Liputan KOLOM

Sejarah Sindhenan Waranggana Wayang Kulit

Ditulis oleh Liputan68 pada 28 Desember 2020 • ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)

A. Peranan Sindhenan dalam Upacara Kraton.

Waranggana adalah pelantun tembang guna mengiringi seni karawitan. Dalam sistem Kerajaan waranggana membaca kidung mantra sakti. Tradisi ini berlangsung sejak tahun 1645.

Sri Susuhunan Amangkurat Agung raja Mataram membuat Serat Babad Ila Ila. Segala upacara kenegaraan Mataram ditulis dengan menyertakan penampilan waranggana. Kidung mantra sakti demi keselamatan.

Wara berarti sebutan kehormatan untuk wanita. Anggana berarti kepribadian yang mulia. Waranggana hadir untuk menghias dunia agar lebih bermartabat mulia.

Untuk menjadi waranggana perlu belajar yang tekun. Olah vokal meningkatkan semangat berkesenian. Seni karawitan terlalu peduli dengan olah suara yang berupa lagu, gendhing, tembang. Suara vokal dengan gamelan harus selaras. Keduanya membuat suasana yang selaras, serasi dan seimbang. Keselarasan irama itu mendatangkan kenyamanan dan kenikmatan.

Lagu lagu populer dalam masyarakat barangkali bisa digunakan untuk materi pengajaran. Rasa memiliki atau sense of belonging menambah daya semangat untuk nabuh. Suasana belajar semakin menggairahkan. Senda gurau dan derai tawa akan pecah.

Tahun 1708 Kanjeng Ratu Mas Balitar mendirikan sanggar untuk melatih sindhenan. Garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana I ini menjadi pelopor di dibukota Mataram Kartasura.

Gembira ria bagi peserta. Pasti terjadi suasana yang gembira meriah. Gamelan Jawa berfungsi sebagai sarana upacara kenegaraan, keagamaan dan hiburan.Ambil contoh lagu Jamu. Dalam masyarakat kerap mendengar dan menyanyikan lagu Jamu, dengan segala variasi. Syair ini terlalu familiar di kalangan sekalian warga masyarakat.

Suwe ora jamu

Jamu godhong tela

Suwe ra ketemu

Temu pisan gawe gela.

Pertemuan kedua bisa diajak untuk nabuh lancaran Jamu beserta cakepan syair lagunya. Di tanggung pasti bersuka ria. Kini banyak tersedia bacaan tentang gendhing kreasi. Lebih menarik lagi bila syair syairnya dibuat dengan kejadian lingkungan sekitar.

Ditambah dengan cakepan atau syair yang lucu lucu, peserta belajar merasa percaya diri. Ada sanjungan estetis yang sopan secara sosiologis. Bahkan mereka dapat menciptakan syair sendiri. Latihan kerawitan sebaiknya diakhiri dengan pentas.

Secara psikologis mereka merasa ada harapan untuk diperhatikan, dianggap dan dihargai. Ibarat orang menanam padi, harus tahu kapan masa panen. Jangan sampai anak anak diajak latihan terus, sementara tidak ada harapan untuk unjuk kebolehan. Jadwal pentas merupakan upah penghargaan.

Tokoh yang bersemangat dalam karawitan misalnya Wasitodiningrat. Jadwal pentas dalam rangka rapat akbar, pertemuan besar, peringatan hari besar, ulang tahun dapat diisi dengan kesenian. Kesempatan emas bagi anak-anak untuk tampil unjuk diri. Mereka merasa menjadi insan berharga. Orang tua, bapak, ibu, kakek nenek berasa berbahagia. Generasi penerus telah menjadi orang yang berguna.

Budaya seni berkembang pesat pada jaman Sinuwun Paku Buwana III memerintah tahun 1749 – 1788. Teater wayang wong dan ketoprak dibina. Kostum serba gumebyar. Waranggana didukung dengan dana yang memadai.

Boleh jadi waktu pentas itu menjadi kenangan sepanjang masa. Pentas seni yang ditampilkan mengharumkan nama keluarga. Kepercayaan diri terpupuk, sehingga peserta didik siap menyongsong masa depan.

Seni kerawitan membawa dampak psikologis anak. Kebutuhan kultural dan spiritual mereka tersalur lewat latihan seni. Tehnik cara menabuh bisa dipelajari dengan berbagai gaya karawitan.

B. Perlambang Sastra Gendhing.

Suara waranggana terbagi menjadi dua. Yaitu Laras pelog dan Laras slendro. Laras slendro diciptakan oleh wangsa Syaelendra pada tahun 778.

Peran waranggana amat penting dalam kehidupan istana. Mereka terikat dengan aspek kultural spiritual. Mantra yang dibaca waranggana berhubungan dengan keselamatan negara dan rakyat.

Dhandhanggula Karawitan

Wulang wuruk jroning ulah gendhing.

Kawengku wirama karawitan.

Pangolahe dan garape.

Ngrasakna wosing lagu.

Witing patet saka ing ngendi.

Ing kono golekana

Surasaning lagu

BACA JUGASahabat Buruh

Rarasen nganti kajiwa

Karya padang narawang nora mblerengi

Tatas nembus bawana.

Gendhing Lancaran menika karumpaka kanthi pangajab seni budaya adi luhung tansah ngrembaka lestari. Tumraping para kadang mitra ingkang remen ngudi karawitan, seratan menika saged migunani kagem cepengan pasinaon.

Saestunipun tasih kathah lelagon ingkang dereng kapacak ing seratan menika, amargi winatesing seserepan dalah pambudi daya. Pramila ing sanes wekdal tartamtu rumpakan sapala menika badhe dipun wuwuhi malih kanthi gendhing-gendhing enggal ingkang nembe karipta.

Wondene gendhing-gendhing ingkang sampun kapyarsa dening ngakathah, perlu dipun persudi kanthi permati. Sauger telaten kemawon, gendhing-gendhing kalawau ing mbenjangipun saged njangkepi isipun seratan menika. Pangangkah kalawau mugi-mugi enggal kasembadan.

Centhini adalah nama kitab yang dibikin oleh Sinuwun Paku Buwana V. Raja Surakarta Hadiningrat ini memimpin tahun 1830-1858. Pujangga Ranggawarsita diberi kewenangan untuk mencipta kreativitas seni adi luhung.

Pengetahuan tentang seni karawitan dapat diperoleh melalui berguru, membaca buku, berdialog dengan tujuan langsung di kalangan para seniman. Kawruh karawitan artinya pengetahuan tentang kerawitan. Rawit, artinya halus, lembut, lungit. Karawitan artinya kehalusan rasa.

Karawitan juga dapat untuk mengiringi seni-seni lainnya. Hubungan yang erat dengan karawitan ialah seni suara vokal, seni pedhalangan dan seni tari. Keterampilan berkerawitan dilakukan dengan berlatih terus menerus. Dengan bimbingan seorang guru, maka proses belajar seni semakin tertata lancar.

Seni karawitan kerap digunakan untuk mengiringi vokal atau olah suara. Seni suara vokal pada gamelan terdiri dari bagian. Bawa permulaan gendhing dengan sebuah tembang.

Gerong : tembang yang dilagukan lebih dari seorang, wanita pria.

Sindhen yaitu tembang yang dilagukan oleh seorang wanita. Perpaduan antara musik gamelan dengan olah vokal menghasilkan suara yang selaras.

Musik karawitan selalu hadir dalam pentas berbagai wayang. Masyarakat Jawa mengenal wayang beserta asal cerita. wayang Purwa, wayang kulit: mengambil cerita dari Ramayana atau Mahabarata. Wayang Orang, wayang purwa yang dilakukan oleh orang.

Wayang Madya mengambil cerita dari keturunan Pandawa, ialah Prabu Parikesit. Wayang Gedhog mengambil cerita dari Jenggala dan Kediri. Wayang Golek aslinya dari Pasundan, bentuk wayangnya seperti golekan.

Wayang Menak berisi hal hal keislaman mengambil cerita Menak. Wayang Wahyu berisi hal-hal agama Katholik, mengambil cerita dari kitab Injil.

Wayang Thith Wayang Potehi mengambil ceritera dari Tiongkok. Wayang Beber mengambil cerita Raden Panji.

Contoh dalang serba bisa yaitu Ki Anom Sukatno. Beliau pernah menampilkan wayang beber.

Karawitan juga hadir untuk mengiringi tari dan ragam gerak. Tarian dalam kraton, untuk putri ialah Bedhaya, Srimpi.

Untuk putra ialah Wireng Gelas, Wireng Dhadhap. Tarian dalam masyarakat pada umumnya. Tarian putri misalnya Golek, Bondang dan Gambyong.

Tarian putra misalnya Klana Topeng, Gambir anom, Minakjingga, Dayun. Tari Gubahan Baru : misalnya Sukaretna, Retnapamudya, Retnayuda, Retnatamtama, Lara Mendut, Bathik. Seni tari berkembang dalam sanggar sanggar sebagai sarana olah pembelajaran.

Waranggana belajar titi laras. Belajar karawitan perlu tahu titi laras. Kata titi artinya tanda. Laras ialah urutan nada dalam satu gembyangan. Adapun titi laras ialah tanda sebagai penyimpulan nada nada yang sudah tertentu tinggi rendahnya.

Gunaannya yaitu untuk mencatat dan membunyikan gendhing atau tembang. Titilaras dalam gamelan ada dua macam, ialah : Titilaras slendro 5 nada Penunggul = 1 = siji (ji) Gulu = 2 = loro (ro) Dhadha = 3 = telu (lu) Lima = 5 = lima (ma) Nem = 6 = enem. Titi nada ini pernah dibina oleh Patih Sosrodiningrat.

Notasi kepatihan ini penting sejali. Titilaras pelog 7 nada: Penunggul = 1 = siji (ji); Gulu = 2 = loro (ro); Dhadha = 3 = telu (lu); Pelog = 4 = papat (pat); Lima = 5 = lima (ma); Nem = 6 = enem (nem); Barang = 7 = pitu (pi). Begitulah sistem pembelajaran notasi sindhenan.

Dalam Serat Centhini karya Paku Buwana V disebutkan tentang perumpamaan pergelaran wayang dan gamelan.

Megatruh

Kelir jagad gumelar wayang pinanggung

asnapun makhluking Widhi

gedebog bantala wegung

belencong pandaming urip

gamelan gendhinging lakon.

Terjemahan :

Kelir adalah dunia semesta

wayang di panggung adalah semisal makhluk Allah

pohon pisang adalah bumi

lampu adalah pelita hidup

gamelan adalah lagu kehidupan.

Pengenalan pathet terkait dengan klasifikasi nada. Pada gamelan, laras ada 2 macam ialah laras slendro dan laras pelog. Laras slendro mempunyai 5 nada dan laras pelog mempunyai 7 nada. Pathet ialah susunan nada di dalam suatu laras yang dapat menimbulkan sesuatu suasana.

Pathet di dalam laras slendro ada 3 macam : slendro pathet sanga, slendro pathet nem, slendro pathet manyura. Pathet di dalam laras pelog, ada 3 macam : pelog pathet lima, pelog pathet nem, pelog pathet barang. Mengetahui pathet berarti mempermudah untuk nabuh dan nembang.

Olah vokal sindhenan kerap dilakukan dalam bentuk tembang. Di tanah Jawa ada 3 golongan Sekar, ialah Sekar Ageng, Sekar Tengahan dan Sekar Macapat. Sekar ageng pada umumnya dipergunakan untuk bawa.

Macam macam Sekar ialah sebagai berikut : Sekar ageng Retna Mulya Pl. Br.: Sekar ageng Kumudasmara Pl. Nem.; Sekar ageng Citramengeng Sl. 9. Sekar ageng Mintajiwa Sl. Manyr. Penggunaan tembang gedhe dapat membuat suasana semakin hidup.

Pengrawit hendaknya tahu fungsi masing masing tembang. Sekar tengahan dipergunakan juga untuk bawa. Macam macamnya, diantaranya : Sekar tengahan Kuswaraga; Sekar tengahan Palugon; Sekar tengahan Kenya Kediri Sl; Sekar tengahan Pangajabsih. Ketepatan suara akan menambah daya pesona.

Sinuwun Paku Buwana IX memerintah tahun 1861-1893. Raja Surakarta Hadiningrat aktif dalam menyusun paugeran untuk pegangan bagi waranggana.

Masyarakat Jawa memakai tembang macapat untuk berbagai keperluan. Sekar macapat pada umumnya dipergunakan untuk tetembangan. Macam macamnya ada 11 buah, ialah pocung, maskumambang, gambuh, megatruh, kinanthi, mijil, asmarandana, pangkur, durma, sinom dan dhandhanggula. Masing-masing tembang memiliki watak khas.

Ada lagi tembang yang perlu diketahui. Sekar itu ialah jurudemung, wirangrong, balabak dan girisa. Kemudian disusul dengan munculnya lagu dolanan sebagai sarana untuk pendidikan anak anak.

Sri Mangkunegara IV membuat wangsalan sejak tahun 1851. Wangsalan sindhenan ini cocok buat waranggana wayang purwa.

C. Wangsalan Waranggana Dalam Pakeliran.

Kajian Sastra Karawitan dipegang teguh. Penyajian kesusasteraan Jawa dalam bentuk tulis sesungguhnya bervariasi.

Pada tahun 1834 Pangeran Kusumadilaga menyusun serat Sastra miruda. Atas perintah Sinuwun Paku Buwana VII.

Pengarang Jawa memiliki kesukaan dan ketrampilan yang berbeda. Mereka menuangkan buah pikir terkait dengan latar pekerjaan, pergaulan, status, tradisi dan tugas yang harus diemban.

Bahasa kesusasteraan yang bersifat simbolik, penuh perlambang, terdapat teka-teki serta perumpamaan menunjukkan jiwa penulis. Kata-kata yang digunakan, asiterasi, disonansi, konvensi juga dapat menunjukkan kedudukan seorang pengarang.

Gaya bahasa dalam ragam sastra Jawa itu bertingkat -tingkat. Demikian pula cara memahami tentu berjenis-jenis pula. Masing-masing bentuk mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gagasan estetis.

Pementasan wayang memiliki usia panjang yang dapat ditinjau secara historis. Wangsalan merupakan bentuk karya sastra Jawa yang kerap dibawakan oleh para waranggana wayang purwa. Waranggana disebut pula pesindhen yang bertugas untuk melagukan tembang tembang iringan wayang.

Sesuai dengan adegan cerita, wangsalan berguna untuk memberi karakter pentas wayang. Syair-syair wangsalan dipilih untuk menambah keagungan pementasan. Rasa nasionalisme perlu digalakkan untuk para generasi muda. Nilai kebangsaan itu dalam wangsalan waranggana wayang diungkapkan dengan mengutip kata- kata negara, praja, bangsa, nusa.

Isinya tentang watak luhur untuk mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan. Cinta tanah air dan bangsa berguna untuk membentuk sifat patriotik. Tokoh-tokoh pewayangan seperti Kumbakarna, Adipati Karna, Patih Suwanda penuh dengan keteladanan.

Bahkan mungkin tokoh dalam Serat Tripama itu sangat dipuja oleh orang Jawa. Anjuran untuk membela tanah air diutamakan, dihargai dan dijunjung tinggi.

Dalam pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo selalu menggunakan sistem manajemen yang baik, termasuk dalam hal penyajian gending- gendingnya. Wangsalan yang digunakan untuk mengiringi adegan yang gagah, tegap, semangat, berwibawa dijumpai dalam gendhing srepeg.

Suasana megah, mewah, meriah terbangun. Suara waranggana yang merdu berselaras dengan instrumen gamelan. Diksi wangsalan makin menggugah nilai kepahlawanan. Daya pikat sajian wangsalan ini sungguh meresap dalam hati. Sikap bela negara dihayati sebagai ungkapan yang terpuji.

Jarwa nendra narendra yaksa Ngalengka

Mumpung tresna dadya srana njunjung bangsa

Jarweng janma janma kang koncatan jiwa

Wong prawira mati alabuh nagara

Makna wangsalan di atas terkait dengan pengabdian kepada bangsa dan negara. Bekal pengabdian tersebut berupa keutamaan. Abdi negara perlu ilmu pengetahuan yang memadai.

Jarwa mudha mudhane sang prabu Kresna

mumpung anom ngudia srananing praja.

Tawas pita darpa driya wisnu garwa

Murweng gita karsa dalem sri narendra.

Para pemuda hendaknya belajar ilmu tata negara. Kelak siap menggantikan estafet kepemimpinan. Itulah pesan wangsalan di atas.

Mardi basa wengku salu welut wisa

Karya wulang wawatone wong ngawula

Tambah cacah sembilang taji sapasang

Mangka peling marang wadya kang leleda.

Arti yang dikandung dalam wangsalan tersebut meliputi tata krama mengabdi pada negara. Keutamaan seorang abdi negara yaitu turut serta menjaga keamanan dan ketentraman.

Wesi pita sekar wayah girinata

Sun cecadhang manunggaling bangsa kita.

Jangkah wuri emas jingga saupama

Tanpa mundur mrawasa angkara murka.

Wangsalan di atas mengajarkan ilmu pengetahuan. Sejarah masa silam harus dipelajari. Di sana banyak ditemukan suri teladan yang baik.

Trahing nata nata kang dalem ing pura

Den rumeksa mring gusti kang mengku praja.

Daging palwa palgawa Anjani putra

Labuhana siti wutahing ludira.

Jasa para leluhur diungkapkan dalam wangsalan di atas. Kewajiban generasi sekarang untuk melanjutkan gagasan agung. Para raja Jawa memberi keteladanan.

Bibis tasik taksaka kang mawa pada

Haywa mundur kepengkok ing pancabaya.

Welut wisa sawung asli liyan praja

Ywa ngresula dadya bantening nagara.

Sifat prajurit utama rela berkorban. Jiwa patriotik dalam wangsalan tersebut menjadi sumber inspirasi. Perwira sejati selalu siap demi ibu pertiwi.

Jarwa nendra narendra yaksa Ngalengka

Rukun tresna dadya srana njunjung bangsa.

Kawi sekar sekar pepujan Sri Kresna

Trah kusuma ngudi wrih jayaning praja.

Wangsalan tersebut memberi ajaran tentang cara mengelola pemerintahan. Dalam pentas pedalangan kerap ditampilkan heroisme seorang senapati. Kebijaksanaan Prabu Kresna bisa dijadikan contoh bagi sekalian abdi negara.

Suasana Guyub Rukun, harmoni sosial diutamakan dalam masyarakat Jawa. Usaha untuk mewujudkan suasana guyub rukun diwujudkan dengan kerja bakti, gugur gunung, gotong royong, sambatan, rewang, bantu-binantu, buwuh, jagong, sarja, tilik, anjangsana. Kegiatan umum ini sudah menjadi tradisi yang mengarah pada keselarasan.

Ada ungkapan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Ungkapan yang menghargai rasa persatuan itu banyak dijumpai dalam wangsalan. Adegan pewayangan yang cocok untuk menuangkan gagasan kerukunan ini diselipkan dalam gendhing ladrang dan ketawang.

Misalnya gendhing ketawang Subakastawa laras slendro pathet sanga digunakan untuk menyelipkan kata-kata kerukunan. Musium Radyapustaka memiliki koleksi tentang kesenian Jawa. Gendhing ketawang sesuai dengan sikap lembut, pelan, penuh rasa hormat, tenang.

Adegan pewayangan semakin tampak karakter. Apalagi adegan pertapan Saptaharga, maka gendhing ketawang Subakastawa mengajak para penonton untuk melakukan refleksi dan kontemplasi. Waranggana, wiyaga dan dalang bekerja sama dengan kolektif.

Asung jarwa pangundanging kadang wreda

Mamrih suka sagung kang para miyarsa

Jarwa purwa tunggal basaning baskara

Amiwiti sendhon sindhening pradangga

Wangsalan di atas mengandung makna tentang kekaryaan. Masyarakat hidup rukun ketika memiliki produksi yang berlimpah ruah. Sejak dini anak dilatih dan dididik untuk berkarya secara kolektif.

Siwi kresna kresna parabe kang wrangka

Kang sembada ambudi amrih utama.

Roning tanggung bebasan tanpa maleca

Antepana budi temen anarima.

Sopan santun dan tata krama diajarkan dalam wangsalan tersebut. Kerukunan masyarakat diwujudkan dengan sikap saling menghormati. Semua itu untuk menjaga suasana guyub rukun.

Kang kawarna sesembahaning jawata

Ganti iku sayektine trah bathara.

Sekar pisang pisang sesajine karya

Patut lamun linulutan mring sasama.

Maksud wangsalan tersebut untuk mencapai ketentraman umum. Masing-masing warga bangsa perlu menjunjung tinggi nilai etika.

Wisma sanggan sanggan raga lumaksita

Jroning suka kudu eling lan waspada.

Resmi krama satriya Girikastuba

Tingkah laku tetepa sinudarsana.

Dengan mengkaji wangsalan di atas akan diperoleh pelajaran bahwa sopan santun bisa menjaga harmoni sosial. Dalam pewayangan unggah ungguh sangat diperhatikan. Hati yang bersih, rela, jujur menumbuhkan kepercayaan.

Manusia diberi anugerah oleh Tuhan berupa rasa cinta. Hubungan manusiawi ini berlaku sepanjang sejarah. Para ahli sastra menangkap peluang kreativitas ini dengan menuangkan romantika percintaan. Metafora dan gaya estetika sangat kaya dalam wangsalan waranggana wayang purwa.

Ungkapan estetis romantika percintaan menggunakan kata-kata tresna, asmara, gandrung dan welas asih. Paribasan, bebasan, saloka, parikan juga kerap mengungkapkan perasaan cinta. Namun untuk wangsalan disajikan sangat halus.

Kata -katanya tersembunyi terpilih, penuh cipta sasmita, perlambang, tanda dan harus pelan-pelan dalam memberi makna. Nilai wangsalan cocok untuk mengiringi tradisi ritual Jawa. Kemampuan pengarang dalam menyusun wangsalan dipengaruhi oleh pengetahuan, ilmu, pengalaman dan pergaulan.

Pekerjaan pengarang turut serta menentukan diksi dan penyusunan kalimat wangsalan. Terlebih-lebih dengan aspek asmara, malah memerlukan penghayatan yang lebih mendalam.

Ujung jari balung randhaning kalapa

Winengkua sayekti dadya husada

Teja tirta atmaja nata Rahwana

Kekuwunging karya rujiting wardaya

Anak muda bisa dilanda asmara. Tertarik pada lawan jenis seiring dengan usia pubertas. Hanya saja dalam wangsalan itu dijelaskan dengan penuh perlambang.

Jarwa roga pelabuhan nusa Jawa

Lawan rara Kemunyar putri Jepara.

Kayu rengka jalak geng pilis pita

Jalarane saking menco weh wiyoga.

Rasa asmara yang bersemayam dalam hati tidak dapat dihindari. Wangsalan tersebut dengan jenaka, sopan, halus melukiskan suasana hati yang baru kasmaran.

BACA JUGATanpa Judul

Tanugangga narmada nir tirtanira

Mendah baya ing benjang yen kasat mata.

Ken ing Daha kukila kulem sabawa

Kiraningsun dasih tan datan saronta.

Wangsalan di atas mengutamakan tanggung jawab dalam olah asmara. Tidak boleh bermain-main dalam percintaan. Luka hati bisa sangat mendalam oleh salah kelola cinta. Orang hendaknya hormat pada percintaan.

Dorongan Kerja Keras, ungkapan hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai hendaknya dihayati. Kerja keras merupakan usaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin. Produktivitas, kreativitas dan kualitas sebuah masyarakat ditentukan oleh etos kerja.

Lagu lancaran dalam wayang purwa yang berisi dengan keuletan, ketekunan, kerajinan kerap berkumandang. Waranggana melantunkan gendhing tropong bang memuat anjuran untuk bekerja keras. Liriknya penuh semangat, bergairah dan optimis.

Dari irama rangkap yang pelan sayup-sayup terdengar cukup nikmat, indah dan penuh sesak yang gagah dan bergairah. Kesenian rakyat memang banyak mengangkat kisah kepahlawanan yang dapat digunakan sebagai suri teladan.

Dorongan untuk tetap berkarya termasuk kegiatan mulia. Setiap warga yang bersedia berkarya tentu membuahkan peradaban cemerlang. Negara dapat berdiri kokoh karena memiliki kemandirian.

Janur gunung nengga dhawuhe sang nata

Aja leren yen nyatane durung lebda.

Kawi dewa dewane wulan purnama

Anjenthara lebda pasanging grahita.

Dengan membaca makna wangsalan di atas, seseorang akan sadar arti penting keberhasilan. Semua cita-cita butuh perjuangan. Usaha yang sungguh-sungguh mengantarkan sukses gemilang.

Kolik pria priyagung Anjani putra

Tuhu eman wong anom wedi kangelan.

Tampang jala jala rowa pamot mina

Temah nistha yen nekat nora sembada.

Banyak contoh orang sukses yang didahului kerja keras. Berakit-rakit ke hulu, lantas berenang-renang ke tepian. Maksudnya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa itu sebagai renungan.

Wukir jaja jejuluking putra nata

Nora suwe Pangeran paring nugraha.

Bantu karya karya raga kang sarira

Rewangana lara lapa sawetara.

Masyarakat Jawa memiliki aktivitas yang bersifat simbolik. Banyak pelajaran yang diperoleh dari wangsalan di atas. Usaha maksimal dengan dorongan kerja keras cocok dalam era kapan saja. Bangsa yang memiliki etos kerja tinggi memperoleh apresiasi dan kehormatan. Mereka akan hidup bahagia sejahtera.

Pementasan wayang purwa sebaiknya memenuhi unsur tuntunan, tontonan dan tatanan. Pakem pedalangan disusun oleh pujangga Jawa dengan penuh kebijaksanaan hidup. Iringan wayang disajikan merupakan bentuk kristalisasi dan refleksi estetis.

Lagu-lagu iringan wayang yang berupa wangsalan itu cukup rumit. Penyusunan kalimat wangsalan membutuhkan renungan yang lama. Pengalaman, pengetahuan, pergaulan seseorang menambah bobot isi wangsalan. Ajaran luhur dibungkus dengan kata simbolik dan kalimat yang penuh keindahan.

Pelajaran utama pentas pewayangan dapat digunakan sebagai panduan dalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sedapat-dapatnya pelaku pedalangan mau menelusuri teks-teks klasik yang memuat seluk beluk wangsalan.

Seni pakeliran pada masa depan akan semakin berbobot. Waranggana menjadi sarana untuk menaburkan nilai luhur. Demi ketentraman bangsa dan negara.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian