Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara –LOKANTARA, hp.087864404347)
A. Demi Keutuhan Hidup Bernegara.
Keutuhan hidup berbangsa dan bernegara perlu kesadaran mental. Pembinaan mental spiritual di kalangan generasi muda bisa digali lewat kearifan lokal. Dari Sabang sampai Merauke tersedia nilai luhur dari masyarakat tradisional.
Sikap wicaksana alus ing budi ditunjukkan oleh Prabu Airlangga pada tanggal 31 Mei 1110. Beliau dinobatkan sebagai raja Kahuripan. Selama memimpin kerajaan Kahuripan, Prabu Airlangga selalu berprinsip sabar drana, lila legawa, narima ing pandum.
Dalam pergaulan konsep kebijaksanaan itu dihayati oleh Pak Jokowi. Ajaran luhur penting untuk diterapkan. Seorang pemimpin harus memiliki sifat sabar drana. Sikap sabar drana adalah kemampuan dalam mengendalikan diri berkaitan antara harapan dengan kenyataan tidak sejalan. Cita- cita yang mulia sering kali tertunda dari waktu yang direncanakan. Tujuan luhur pun kerap kali meleset karena suatu hak yang tidak diduga.
Orang desa sangat menghargai seseorang yang bisa mengendalikan emosi sinamun ing samudana, sesadone adu manis. Biarpun tidak cocok hatinya, bahkan sampai tingkat marah, tetapi tetap menyembunyikan perasaan lewat senyum manis dikulum. Kemarahan yang diledakkan memang saru, jorok. Nafsu amarah bila dituruti tidak akan pernah puas. Empu Kanwa yang menyusun kitab Arjuna Wiwaha memberi wejangan tentang kebijaksanaan hidup. Kitab Arjuna Wiwaha disebut juga dengan lakon Begawan Mintaraga atau Ciptowening.
Prabu Airlangga juag menerapkan ajaran tentang kerelaan. Lila legawa dapat diterjemahkan dengan rela dan ikhlas. Seorang pemimpin harus memahami pengertian ini. Yakni sikap seseorang yang lapang dada, terbuka hati, berani kehilangan, dan tidak mau menyesali kerugian atas dirinya. Bencana, kesulitan dan cobaan dari mana pun datangnya dianggab seolah- olah tidak pernah terjadi. Dengan konsep kerelaan itu hidup menjadi seger sumyah.
Sesepuh Pak Jokowi yang tinggal di Kragan Karanganyar mempelajari piwulang becik. Dalam tembang Jawa ada pesan lila lamun kelangan nora gegetun, ‘rela bila kehilangan tidak menyesali, diterima dengan hati ikhlas. Kerugian yang terjadi karena orang lain hatinya memaafkan. Kerugian karena lingkungan, hatinya menganggap sesuatu yang alamiah. Kerugian karena bencana mendadak, hatinya menganggap sudah menjadi kehendak Tuhan. Orang yang lila legawa tidak pernah ada beban dalam pikirannya. Hidup menjadi merdeka riang gembira.
Wajar sekali kehidupan silih berganti. Suka duka, siang malam, pagi sore, kanan kiri, atas bawah berjalan seperti roda berputar. Pangeran Karanggayam menyusun Kitab Nitisruti pada tahun 1548 berisi tentang sikap pasrah sumarah. Setiap manusia diberi anugrah oleh Tuhan. Namun antara manusia yang satu dengan yang lain mempunyai bagian yang berbeda- beda. Orang desa menyebut beda- beda panduming dumadi.
Pangkur.
Sapa kang nora karasa. Ing pakarti bener kalawan becik.
Iku wuta uripipun.
Tan weruh ing papadhang
Satindake yekti amung numbuk numbuk. Dunung pamareming driya.
Ana barang kang sinandhing.
Tafsir dan makna ajarannya perlu digagas. orang bekerja tekun dilandasi semangat kuat akan memperoleh sukses besar. Ketrampilan dan pengetahuan merupakan modal utama. Pengalaman kerja membuat hasil yang efektif dan efisien. Sejak dini anak- anak perlu latihan kerja. Kerja yang produktif menyebabkan sebuah bangsa menjadi kokoh dan mandiri.
Kawruh kebijaksanaan hidup yang diajarkan para pujangga direnungkan oleh Pak Jokowi. Kesadaran akan perbedaan bagian itu disebut narima ing pandum. Kesadaran ini sangat penting buat pengendalian diri. Kepada si kaya tidak akan pernah iri dan kepada si miskin tidak akan pernah sombong dan berbuat menghina, menghardik dan merendahkan.
Ukuran penghargaan seseorang tidak semata- mata karena hasil materi, tetapi lebih dititik tekankan pada aspek usaha dan prosesnya. Dengan sikap narima ing pandum, seseorang tidak akan ngoyo dalam mengajar harta benda. Di sini yang dipentingkan kerja dan pasrah kepada panduming dumadi. Hidup bebrayan membutuhkan kesadaran bersama.
Interaksi sosial kerap menumbuhkan gesekan. Strategi untuk berjuang melibatkan persaingan. Konsep wani ngalah luhur wekasane diajarkan oleh Bapak Widjiatno Notomihardjo dan Ibu Sudjiatmi Notomihardjo kepada Pak Jokowi dan Bu Iriana. Wani ngalah berbeda dengan kalah. Wani ngalah hanya berusaha menyenangkan pihak lain. Orang yang suka mengalah biasanya selalu menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Seorang pemimpin yang baik tidak malu untuk wani ngalah, berani mengalah.
Prinsip orang yang wani ngalah adalah menang oran kondhang, kalah wirang. Bahkan semua orang Jawa mengakui orang padudon (bertengkar mulut) itu ibarat perang. Dalam perang berlaku prinsip: yang menang menjadi pindang, yang kalah menjadi rempah. Kedua-duanya pasti saling merugi, tak ada untung. Prinsip wani ngalah ini lantas diajarkan kepada Mas Gibran Rakabuming Raka, Mbak Kahiyang Ayu, Mas Kaesang Pengarep, Mas Bobby Nasution dan Mbak Selvi Ananda.
Untuk bisa wani ngalah, seseorang harus bersedia menyingkirkan egoismenya. Bagi yang terlampau peduli gengsi, sikap wani ngalah tentu sangat berat untuk dilakukan. Demi harga diri lebih baik kalah wang daripada kalah wong. Berani berlaku garang walaupun keadaannya garing kering. Tentu saja ajaran luhur itu diteruskan untuk mendidik Jan Ethes Srinarendra, Sedah Mirah Nasution, La Lembah Manah, Panembahan Al Nahyan Nasution.
Pucung
Sing arukun heh pra muda siswaningsun,
lan pra kancanira,
aja demen apradondi. Yogja samya angedohna pasulayan.
Yen kesluru becik ngakoni yen kliru,
rukun weh santosa,
congkrah bubrah kang pinanggih,
ngelingana sapu yen suhe tan ana.
Nadyan besuk poma aja tinggal rukun,
lan pra tangganira,
atulung- tinulung sami, yen mangkana yekti jenjem uripira.
Pak Jokowi menyadari ungkapan Crah bubrah rukun agawe santosa
Mong kinemong, gotong royong satu hati.
Tafsir dan makna ajarannya amat bagus. Ajaran tembang di atas menganjurkan agar dalam hidup bermasyarakat seseorang mau guyub rukun dan sikap saling menghormati. Tujuannya untuk mendapatkan kebahagiaan bersama. Bangsa yang besar ini memang terdiri dari beragam suku, adat istiadat, bahasa dan tata cara.
Leluhur Pak Jokowi dekat dengan kawasan sejarah Pengging. ada tokoh Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Tingkir yang mengajarkan mesu budi cegah dhahar lawan guling. Seorang pemimpin seharusnya memahami makna cegah dhahar. Cegah dhahar berarti mengurangi makan dengan maksud mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan hati. Melakukan puasa dengan rutin dapat dijadikan contoh laku cegah dhahar.
Tirakat betah melek menjadi tradisi masyarakat wilayah Surakarta. Badan yang lemah karena perut kosong lebih mudah diajak untuk berempati dan simpati dengan pihak lain. Penderitaan orang lain akan lebih bisa dirasakan. Perasaan bebal yang tak mau tahu akan terkikis karena dirinya sendiri juga mengalami nestapa. Pemimpin besar masa lampau, biasanya sudah dapat mengatasi kesulitan hidup hanya karena lapar. Dia tidak bergitu mementingkan kepentingan lahiriah yang cepat musnah dimakan waktu. Tradisi tirakatan dapat melatih diri untuk bertindak bijaksana.
B. Mengasah Kapribaden Ketimuran.
Jatidiri bangsa perlu ditonjolkan di kalangan generasi muda dalam percaturan global. Identitas nasional ditunjukkan dengan munculnya produk- produk lokal. Pak Jokowi meyakini akan ketangguhan karya cipta anak bangsa.
Aja Dipleroki.
Mas mas mas aja dipleroki, mas mas mas aja dipoyoki
Karepku njaluk diesemi, tingkah lakumu kudu ngerti cara. Aja ditinggal kapribaden ketimuran, mengko gek keri ning jaman,
Mbok ya sing eling, eling bab apa?
Iku budaya, pancene bener kandhamu
Tafsir penjelasan makna, makna tembang Aja Dipleroki adalah sebagai berikut: Kepribadian bangsa timur adalah salah satu kearifan timur. Masyarakat yang berkepribadian adalah masyarakat yang mempunyai jatidiri sebagaimana pesan dalam tembang Aja Dipleroki. Secara berjenjang disebutkan adanya upacara – tata cara – cara kerja, yang merupakan kualitas berkarya yang produktif, kreatif dan inovatif. Pribadi ketimuran akan melengkapi kearifan dunia. Di sini berarti kearifan yang berasal dari timur mempunyai andil yang besar terhadap usaha bersama dalam percaturan dan pergaulan internasional. Para ahli sosiologi Jawa yang suka nabuh gamelan dan menjadi dalang, memberi apresiasi tinggi pada aktivitas kerakyatan. Dalam pergaulan memang diperlukan tata krama, unggah- ungguh dan sopan santun.
Lara lapa tapa brata sudah menjadi tradisi bagi kalangan kejawen gagrag Surakarta. Arti sudanen guling adalah mengurangi aktivitas tidur. Jika tidur terlalu banyak maka hidup menjadi tidak produktif. Tidur melebihi jam waktu normal itu bahkan membuat diri kurang tahan terhadap serangan penyakit baik fisik maupun mental. Seorang pemimpin harus gesit, trampil dan menggunakan waktu secara efisien. Cara paling praktis dan penting adalah mengurangi aktivitas tidur. Orang tua Pak Jokowi mengajarkan beragam laku keutamaan.
Sastra piwulang menuntun seseorang, agar mau mengasah kepribadian ketimuran. Dalam ajaran kitab Jawa kuno, waktu yang tidak tepat untuk tidur yaitu saat matahari terbit hingga bedhug dheng, matahari di atas tepat. Badan akan terasa lemah lunglai jika tidur di saat tersebut, karena waktu itu adalah saat orang seharusnya bekerja. Saat yang tidak tepat untuk tidur lagi yaitu waktu seperempat siang hingga matahari terbenam. Kebiasaan tidur saat tersebut akan membuat pikiran tumpul. Bila bangun akan tampak kebingungan dan linglung. Dengan proses lelaku, maka urip semakin sumeleh.
Kinanthi
Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den- kaesthi, pesunen sariranira cegah dhahar lawan guling.
Dadiya lakunireku,
cegah dhahar lawan guling, lan aja kasukan -sukan,
anganggowa sawatawis, nora wurung ngajak- ajak,
satemah nular ing batin.
Yen wis tinitah wong agung, aja sira ngugung diri, ywa paliket lan wong ala,
kang ala lakunireki,
