Liputan KOLOM

Umbul Kapujangan Pengging Sarana Mesu Budi

Ditulis oleh Liputan68 pada 10 Juli 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Munculnya Sastra Piwulang.

Pencerahan dari kawasan Kapujanggan pernah melahirkan sastra piwulang berbobot tinggi. Umbul Pengging dengan mata air bening berguna untuk melakukan asketisme spiritual. Mesu budi yang berhubungan dengan olah ketajaman batin.

Sastra piwulang diciptakan oleh pujangga Karaton Pajang Mataram dan Surakarta. Olah reriptan ini dikerjakan di lingkungan Umbul Pengging. Rerepen melukiskan keindahan sumber mata air dengan irama merdu.

Gumrojog banyu bening. Tuking gunung Umbul Cakra Pengging. Mili ngetan tumuju kali Larangan. Kartasura Surakarta. Sakbanjure mili neng Bengawan Gedhe.

Umbul Pengging merupakan mata air Bengawan Solo. Kimplah kimplah banyune alambah lambah. Mencep kutah angileni sawah sawah. Kemakmuran terjadi di setiap sudut negeri.

Tata cara maos serat kekidungan merupakan bentuk laku puji pangastuti. Kawasan kapujanggan Pengging diyakini sebagai sarana untuk memperoleh suasana damai sejahtera. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu.

Laku nenuwun yang bernuansa adat tradisional didukung penuh oleh Raden Ayu Herniati. Pembacaan kidung rumeksa ing wengi dilakukan di Umbul Pengging. Kegiatan ini berlangsung pada hari Senin, 5 Juli 2021 jam 21. Letaknya dekat pendopo Kapujanggan. Wewarah itu dijadikan pandam pandom panduming dumadi.

Ilmu iku kelakone kanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekesing dur angkara.

Kidung piwulang Jawa bernuansa spiritual magis. Perlu kita kutipkan syair kidung reriptan para wali di Tanah Jawi. Agar kehidupan ini makin aman damai. Jauh dari segala macam mara bahaya. Dunia diharapkan ayem tentrem lahir batin.

Ana kidung rumeksa ing wengi,

Teguh hayu luputa ing lara,

Luputa ing bilahi kabeh,

Jim setan datan purun,

Paneluhan tan ana wani,

Miwah panggawe ala,

Gunane wong luput,

Geni atemahan tirta,

Maling Adoh tan ana ngarah mring mami,

Guna duduk pan sirna.

Kelancaran kegiatan kultural ini atas inisiatif pelaku budaya tradisi. Acara adat ini mendapat perhatian dari Raden Ayu Herniati. Dengan segenap kesungguhan hati tata cara spiritual ini diikuti dari awal sampai akhir. Cita cita luhur terkabul. Jumbuh ingkang ginayuh, sembada ingkang sinedya.

Malam Selasa Pon itu terasa terang benderang. Langit biru, cuaca cerah. Air gemericik. Lima pembaca serat kekidungan segera mandi jamas di umbul Pengging. Airnya jernih mengalir sepanjang masa. Dari jauh Raden Ayu Herniati turut pula atur puji pangastuti. Berdoa agar jagad gumelar dan jagad gumulung berjalan sesuai dengan tata laksana kudrat keutamaan.

Banyak orang yang melakukan kegiatan ritual. Berbagai cara dilakukan untuk meraih gagasan mulia. Raden Ayu Herniati mendukung tata cara yang bersumber dari butir butir kearifan lokal. Sastra piwulang karya Kyai Yasadipura menjadi pegangan hidup.

Tiap hari tata cara lelaku ini berlangsung di Umbul Pengging. Wajar sekali sejak dulu wilayah Pengging ditempati tokoh sejarah ternama. Ambil contoh Joko Tingkir, Adipati Handayaningrat, Kebo Kenongo dan Kyai Yasadipura. Mereka pernah berjasa dalam menganyam anggunnya peradaban. Pajang dan Mataram berhubungan dengan tlatah Pengging.

Serat Dewaruci mengajarkan kesadaran teologis. Manunggaling kawula Gusti dan kawruh sangkan paran. Hakikat kehidupan sejati. Serat Rama memberi wedharan tata laksana sambang sambung srawung. Reriptan Pujangga Yasadipura ini bersumber dari kawasan Umbul Pengging. Mata air kejernihan.

Penelusuran gagasan besar yang dilakukan oleh Raden Ayu Herniati berhubungan dengan semangat sejarah perjuangan bangsa. Jasa perintis kemerdekaan menjadi inspirasi untuk pengabdian. Misalnya nilai kejuangan yang diteladankan oleh para pendahulu. Generasi sekarang perlu ngungak jaman kawuri.

Bisa ditengok rintisan berdirinya wilayah otonom. Ambil contoh berdirinya Propinsi Jawa Tengah yang lahir pada tanggal 15 Juli 1905. Pendirinya adalah KRMA Sosrodiningrat, Patih Karaton Surakarta Hadiningrat. Terdiri dari lima wilayah. Yakni wilayah Semarang, Pati, Pekalongan, Banyumas dan Kedu. Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Biar mendapatkan wisdom dalam mengayunkan tiap langkah.

Oleh karena itu, Raden Ayu Herniati berusaha untuk menerapkan kesadaran masa kini dengan berpijak pada masa lalu. Berdirinya wilayah ini atas inisiatif Raden Panji Soeroso yang merupakan eyang buyut Raden Ayu Herniati. Usulan pembentukan Propinsi Jawa Tengah disetujui oleh Ketua Dewan Kraton yang dijabat oleh KGPH Hangabehi. Putra sulung Sinuwun Paku Buwana X ini aktif dalam pergerakan nasional. Pernah didaulat sebagai ketua dewan pertimbangan Budi Utomo, Syarikat Islam, perguruan Muhammadyah, perguruan Taman Siswa. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.

Pengging memiliki daya pikat historis. Ini juga terjadi dalam perjalanan trah Mataram. Kelak KGPH Hangabehi yang aktif dalam organisasi dinobatkan sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat. KGPH Hangabehi lantas bergelar Sinuwun Paku Buwana XI. Memerintah tahun 1939-1945. Pada bulan 23 Mei 1945 Sinuwun Paku Buwana XI mengutus Dr Radjiman Wedyodiningrat, KGPH Suryo Hamijoyo, RMTA Sosrodiningrat, RMTA Wuryaningrat sebagai anggota BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia. Perjuangan tulus ini dapat digunakan sebagai pembinaan karakter.

Bibit kawit dan nilai sejarah dihayati oleh Raden Ayu Herniati. Dengan demikian kelahiran Propinsi Jawa Tengah atas perjuangan kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghormati jasa pahlawan. Pikiran tenaga dan waktu dipersembahkan buat ibu pertiwi. Kepentingan umum diletakkan di atas kepentingan pribadi atau golongan. Rame ing gawe, sepi ing pamrih.

Wanodya ayu ngambar aruming kusuma. Raden Ayu Herniati mewarisi nilai keluhuran. Karakter seseorang merupakan kelanjutan dari jiwa agung para leluhur. Bibit terkait dengan asal usul. Bebet berhubungan penampilan ragawi. Bobot berhubungan dengan kepribadian.

Bakti tiada henti. Gubernur Jawa Tengah pertama dijabat oleh keturunan Karaton Surakarta Hadiningrat. Yakni Raden Pandji Soeroso. Silsilah Raden Ayu Herniati berhubungan langsung dengan Trah Kanjeng Sinuwun Paku Buwono VIII, raja Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1858-1861. Sinuwun Paku Buwono VIII adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.

Sinar keagungan terpancar dari wajah Raden Ayu Herniati, wayah buyut Raden Pandji Soeroso. Beliau masih trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa tedhaking andana warih. Artinya darah pejuang yang menaburkan ganda arum wangi ke segala penjuru.

Langkah Raden Ayu Herniati berkaca pada sejarah. Ingkang eyang buyut bernama Raden Pandji Soeroso. Tokoh perjuang kemerdekaan ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah pertama sejak tahun 1945. Setelah tahun 1949 beliau pernah juga jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial dan Menteri Pekerjaan Umum.

Pada tahun 1959 Raden Pandji Soeroso, Eyang buyut Raden Ayu Herniatie ini mendapat gelar kehormatan. Yakni sebutan sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia. Berkat jasa jasanya ini Pemerintah 8dengan SK Presiden No 022/TK/tahun 1986 menetapkan Raden Pandji Soeroso sebagai Pahlawan Nasional. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal 23 Oktober 1986. Sebagai pewaris trah, Raden Ayu Herniati meneruskan cita cita yang penuh budi.

Keteladanan Ingkang Eyang buyut Raden Pandji Soeroso yang lahir pada tanggal 3 Nopember 1893 menjadi inspirasi bagi Raden Ayu Herniati. Ulat patrap lan pangucap yang diwariskan Eyang buyut Raden Pandji Soeroso merupakan keutamaan Raden Ayu Herniati berdarma bakti buat Ibu Pertiwi.

Bibit unggul ini yang diwarisi Trah Raden Pandji Soeroso yang memiliki jiwa keluhuran, keagungan, kebangsaan, kemanusiaan dan kerakyatan. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

B. Memayu Hayuning Bawana.

Kepemimpinan Jawa ditandai dengan ungkapan ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Adanya hak dan kewajiban yang selaras serasi dan seimbang.

Unsur kepemimpinan yang berbasis kearifan lokal itu diterapkan oleh Raden Pandji Soeroso, Eyang buyut Raden Ayu Herniati. Prinsip prinsip menejemen tradisional ini relevan pada era global millenial. Wulan wuruk muna muni yang mengandung local wisdom. Pitutur yang diberikan oleh Pujangga Pengging.

Pembacaan kidung rumeksa ing wengi bertujuan untuk memperoleh keselamatan. Bagi Raden Ayu Herniati lelaku ini penting. Terutama tertuju untuk para leluhur yang telah memberi keteladanan. Kawruh kautaman dadi sangune urip.

Patuladan kang prayogi. Inspirasi besar bagi Raden Ayu Herniati dapat diambil dari Raden Pandji Soeroso. Jasa Raden Pandji Soeroso dalam membentuk Propinsi Jawa Tengah amat besar. Para generasi berikut punya kewajiban meneruskan perjuangan luhur. Labuh labet marang praja.

Kemuliaan bebrayan dan brayat terus berlanjut. Misalnya Raden Ayu Herniati yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Wayah buyut RP Soeroso ini mengalir darah perjuangan yang bagus. Pertemuan dengan Raden Ayu Herniati terjadi pada tahun 2018. Saat tata cara larapan langse jamasan pusaka di Pajimatan Sinuwun Amangkurat Agung. Tata cara yang berlangsung turun tumurun.

Manunggaling Kawula gusti merupakan praktek rasa nasionalisme. Hadir lengkap para pangageng Karaton Surakarta Hadiningrat. Yaitu GKR Galuh Kencono, GKR Sekar Kencono, GKR Retno Dumilah, GKR Wandansari, GKR Ayu Koes Indriyah. Terlihat wajah Raden Ayu Herniati berseri seri. Tampil dengan ngadi busana ngadi sarira.

Tepa palupi banget wigati. Pasuryan Raden Ayu Herniati sebagai trah RP Soeroso selalu memancarkan cahaya kebiru biruan. Tanda bahwa beliau masih berhubungan dengan raja Mataram, Sinuwun Amangkurat Agung. Dhedhep tidhem premanem, suasana hening penuh dengan kewibawaan.

Wajar sekali pertemuan spiritual yang terjadi di desa Adiwerna Pakuncen Tegal itu berlanjut dengan kawidadan. Artinya keluarga RP Soeroso senantiasa mendapat rasa ayom ayem dari leluhur yang sudah suwargi. Putra wayah bertekad melanjutkan gagasan yang agung anggun.

Kabagyan hidup berupa wirya arta winasis. Wirya itu status sosial yang terpandang. Arta itu harta kekayaan yang mbayu mili berlimpah ruah. Winasis itu kecerdasan kultural dan intelektual. Raden Pandji Soeroso terbiasa momong momor momot, akomodatif persuasif komunikatif.

Kamulyan telah disandang, kejayaan sudah disanding. Raden Ayu Herniati selaku anggota trah RP Soeroso yang betul betul mengalir buat bumi sakalir. Kehidupan yang ber bandha ber bandhu ber budi. Keselarasan hidup yang dijalani oleh Raden Ayu Herniati merupakan anugerah lahir batin awal akhir.

Puji pinuji mugi sami basuki lestari. Raden Ayu Herniati ginanjar rahayu widada suka gembira. Drajat pangkat semat dihayati oleh RP Soeroso. Wanita berarti wani mranata. Tapa tapak telapak, sungguh surga berada di bawah telapak kaki seorang wanita.

Para sesepuh memberi wejangan. Siji garising pati, loro temuning jodho, telu Tumuruning wahyu, papat mundhaking pangkat, lima tumibane nugraha.

Konsep drajat pangkat semat, kedudukan keluhuran kekayaan berpihak pada Raden Ayu Herniati. Putra wayah mewarisi ajaran guna kaya purun. Gubernur Jawa Tengah pertama sudah memberi contoh keutamaan.

RP Soeroso mendidik keluarga dengan semangat kebangsaan. Dengan budi pekerti luhur, Raden Ayu Herniati berbagi pada sesama, disertai sikap welas asih. Dengan kecerdasan intelektual kultural, Raden Ayu Herniati membuat anggun semesta, disertai sregep sinau. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Tanda adanya usaha dalam meraih prestasi gemilang.

Mendhem jero mikul dhuwur. Dengan mengingat sarasilah keluarga, Raden Ayu Herniati sebagai warga trah RP Soeroso menyumbang buat kejayaan bangsa dan negara.

Kepemimpinan Raden Pandji Soeroso dikenang sepanjang jaman. Adapun para Gubernur Jawa Tengah selalu berjasa pada masyarakat. Secara berurutan telah dicatat dengan tinta emas. Bagi Raden Ayu Herniati ini perlu diperhatikan dengan sungguh sungguh.

1. Raden Pandji Soeroso memimpin sejak tanggal 5 September 1945- 13 Oktober 1945.

2. KRT Mr Wongsonagoro memimpin tanggal 13 Oktober 1945- 4 Agustus 1949.

4. R Boedjono 1949-1954.

5. RMTP Mangun Nagoro 1954-1958.

6. R Soekardji Mangun Kusumo 1958-1960.

7. Mochtar 1960-1966.

8. H Munadi 1966-1974.

9. H Soepardjo Rustam 1974-1983.

10. H Ismail 1983-1993.

11. H Soewardi 1993-1998.

12. H Mardiyanto 1998-2007.

13. H Ali Muhfid 2007-2008.

14. H Bibit Waluyo 2008-2013.

15. H Ganjar Pranowo 2013-2023.

Para Gubernur Jawa Tengah berikutnya punya referensi yang tangguh. Raden Pandji Soeroso, Eyang buyut Raden Ayu Herniati adalah perintis utama. Propinsi Jawa Tengah memiliki kekayaan alam, budaya, tradisi dan sejarah yang panjang. Ki Nartosabdo menciptakan lagu berjudul Identitas Jawa Tengah. Lagu ini bernuansa kebangsaan dan kebudayaan. Lagu Identitas Jawa Tengah, Laras pelog pathet nem.

Identitas Jawa Tengah.

Mungguh sumbere e wawasan Nusantara, dadi paugeran raharjaning bangsa, tri gatra panca gatra, kang ginayuh trus binudi, supaya jejeg Santoso, mujudake tata tentrem karta raharja ing Jawa Tengah, sumbere budaya agung, mrih lestarining bangsa, strategi wawasan Identitas Jawa Tengah.

Majunya peradaban menurut Raden Ayu Herniati harus punya landasan filosofis. Bab panca gatra ideologi Pancasila, nindakake demokrasi Pancasila, ekonomi ngleksanaake pasal telung puluh telu UUD empat puluh lima, sosial budaya tansah angleluri kapribaden bangsa, katentremaning bebrayan rancaking pembangunan, strategi wawasan Identitas Jawa Tengah.

Masyarakat Jawa Tengah bisa berbangga. Lagu ini kerap berkumandang untuk membangkitkan gairah membangun. Irama cepat penuh semangat. Cocok untuk membentuk karakter kapribaden luhur di kalangan generasi muda.

Raden Ayu Herniati selalu berdarma bakti pada nusa bangsa. Bersama dengan sang suami Brigjend Pol Sjamsul Sidiq berusaha untuk mengabdi pada ibu pertiwi. Pasangan ideal ini penuh dengan anugerah berlimpah ruah.

Kumandang syair kidung rumeksa ing wengi menjadi sarana tolak balak. Segala rintangan menyingkir. Semua cobaan hidup berhasil dilalui. Balung janur, janur ingisenan boga. Widadaa lepat saking sambikala.

 

Singgah Singgah kala singgah,

Pan suminggah durga kala sumingkir,

Sing ngaama sing ngawulu,

Sing ngasuku ngasirah,

Sing ngatenggak lawan kala sing ngabuntut,

Padha sira sumingkira,

Muliha mring asalneki.

 

Atas dukungan Raden Ajeng Herniati dilakukan kegiatan kultural. Kidung reriptan para wali di tanah Jawa dibaca untuk memperoleh pencerahan. Dengan diiringi musik gender, suasana makin hikmat. Ditambah air gemericik air serta jangkrik ngerik pada waktu malam hari.

Puji pangastuti yang dilakukan di umbul kapujanggan Pengging memberi energi. Semangat literasi warisan Kyai Pujangga Yasadipura menerangi alam raya. Tanggal 5 Juli 2021 telah dibaca kidung rumeksa ing wengi. Malam Selasa Pon itu hening ening. Agar kehidupan makin aman damai dan ayem tentrem.

Raden Ayu Herniati sebagai priyayi yang melestarikan adat istiadat. Dengan harapan alam dan manusia menyatu. Muncul keselarasan antara jagad alit lan jagad ageng.

Wejangan sesepuh yang ampuh wutuh tangguh direnungkan oleh Raden Ayu Herniati. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.

Kesadaran untuk melakukan ritual di Pengging memang besar. Karena punya kekuatan memori historis filosofis dan sosiologis. Sekalian mahluk sama ayu hayu rahayu.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian