Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Kanjeng Ratu Kencono Wungu Permaisuri Raja Surakarta Hadiningrat Mengusulkan Berdirinya Kabupaten Klaten
Kabupaten Klaten berdiri atas usul Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat tahun 1788-1820. Rapat pengusulan itu terjadi pada hari Sabtu Kliwon, 12 Rabiul Akhir 1731 atau tanggal 28 Juli 1804. Kejadian penting itu ditandai dengan tahun candra sengkala : Rupa Mantri Swaraning Jalak.
Panitia pembentukan Kabupaten Klaten dipimpin lang-sung oleh Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Rapat panitia dilaksanakan di pendapa Kademangan Cakradipuran. Duduk dalam kepanitiaan itu adalah tokoh kraton. Tokoh keagamaan, pemuka masyarakat, pembesar Umbul Pengging, pemuka Umbul Cakra, Demang Prambanan, utusan keluarga Sunan Pandanaran Tembayat, Juru Pengairan Kartasura dan Juru Kunci Gunung Merapi, Pengawas Kaliworo, Pengawas Kali Dengkeng, Dewan Kerajaan Bentangan, kelompok industri payung Juwiring dan pengusaha kuliner Jogonalan. Kawasan Karangnongko terdiri dari pengrawit Sumokaton. Untuk daerah Ngawen diikuti pengrajin kain. Untuk wilayah Manisrenggo hadir para seniman tari.
Dewan eksekutif panitia harian diserahkan kepada Kanjeng Raden Arya Mangkupraja II. Beliau adalah Patih Karaton Surakarta Hadiningrat yang bertugas tahun 1796-1804. Hasil kerja dewan eksekutif panitia harian ini bertanggung jawab kepada GKR Kencono Wungu. Permaisuri Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV ini memiliki kemampuan di atas rata-rata. Beliau cerdas, cekatan, kaya-raya, ramah tamah, pemurah, bermartabat, berwawasan luas, berpandangan jauh ke depan dan diterima oleh semua kalangan.
Siapakah Gusti Kanjeng Ratu Kencono? Dari manakah asal usul permaisuri Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV ini? GKR Kencono Wungu adalah putri Bupati Pamekasan Madura, Kanjeng Raden Adipati Cakraningrat. Penguasa Madura terkenal sebagai bupati maju pikiran dan tindakan. Beliau punya jaringan luas pada penguasa Bang Wetan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara. Istrinya adalah Rara Prihatmini, putri Pangeran Pekik, Bupati Surabaya.
Asal usul Kanjeng Ratu Kencono Wungu boleh dikatakan sangat terpandang. Dari silsilah bapaknya adalah penguasa Madura. Dari pihak ibunya merupakan pembesar Jawa Timur. Dari masa kecil sampai menjadi The First Lady karaton Surakar-ta Hadiningrat, GKR Kencono Wungu adalah Presiden Komisaris Pelabuhan Tanjung Perak. Sebelumnya beliau memegang jabatan Direktur Utama. Ketika masih belum menjadi istri raja, nama beliau yaitu Kanjeng Raden Ajeng Sukaptinah. Di lingkungan Kadipaten Pamekasan KRAj Sukaptinah diberi gelar Ratu Handoyowati.
Usaha pokok KRAj Sukaptinah yaitu pemilik industri garam. Beliau menguasai pemasaran di Maluku, Tamasek Singa-pura, India, Tiongkok, Afrika dan Tanah Arab. Usaha ekspor impor garam ini sudah barang tentu mendatangkan untung berlipat ganda. Selama menjadi permaisuri raja, Kanjeng Ratu Kencono Wungu tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi. Soal keuangan, Ratu Kencono Wungu boleh dibilang berlimpah turah-turah.
Trahing kusuma rembese madu. Dengan latar belakang yang serba berkecukupan itulah GKR KenconoWungu percaya diri ikut serta menata berdirinya Kabupaten Klaten. Selaku Dewan penasihat panitia pembentukan Kabupaten Klaten yakni Raden Ngabehi Ranggasutrasno, Kanjeng Raden Tumenggung Sastronagoro dan KRT Sastrodipuro. Mereka terkenal sebagai pakar ulung dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Raden Ngabehi Rangga Sutrasno ahli tata wilayah KRT Sastronagoro pakar tata pemerintahan. KRT Sastrodipura terkenal sebagai pengelola bendungan dan pengairan yang tangguh.
Adapun ketua dewan pengawas panitia pemerintahan Kabupaten Klaten dipegang oleh GRM Sugandi. Kelak beliau menjadi raja Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1820-1823. Gelarnya adalah Kanjeng Sinuwun Paku Buwana V. Pada masa pemerintahan Paku Buwana V rakyat Klaten banyak dilibatkan dalam penyusunan Surat Centhini. Kitab Mahakarya ini bisa dikatakan ensiklopedi budaya Jawa.
Rapat pleno kepanitiaan menetapkan pula Kanjeng Raden Tumenggung Kusumonagoro sebagai Bupati Klaten. Terhitung tanggal 28 Juli 1804 KRT Kusumonagoro bertugas untuk menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Klaten. Upacara pelantikan dilaksanakan di Sitihinggil Kraton Surakarta Hadiningrat. Langsung dilantik oleh Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV. Gagasan GKR Kencono Wungu menjadi kenyataan yang gemilang. Untuk menghormati penggagas kabupaten Klaten dipersembahkan tari Bedaya Ludira Madu. Artinya putri bangsawan Madura yang memberi darma bakti kepada nusa dan bangsa. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila masyarakat Klaten menghormati perjuangan dan jasa besar. Pada malam pahargyan dilantunkan tembang dhandhanggula dengan mengutip serat Wulangreh.
Dhandhanggula Wasitaning Ati
Pamedhare wasitane ati
Cumanthaka aniru pujangga
Dahat mudha ing batine
Nanging kedah ginunggung
Datan wruh yen keh kang ngesemi
Ameksa angrumpaka
Basa kang kalantur
tutur kang katula-katula
tinalaten rinuruh kalawan ririh
mrih padhanging sasmita
Sasmitaning ngurip puniki,
mapan ewuh yen tan weruha,
tan jumeneng ing uripe,
akeh kang ngaku-aku,
pangrasane sampun utami,
tur durung wruh ing rasa,
rasa kang satuhu,
rasaning rasa punika,
upayanen darapon sampurneng diri,
ing kauripan nira.
Lamun sira anggeguru kaki,
amiliha manungsa kang nyata,
ingkang becik martabate,
sarta kang wruh ing hukum,
kang ngibadah lan kang wirangi,
sukur oleh wong tapa,
ingkang sampun mungkur,
tan mikir pawehing liyan,
iku pantes sira guronana kaki,
sartane kawruhana.
Bagi masyarakat Jawa serat Wulangreh menjadi bacaan wajib. Di sana tersedia pitutur luhur. Kehidupan semakin berbobot. Itulah ajaran Sinuwun Paku Buwana IV yang terkenal. Nasihat tembang ini dapat digunakan sebagai sarana untuk memahami ilmu sangkan paraning dumadi atau makna hakekat kehidupan. Wejangan raja Surakarta ini sungguh mengandung nilai rendah hati. Meskipun pintar tetap tidak sombong. Ajaran itu juga menganjurkan seseorang untuk tekun berguru. Dengan menuntut ilmu pengetahuan, maka hidup menjadi lebih terang benderang.
KRT Kusumonagoro adalah putra Bupati Pengging, KRT Padmonagoro. Beliau lama menjadi sekretaris pribadi Sinuwun Paku Buwana IV. Dulu juga menjadi kepala kantor Kabupaten Pengging dan Kabupaten Pekalongan. Sewaktu belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinatar Ponorogo, beliau aktif sebagai ketua paguyuban santri. Namanya masih Zainal Abidin Notokusumo. Dengan demikian bekal menduduki jabatan bupati Klaten boleh dikata cukup mumpung. Kebak ngelmu sipating kawruh.
Keluarga Bupati Kusumonagoro amat populer di Klaten. Saudara sepupunya yaitu Bagus Burham. Kelak menjadi pujang-ga Karaton Surakarta Hadiningrat. Bila ditarik ke atas, nyatalah Bupati Kusumonagoro masih berhubungan erat dengan garis keluarga Pujangga Yasadipura. Rata-rata keluarga trah Pengging memiliki bakat seni, kesusastraan, ilmu tata negara. Sepanjang masa mereka menjadi tokoh masyarakat. Misalnya Raden Mas Ngabehi Pajangswara. Beliau adalah ayahanda Raden Ngabehi Ranggawarsita yang menjadi penasihat Kanjeng Sinuwun Paku Buwana VII yang memerintah tahun 1830-1858. Narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, hambeg adil paramarta.
B. Kabupaten Klaten Menjadi Wilayah Pengembangan Kebudayaan Tingkat Tinggi
Pencanangan Kabupaten Klaten sebagai pusat pengem-bangan budaya adi luhung terjadi pada hari Senin Legi, 23 Jumadil Akhir 1775. Bertepatan dengan tanggal 5 Juni 1847. Saat itu Klaten di bawah pembinaan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana VII. Beliau didampingi garwa prameswari GKR Paku Buwana dan GKR Retno Hadiluwih. Raja Surakarta Hadiningrat ini berpikiran maju, terutama dalam bidang sastra budaya. Beliau memberi instruksi kepada Bupati Klaten KRT Mangunkusuma. Wilayah Klaten punya peluang sebagai daerah literasi unggulan. Sejak tahun 1845 beliau telah menetapkan Bagus Burham sebagai pujangga kraton Surakarta Hadiningrat, dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita.
KRT Mangunkusumo sebagai Bupati Klaten tentu mene-rima tugas berat ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Pro-gram pertama Bupati Mangunkusumo yaitu membuat Taman Bacaan Jawa di daerah Palar Trucuk. Pendirian ruang baca di perpustakaan ini sebagai sarana untuk menyusun, mengarang, menggubah karya sastra Jawa klasik. Di tempat inilah Raden Ngabehi Ranggawarsita menyusun Serat Pustaka Raja Purwa, Serat Witaradya, Serat Candrarini, Serat Jaka Lodhang, Serat Wedharaga, Serat Cemporet. Semua sastra piwulang ini memiliki nilai etis filosofis yang tinggi.
Pengembangan bidang kultural spiritual dilakukan Bupa-ti Mangunkusumo di Jatinom. Setiap tahun beliau hadir dalam upacara Ya Qawiyyu, warisan Ki Ageng Gribig. Penyelenggaraan upacara Ya Qawiyyu memerlukan biaya yang besar. Maka bianya langsung dicukupi dari kantor kabupaten. Petilasan Ki Ageng Pandanaran di Gunung Jabalkat Tembayat juga mendapat biaya pembinaan. Kesejahteraan juru kunci dimasukkan dalam angga-ran kabupaten. Para peziarah mendapat jaminan keamanan dan kenyamanan. Kompleks candi Prambanan dan Plaosan mendapat biaya perawatan rutin yang memadai. Program ini dilakukan pada tahun 1849.
Batik Tulis yang diproduksi oleh warga Bayat selalu di-beri kesempatan untuk proses marketing. Beberapa kios di pasar Klewer disediakan buat pengusaha Batik Bayat. Perusahaan gerabah di desa Bentangan Wonosari menjadi langganan untuk upacara Kraton Surakarta. Peran Bupati Mangunkusumo begitu besar. Jasa dan pengabdiannya sepantasnya dikenang oleh masyarakat Klaten.
Seni pedalangan dan kerawitan menjadi unggulan karya orang Klaten. Bupati Mangunkusumo berjuang maksimal demi kesejahteraan para seniman. Dana dan fasilitas disediakan, agar semangat berkesenian tetap menyala. Tiap bulan diadakan pentas rutin di pendapa kabupaten Klaten. Seniman berprestasi diberi kesempatan pentas saat karaton Surakarta punya hajad. Misalnya dalam pasar malam Sekaten, sudah pasti seniman Klaten dikirim untuk unjuk kebolehan. Tim dari Karangnongko dan Sumokaton kerap dikirim untuk pentas wayang purwa pada tahun 1851.
Industri payung dari desa Tanjung Juwiring merupakan produk unggulan yang selalu dipesan istana. Bahkan payung Tanjung Juwiring banyak yang dikirim ke luar negeri. Perkalian Bupati Mangunkusumo semata-mata demi kesejahteraan warga Klaten. Beliau adalah Bupati Klaten yang suka tirakat, laku lara lapa tapa brata. Setiap malam Slasa Kliwon tirakatan di makam Ki Ageng Pandanaran. Bulan Purnama ritual di Pantai Parang-kusumo. Bupati Mangunkusumo betah melek, suka cegah dhahar lawan guling. Mahas ing ngasepi, bertapa di tengah alas gung liwang liwung. Misalnya pada tahun 1853 beliau tapa kungkum di Umbul Pasiraman Pengging.
Perekonomian Klaten begitu makmur terjadi pada tahun 1860. Pabrik gula Gondang Winangun dibangun mendatangkan kemakmuran. Bangunan pabrik gula berdiri kokoh. Pemuda pemudi bekerja dengan imbalan lumayan tinggi. Petani tebu sejahtera lahir batin. Pengusaha angkutan grobag, cikar dokar laku laris. Kereta api pun mulai dikenal luas. Juga seniman sering ditanggap oleh pabrik gula Gondang Winangun setiap bulan. Sebuah masa yang sangat indah.
Kebun tembakau Tegalgondo dipelopori oleh Sinuwun Paku Buwono IX yang memerintah tahun 1861-1893. Tembakau dari Klaten dikenal di dunia. Pada tahun 1872 panen besar-besaran. Rakyat Klaten makin makmur kaya raya. Kabupaten Klaten semakin arum kuncara. Begitulah Kabupaten Klaten saat dibina oleh karaton Surakarta Hadiningrat. Hubungan ini kini tetap berlanjut lewat Paguyuban Kawulan Karaton Surakarta Hadiningrat yang berdiri sejak tahun 1931.
Klaten tetap wilayah yang asri edi peni. Pada masa Sinuwun Paku Buwana IX dibangun stasiun dan jalur kereta api. Raja Surakarta mengusulkan supaya dibangun Stasiun Cepu. Stasiun Srowot dan Stasiun Prambanan pada tahun 1867. Beliau terjun langsung dalam pembangunan stasiun di Klaten. Pembangunan tanggul di Kaliworo dan Kali Dengkeng juga atas prakarsa Sinuwun Paku Buwana IX. Pada tahun 1869 beliau mengunjungi daerah Ngawen khusus untuk membina industri perkakas rumah tangga seperti sulak, kesed dan sapu. Hati rak-yat pun menjadi ayem tentrem.

