar berkah dan adiluhung di depan pengikutnya.

Kepemimpinan yang agamis selalu mementingkan kepentingan orang banyak dan menyantuni orang lemah. Mereka inilah yang membuat pemimpin menjadi aji berharga. Peringatan agar seseorang patuh pada ajaran agama disebutkan dalam pupuh tembang.

Wewangone pra sujana, tuwin sagung wiku winasis, tri prakara kang sanyata, manungsa datan ngawruhi, siji kabegjan jati,
loro jodho kaping telu, pesthi tibaning kodrat, sayekti lamun sadermi.

Wewangone pra sujana, kang wus limpat ing pambudi, tri prakara kang nyata, manungsa datan ngawruhi,
siji tibaning kabegjan
sangkan paran dadi margi, antuk ing kabahagyan,
paringing Hyang Maha Suci.

Kaping pindho ora kena maido, dudu pangkat drajat lan bandha arta, apa maneh bab rupa
ala becik nyatane ora kena, kanggo paugeran ping telu tibaning pesthi, garis pepesthening kodrat, kabeh iku saderma kang murba Ywang Maha Kwasa

Renungan dalam tembang di atas sering berkumandang di pemancar RRI Surakarta. Landasan para manusia, serta semua sarjana pintar, tri prakara kenyataan, manusia tak tahu, satu keberuntungan sejati, dua jodoh ketiganya, kepastian adanya kodrat, sungguh tinggal menerima.

Pegangan para sarjana, yang sudah mampu segalanya,
ketiga hal yang nyata
manusia tak tahu,
satu turunnya keberuntungan,
asal usulnya jadi jalan, mendapat kebahagiaan,
anugerah dari Tuhan.

Keduanya tiada diingkari, bukan pangkat dan harta,
apalagi karena rupa
buruk indah sungguh tak bisa, sebagai ketentuan,
ketiganya karena kepastian, garis kehendak kodrat,
semua tinggal menerima,
atas kekuasaan Tuhan.

Pelaksanaan agama telah dicontohkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Pada tahun 1483 Sunan Kalijaga mendirikan Peguron Kadilangu. Kraton Demak Bintara menyokong program Wali Sanga yang mengajarkan agama secara damai. Seorang pemimpin harus memahami konsep kodrat wiradat. Kodrat wiradat dalam khasanah kebudayaan Jawa artinya takdir Tuhan tidak bersifat mutlak. Manusia masih ada wewenang untuk menentukan nasip dan peruntungannya dalam batas- batas tertentu.

Seseorang mengatakan kegagalan suatu usaha karena alasan takdir adalah argumentasi yang buruk. Boleh jadi kegagalan itu karena ceroboh, sembrono, urakan, ugal-ugalan dan kelalaian manusia sendiri. Hampir semua keterpurukan manusia secara kolektif berasal dari keceborohan manusia yang dilakukan secara sengaja.

Nasib yang kurang baik masih terbuka untuk ditingkatkan mutunya. Bagi mereka yang cukup gigih dan kreatif tentu akan optimis dalam menghadapi masa depan. Pak Jokowi mendapat inspirasi dari Wali Sanga dalam menerapkan ajaran agama di Tanah Jawa. Keteladanan Wali Sanga patut diterima oleh segenap warga bangsa. Lantunan lagu sholawatan barangkali dapat digunakan sebagai sarana untuk menerapkan ajaran agama dengan benar.

Sholawat Wangsulan.

Awak -awak wangsulana, pitakonku marang sira.
saka ngendi sira iku, menyang ngendi tujuanmu.
mara coba titenana, sira urip neng alam donya.
donya alam kerameyan, isine apus -apusan
dulur-dulur sami sambang, tangise kaya wong nembang
gelem ngaji arang- arang, tandhane imane kurang.

Tafsir penjelasan maknanya berhubungan dengan praktek keagamaan. Singiran sebagai salah satu karya pustaka bercorak pesantren menarik sekali dijadikan objek penelitian. Selama ini karya pustaka pesantren belum begitu mendapat perhatian selayaknya. Sastra religius yang berkembang di pesantren biasanya berisi soal -soal keimanan, peribadatan dan akhlakul karimah. Contoh syair karangan Almarhum K.H. Ali Maksum tokoh NU dari Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta.

Sholawat Tamba Ati

BACA JUGAMenanamlah

Allahuma sholi wasalim ala.
Sayyidina wamaulana muhammadin.
Allahuma suril islam wal muslimin.
Wus ahlikil kofarota fadlolimin.

Tamba ati iku limo ing warnane.
Ingkang dingin maca Qur’an sakmaknane.
Kaping pindho sholat sunat lakonana.
Kaping telu wong kang sholeh cedhakana.
Kaping pate kudu wetenge kang luwe.
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe.
Sak kabehe sapa bisa anglakoni.
Insya Allah hutaala ngijabahi.

Kumandangnya tembang Jawa menimbulkan suasana riang gembira. Tafsir penjelasan maknanya berhubungan dengan anjuran untuk beragama secara benar. Obat penyakit hati itu ada lima hal. Kelimanya merupakan sarana untuk mencapai kehidupan yang aman dan damai. Anak -anak sejak kecil mesti belajar agama. Pak Jokowi dalam beragama selalu mengutamakan keselarasan.

Perbedaan adalah rahmat. Adanya praktek beragama yang berbeda -beda dianggap sebuah kewajaran. Oleh karena itu diperlukan sikap saling menghormati. Dengan demikian kehidupan beragama dapat berlangsung secara guyub rukun.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian