Kerajaan Mahluk Halus di Tanah Jawa

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Sang Hyang Pramoni.

Paku Buwana II Melakukan Tata Cara di Donan Cilacap.

Donan Cilacap dijadikan tempat tata cara sebelum Paku Buwana II dilantik sebagai raja Mataram. Abdi dalem lengkap ndherek nyengkuyung. Dengan dikoordinir oleh para Bupati Bang Kulon.

Upacara adat ini dalam rangka penobatan Paku Buwana II tahun 1726. Agar berjalan lancar. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu.

Daerah Donan Cilacap menyimpan kisah menarik. Makhluk halus di Tanah Jawa berhubungan dengan sistem politik Kerajaan. Dalam masyarakat Jawa ibukota makhluk halus berada di daerah Nusa Kambangan.

Secara historis perlu dilacak keberadaan makhluk halus yang berpusat di Nusa Kambangan. Kabupaten Cilacap dulunya berdiri tanggal 17 Januari 1678. Bernama Kadipaten Donan. Tempatnya di Pulau Nusa Kambangan atau Nusa Berambang.

Dalam cerita tutur pedalangan Nusa Kambangan disebut Nusa Kambana, Watu Masigid, Sela Marsigid atau Dhandhang Mangore. Kawasan ini memiliki kewibawaan tinggi, wana gung liwang liwung, bebasan gawat kaliwat liwat, angker kepati pati, jalm mara jalma mati, sato mara keplayu.

Tutur tinular kang wus lumaku. Cerita wayang purwa melukiskan kahyangan Nusa Kambana atau Dhandhang Mangore begitu wingit seram. Penguasa Nungsa Berambang bergelar Sang Hyang Pramoni atau Bethari Durga. Saat bertugas sebagai permaisuri di Kahyangan Junggring Salaka bebisik Sang Hyang Bathari Uma, yang memimpin widodari cantik. Beberapa literatur kesusasteraan menamakan Bethari Durga Umayi. Karaton Surakarta Hadiningrat memberi sesebatan Sang Hyang Bathari Kalayuwati.

Catatan dari kitab babad tanah Jawi dibaca oleh Paku Buwana II. Dengan maksud mengerti situasi kebatinan. Berguna untuk momong segenap kawula dasih.

Untuk menghormati raja Bidadari ini, Karaton Surakarta setiap tahun menyelenggarakan upacara wilujengan negara Maesa Lawung di Alas Krendha Wahana. Kepala kerbau atau sirah maesa Kebo Bule dipendham atau ditanam dengan sesaji ubarampe lengkap. Persembahan buat Bathari Kalayuwati berwujud daging mentahan, karena wadya bala atau pasukan kahyangan Nusa Kambana terdiri dari brekasakan bersiung bertaring.

Prajurit Nusa Berambang merupakan raksasa makhluk halus yang tidak kasat mripat. Kejadian ini dirasakan benar oleh Paku Buwana II.

Nungsa Berambang atau Donan Nusa Kambangan men-jadi ibukota makhluk halus yang tersebar di Tanah Jawa. Penguasa alam lelembut di tiap-tiap kabupaten harus tunduk pada perintah Sang Hyang Pramoni Durga yang berkedudukan di Watu Masigid Nusa Kambangan. Watu Masigid atau Sela Marsigid adalah istana kediaman Bathari Uma.

Pembangunan istana Sela Marsigid mirip kayangan Suralaya yang serba emas gemerlapan. Bahan bangunan istana Sela Marsigid yakni emas, intan, mutu manikam, jumerut, ratna, suwarna, mutiara warna warni. Wajar sekali karena Sang Pramoni Durga adalah mustikane putri tetunggule widodari.

Sekedar untuk diketahui para makhluk halus yang menjadi bawahan Sang Hyang Pramoni Durga di Kahyangan Dhandhang Mangore atau Nungsa Berambang. Mereka adalah pemuka makhluk halus yang berkuasa atas wilayah tertentu. Misalnya Jin Balabatu di Blambangan Banyuwangi.

Buta Locaya menguasai Kediri, Sidagori di Pacitan, Klenthing Mungil di Magetan. Jin Abur Abur berada di Madiun, Macan Puguh di Purwadadi, Kala Jangga di Malang, Pilang Putih di Cepu Blora, Dhadhung Awuk di Purworejo. Jin yang tinggal di Semarang bernama Barat Ketiga. Semua pemuka makhluk halus tiap tahun sowan ke Nusa Kambangan untuk caos glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi.

Adapun asisten yang bertindak sebagai carik sekretaris Sang Hyang Pramoni Durga yaitu Jin Trenggiling Wesi. Berdomisili di daerah Majenang. Segala perintah istana Watu Masigid atau Sela Marsigid pasti melalui Trenggiling Wesi Majenang. Properti istana Sela Marsigid dikelola oleh Jin Nyai Bathithing Tuban.

Sedangkan busana kawidodaren untuk Sang Hyang Pramoni diurus oleh Jin Nyai Puspakati. Suguhan makanan sehari hari untuk istana Sela Marsigid Nungsa Berambang disajikan oleh Jin Nyai Roro Denok.

Demikianlah kehidupan istana Marsigid atau Watu Masigid atau kedaton Sela Marsigid. Kediaman asri milik Sang Pramoni Durga atau Bathari Uma ini berlangsung di pulau Nusa Kambangan. Orang menyebut Nungsa Berambang, Nusa Kambana, Dhandhang Mangore. Keistimewaan wilayah kabupaten Donan Tlacap ini adalah menjadi tempat tumbuhnya sekar Wijaya Kusuma. Siapa saja yang berhasil memetik sekar wijaya kusuma hidupnya akan mulia wibawa.

Bahkan keturunannya lestari pejabat, pemimpin dan penguasa Tanah Jawa. Hal itulah yang mendorong Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura pada tahun 1677-1703. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk bisa memboyong sekar wijaya kusuma.

Keistimewaan kadipaten Donan teruji dalam sejarah. Orang melakukan lara lapa tapa brata. Mereka bersemedi di gunung Srandil untuk ngalap berkah pada Eyang Semar atau Kaki Tunggal Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Laku spiritual ini selalu dilakukan oleh para bangsawan mataram secara turunt temurun.

Mataram kuat karena punya aji dan pusaka sakti. Paku Buwana II dan anak cucu tetap melestarikan tradisi.

B. Nusa Kambana.

Paku Buwana II Memetik Sekar Wijaya Kusuma.
Sekar Wijaya Kusuma Mekar di Nusa Kambangan. Pada tahun 1726 saat dinobatkan menjadi raja Mataram, terlebih dulu memetik Sekar wijaya Kusuma. Sebagai pusaka sipat kandel.

Kerajaan Mataram memiliki pusaka Sekar Wijaya Kusuma. Patih Sindureja Diutus Sinuwun Amangkurat Amral Memetik Sekar Wijaya Kusuma di Kadipaten Donan Cilacap. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Paku Buwana II.

Pembangunan Kadipaten Donan Tanah Tlacap atau Cilacap yang mahsyur sudah dirintis oleh Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram yang memerintah tahun 1645-1677 ini sangat perhatian pada wilayah Dulangmas, Kedu, Magelang, Banyumas. Kebetulan Kanjeng Ratu Wiratsari memiliki istana cabang Mataram di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Permaisuri raja Amangkurat Agung berjasa besar atas pengembangan Donan Tlacap sebagai kawasan spiritual.

Sampai sekarang orang berdatangan ke gunung Srandhil untuk mahas ing ngasepi nedahake semedi. Paku Buwana II telah memberi contoh yang baik.

Pada tahun 1677 Sinuwun Amangkurat Amral memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Segala persiapan lahir batin dilakukan demi kejayaan Kraton Mataram. Segera Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung membentuk tim Panitia Pembangunan fisik kraton diserahkan kepada Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Beliau dibantu tenaga ahli dari Sumenep dan Makasar. Proyek besar pindahan ibukota Mataram ini ditangani oleh para bupati Bang Wetan.

Bidang spiritual dijalanlan oleh Tumenggung Pranantaka. Beliau putra Patih Mandaraka III.

Ditunjuknya keluarga Patih Mandaraka karena sejak dulu memiliki pusaka aji Canda Birawa. Masyarakat Jawa percaya bahwa Aji Candra Birawa dapat menaklukkan segala macam makhluk halus. Aji Canda Birawa pernah digunakan oleh raja Mandaraka, Prabu Salyapati. Ketika memimpin perang Baratayuda jaya binangun, Prabu Salya menjadi senopati agung.

Pusaka aji canda birawa hanya bisa dikalahkan oleh Jamus Kalimasada atau dua kalimat syahadat. Itulah konsep iman ilmu, amal, iman Islam ikhsan, cipta rasa karsa.

Kisah ini dihayati benar oleh Paku Buwana II. Surat perintah untuk memetik sekar wijaya kusuma terbit pada tanggal 17 Januari 1678. Tumenggung Pranantaka diutus memetik sekar wijaya kusuma di Donan Nungsa Berambang tanah Tlacap. Tugas mulia dan berat itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu Tumenggung Pranantaka juga menjabat sebagai Bupati Tegal tahun 1678-1680.

Dalam waktu yang bersamaan Tumenggung Pranantaka mengurusi sekolah ketrampilan tata praja di Magelang, diplomasi kenegaraan Mataram dan tata cara methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap.

Kegiatan awal yang dilakukan adalah wilujengan Negari di Sitihinggil Kraton Mataram. Kemudian tahlilan di pendopo Kabupaten Tegal. Istri Tumenggung Pranantaka menyiapkan uba rampe dan sesaji. Kebetulan istri Tumenggung Pranantaka ini pernah kursus di bagian abdi dalem Purwo Kinanthi, sehingga mengenal dengan detail tentang adat istiadat Jawa. Istri Tumenggung Pranantaka itu bernama BRA Kleting Kuning atau Raden Ayu Pucang. Sebagian menyebut Raden Ayu Brongut.

Turut memberi doa restu yakni Tumenggung Urawan Pradotonagoro dan Patih Nerangkusumo. Tumenggung Urawan pegawai kejaksaan Mataram. Patih Nerangkusumo perdana menteri kerajaan Mataram. Kedua sesepuh memimpin upacara tolak balak di Donan Cilacap. Mereka membaca dzikir bergantian. Pembacaan mantra rajah kalacakra dilakukan oleh Ki Dalang Kondho Buwono, penjelmaan Bathara Ismaya yang ngejawantah ing madyapada. Cerita ini dihayati oleh Paku Buwana II.

Khusus tata cara adat wilujengan di Donan Nusa Kambana, dhalang Kondho Buwono harus diperankan oleh titisan Sang Hyang Ismoyo atau Kyai Lurah Semar. Orang menyebut kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Beliau sesepuh Donan yang amat ditaati oleh penguasa Nusa Kambangan.

Bersama dengan Eyang Sukmo Sejati. Kunci Sari, Putri Dana Sari Nini Dewi Tunjung Sekar Sari dan tokoh spiritual lainnya sama menjaga Gunung Srandhil. Pengikut peguron Gunung Srandhil yaitu Sunan Kuning, Pangeran Langlang Buana dan Resi Mayangkara. Gunung Srandhil juga merupakan tempat petilasan para Pembesar Pajajaran.

Mijil

Sang Patih sigra anata baris.
Nyawiji gumolong.
Dhampyak. dhampyak gumregut lampahe.
Binarung krapyak myang watang agathik.
Gumelar ngebaki.
Suraknya gumuruh.

Utusan Mataram yang dipimpin Tumenggung Pranantaka segera melaksanakan tugas. Dibantu segenap lurah, mantri, demang, wedana dan bupati Dulangmas tugas kenegaraan itu berlangsung lancar. Rakyat mendukung dengan menyediakan logistik makanan dan minuman.

Suguhan mbayu mili. Tak ketinggalan tempe, srabi, tape goreng dan mendoan. Tempe Karanganyar, srabi Wangon, tape goreng Sukaraja dan mendoan Purwokerto menjadi makanan nyamikan saat tirakatan dan lek-lekan.

Proses methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap dilaksanakan pada malam Jumah Legi. Tumenggung Pranantaka dibantu oleh aneka ragam makhluk halus, yakni Barat Katiga Semarang, Guntur Geni Pekalongan, Sambang Yuda Pemalang, Buta Trenggiling Tegal, Gunting Geni Kaliwungu, Samaita Magelang, Dhadhung Awuk Kutoarjo, Padhareksa Gunung Sundara, Jolela Gunung Sumbing dan Jin Wewari Banjarnegara. Adapun jin makhluk halus yang turut menjaga keamanan yaitu Butakala Cilacap, Kalanadhah Banyumas, Penthul Gumuk Bagelen dan Baleng Ngungrung Kebumen.

Sukses besar diperoleh Tumenggung Pranantaka. Wila-yah Donan Nusa Kambangan semakin harum. Tanah Tlacap atau Cilacap termashur di kalangan kejawen. Sekar wijaya kusuma segera diboyong ke Mataram Kartasura. Pada tahun 1685 Tumenggung Pranantaka dilantik menjadi patih kerajaan Mataram Kartasura.

Tumenggung Pranantaka bergelar Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Paku Buwana II menghayati kisah leluhur.

Masyarakat Donan Cilacap menghormati Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Beliau dianggap pembuka awal Bumi Cilacap. Kadipaten Cilacap segera ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten oleh Sinuwun Amangkurat Amral raja Mataram Kartasura pada tanggal 21 Maret 1678. Jasa besar Patih Sindurejo perlu dikenang. Pada tahun 1701 Patih Sindurejo lengser keprabon madeg pandito. Patih Sindurejo memilih menjadi tenaga pengajar pelatihan tata praja. Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Astanalaya Pasareyan Agung Paremono. Dari daerah Paremono Magelang, para eksekutif tanah Jawa terbina.

Trah Paku Buwana II tiap tahun hadir di daerah ini. Sekedar untuk melakukan upacara adat yang berlangsung turun tumurun.

C. Alam Goib Jawa.

Paku Buwana II Membina Pimpinan Donan Cilacap.

Pembinaan dari Kerajaan Mataram berlangsung tertib. Pemangku adat istiadat kepercayaan di wilayah Kejawen. Agar terjadi keseimbangan.

Penguasa Donan Cilacap selalu tampil bersinar wibawa. Keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung tertata rapi.

Paku Buwana II peduli upacara adat. Sebagai pusat kawasan Kejawen, para pemimpin bertindak tepat bijaksana. Toleran terhadap segala bentuk keberagaman.

1. Tumenggung Sindunagoro I, 1678-1710. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram.

2. Tumenggung Sindunagoro II, 1710-1721. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram.

3. Tumenggung Sindunagoro III, 1721-1734. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram.

4. Tumenggung Notoyudo I, 1734-1752. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram.

5. Tumenggung Notoyudo II, 1752-1793. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.

6. Tumenggung Notoyudo III, 1793-1814. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *